Home Featured Senja yang Tersuruk di Danau Toba

Senja yang Tersuruk di Danau Toba

46
0
Matahari yang mulai terbenam di Pulau Samosir. Foto-foto: Adela Eka Putra Marza.

O Tao Toba, raja ni sudena tao;
Tao na sumurung na lumobi ulimi;
Molo huida rupami sian na dao;
Tudos tu intan do denggan jala uli.
Barita ni hinaulim di tano on;
Umpama ni hinajogim di portibi on;
Mambahen sihol saluhut ni nasa bangso;
Memereng ho, o Tao Toba na uli.

(Oh Danau Toba, raja dari segala danau;
Danau yang tiada tertandingi akan keindahanmu;
Kalau kupandang dari jauh;
Seperti intan cantiknya dirimu.
Keindahanmu telah tersiar di dunia ini;
Layaknya pesona kekuatanmu di dunia ini;
Memberi kerinduan pada semua bangsa;
Memandangmu, oh Danau Toba yang indah.)

“O Tao Toba – Nahum Situmorang”

Siapa tak kenal Danau Toba? Danau yang mengelilingi Pulau Samosir ini adalah salah satu landmark Sumatera Utara atau Tanah Batak. Ia sudah lama menjadi penarik hati wisatawan, selain Bukit Lawang dan Pulau Nias. Bahkan, danau ini sempat dinominasikan dalam pemilihan tujuh keajaiban dunia versi alam yang dilansir oleh salah satu lembaga internasional.

Akan tetapi, meski tersohor, Danau Toba bukan tak  bernoda. Adalah masalah lingkungan yang membuatnya gugur dalam seleksi pemilihan keajaiban alam itu. Di antara moleknya danau, ada limbah yang masuk ke perairan Danau Toba, yang salah satunya disebabkan oleh pakan ikan keramba yang berserak di permukaan danau. Dan soal pencemaran lingkungan ini menjadi masalah serius bagi Danau Toba.

Pakan-pakan ikan tersebut mengandung zat kimia yang mencemari air danau. Zat kimia tersebut juga semakin memicu pertumbuhan enceng gondok yang merusak keindahan danau. Alhasil, potensi besar Danau Toba tenggelam begitu saja ke dasar danau hanya karena ada yang tak becus menjaga ‘keajaiban alam’ ini.

Uang yang dihasilkan dari Danau Toba memang cukup banyak. Tapi, jika itu malah merusak keasrian dan keindahannya, apalah guna? Ini bukan hanya sekedar masalah mengeruk pundi-pundi rupiah dari sumber daya alam ini. Rupiah-rupiah itu masih jauh kalah berharga dibandingkan perasaan jiwa yang tenang dan nyaman kala  menikmati panorama Danau Toba.

***

Danau Toba tak hadir begitu saja. Keberadaannya diiringi oleh perspektif yang kisahnya mengalir dari generasi ke generasi. Diceritakan bahwa dahulu kala hiduplah seorang petani miskin di Tanah Batak. Toba, begitulah namanya. Hidup dari alam sekitar; menanam padi di sawah dan mencari ikan di sungai. Terkadang nasib memang tak dapat diduga. Si petani mendapatkan seekor ikan yang kemudian mengubah jalan hidupnya. Ikan tersebut menjelma menjadi seorang gadis cantik yang menawan.

Penumpang kapal penyeberangan tampak kelelahan.

Toba pun mempersuntingnya sebagai istri. Tapi, ada satu syarat yang harus dipenuhinya. Ia harus berjanji tidak akan pernah mengungkit masa lalu sang istri, yang merupakan jelmaan ikan. Jika ia melanggar sumpahnya, maka sang isteri akan kembali ke wujud semula. Itu akan menjadi pertanda malapetaka bagi kehidupan Toba. Dan Toba pun memenuhi permintaan tersebut.

Hidup terus berjalan, waktu terus bergulir. Toba dan istrinya lantas dikaruniai seorang anak. Samosir, begitu mereka menamainya. Namun, si anak tak seperti harapan orang tua. Samosir punya perangai buruk. Suatu ketika, saat ibunya menyuruh Samosir mengantarkan nasi untuk bapaknya, Samosir malah memakan nasi itu sendiri. Hanya tulang belulang ikan yang tersisa dalam bungkus nasi tersebut. Toba begitu marah menghadapi perilaku sang anak.

“Dasar anak ikan,” maki Toba.

Dan sumpah pun terlanggar. Sang istri menangis dan pergi meninggalkan Toba. Ia pulang ke sungai asalnya, tempat ia ditemukan, dan kembali menjadi ikan. Hujan lebat turun terus menerus hingga membanjiri kawasan yang begitu luas. Semuanya tenggelam. Dan itulah Danau Toba. Sementara, Samosir kehilangan ibunya dan terdampar di sebuah bukit, yang kelak menjadi Pulau Samosir.

* * *

Tak ada yang bisa memastikan soal kebenaran perspektif yang saya ceritakan tadi. Tapi orang Batak seringkali meninabobokan anak-anaknya dengan dongeng tersebut setiap malam. Dongeng tentang desa petani miskin yang kemudian berubah menjadi Danau Toba, salah satu danau terluas dan terdalam di dunia.

Danau Toba punya luas 1.265 kilometer per segi dan panjang 90 kilometer. Kedalamannya rata-rata 450 meter dengan ketinggian 950 meter di atas permukaan laut. Dan Pulau Samosir terbentang di atasnya dari utara ke selatan. Di banding negara tetangga, Singapura, Danau Toba bahkan jauh lebih luas.

Dalam perspektif geologi, Danau Toba diperkirakan terbentuk akibat letusan supervolcano (gunung api raksasa) sekitar puluhan ribu tahun yang lalu. Letusan ini kemudian menimbulkan ruang kosong di tubuh gunung api ini. Dengan pengaruh gaya tarik bumi, tubuh gunung api pun runtuh ke dalam, dan terbentuklah kaldera.  Kaldera ini, secara evolusi, kemudian berisi air yang melimpah dari dataran di sekelilingnya. Dan terbentuklah Danau Toba. Sedangkan Pulau Samosir yang berada ditengahnya muncul karena tekanan ke atas magma yang belum keluar.

Letusan Supervolcano Toba yang paling dahsyat diperkirakan terjadi sekitar 75 ribu tahun yang lalu. Hasil penelitian Bill Rose dan Crag Chesner dari Michigan Technological University menyebutkan bahwa letusan ini memuntahkan ribuan material dan abu vulkanik yang tertiup angin ke barat selama dua minggu. Debu vulkanik ini telah menyebar ke hampir separuh bumi, dari Cina sampai Afrika Selatan.

Letusan terjadi selama satu minggu, dan lontaran debunya mencapai sepuluh kilometer di atas permukaan laut. Peristiwa ini menyebabkan kematian massal, dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini menyusutkan jumlah manusia sampai enam puluh persen dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta orang. Letusan yang sama juga turut menyebabkan terjadinya apa yang disebut zaman es – meskipun para ahli masih memperdebatkan hal ini.

Menurut banyak pakar, dataran tinggi di kawasan Danau Toba merupakan satu dari dua supervolcano yang pernah terjadi dan teridentifikasi di dunia, selain supervolcano Yellowstone di Amerika. Supervolcano Toba memiliki tingkat letusan mencapai skala 8 VEI (Volcano Explosivity Index/skala maksimum).

* * *

Turis asing sedang negosiasi ihwal sewa kapal di Dermaga Tigaraja, Parapat.

Matahari tampak terburu-buru kembali ke peraduannya, ketika kami, saya dan seorang teman, menginjakkan kaki di Parapat, kota kecil di Kabupaten Simalungun yang berada di tepian Danau Toba. Hanya sempat menghirup bau mangga Parapat yang menggoda selera, kami harus berkejaran dengan waktu; berharap masih ada kapal yang bisa ditumpangi untuk menyeberang ke Pulau Samosir. Ya, tujuan kami memang pulau kecil yang berada di tengah-tengah Danau Toba tersebut.

Syukur, kapal terakhir yang akan membawa penumpang mengarungi “samudera” Danau Toba ternyata masih terdampar di Tigaraja, dermaga kecil di pinggir Pasar Parapat. Seraya mengambil napas beberapa saat, kami memperhatikan dua orang turis asing yang sedang bernegosiasi dengan beberapa pemuda setempat dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.

Kami pun menaiki kapal. “Sumber”, begitu tertulis di bagian depannya dengan huruf besar. Jurusan Tomok – Tigaraja. Tak ada yang istimewa dari kapal ini. Biasa saja, hanya sebuah kapal kecil pengangkut penumpang yang ingin menyeberang ke Pulau Samosir. Saya juga tak mau mencari keunikannya. Yang ada di benak Saya, sudah saatnya melepas penat dengan hembusan semilir angin sore Danau Toba. Kami memilih duduk di bagian belakang, dekat buritan. Biar lebih nyaman menikmati karya Tuhan tersebut.

Akhirnya tiba waktunya kapal berangkat. Mesin kapal mulai terdengar berisik. Perlahan, kapal kecil yang kami tumpangi bergerak membelah hamparan air tawar Danau Toba. Riak-riak kecil bermain-main di buritan kapal. Nun jauh di depan mata, Pulau Samosir tampak diselimuti kabut tipis. Saya tak bisa mengelak untuk mengucapkan bahasa kekaguman.

Dengan lima lembar uang rupiah ribuan, Anda juga dapat menikmati panorama Danau Toba dari kapal kecil ini, seperti yang saya nikmati kali ini: menghirup angin danau yang khas sembari menikmati tamparan-tamparan kecilnya di wajah saya. Anda rasakan saja sendiri ketika nanti berada di buritan kapal kecil ini.

Sore itu, kapal yang kami tumpangi tak dipenuhi oleh penumpang. Mungkin karena matahari sudah mulai semakin tenggelam. Alhasil, saya pun bisa memilih posisi tempat duduk sesuka hati. Mencari posisi yang bagus dan nyaman untuk kembali mengagumi Danau Toba.

Aroma solar yang menjadi bahan bakar kapal kecil ini cukup menusuk hidung. Jika tak mampu menguasai diri, mungkin saya sudah mual. Ditambah lagi dengan goyangan ombak yang membuai-buai kapal, meski tak sekuat ombak di laut lepas. Tapi bisa saja Anda “mabuk danau” jika tak mampu menghilangkannya dengan menatap sudut-sudut Danau Toba  yang semakin gelap.

Di belakang kami, kota kecil Parapat tampak semakin menjauh. Hotel-hotel berbaris rapi di sepanjang garis pinggir danau. Jauh di belakangnya lagi, bukit barisan menjadi benteng raksasa bagi danau kebanggaan orang Sumatera ini.

Jauh di depan kami, gurat-gurat kuning sisa sinar matahari tadi siang mulai membayang di ufuk barat, di garis batas antara permukaan danau dengan langit yang juga membiru, menandingi birunya Danau Toba. Lukisan emas dari angkasa yang bermetamorfosa di permukaan Danau Toba itu semakin membuat takjub. Sungguh, Saya tak mampu lagi mendeskripsikannya dengan kata-kata.

* * *

Kapal kecil yang kami tumpangi semakin merapat ke Pulau Samosir. Sebuah kapal kecil yang lain berseberang arah dengan kami, bergerak perlahan menuju Parapat. Juga tak penuh dengan penumpang. Mungkin karena senja di Danau Toba saat itu sudah semakin tersuruk. Hanya sinar lampu-lampu kecil dari rumah-rumah penduduk Samosir yang mulai menyala, menggantikan nuansa emas sisa sinar matahari yang membias di hamparan Danau Toba.

Kapal kami pun mulai merapat di dermaga kecil, Pelabuhan Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Tomok. Banyak kapal lain yang juga berlabuh di sana. Mesin kapal mati. Para penumpang pun turun menuju dermaga. Perlahan, segala keindahannya pun sirna. Tapi jelas, ketakjuban itu belum juga hilang sampai saat ini.

Saya tak ingin berlama-lama di dermaga ini. Mencari penginapan adalah hal pertama yang harus segera dilakukan. Dan kemudian menikmati mimpi bersama deburan ombak-ombak kecil Danau Toba, di Desa Tomok malam ini. Tentu saja bersama iringan lirik lagu Nahum Situmorang yang terus terngiang di telinga. ”O Tao Toba, raja ni sudena tao; tao na sumurung na lumobi ulimi.”

(46)

Adela Eka Putra Marza Anak kampung dari pesisir Sumatera Barat ini pertamakali melahirkan karya tulisnya saat masih di bangku Sekolah Menengah Pertama. Kini, pria yang menekuni pekerjaan sebagai penulis dan berlatarbelakang pendidikan jurnalistik ini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *