Home Bernala Revolusi Karbala: Seni Melawan Penindasan
1

Revolusi Karbala: Seni Melawan Penindasan

50
1
Okky Tirto

Hari ke sepuluh bulan Muharram, puncak tragedi itu meletus di wilayah yang kini disebut Irak. Sebuah tragedi kemanusiaan berwujud pembantaian yang sejatinya adalah sebuah revolusi. Revolusi kesadaran untuk menyuarakan “tidak!” pada tirani. Tapi, mengapa revolusi kesadaran?

Pada mulanya, yang dilakukan al-Husain adalah upaya merevolusi cara berpikir orang yang pada saat itu, dan boleh jadi juga sekarang, menganggap penindasan rezim despotik sebagai suatu kewajaran yang harus didiamkan sebagaimana adanya. Pandangan semacam ini yang diubah. Sehingga, ketika kesadaran itu muncul, ia akan bergulir pada suatu kesadaran yang lebih tinggi. Kesadaran yang bukan hanya mulai bisa melihat keadaan tiranik itu sebagai suatu yang abnormal, tapi, lebih dari itu, berpikir bahwa bayang-bayang penindasan itu harus dihilangkan. Pada tahapan ini, revolusi kesadaran berbuah kesadaran revolusioner.

Beberapa waktu lalu, saya diminta berbicara dalam sebuah diskusi Asyura. Para pembicara memaparkan pandangan mereka dari perspektif historis-teologis maupun sufistik. Namun, saya lebih memilih untuk menilik peristiwa besar itu dalam bingkai berbeda. Sesuai tema seminar ‘Asyura dalam Konteks Keindonesiaan’, maka saya berupaya berbicara dalam tarikan nafas yang selaras dengan tema tersebut. Sejatinya apa yang saya lakukan adalah meminjam ‘kacamata’ Karbala untuk menatap Indonesia.

Awalnya, salah seorang pembicara menjelaskan betapa kita hidup di alam materi ini tidak luput dari pertentangan. Sebab pertentangan memang hanya ada di alam materi. Alam ukhrawi tidak menyimpan perbendaharaan pertentangan, tandasnya. Alhasil, singkat kata, kehidupan niscaya lahir kembar dengan garis yang ditarik peradaban sehingga yang tampil adalah Qabil di satu sudut dan Habil di sudut lain, Firaun di satu sisi dan Musa di sisi lain, Muhammad di satu pihak dan Abu Lahab di pihak lain. Demikian pula halnya dengan al-Husain dan Yazid yang berhadap-hadapan diantara garis pertentangan.

Saya melihat pemaparan tersebut sebagai pintu masuk mengantarkan kita untuk melihat Indonesia. Tentu kita bukan sedang berharap betapa Indonesia akan menjadi ladang pembantaian seperti halnya al-Husain dibantai secara sadis oleh serdadu Yazidis di Karbala. Akan tetapi, yang ingin saya paparkan adalah bagaimana Karbala menjadi pelajaran yang bisa membukakan mata kita untuk melihat realitas objektif Indonesia.

Menyambut pemaparan tentang alam materi tadi, maka saya melihat ada beberapa aspek dari materi yang dapat kita pinjam untuk membedah objek pengamatan semisal ruang dan waktu, objektivitas, bentuk relasi, serta bentuk dan isi. Ini bisa dilakukan sebagai sarana melihat Karbala sebagai sekumpulan simbol, bukan sekadar menyikapinya sebagai history atau bahkan story yang tak jarang ramai berbubuh bumbu semacam legenda, dongeng atau nuansa hiperbolik selayaknya cerita rakyat tempo dulu.

Kembali kita pada empat azas menilik materi tadi dalam upaya mengambil pelajaran dari karbala. Pertama, ruang dan waktu. Faktor ini akan memberikan pemisahan dimensi tempat dan dimensi masa dimana kita bisa menempatkan tragedi Karbala sebagai cerminan menuai cara pandang kekinian. Jika Karbala bertempat di Irak, maka kita berada di Indonesia, dan jika Karbala itu sejarah tempo hari, maka konteks Indonesia adalah hari ini. Kemudian mengenai objektivitas. Azas ini menginginkan kita untuk melihat objek sebagaimana adanya. Tentu kita tidak akan masuk pada pembahasan apakah kita mampu melihat objek sebagaimana adanya yang pada akhirnya menggiring kita masuk pada pembahasan sintesis apriori ala Kantian. Tetapi, apa yang saya maksudkan adalah mencoba melihat realitas objektif yang memang sudah berkabut berlapis tirai kesadaran palsu.

Boleh jadi, keseharian kita saksikan sebagai serangkaian fenomena kehidupan normal. Hidup ya memang seperti ini, dalam bahasa yang kerap kita jumpai sehari-hari. Dalam pengamatan lebih dalam, Indonesia itu indah, mooi Indie. Kita ditanamkan bahwa negeri ini indah, kaya, berlimpah ruah, dan seterusnya. Kita dikondisikan berada pada zona nyaman berselimut informasi yang sudah dikemas sedemikian rupa. Kita dikepung kesadaran palsu. Sehingga sulit rasanya membedakan mana yang merupakan realitas objektif. Ini yang merupakan maksud dari bentuk dan isi. Bahwa bentuk tidak selalu mencerminkan isi, oleh karenanya kita harus benar-benar pasang mata dan pasang rasionalitas untuk menyibak makna atau isi di balik bentuk-bentuk yang kerapkali memalsukan keadaan. Dan pada saat kita sampai pada penglihatan tentang isi dibalik distorsi realitas objektif itu, kita akan melihat relasi model apa yang terjalin. Apakah ia berbentuk simbiosis mutualisme, parasitisme, atau penghisapan yang dikemas sedemikian rupa sehingga tampak bukan hanya wajar, tapi profesional.

Karbala menyimpan sejumlah simbol. Adalah- al-Hasan dan al-Husain di satu sisi, ada Yazid di lain sisi. Ada Syimir, Marwan bin Hakam, dan ahl Kuffah. Kita tahu, betapa kisah Asyura menyebutkan pengkhianatan atas al-Hasan oleh bani Umayyah sehingga al-Hasan mati diracun.

Mengenai hal ini, ketika berada di Aceh beberapa tahun lalu, saya mendengar sebuah syair yang mengisahkan dua cucu Nabi Muhammad SAW, al- Hasan dan al- Husain. Syair itu mengisahkan bahwa keduanya adalah cucunda Nabi, anak dari Fatimah Zahra, al-Husain terbunuh dalam perang, dan al-Hasan mati diracun. Adapun nama Marwan bin Hakam, dalam kisah Asyura dikabarkan bahwa ia adalah broker yang sibuk kasak kusuk demi langgengnya suksesi penguasa zalim. Ia lakukan berbagai cara untuk meminta suara rakyat. Ia adalah kaki tangan Yazid, seorang Tiran yang jauh dari nilai positif. Sedangkan ahl Kuffah adalah sekelompok orang yang mengajak al-Husain untuk berjuang namun meninggalkannya di tengah jalan. Adapun Syimir adalah jagal yang mengabdikan dirinya pada rezim sadis Yazidis.

Mari kita lihat Indonesia dari perspektif ini. Saya tiba-tiba teringat istilah Emha Ainun Nadjib, budayawan asal Jombang yang kerap disebut Cak Nun, yang mengatakan bahwa kita ini di-Hasan-kan. Saya pikir, istilah itu sangat tepat. Al-Hasan mati diracun. Pun demikian halnya dengan bangsa ini. Habis-habisan kita diracuni dengan kepentingan ekonomi politik yang menguras habis kekayaan bumi pertiwi. Kita diracun oleh sistem yang dengan senang hati kita terima tanpa peduli berapa kekayaan alam kita yang dikeruk. Yang penting ada nominal yang merembes ke rekening. Aneh, diracun tapi senang dan ikhlas. Padahal, ketika bangsa ini di-Hasan-kan, harusnya anak-anak bangsa meng-Husain-kan diri.

Tapi kenyataan berkata lain. Lebih banyak yang memilih menjadi broker nominal rembes model Marwan bin Hakam. Ada pula yang menjadi ahlul Kuffah yang memprovokasi perlawanan tapi meninggalkannya di tengah jalan. Dan celakanya, tidak sedikit yang terang-terangan menjadi Syimir. Jika dalam tragedi Karbala, Syimir dikisahkan sebagai jagal yang memenggal kepala al-Husain, maka kini Syimir-Syimir itu menggorok kekayaan alam bumi pertiwi tanpa tedeng aling-aling.

Kenyataan berkata bahwa banyak yang memilih menjadi staf neo-Yazidisme. Karbala memberikan gambaran bahwa pengikut setia al-Husain memang tak banyak dibanding mereka yang menjual diri pada Yazid. Nampaknya pun demikian dengan kini. Sebab, setiap hari adalah Asyura dan setiap jengkal tanah adalah Karbala. Setiap hari adalah hari pembebasan dan setiap tempat adalah ruang Pembebasan. Jika neo-Yazidisme telah jelas menampakkan diri, lantas kemana neo-Husainisme?

(50)

Okky Tirto Okky Tirto adalah peminat kajian sejarah dan kebudayaan. Ia berdomisili di Jakarta.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. bagi alHusayn, asyura adalah monumen kebenaran yang diyakini gaung perjuangannya akan abadi sampai akhir zaman. monumen ini juga adalah upaya untuk menghilangkan penyakit lupa dalam diri pengikut2nya. bangsa Indonesia harus bisa menjadikan asyura juga sebagai monumen perjuangan anti penindasan, terutama terhadap penguasa tiran yang sungguh tak berhak berada di posisinya…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *