Home Featured “(LenteraTimur) Journey to Deli”
0

“(LenteraTimur) Journey to Deli”

68
0
Martin Aleida sedang mencari jalur menuju Medan. Foto-foto: Redaksi LenteraTimur.com.

“Siapa yang mau menatar wartawan sejauh ini? Tiga puluh tahun saya jadi wartawan bah.., tak pernah melakukan perjalanan senekat ini. Ini perjalanan gila…”.

Martin Aleida berseloroh di jok tengah di dalam mobil yang sedang melaju membelah perkebunan demi perkebunan di jalur timur Sumatera. Saat itu, Tim LenteraTimur.com sedang mengarah ke Jakarta, usai melakukan pelatihan jurnalistik “Menulis untuk Kesederajatan” (I),  Medan, 25-28 Januari 2012.

Ini memang perjalanan nekat. Tim pelatihan jurnalistik LenteraTimur.com, yang terdiri dari TM. Dhani Iqbal, Ken Miryam Vivekananda Fadlil, Arif Budiman, Edi Cholin Naim, dan Martin Aleida, berangkat dari Jakarta menuju Medan dengan menempuh jalan penderitaan. Naik mobil sendiri! Nyetir sendiri!

“Aku tak ikut kalian naik pesawatlah,” ujar Martin Aleida pada saat rapat perencanaan, beberapa minggu sebelum tenggat pelaksanaan pelatihan.

Redaktur senior LenteraTimur.com ini memang takut naik maskapai penerbangan Indonesia. Martin membayangkan, sebelum naik dirinya sudah gemetar membayangkan para penumpang yang jadi “teroris” dan mengancam penumpang dengan terus menyalakan handphone, meski pesawat sudah siap tinggal landas. Ketika pesawat belum berhenti, dan sinyal kencangkan ikat pinggang masih melotot di depan mata, para “teroris” tadi sudah bangkit, lantas mengobrak-abrik kabin, tanpa minta maaf. Tak peduli dengan kepala orang lain, yang jelas-jelas adalah manusia.

Semula Martin meminta berangkat lebih dulu dengan menumpang kapal laut. Pilihan ini tak pelak membuat yang muda-muda merasa tak enak. Ini soal kesetiakawanan!

“Eh, tapi Bang Martin betul juga. Tanpa pesawat, ongkos transportasi jadi lebih murah juga,” sahut Ken.

Kemudian tim membayangkan, jika naik kapal laut, tak bakal ada yang nampak di sepanjang perjalanan kecuali laut yang membosankan. Bikin muntah. Ketika tercetus ide menggunakan mobil, Martin pun langsung bangkit dari kursi dan teriak, “Setuju!”

Namun, Martin utarakan satu syarat. Pulangnya, tim harus melewati kota kecil bernama Tele di kepala Danau Toba, supaya bisa menikmati hamparan Sianjurmula-mula, lembah indah yang menakjubkan, di mana manusia Batak yang pertama diturunkan ke dunia. Ini akan menjadi sebuah perjalanan nostalgia baginya, barangkali.

Adapun Soffa Ihsan, redaktur LenteraTimur.com, seorang pemikir jebolan jurusan filsafat di Yogyakarta, bersikap “filosofis”. Dia memilih cinta dan kasih sayang, bukan petualangan darat dengan goncangan mobil yang pasti akan membuat dia sukar merenungkan kembali kesahihan pikiran orang Jerman macam Habermas atau orang Perancis macam Foucault.

“Kalau didengar orang, bukan Foucault (dibaca foko-red), tapi pokak (pekak),” ujar Martin kembali berseloroh.

Soffa memutuskan untuk tetap bertanggungjawab akan tugasnya sehari-hari: mengantar (kadang-kadang) dan menjemput (rutin) istri tercinta yang bekerja di sebuah bank internasional. Ini investasi yang tidak tanggung-tanggung. Alhasil, dia memilih terbang dengan pesawat Garuda, perjalanan yang hanya memakan waktu kurang dari dua jam. Karena sayang padanya, maka anggota tim yang lain pun merelakan Soffa berangkat belakangan. Dan ketika isi perut Soffa memang sempat terjungkar melalui mulut, persis di depan hotel usai tim berkeliling Medan untuk menikmati kuliner bangsa-bangsa di Asia di kawasan Kampung Keling, maka tim pun kembali merelakan Soffa untuk pulang duluan.

Pada 20 Januari 2012, Iqbal, pemimpin redaksi yang menjadi pengemudi tunggal, sejak start selepas subuh dari markas LenteraTimur.com di Jalan Sawo Manila, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, langsung menyetel odometer untuk mengukur jarak yang akan ditempuh. Ketika udara laut masih segar, Toyota Kijang Innova sewaan yang ditunggangi tim tiba di Merak, Banten, dan langsung membeli tiket kapal ferry untuk menyeberang ke Lampung. Tanpa halangan berarti, para penunggang pun langsung masuk dan parkir di perut kapal.

Tiba di Lampung, tim bergerak melintasi perkebunan karet dan sawit (termasuk yang terlibat sengketa), kampung, kota, masjid, gereja, vihara, dan jembatan pendek maupun panjang. Tim melangkahi Bakaheuni, Bandar Lampung, Palembang, Jambi, Pekanbaru, Dumai, Rantau Prapat, Simpang Kawat, Kisaran, Tebing Tinggi, Tanjung Morawa, dan Medan dengan kemulusan jalan yang, kira-kira, 98 persennya mengagumkan. Kalau ditotal dari Jakarta, panjangnya mencapai sekitar 2400 kilometer, yang menyedot solar sekitar Rp. 700 ribu.

Dahulu, tak lama setelah Jenderal Suharto dengan lihai tampil ke panggung kekuasaan Indonesia, ketika jalan Trans Sumatera belum digarap dengan sungguh-sungguh, seorang wartawan harian yang terpandang di Jakarta menjelajahi jarak itu dengan mengendarai sebuah sepeda motor. Dia menghabiskan waktu sebulan! Kira-kira sama dengan truk dan bus yang terseok-seok merintis jalan lintas tersebut sejak mulai berkembangnya angan-angan tentang jalan yang menghubungkan ujung dan pangkal Pulau Sumatera.

Rumah-rumah panggung tersebar di seluruh Sumatera. Dalam caranya sendiri-sendiri, beberapa sudah berubah bentuk.

Sepanjang perjalanan ini, orang Jawa Tengah dan Jawa Timur terlihat dimana-mana. Mereka, para imigran, didatangkan oleh kekuasaan dan menempati banyak lahan. Di kedai-kedai atau tempat-tempat usaha yang mereka buat, tertulis kata-kata yang menegaskan keberadaannya: “Jawa Asli”, “Jawa Murni”, dan semacamnya. Selain orang-orang Jawa yang tersebar di sepanjang jalur timur Sumatera ini, orang Batak, orang Bali atau orang Sunda pun tak kalah dalam menegaskan pernyataan “kami ada” melalui tulisan-tulisan di berbagai plangnya. Tentu tak kalah jualah si orang Minang, dengan sebaran kedai nasinya yang sudah tersohor ke seantero planet, tanpa katrolan kekuasaan.

Sementara itu, Provinsi Jambi menawarkan perjalanan yang menyejukkan hati. Entah bagaimana, teduh terasa di sepanjang jalan. Warna hijau menghimpit suasana, menenangkan perasaan mereka yang sedang musafir. Memang, memandang ke kiri dan ke kanan bisa membosankan. Yang terlintas hanyalah belantara kelapa sawit atau karet. Dan entah kenapa, tak sekalipun tampak orang yang sedang bekerja di situ.

Hati pun terhibur kala melintasi jalan yang diapit rumah-rumah panggung, yang tersebar di seluruh daratan Sumatera, yang terbuat dari papan dan beratap seng atau terkadang rumbia. Dalam diam, anggota tim merasa seperti menyuruk di kolong-kolong rumah tersebut, yang membawa kenangan pada modernisasi di masa lalu.

Memasuki Riau, terasa betul kerlingan kapitalis internasional terhadap limpahan minyak yang dikandung negeri ini. Sayang, kekayaan itu tak tercermin di jalan-jalan yang menghampar di sini. Dari seluruh perjalanan, justru di sinilah beronjolan itu muncul. Kering kerontang.

Suasana menjadi tambah sumpek lantaran cuaca yang menyengat. Bahkan, di gulitanya malam, Iqbal sempat menyangka kabutlah yang menyelimuti pandangannya. Tapi ternyata itu bukan kabut. Itu asap yang berasal dari api yang menyambar-nyambar ke langit dari kilang-kilang minyak yang tersebar di seantero Riau.

Menjelang Duri di Riau, tim mampir di sebuah rumah makan untuk mengisi perut. Seperti sebelumnya, rata-rata biaya makan per orang, sekali duduk, adalah Rp. 25 ribu, terdiri dari nasi (tambah) dan dua macam lauk-pauk, plus teh atau kopi. Di sini, ibu yang punya rumah makan langsung menggiring tim ke satu pojok tertentu. Padahal, semula anggota tim ingin duduk di deretan meja yang kelihatan ditata lebih rapi dan terkesan lebih sehat.

“Itu untuk supir,” kata tuan rumah dengan suara agak sengit, acuh tak acuh.

Iqbal tergelak. Tim ini mendadak menjadi seperti tamu tak diundang. Apalagi, pada tirai pemisah ke ruangan itu, terpampang pemberitahuan bertaraf internasional dengan kesalahan ejaan yang sangat lokal: “Onli for crew”. Hmm… “Y” rupanya dilarang masuk ke sini.

Nasib istilah ‘only’ kurang lebih serupa dengan istilah ‘shockbreaker’ yang banyak dijumpai dimana-mana. Ia dieja dengan suka-suka dan terserah kemana larinya cat: ‘Sobleker’, ‘Sok bleker’, ‘Shokbeker’, atau ‘Shockleker’.

Ibu yang punya rumah makan tak mau tahu Iqbal adalah pengemudi yang tak bisa dilampaui sopir mana pun dalam hal membawa penumpang dengan tingkat keselamatan, yang menurut Martin, paling top. Di tiap tikungan tajam dia punya feeling yang tajam. Kalau sudah tak tahan kepingin merokok (hanya beberapa kali dia tak kuat pada godaan candu itu), dia minta izin dulu, dan merenggangkan kaca jendela. Pokoknya (bukannya mengharapkan yang bukan-bukan), kalau LenteraTimur.com suatu ketika, karena nasib sial, terpaksa gulung layar, maka agaknya Iqballah yang paling gampang mencari pekerjaan.

Dalam perjalanan ke Medan, tim dua kali menginap di hotel sederhana. Seluruh anggota tim tumplek di satu kamar, dengan tarif sekitar Rp. 200 ribu. Tapi, safari LenteraTimur.com ini sepantasnya berterima kasih kepada Pertamina. Sebab, tim bisa menghemat biaya karena sebetulnya ada dua malam lagi yang dilewatkan di stasiun pengisian bahan bakar milik negara ini. Beberapa kali, di tengah malam, tim memang tak menemukan adanya penginapan di kota-kota kecil yang dilalui. Lagipula, Iqbal tahu diri, lebih baik menyerah pada mata yang terus menggoda untuk diistirahatkan.

Jembatan Siak di Riau.

Setelah menambah bahan bakar solar, beberapa kali mobil merapat dan parkir di tepi, diapit truk sebesar-besar rumah. Candu rokok dan kafein kopi kerap tak mempan mengusir kantuk dan kelelahan. Semua tunduk pada kemauan mata yang ingin dipejamkan. Beberapa anggota tim tidur di dalam mobil. Yang lain pura-pura melonjorkan kaki di emper sebelum terbenam dalam dengkur. Martin sendiri tergeletak dengan buku dan kacamata di sisi tubuhnya. Yang lain lagi berupaya menyegarkan ujung-ujung anggota tubuhnya dengan air wudhu di musola. Setelah salat, dia berdoa sambil berbaring, dan aman dalam penjagaan malaikat yang baik hati sampai datangnya salat subuh.

Sepanjang perjalanan, tim LenteraTimur.com terkadang bisa melaju seperti melayang-layang membelah kebun karet dan sawit. Sesekali mobil harus merangkak seperti kura-kura yang kehausan, dan terbanting-banting di malam yang gulita menghindari lubang yang menganga seperti anak kawah gunung. Empat hari empat malam baru mencapai Medan, kota kelahiran Iqbal, yang masih diingat banyak orang sebagai ibukota Deli, gudangnya tukang bual. (Ya, tukang bual, tapi bukan tukang tipu!)

Dulu, Pulau Sumatera dibagi dalam tiga zona waktu: Utara, Tengah, Selatan. Sekarang tidak. Namun, perbedaan adat selalu nyata. Ia muncul dalam perbendaharaan kata maupun ungkapan. Kata-kata ‘cuci mobil’ yang dipergunakan di beberapa wilayah, misalnya, lenyap begitu tim memasuki Riau. Sejarah tak mudah dilupakan di sini, terutama Belanda yang pernah berurusan dengannya. ‘Cuci mobil’ berubah menjadi ‘door smeer’.

Kata-kata ini berkibar sampai ke Aceh, atau dari perspektif lain, dari Aceh sampai Riau. Memasuki wilayah Sumatera Utara, istilah ‘tambal ban’ pun tergusur, diganti dengan ‘tempel ban’, yang juga bisa berarti istilah ‘tempel ban’ yang tergusur dengan ‘tambal ban’.

Memasuki Medan, hawa kosmopolit kental terendus. Ini wilayah yang dihuni oleh berbagai ras: Melayu, Cina, India, atau Eropa. Dan itu belum menghitung keberadaan etnis yang amat banyak. Semuanya berkumpul dalam satu wilayah dengan bahasanya, termasuk kulinernya, masing-masing. Untuk dapat berkomunikasi, tiap-tiap yang berbeda itu menggunakan bahasa bumiputra sebagai alat berkomunikasi: Melayu. Melayu itu pun dituturkan dengan dialeknya sendiri-sendiri.

Selain itu, Medan juga nampak sebagai kota yang penuh gaya. Tukang becaknya pakai celana panjang, jaket, dan kacamata. Soalnya, jenis angkutan yang mereka kendalikan melaju dengan menggunakan tenaga mesin. Penumpang terasa dilindungi karena tempat duduknya terletak di samping pengemudi. Sambil menunggu penumpang, tak jarang mereka terlihat mengisi waktu dengan membaca koran. Tak jauh dari Medan, ojeg tak dikenal. Di sini namanya RBT, singkatan dari Rakyat Banting Tulang.

“Kucing titun
Pulang dari Medan, tim tak jadi melongok Danau Toba, karena khawatir akan terlambat tiba di Jakarta, yang berarti akan kena denda karena mobil hanya disewa untuk dua minggu. Bagaimanapun, Martin tidak terlalu kecewa. Rindu pada kampung halamannya sudah terobati dengan tiga kali mampir ke kedai “Durian Ucok”. Tak lupa dia memesan dengan ungkapan yang khas: “Hai kawan, yang ‘kucing titun,’ ya…,” pesannya kepada Si Ucok. “Halak kita,” ujar yang punya kedai.

‘Kucing titun’ adalah ungkapan orang Tionghoa dengan bahasa yang kurang lurus. Bukan karena lidahnya yang jadi kelu karena lezatnya durian. Harfiah kata-kata itu maksudnya ‘kucing tidur’, untuk melukiskan isi durian yang tebal, teronggok seperti seekor kucing yang sedang lelap-lelapnya tidur.

Tulisan "Mesuji Bangkit" dengan gambar Sukarno terpampang di sebuah truk asal Lampung.

Di kedai ini, durian yang dijual adalah durian jatuh, bukan yang dipetik. Ia kelihatan dari patahan tangkai buahnya yang kering. Dulu, orang tak berani mencari durian jatuh di pagi hari. Kecuali berani mati. Sebab, yang bersangkutan harus berebut dengan harimau! Dan, raja hutan adalah yang paling sempurna dalam menikmati buah yang kandungan isinya komplit itu. Lunas tempat daging buah itu tergolek benar-benar bersih dijilatinya. Orang lain mungkin mengatakan cerita itu cuma “bual orang Deli”. Tapi, percayalah, di sini durian yang sudah dikorek untuk dicicipi, kalau tak cocok, langsung dibuang. Tidak dipajang lagi. “Ini Medan, Kawan!”

Di dalam mobil, durian menjadi kawan setia selagi pulang dan pergi. Aroma khasnya tak pernah alpa berkelindan dengan alunan lagu-lagu Melayu dan Irlandia, yang entah kenapa terdengar serupa di telinga. Mendengarnya, imajinasi tiap-tiap anggota Lentera Timur pun melesat sepanjang jalur timur. Dan, gesekan biola Journey to Deli karya Tengku Ryo kemudian terasa pas mengiringi Kijang bermesin itu menari di lekak lekuk Sumatera.

[media id=27]

 

Martin Aleida, TM. Dhani Iqbal, Ken Miryam Vivekananda Fadlil.

(68)

Redaksi Redaksi LenteraTimur.com

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *