Home Sastra Episode Sebuah Riwayat Panjang
0

Episode Sebuah Riwayat Panjang

72
0

“Soeprijadi Tomodihardjo, 79 tahun, merupakan salah seorang wartawan dan penulis cerita pendek Indonesia yang diundang oleh Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk menghadiri perayaan hari jadi negara itu pada 1 Oktober 1965. Bung Soeprijadi tidak sendirian. Ada ratusan tokoh Indonesia yang hadir dalam perhelatan raksasa yang dipusatkan di Tien An Men, Beijing, waktu itu. Sejarah mencatat, banyak orang Indonesia – tidak hanya di RRT, tetapi juga di negara-negara blok sosialis di seluruh dunia, termasuk Kuba – tak bisa kembali ke tanah air mereka setelah pecahnya bencana politik yang disulut oleh Gerakan Tiga Puluh September (G30S) di Jakarta, malam menjelang 1 Oktober 1965.

Penderitaan mereka semakin menjadi-jadi setelah Revolusi Kebudayaan berkobar di seluruh daratan RRT. Sebagian besar orang-orang Indonesia tadi mengalami imbas gerakan pembersihan terhadap musuh-musuh Revolusi di Negara Naga Merah tersebut. Mereka juga kena gilas, dan disingkirkan, dengan dalih harus membersihkan “penyakit borjuis” yang mereka derita. Mereka diharuskan bekerja secara fisik di desa-desa, termasuk mengangkut kotoran manusia untuk dijadikan pupuk tanaman. Sastrawan Sobron Aidit, Utuy Tatang Sontani, dan Agam Wispi termasuk di antara mereka yang, walau tak kehilangan kata-kata puitis, harus turut kerja kasar yang tak pernah mereka bayangkan ketika bertolak dari Jakarta.

Reda Revolusi Kebudayaan, di RRT bersinar ilham besar, bagaimana mencari pasar untuk produk industri mereka. Indonesia jadi lirikan mata negara yang sekarang berubah haluan, membangun birokrasi kapitalisme yang maju menerjang bagaikan seekor naga ijo yang lapar di bawah kepemimpinan yang pragmatis, perokok berat, Teng Siaw Ping. Untuk pasar, demi keuntungan finansial, apa pun dilakukan para pengambil keputusan di Beijing. Semudah membalik loyang, mereka tunduk pada syarat yang dikenakan oleh rezim militeristis Suharto, yang intinya kalau mau dagang dengan Indonesia maka orang-orang “komunis” Indonesia yang bersarang di RRT harus hengkang lebih dulu. Syarat yang mudah! Orang-orang Indonesia yang terlunta-lunta, tak punya tujuan, tak bertanah air itu, secara halus “dibukakan pintu untuk kabur.” Solidaritas internasional, prinsip yang diagung-agungkan pemimpin partai dan pemerintahan selama ini di sana, tinggal puntung kembang-api yang sudah padam, dicampakkan! Maka melatalah mereka dalam kesengsaraan yang berkepanjangan. Ada yang kandas di Jerman, Prancis, Belgia, terutama Negeri Belanda.

Soeprijadi Tomodihardjo yang terdampar di Koeln, Jerman, tak kehilangan rasa humor ketika menuliskan cerita pendeknya dengan latar masa lalu di sebuah hotel di Beijing, sebagaimana bisa kita nikmati di bawah ini.”

(Martin Aleida)

————————————————————————–

Soeprijadi Tomodihardjo.

Di sini, di hotel ini, pada pagi sedingin ini, Ben berdiri di atas teras hanya dengan baju tidurnya. Tubuhnya goyang diguncang angin salah musim. Pada akhir bulan April ketika tengara apel pagi terdengar di markas TPR (Tentara Pembebasan Rakyat) beberapa puluh meter saja di sebelah selatan hotel, lazimnya cahaya fajar telah membayang di sekitar sana. Tetapi, pagi itu tiada sinar matahari menembusi sela-sela pepucuk cemara sepanjang tembok halaman muka hotelnya. Hanya suara aba-aba gerak badan dari corong pengeras suara di markas itu terdengar begitu hingar. Lelaki itu terkejut menatap mendung coklat dan gelap bak tempurung raksasa mengurung ibukota Negeri Naga. Ia tak akan sepagi itu bangun jika Iswar, satu-satunya teman Indonesia di hotelnya, tidak membangunkannya. Telepon lelaki itu mendering-dering di mejatulisnya, setengah meter saja dari tempat tidurnya.

“Ben! Bangun Ben! Coba lihat di terasmu situ, ada apa di luar sana. Barusan Siauw Yuen menelpon.”

“Sepagi ini menelepon? Bilang apa dia?”

“Pengumuman penting dari kamar interpreter. Dianjurkan hari ini sebaiknya kita tidak meninggalkan hotel. Cuaca sangat buruk dan berbahaya, katanya. Dari kamarku sini cuma terdengar suara gemuruh seperti angin puyuh, tetapi aku tak bisa lihat apa-apa dari terasku sini.”

Ben cepat-cepat melangkah menuju teras di luar kamarnya. Dalam remang cuaca pagi sedingin itu, Ben bertahan melawan pukulan angin yang keras hingga bajutidurnya berkibar bagai  bendera pada tiang pancangnya. Rambutnya terburai ke belakang, namun ia tetap tegak di tempat menghadap ke gerbang hotel yang selalu dijaga seorang perajurit TPR. Ia tertegun menyaksikan fenomena alam  yang tak pernah dialaminya selama hidupnya.

Beberapa puluh meter dari tempatnya berdiri samar-samar dilihatnya troli pertama jurusan Wang Fuching merangkak meninggalkan gardu perhentian yang menempel di luar tembok hotel. Biasanya sekitar pukul setengah enam kendaraan itu menurunkan beberapa personel hotel, lalu  seorang perajurit jaga segera membuka pintu gerbang hotelnya. Namun, pagi itu tak terlihat seseorang memasuki halaman.

Tiba-tiba Ben dikejutkan suara pepucuk cemara sekeliling hotel bergoyang kencang diterjang pukulan angin yang mendadak menyentak-nyentak… satu kali, dua kali, empat kali, berkali-kali…. Sebuah peristiwa langka yang aneh dan menakutkan, karena ada bau gas yang membuatnya sesak napas. Saat itu terdengar lengking sirene panjang berulang-ulang seperti tanda bahaya. Latihan barangkali, pikir lelaki itu. Atau benar-benar tengara bahaya udara? Ia cuma bisa menduga-duga tanpa menemukan jawaban. Namun, ia tahu benar, seperti tersiar di info FYO (For You Only – lembaran informasi intern, terbatas bagi warga asing) – lembaran resmi khusus bagi warga asing di Beijing – segenap warga ibukota telah  dikerahkan menggali lubang-lubang perlindungan bawah tanah sekeliling rumah masing-masing. Mereka bisa ditanya untuk apa, dan jawabnya tak pernah beda: “persiapan perang”. Situasi itu jelas dipicu insiden Sungai Usuri antara kapal-kapal perang Rusia dan Negeri Naga beberapa minggu sebelumnya, tapi sampai sekarang tetap meninggalkan ketegangan dan kewaspadaan segenap warga Negeri Naga.

Ben cepat-cepat melangkah meninggalkan teras, menutup pintu kamar tidurnya dan merapatkan gorden jendela. Lelaki itu nyaris lupa, gagang telepon masih tergeletak begitu saja di mejatulisnya.

“Halo War!” seru lelaki itu.

“Ya. Sudah kau lihat dari terasmu situ? Apa yang nampak di sana?”

“Cukup mengkhawatirkan! Tapi cuma samar-samar kulihat sesuatu di luar sana, padahal sirene melengking-lengking. Ada bau gas yang memualkan. Jangan-jangan gas racun.”

“Gas racun? Ah, enggak ada itu!”

“Kau sendiri dengar bukan? Seperti ada prahara di luar sana. Pohon-pohon cemara berguncang kencang. Sirene mengaum terus. Ada bau sengak seperti gas amoniak. Mana bisa enggak ada apa-apa….”

“Itu bau kakus, Ben! Nanti juga hilang sendiri. Siauw Yuen bilang begitu, lantas aku menelponmu. Ini informasi resmi. Sebuah truk tanki pompa WC terguling, muatannya tumpah  di tengah jalan tepat di muka hotel kita. Mungkin lupa tutup tangkinya….”

Gilak! Bagaimana bisa lupa? Kenapa sampai terguling?”

“Lho, kok kamu tanya aku! Aku bilang ini informasi resmi menurut Siauw Yuen. Kita cuma bisa menduga, mungkin truknya kesenggol pal saat berseliring sama bis kota. Kaulihat sendiri kan? Cuaca begitu gelap pagi ini!”

“Lantas kenapa mesti sirene? Itu kan kecelakaan biasa saja!”

“Bagimu kecelakaan biasa. Tapi, tahukah kau? Limbah kotoran manusia meluap di  kakus-kakus sekitar sini. Mereka sedang lakukan pengurasan dan mengangkutnya  untuk rabuk di ladang-ladang kebun sayuran.”

“Itu kita tahu. Mereka suka memanfaatkan pupuk alam.”

“Tapi esok atau lusa sayurnya pindah ke piring kita, ha ha… Tenang-tenang sajalah. Tidak ada badai. Tidak ada prahara. Menurut Siaw Yuen, itu cuma gumpalan debu dari dataran tinggi Gobi. Kebetulan arahnya ke timur sini. Dia bilang lalulintas banyak terganggu, sebaiknya hari ini kita tinggal di hotel saja.”

*

Namanya Yamin – Ben Yamin. Sebuah nama yang dijumputnya dari sebuah tong sampah pada hari pertama tinggal di hotelnya. Seseorang telah membuang sebuah karton bekas dengan tempelan kertas berbunyi….

Mr. Benyamin Schuman
Room 27, Hotel Hebing
Beijing
The Peoples Republic of China.

Mister Schuman sejak lama tinggal di hotel yang sama. Seorang Amerika berusia 60 tahunan yang dikenal baik di negeri ini sebagai sahabat sejati rakyat Negeri Naga, seperti Edgar Snow di zaman perang pembebasan melawan Jepang dan Komintang.  Mister Schuman bekerja untuk sebuah perwakilan kantor berita negerinya, jauh sebelum Revolusi Besar Kebudayaan Proletar melanda Ibukota Negeri Naga.

Namaku Yamin – Ben Yamin. Begitu lelaki itu mengaku sejak hari pertama  tinggal di Hotel Hobing – Beijing – dalam rangka persiapan meninggalkan negeri ini. Sebuah nama sandi yang dipilihnya  sebagai nama resmi di hotel itu sesuai saran para pemimpin atasan.  Dia sendiri tak merasa perlu berdebat tentang sebab-sebabnya, kecuali sepakat begitu, karena  konspiratif  merupakan kata keramat yang harus dihormat dan dijaga sampai detik terakhir jika mereka meninggalkan Negeri Naga – entah kapan.

Hari itu Ben teringat kembali  Agam Wispi yang sejak  awal tak sudi menggunakan nama samaran. Bahkan nama aslinya  tiba-tiba muncul dalam sebuah haiku yang ditulisnya pada sebuah edisi kording (koran dinding) di Nanking ….

 
batu
batu
dan batu!

Sebuah komentar gelap esokharinya muncul di kording yang sama, entah siapa penulisnya….

“Agam Wispi tampil dengan  semangat kobar kaum tani dataran tinggi Dachai yang telah membidas batu-batu padas menjadi lahan pertanian teladan, hanya dengan kutipan kata-kata Ketua Mao.”

“Omong kosong!” bantah Agam pada kording yang itu juga….. “Aku cuma memuji kaum tani Dachai. Mereka telah merubah dataran tinggi Dachai menjadi lahan pertanian teladan, tetapi dengan cangkul dan bukan kutipan kata-kata siapapun….”

Paran, Oktober 2007

(72)

Soeprijadi Tomodihardjo Soeprijadi Tomodihardjo lahir di Pare, Kediri, pada 27 Februari 1933 dari keluarga guru. Setelah menamatkan SMA tahun 1954, ia menempuh pendidikan guru selama tiga tahun dan akhirnya memperoleh jabatan sebagai guru ikatan dinas pada Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Negeri di Surabaya sejak 1957. Selama waktu senggangnya ia sempat mengikuti kuliah-kuliah jurnalistik di bawah Jawatan Penerangan Jawa Timur sekitar 1963-1965. Praktik jurnalistiknya berlangsung di redaksi sebuah koran lokal Trompet Masyarakat Surabaya, sekaligus sebagai penerus redaktur sastra koran ini yang semula dikelola oleh Djamil Suherman, Gerson Poyk, dan Hertoto. Selain sebagai guru, jabatan itu masih dirangkapnya sebagai pembantu majalah Brawidjaya yang kemudian menjelma majalah WIDJAYA hingga majalah itu berhenti terbit pada akhir 1965. Dalam posisi selaku anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Soeprijadi pernah mengikuti rombongan lima belas orang anggota PWI dari seluruh Indonesia ke Beijing untuk kegiatan liputan selama satu bulan (Oktober 1965). Namun, setelah selesai tugasnya itu ia memutuskan menerima tawaran kerja selaku penerjemah (dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia) di Kantor Berita Xinhua, Beijing sampai akhir 1967. Atas bantuan para seniornya di kantor berita Antara, Jerman, Soperijadi akhirnya melawat ke Eropa Barat dan bekerja penuh pada Sekretariat Rumahsakit Universitas Koeln sampai pensiun pada 1998.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *