Home Featured Sate Padang di Tanah Deli

Sate Padang di Tanah Deli

70
0
Sate Padang. Foto: Jefry

Pedagang sate padang memang sudah terkenal ke seantero negeri. Tak hanya di tanah air, salah satu kuliner khas dari Sumatera Barat ini juga ada di benua lain, seperti Belanda dan Amerika Serikat. Keberadaannya, tentu saja, tidak terlepas dengan tradisi orang Minangkabau yang memang suka merantau dan berdagang.

Di Kota Medan, Sumatera Utara, juga terdapat banyak pedagang sate padang. Berbeda dengan daerah asalnya di ranah Minang, sate yang mangkal di hampir setiap pinggir jalan di Kota Medan ini lebih memilih memasang nama “Sate Padang”. Sementara di Sumatera Barat, nama yang digunakan biasanya adalah nama daerahnya sendiri, seperti “sate pariaman” atau “sate bukittinggi”.

Ada beberapa lokasi sate padang yang pantas untuk direkomendasikan di wilayah yang dikenal dengan nama Tanah Deli ini. Pertimbangannya, selain karena terkenal lezat dan gurih, lokasi dimaksud adalah yang ramai dikunjungi orang.

Yang pertama adalah “Sate Kupak” yang berada di Jalan Bromo Nomor 73, Medan. Sate padang yang satu ini memang berada di kawasan pemukiman orang Minang di Medan. Awalnya, usaha sate padang milik Hidayat (40 tahun) ini adalah warisan orangtua yang sudah dijalankan dengan menggunakan gerobak kaki lima sejak 1970-an. Seiring waktu, usaha ini berkembang pesat. Kini ia berjualan di sebuah rumah toko (ruko), yang juga menjadi rumahnya sendiri. Soal harga, sate padang yang satu ini tidak akan sampai menguras isi kantong.

“Per porsi hanya lima ribu rupiah dengan lima tusuk sate. Pilihannya ada daging sapi atau daging kerang. Sedangkan kuahnya, kuah sate padang, enggak ada kuah kacang. Karena orang Padang hanya suka kuah sate padang,” jelas Hidayat yang akrab disapa Kupak.

Dalam satu hari, warung sate yang selalu ramai oleh pengunjung ini bisa menghabiskan sekitar tiga puluh kilogram daging untuk memuaskan para pelanggannya. Sate Kupak sendiri baru buka pukul 17.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Menjelang sore, Kupak, yang dibantu istri dan keluarga, sibuk menyiapkan sate yang akan dicicipi oleh para pelanggannya.

Rekomendasi lain adalah “Sate Paris Bang Man”. Paris yang dimaksud bukanlah ibu kota Perancis. Alih-alih berasal dari kota mode di Eropa itu, sate ini berasal dari Pariaman dan sekitarnya, yang tak lain kampung halaman Bang Man, sang pemilik.

Sate Bang Man berlokasi di Jalan Amaliun, tidak jauh dari pusat wisata kuliner Amaliun Food Court. Sama seperti Sate Kupak, Sate Bang Man juga hanya menjual Sate Padang. Bedanya, ada tiga pilihan daging di sini, yakni daging ayam, sapi, dan kambing.

Sate Paris Bang Man. Foto: Indra

Awalnya, Bang Man membuka usahanya di Jalan Ledta. Sujono, tidak jauh dari gedung kantor Harian Waspada, di tahun 1970. Ia sempat beberapa kali pindah, hingga kemudian menempati sebuah rumah kecil di Jalan Amaliun tersebut.

Selain itu, juga ada Sate Nasional yang biasanya mangkal di Lapangan Merdeka Medan, tepatnya di Jalan Pulau Pinang, berseberangan dengan kantor Bank Mandiri. Gerobak sate yang menggunakan kendaraan mobil ini menyediakan Sate padang, sate kacang, dan bumbu kecap dengan tiga daging pilihan, yakni daging ayam, kambing, dan sapi.

Sate Nasional biasanya baru buka sekitar pukul 19.00 WIB hingga menjelang tengah malam. Dengan harga Rp. 15.000 untuk delapan tusuk sate dan beberapa potong ketupat, sate padang yang satu ini memang selalu ramai dikunjungi oleh para pelanggannya setiap malam, sejak 25 tahun lalu. Bahkan, sekarang Sate Nasional juga sudah membuka satu gerai di Merdeka Walk, pusat kuliner di Kota Medan, yang juga berlokasi di Lapangan Merdeka.

Rekomendasi terakhir adalah Sate Padang Alfresco yang berlokasi di Jalan Setia Budi. Sate padang yang terkenal cukup pedas dengan dagingnya yang tebal ini biasanya buka sejak sore hingga menjelang pukul 23.00 WIB. Dengan harga Rp 14.000 per porsi, perut akan terasa kenyang. Sate Padang Alfresco ini juga membuka gerai di dalam pusat perbelanjaan terbesar di Kota Medan, yakni Carrefour Plaza Medan Fair.

Tambuah ciek!

(70)

Adela Eka Putra Marza Anak kampung dari pesisir Sumatera Barat ini pertamakali melahirkan karya tulisnya saat masih di bangku Sekolah Menengah Pertama. Kini, pria yang menekuni pekerjaan sebagai penulis dan berlatarbelakang pendidikan jurnalistik ini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *