Home Featured Samin dan Pembangkangan
1

Samin dan Pembangkangan

382
1
Peta Blora, Jawa Tengah. Gambar: Google Earth.

Banyak orientalis dan sejarawan terkenal dari Amerika Serikat, Eropa, dan Australia menulis pergerakan nasional Indonesia diawali dengan pembahasan singkat ihwal berkobarnya pergolakan yang timbul di daerah Blora, Jawa Tengah, pada akhir abad 19 dan awal abad 20. Nyaris tertinggal, struktur penulisan sejarah seperti itu baru muncul kemudian di negerinya sendiri, Indonesia. Dan karena kearifan intelektual, heroisme pergolakan yang dilakukan oleh pergerakan Samin itu terurai dalam alinea-alinea awal latar belakang buku Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Blora yang diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Blora pada 1987.

Pergerakan Samin muncul di sekitar 1890, dua dasawarsa menjelang apa yang disebut sebagai “kebangkitan nasional” pada 1908. Ia lahir di pelosok dan menjalar ke desa-desa hutan dari pantai utara Jawa sampai pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan. Disebut desa hutan karena lokasinya berada di tepi hutan, di dalam kawasan atau di bekas areal hutan, persisnya antara perbatasan wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur menurut peta sekarang. Dipelopori dan dipimpin oleh para guru tanpa buku, pengikut-pengikutnya tidak dapat membaca atau pun menulis. Sedangkan perintisnya, Samin Surosentiko (1859-1914) beserta para pemimpin pergerakan lainnya, buta aksara pula.1

Bangkitnya pergerakan melawan penjajah tersebut bisa jadi dipicu oleh hebohnya masalah tanah guna pembangunan emplasemen dan jalan kereta api yang mulai dikerjakan di daerah itu. Atau bisa juga berkobar akibat kesengsaraan petani menghadapi konservasi tanah pada awal berkembangnya sistem liberal dalam manajemen pengelolaan hutan dan pemasaran hasil-hasilnya.

Pergerakan Samin dicetuskan di Dukuh Bapangan Desa Mendenrejo Kecamatan Keradenan Kabupaten Blora, sebagaimana dilaporkan oleh penguasa kolonial Belanda setempat kepada atasannya pada 1903. Saat itu, pengikutnya tercatat mencapai sekitar 772 kepala keluarga yang tersebar di 34 desa di Kabupaten Blora Selatan dan perbatasan Kabupaten Bojonegoro. Empat tahun kemudian, ketika para pemimpinnya ditangkap dan diasingkan ke luar Jawa, jumlah pengikut Samin meningkat sekitar tiga ribu rumah tangga yang tersebar di lima wilayah Karesidenan, yaitu Pati, Bojonegoro, Madiun, Surakarta, dan Semarang.

Menurut peta 1917, komunitas pergerakan Samin surut tinggal 2.305 kepala keluarga, termasuk 1.701 kepala keluarga di daerah Blora, 283 kepala keluarga di Bojonegoro, dan sisanya berada di Pati, Rembang, Kudus, Madiun, Sragen, serta Grobogan. Secara demografis, populasi paham Samin ketika itu sangat pesat ketimbang kelompok pergerakan lainnya. Sebut saja Perkumpulan Boedi Oetomo yang didirikan oleh kaum intelektual Jawa, dimana pada 1909 ternyata hanya mempunyai empat puluh cabang dengan sepuluh ribu anggota di seluruh Jawa. Sedangkan Indische Partij yang lahir di Pulau Jawa, dalam laporan musyawarahnya, pada 1912 hanya mempunyai tiga puluh cabang dengan 7.300 anggota di seluruh Indonesia, itu pun kebanyakan orang Indo-Belanda, sedangkan anggota pribumi hanya 1.500 orang.

Tujuh tahun setelah proklamasi Negara Republik Indonesia di Jakarta (Pulau Jawa), komunitas Samin dinyatakan tidak lagi memisahkan diri dari tata kehidupan pedesaan. Mereka berbaur bersama kelompok masyarakat lainnya dalam derap perjuangan mengisi kemerdekaan. Terakhir, sesuai dengan evidensi, pergerakan Samin yang tak mempan ditumpas oleh pemerintah kolonial Belanda itu dinyatakan tidak ada lagi dengan mewariskan budi pekerti dan semangat kerja maupun ketekunan dan keuletan yang dimiliki generasi turunannya. Pergerakan yang secara spektakuler bangkit sebelum “kebangkitan nasional” itu mengakibatkan enam orang pemimpinnya diasingkan ke luar Jawa berdasarkan besluit (keputusan) Nomor 22 tanggal 21-12-1907. Masing-masing adalah Samin Surosentiko ke Padang (Sumatera Barat)3, Singo Tirto, Sorejo, Kertogolo, Ronodikromo, dan Suryani ke Bengkulu dan Manado.

Tema sentral perjuangan pergerakan Samin yang diajarkan kepada para pengikutnya adalah membangkang pada perintah penguasa, menolak membayar pajak, dan pemisahan diri dari tata kelaziman pedesaan yang berpihak kepada kekuasaan penjajah.4 Dalam berkomunikasi, orang Samin berciri khas menggunakan bahasa Jawa ngoko (kasar) ragam esoterik.

Generasi Penerus
Walaupun pergerakan Samin saat ini telah tiada, namun keturunan komunitasnya masih memegang tradisi dan nilai budaya yang tak berbeda dengan pendahulu-pendahulunya. Mereka masih tersebar di banyak wilayah, di antaranya di Dukuh Tanduran, Desa Kemantren, Kecamatan Kedungtuban, dan Kabupaten Blora.

Dalam silaturahmi saya bersama-sama rekan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) dari Jakarta pada 22 Februari 1999, diperoleh informasi bahwa tidak sedikit dari kalangan ilmuwan telah berkunjung ke sana. Para pengunjung telah berhasil meraih strata pendidikan tinggi karena tulisannya perihal pergerakan Samin.

Namun mereka, bahkan pemerintah sendiri pun, lupa atas peran pergerakan Samin dalam merintis perlawanan terhadap penjajah. Samin Surosentika dan kawan-kawannya yang dibuang ke luar tanah kelahirannya dan meninggal di tempat pengasingan hanyalah orang-orang kalangan bawah. Berasal dari golongan lemah dan buta aksara. Adapun tradisi dan nilai budaya yang mereka miliki –dan hampir langka itu– hanyalah pusaka lestari yang disediakan bagi siapa pun yang ingin mencontohnya, yaitu wejangan (nasihat) tentang kejujuran, kesahajaan, keterbukaan, demokratisasi, realistis, ketekunan, dan keuletan serta kerja keras mereka.

Salah seorang cucu Samin Surosentiko dari Surohidin (penyebar Saminisme di beberapa wilayah Karesidenan Pati, Bojonegoro, dan Semarang), Darmosaridjo, 80 tahun, kini hidup bersama anak dan cucu-cucunya. Mereka hidup sederhana, tak mengenal kredit koperasi atau bank. Mereka adalah para petani yang menggunakan alat pertanian berteknologi cukup, seperti pompa pantek (pompa yang digerakkan oleh mesin pembangkit) guna menyedot air sungai Bengawan Solo (Solo, Jawa Tengah), untuk pengairan sawah.

Keturunan pencetus cikal bakal pergerakan nasional tersebut rajin menonton televisi miliknya sendiri, sekaligus pintar melakukan seleksi mana tontonan yang layak dicontoh atau harus ditinggalkan. Mereka seperti penduduk yang lain: mempunyai pekarangan atau halaman rumah yang berpagar, pelunas Pajak Bumi dan Bangunan terdini, dan pendukung utama kemajuan desa sehingga mampu mengatrol scor desa mereka secara luar biasa menjadi desa swasembada.5 Mereka berhasil melestarikan tradisi dan nilai budaya yang justru makin langka dengan tetap menjaga tradisi lisan ragam bahasa Jawa ngoko yang bergaya esoterik.

Demo Ala Samin6
Dalam melakukan aksi unjuk rasa, masyarakat Samin yang sering dianggap ‘agak terbelakang’ punya cara ampuh yang mampu membuat jeri. Kisah masa lalu yang diceritakan almarhum Margono, pensiunan Wedana Banyuwangi yang pernah bertugas sebagai mantri polisi Onder Distrik Sambong, Kabupaten Blora, sebelum 1940, itu bermula saat seorang warga Samin dibebaskan dari penjara. Ia meluapkan kegembiraannya dengan merealisasikan nazar, yakni minta ditampar asisten wedana (sekarang camat) wilayah Sambong, Kabupaten Blora.

Ia datang ke kecamatan dengan diikuti lebih dari 50 sesama orang Samin. Celakanya, mereka semua menuntut agar camat menempeleng kepala mereka satu per satu. Penyebab orang Samin tersebut dipenjara gara-gara membangkang perintah sang camat untuk membayar pajak.

Mengira akan dikeroyok, camat pun panik. Ia lalu bersembunyi di balik pintu sebuah ruangan. Pegawai kecamatan membujuk orang-orang Samin untuk menunda pelaksanaan nazar dengan alasan camat sedang menghadap bupati di Blora, yang jaraknya sekitar tiga puluh kilometer dari tempat itu. Namun, para pengunjuk rasa tidak beringsut. Menurut mereka, mereka datang dan pergi atas kehendak sendiri, tidak perlu diperintah. Mereka ngotot tetap menunggu camat.

Akhirnya, sekitar pukul 22.00 WIB, sang camat pun keluar dari persembunyiannya. Maka tercapailah nazar yang amat melelahkan itu, yang membuat telapak tangan menjadi sakit dan panas: menampar sebanyak lima puluh kepala.

 


1 Perihal bisa dan tidaknya Samin dalam baca tulis masih menjadi perdebatan. Sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa Samin tidak bisa baca tulis, tapi Suripan Sadi Hutomo mengatakan bahwa Samin bisa membaca dan menulis. Lihat Suripan Sadi Hutomo, Tradisi dari Blora, (Semarang : Citra Almamater, 1996) hlm. 16 – 17. Tentang kemampuan Samin dalam membaca dan menulis (aksara Jawa) juga dikuatkan oleh R.P.A. Soerjanto Sastroatmodjo dalam bukunya Masyarakat Samin: Siapakah Mereka? (Jogjakarta : Narasi, 2003) hlm. 12-13 dan hlm. 32-34. (ed.)
2  Lihat Takashi Shiraishi, Hantu Digoel (edisi Indonesia), (Jogjakarta : LKiS, 2001) hlm. 2. (ed.)
3  Ini adalah contoh bentuk pmbangkangan/perlawanan tanpa kekerasan. (ed.)
4  Lihat R.P.A. Soerjanto Sastroatmojo, Op. Cit., hlm. 47-48. (ed.)
5  Tulisan ini pernah dimuat dalam majalah INTISARI edisi November 2001. (ed.)

(382)

Darmo Subekti Darmo Subekti adalah pengamat sejarah Blora, Jawa Tengah. Ia sering dijadikan rujukan bagi kepentingan penelitian sejarah di Blora. Tulisan-tulisannya sering dimuat di beberapa media massa, antara lain Majalah Intisari, Jakarta.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. saya merasa bahwa orang Samin-lah yang berhak mengaku sebagai orang Indonesia asli, yang punya kepribadian sejati, mandiri dan tak tergantung apapun.
    selayaknya kita mencari pemimpin dari tipikal yang sama dengan Samin.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 2 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *