Home Featured Nazar yang Tak Mengakar
0

Nazar yang Tak Mengakar

44
0
Jember-Lumajang. Gambar: Google Map.

 

“Dia sendiri kan bukan orang Jember. Orang sini mana ada yang kenal sama Nazar.”

Ucapan itu dilontarkan oleh Nody Arizona, seorang mahasiswa yang juga aktif sebagai periset di Komunitas Tikungan di Jember, Jawa Timur. Nody memang kesal. Wilayahnya diwakili oleh Nazarudin, (mantan) anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI, yang kini tersandung banyak kasus korupsi.

Tak hanya Kabupaten Jember, Nazarudin juga mewakili Kabupaten Lumajang. Untuk kepentingan pemilu, dua wilayah ini disatukan dalam apa yang disebut daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur IV. Berdasarkan hasil pemilu legislatif pada 2009 lalu, Nazarudin, yang menjadi nomor urut satu dari Partai Demokrat, dapat meraup 76.256 suara rakyat yang berhak memilih di kedua wilayah. Di bawahnya ada Subagyo Partodiharjo, yang saat ini juga duduk di Dewan Perwakilan Rakyat RI, dengan 23.794 suara. Berturut-turut di bawahnya adalah Siti Romlah, Maksum, Natassya Tara, Musiroh Muki, Azral Hadi, Mudha Cornelis Nubi, Virna Angela KK, dan Firman Yursak.

Nazarudin memang bukan orang Jember. Bahkan, tak sedikitpun ada catatan hidupnya yang terkait dengan Jember atau Lumajang. Ia lahir di Bangun, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dan bersekolah di tanah kelahirannya itu sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Setelah itu, ia melanjutkan kuliah di Jakarta.

Sebagaimana Nody, Jumhari, 29 tahun, warga Desa Klanteng, Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, pun mengutarakan kegeramannya. Di banyak koran ia membaca berbagai kasus korupsi anggota Dewan, termasuk orang yang mendapat mandat mewakili wilayahnya.

“Saya itu tak percaya sama Nazarudin,” kata Jumhari. “Padahal dulu katanya orang baik. Fotonya besar-besar, tak tahunya maling juga.”

Sebagai tukang becak yang hanya mampu berpenghasilan Rp. 5 ribu per hari, ia merasa dikhianati dengan gaya hidup Nazar yang begitu mewah.

”Saya baca di koran, dia selalu pakai baju yang harganya puluhan juta. Handphonenya banyak, mobilnya juga. Tapi apa iya, dia mikir sama orang seperti saya ini?” tutur Jumhari.

Jumhari adalah satu di antara 76.256 orang yang memilih Nazarudin pada pemilu 2009. Ia tertarik pada Nazar karena pada kampanye terdahulu Nazar tak banyak berjanji. Dan menurut Nody, poster-poster Nazar kala pemilu tak berisi janji-janji muluk. Kebanyakan merupakan program lama dari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang ia kembangkan sendiri.

Kemenangan Nazar juga dianggap sebagai representasi kekuatan Partai Demokrat. Bukan pribadi Nazar. Sebagai partai yang terbilang baru apalagi menjadi partai penguasa, nama Demokrat otomatis sudah menjual.

“Jadi istilahnya Nazar itu menjual nama demokrat,” kata Nody.

Dalam sistem politik yang dapat menempatkan siapa saja dan dimana saja ini, Nazarudin tak sendiri. Angelina Sondakh, misalnya. Perempuan dari Partai Demokrat yang juga tersandung kasus korupsi terkait Nazarudin ini adalah orang Manado, Sulawesi Utara, yang tak memiliki urusan apapun dengan wilayah yang diwakilinya, yakni Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, dan Kota Magelang di Jawa Tengah (disebut daerah pemilihan Jawa Tengah VI). Angelina lahir di Armidale, Australia. Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertamanya dilaluinya di Manado, sedangkan Sekolah Menengah Atas di Armidale. Setelah itu, ia melanjutkan kuliahnya di Jakarta.

Secara keseluruhan, ada 312 orang yang seperti Nazarudin dan Angelina di Dewan Perwakilan Rakyat (Almanak Anggota Parlemen RI 2009-2014, Cetro (Pusat Reformasi Pemilu), 2010). Mereka adalah orang-orang yang ditentukan oleh sentral partai untuk kemudian ditempatkan dimana saja melalui mekanisme pemilu. Dari jumlah orang yang ditempatkan itu, sebelum pemilu dilakukan, 96,5 persen di antaranya berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Pada pemilu legislatif sebelumnya, yakni 2004, jumlah orang yang tak sesuai wilayahnya tak jauh berbeda, yakni 311 orang.

***

Sejak beberapa bulan terakhir, Kabupaten Jember memasuki musim penghujan. Hampir setiap hari awan mendung berarak dari arah utara ke selatan. Sore di Jember merupakan momen yang tepat untuk menghabiskan waktu. Sejuk tanah basah dan langit yang cerah menjadi sebuah pemandangan jamak.

Secara kultural, Kabupaten Jember bisa jadi kabupaten yang paling unik yang ada di Jember. Kota ini kerap dikatakan sebagai Kota Pendalungan, yaitu kota dimana kebudayaan Madura dan kebudayaan Jawa Tengah bergumul dan menghasilkan kebudayaan campuran. Karakteristik masyarakat ini cenderung apolitis dan tak perduli dengan kondisi sosial politik sekitarnya.

Hal ini bisa dibuktikan dengan kondisi aman yang terjadi pada 1998 silam. Pun ketika daerah sekitarnya, seperti Bondowoso, Lumajang, Situbondo, dan Banyuwangi sempat diramaikan dengan isu santet dan ninja, Jember tetap aman. Ayu Sutarto, guru besar ilmu budaya Fakultas Sastra Universitas Jember, yang selama dua puluh tahun mengkaji masyarakat ini, mengatakan bahwa masyarakat Pendalungan lebih plural karena memang sudah bergelut dengan banyak perbedaan sebelumnya.

Sebagian besar penduduk Jember bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, lalu disusul oleh petani, buruh pabrik, nelayan, dan pekerja swasta. Dengan kombinasi semacam ini, kesadaran kritis akan kondisi politik yang ada sangat kurang. Meski ada Universitas Jember, dengan mahasiswanya, tapi keberadaan mereka masih belum bisa menggerakan masyarakat untuk peduli dengan politik.

Posisi dan pengaruh Nazarudin secara politis di Jember pun tak ada. Ia bukan orang Jember, tak memiliki kedekatan, termasuk secara personal, dengan daerah pemilihannya. Di Lumajang sendiri, kasus Nazar tak pernah menjadi sorotan dan sama sekali tak pernah memantik demonstrasi atau penolakan. Meski di Lumajang Nazar juga menjadi peraih suara terbanyak dari Partai Demokrat, namun tetap saja masyarakat Lumajang tak ambil pusing dengan apa yang terjadi pada Nazar.

Seperti Lumajang, Jember pun demikian. Masyarakat Jember memang tak banyak peduli dengan kasus Nazar. Meski ia meraih banyak suara di kabupaten ini, tapi tak pernah ada gejolak di masyarakat saat Nazar dinyatakan tersangka atas kasus wisma atlet.

Gejolak hanya terjadi di tubuh Partai Demokrat di Jember, dimana sekumpulan kadernya pernah melakukan demonstrasi untuk menuntut orang Sumatera Utara itu dinon-aktifkan. Hanya saja, insiden ini malah berujung pada perpecahan di tubuh Partai Demokrat Jember sendiri.

”Ayub Khan ketua fraksi dan Saptono Yusuf, ketua Dewan Pimpinan Cabang Jember sangat dekat dengan Nazar. Ya, terang saja mereka tak ingin ini menjadi besar,” kata Nody.

Yang lebih kebakaran jenggot adalah Ayub Khan, Ketua fraksi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jember.

”Tentu dia takut. Karena ia tercatat sama-sama pendiri PT. Anak Negeri, perusahaan yang dibangun sama Nazzar,” tutur Nody.

Menunggu Nazar Dituntaskan
Kekecewaaan terhadap Nazarudin tak hanya dirasakan oleh konstituen. Beberapa pengurus Partai Demokrat di Jember sendiri secara terang-terangan kecewa dengan tingkah Nazarudin. Hal ini didasari oleh sikap politisi Demokrat itu yang tidak bertanggungjawab dengan daerah pemilihannya.

”Sepengetahuan saya dia (Nazarudin) sejak terpilih menjadi anggota DPR memang tidak pernah turun (saat) reses,” kata Edi Santoso, ketua Pimpinan Anak Cabang Partai Demokrat, Umbulsari.

Edi menjelaskan, sejak Nazarudin dilantik pada 2009 silam, tidak ada kabar turun ke Jember. Padahal, Nazarudin sejak awal mengkampanyekan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Kini banyak kader yang merasa malu dan juga merasakan ironi antara kampanye Nazarudin dan prakteknya di lapangan.

”Bagaimana bakal memperjuangkan rakyat Jember kalau tidak pernah (saat) reses,” ungkapnya.

Padahal, kata Edi, masa reses bisa menjadi sarana serap aspirasi konstituen di masing-masing daerah pemilihan. Dia menyebutkan, dalam pemilu legislatif 2009 silam, dari daerah pemilihan IV, yakni Jember dan Lumajang, partai Demokrat meloloskan dua wakilnya, pertama Nazarudin, kedua Subagyo Partodiharjo.

”Untuk ke kader Demokrat saja tidak ada komunikasi. Apalagi ke rakyat. Yang sering (turun di masa) reses hanya Pak Bagyo,” ungkapnya.

Karena tak pernah datang lagi ke Jember dan Lumajang, Edi pernah mengkontak Nazarudin melalui telefon. Tapi telefon itu justru semakin menambah kekecewaanya sebagai kader dan pengusung Nazar pada pemilu lalu.

”Saat dihubungi, katanya sudah reses. Tapi ternyata hanya bagi-bagi sembako (sembilan bahan pokok-red),” tandas Edi lagi. ”Jika benar-benar (sudah tiba masa) reses, seharusnya terjun langsung menemui konstituen di Jember dan Lumajang.”

Sebagai konstituen, Jumhari pun merasa dilecehkan dengan adanya fakta ini. Ia mengakui, setelah terpilih, Nazar pernah memberikan sembako dan bantuan kesehatan di desanya, karena menjadi basis suara. Namun, fakta bahwa Nazar mengkorupsi uang milyaran rupiah sungguh membuatnya terpukul.

”Ini sebenarnya menyakitkan hati. Apakah hanya dengan sembako beberapa kilo saja, terus keluhan kami bisa selesai? ” keluh Jumhari.

Kali ini Jumhari hanya bisa pasrah dan menunggu penyelesaian kasus Nazar. Sebagai tukang becak yang hanya lulusan Sekolah Dasar, ia tak paham benar dengan politik. Ia hanya tahu bagaimana bekerja untuk memenuhi kebutuhan makannya esok hari. Jumhari telah menjadi korban Nazarudin.

”Kalau katanya Nazar mau diadili…. ya, semoga ini bukan janji lagi,” harap Jumhari.

(44)

Arman Dhani Penulis lepas dan jurnalis di Jember, Jawa Timur. Ia adalah pengasuh blog terumbukarya.blogspot.com yang mencintai indonesia dengan cara yang paling tersembunyi.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *