Home Bernala Tanah dan Harga Diri
0

Tanah dan Harga Diri

25
0
Okky Tirto

Tanpa sebidang tanah, seorang lelaki tak punya makna. Sebab tanah adalah jiwa.

Kira-kira begitu pepatah Irlandia lama yang tertutur dalam film Far and Away. Sedemikian berartinya tanah bagi seseorang sehingga ada pepatah yang mewakilinya. Perkara kenapa lelaki yang disebut dalam pepatah itu, tentu sistem sosial masyarakat patriarkal di situ dan saat itu yang menyimpan jawabnya.

Betapa berartinya tanah bagi manusia juga dapat kita amati dalam Perang Salib. Peristiwa pertempuran yang meminta banyak nyawa ini direkam dalam berbagai tulisan, pun demikian halnya dengan film Lord of The Ring yang memperlihatkan betapa dua pasukan besar, muslim dan nasrani, bertempur memperebutkan Jerussalem. Tidak hanya benturan antar agama, tapi perebutan sepetak tanah Jerussalem itu juga mempertunjukkan benturan antar peradaban.

Di dalam masyarakat Jawa ada sebuah istilah Sadumuk Bhatuk Sanyari Bumi. Pepatah ini juga menjelaskan betapa berartinya tanah bagi manusia. Tetapi tak hanya tanah, ia juga menggambarkan betapa perempuan dan tanah merupakan kehormatan yang harus dijaga sebagai bagian tak terpisahkan dari harga diri seseorang. Karena itu, ia harus diperjuangkan dan dipertahankan meskipun nyawa menjadi harganya.

Artinya, jangankan sampai jauh pada taraf direbut atau dinodai orang, bahkan disentuh bathuk atau dahinya pun jangan. Dalam hal ini, yang dimaksud perempuan bisa jadi isteri, anak, saudara, atau ibu. Pun demikian halnya dengan tanah, jika sejengkal saja dirampas orang, maka itu harus dipertahankan.

Ada cara pandang dalam narasi Jawa yang mengajarkan manusia untuk memperlakukan bumi seperti ibu. Boleh jadi, ini yang melandasi cara pandang simat-sinamatan, bahwa manusia dan alam saling mengamati dan memperhatikan. Dan karena bentuk perhatian manusia terhadap bumi sebagaimana sayangnya anak kepada ibu, maka ada kecenderungan melindungi dan menjaga sang ibu dari siapapun yang bermaksud merebutnya.

Beberapa penjelasan di atas akan membantu kita melihat fenomena agraria yang belakangan, yang sebetulnya sudah sejak lama, menjadi masalah. Bahwa selain masalah kepemilikan yang melulu identik dengan aspek ekonomi, ada nilai budaya yang melandasi betapa kepemilikan atas tanah juga merupakan perkara harga diri. Manusia memang makhluk ekonomi, tetapi pada saat yang sama ia sekaligus animal simbolicum. Boleh jadi, nilai tanah yang menyangkut harga diri inilah yang kemudian melahirkan pertikaian di beberapa daerah.

Sebut saja beberapa sengketa yang masih hangat dalam pembicaraan: Mesuji (Lampung) yang sempat membuat media-media bingung dan membingungkan publik, Freeport (Papua) yang bukan hanya tanah melainkan tanah dengan kandungan emas, Aceh dalam hal teritori, dan macam sengketa lainnya. Fenomena yang kian kemari makin masif dan menyeluruh ini menjadi bukti bahwa ada nilai yang sama pada tiap daerah berkenaan dengan konsep harga diri. Jika Jawa punya istiah Sadumuk Bhatuk, maka boleh jadi istilah lain dengan makna serupa juga dimiliki lain daerah sebagai bentuk kearifan mereka.

Dari penalaran tersebut maka kita dapat memahami mengapa pecah pertikaian di beberapa titik terkait hak atas tanah. Dari mulai sengketa dalam ukuran kecil antar kepala, hingga dalam kasus yang lebih besar antara rakyat dengan pengusaha, pun antara masyarakat adat dengan hukum positif negara. Dan ketika masing-masing pihak berdiri kokoh pada pijakan dengan alas pikir yang berbeda, yang terkait dengan harga diri, maka benturan menjadi tak terhindarkan.

Bumbu sedap aroma konflik kian menyeruak ketika aksi koersif dilakukan dengan bahasa kekerasan oleh alat negara maupun alat pengusaha. Alhasil, keadaan yang demikian menekan membuat rakyat semakin yakin dengan gagasan mereka tentang tanah dan harga diri. Pada keadaan yang demikian itu, berlakulah hukum fisika, betapa air yang ditekan akan membalikkan tekanan dengan tenaga yang tak lebih kecil.

(25)

Okky Tirto Okky Tirto adalah peminat kajian sejarah dan kebudayaan. Ia berdomisili di Jakarta.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *