Home Bernala Islam Tanpa Syiah?
2

Islam Tanpa Syiah?

32
2
Rumadi

Penyerangan dan intimidasi terhadap komunitas Syiah di Sampang, Madura (29/12/11), Jawa Timur, merupakan puncak gunung es dari ketegangan kehidupan keagamaan di sebagian wilayah Indonesia. Sebelumnya, komunitas Syiah di Pasuruan, juga di Jawa Timur, juga diserang oleh sekelompok orang yang menamakan diri Jamaah Ahlussunnah wal Jama’ah. Meski sebagian kalangan mencoba melakukan “sekularisasi”, misalnya dengan mengatakan persoalan di Sampang merupakan urusan keluarga dan tidak ada hubungan dengan persoalan keyakinan keagamaan, namun tetap saja tidak bisa menutupi ketegangan teologis antara Sunni dan Syi’i.

Meski demikian, selalu ada ada hikmah terselubung dibalik konflik seperti itu. Sebagaimana peristiwa “11 September” di AS yang diikuti keinginan untuk mengetehui seluk beluk Islam, peristiwa Syiah di Sampang tampaknya juga menjadikan banyak kalangan ingin tahu tentang Syiah. Jika pengamatan sekilas ini benar, momentum ini seharusnya menjadi kesempatan baik untuk mengembangkan sikap saling memahami, bukan justru saling menjatuhkan. Orang Sunni bisa mempelajari Syiah tanpa harus menjadi Syiah, demikian juga sebaliknya.

Di samping itu, orang yang hendak mempelajari Syiah perlu melihat secara kritis latar belakang “guru” yang menyampaikan atau menulis sebuah karya. Penulis-penulis non Syi’i yang menulis tentang Syiah pada umumnya cenderung mencari kesalahan-kesalahan Syiah. Karena itu, “kritik sumber” menjadi hal yang penting.

Dari Politik ke Teologi
Syiah merupakan bagian otentik dari Islam. Semua sumber buku-buku otoritatif mengenai teologi Islam tidak ada yang mengeluarkan Syiah ke luar rumpun Islam. Meskipun Syiah tidak tunggal, namun secara umum tetap diakui sebagai keluarga Islam.

Syiah merupakan madzhab besar dalam Islam, baik secara teologi maupun fiqih. Meski demikian, kelahiran Syiah pada awalnya bukan karena perbedaan dalam menafsirkan ayat suci al-Quran atau hadist Nabi Muhammad. Syiah lahir karena pertikaian politik umat Islam sejak masa awal. Bahkan, masalah pertama yang muncul sepeninggal Rasulullah adalah persoalan politik kekuasaan. Nah, persoalan agama, baik paham teologi, fiqih, dan juga tafsir muncul belakangan yang digunakan untuk mengikat dan memperkuat faksi politik.

Jejak-jejak persoalan politik yang melahirkan Syiah bisa ditelusuri sejak sepeninggal Rasululullah. Ketika jasad Rasulullah belum dimakamkan, para sahabat sudah berselisih paham mengenai “pengganti” Rasulullah. Ketika Abu Bakar As-Shiddiq diangkat menjadi khalifah atas otoritas Umar bin Khattab, keluarga inti Rasulullah seperti Ali bin Abi Thalib dan Fatimah “tidak enak hati”, dan berbaiat setelah tiga bulan Abu Bakar menjadi khalifah.

Namun, peristiwa yang paling tragis dan menjadi momentum bangkitnya Syiah adalah konflik politik ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah hingga pembunuhan terhadap Husain, cucu Rasulullah, oleh penguasa Bani Umayyah, Yazid bin Mu’awiyah. Sebagaimana ditulis para ahli sejarah, Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah dalam suasana yang kacau setelah khalifah sebelumnya, Usman bin Affan, dibunuh. Pembunuhan Usman bin Affan merupakan permulaan dari fitnah yang amat besar pengaruhnya kepada terjadinya skisme (perpecahan) dalam Islam yang hingga hari ini masih bisa dirasakan.

Ali bin Abi Thalib memang tokoh yang populis dan menunjukkan sikap simpati kepada para pemprotes Usman. Karena itu, para pemrotes Usman begitu simpati dan mendukung pengangkatan Ali bin Abi Thalib. Tapi, justru di sinilah letak masalahnya. Keluarga dan simpatisan Usman menuntut Ali agar segera menangkap dan menghukum pembunuh Usman. Karena Ali tidak memberi respon yang memuaskan, keluarga dan simpatisan Usman, terutama dari kalangan Umawi (anak cucu Umayyah ibn Abd Syams) dan juga tokoh-tokoh seperti Aisyah, puteri Abu Bakar dan istri Rasulullah yang sangat dicintai, dan Zubayr bin Awwam (seorang tokoh dari keluarga Abu Bakar) menunjukkan sikap oposisi, bahkan memusuhi Ali bin Abi Thalib yang dianggap melindungi pembunuh Usman.

Dari kalangan Umawi, tuntutan untuk mengusut pembunuh Usman begitu keras. Hal ini dipelopori oleh seorang politikus dan gubernur yang cakap, Mu’awiyah bin Abu Sufyan (anak Abu Sufyan yang menjadi musuh utama Nabi sampai peristiwa fathu makkah, penaklukan Mekkah) dan dibantu Amru bin ‘Ash, komandan militer yang menaklukkan Mesir.

Situasi itu menyeret pertikaian politik yang koatik (chaos) yang menyeret umat Islam dalam kancah peperangan diantara mereka dengan korban jiwa yang tidak sedikit. Ali bin Abi Thalib harus berperang dengan kelompok Aisyah dan Zubayr bin Awwam dalam pertempuran di dekat Bashrah yang kemudian dikenal sebagai perang onta. Meski Ali memenangkan pertempuran, namun peristiwa itu membawa luka yang dalam bagi umat Islam.

Yang lebih parah dan membawa dampak yang jauh lebih dalam adalah permusuhan Ali dengan Mu’awiyah. Peperangan antara keduanya semula berakhir dengan kemenangan Ali. Namun, karena iktikad baik dan sikap politik yang “polos”, Ali menerima usulan arbitrase. Akibat penerimaan itu, Ali justru kehilangan dukungan dari sebagian pasukannya yang gigih dan militan yang sejak awal ingin melakukan penyelesaian militer terhadap Mu’awiyah. Mereka ini akhirnya membentuk faksi baru di luar Ali dan Mu’awiyah yang menamakan diri sebagai kaum as-Syurat, atau oleh para ahli sejarah dijuluki sebagai kelompok Khawarij. Mereka inilah yang nanti membunuh Ali bin Abi Thalib.

Sepeninggal Ali, secara de facto Mu’awiyah memegang tampuk kekuasaan yang berpusat di Damaskus. Pada 41 H, umat Islam dapat dikatakan kembali kepada keutuhan. Dengan modal itu, Mu’awiyah memperkuat imperium Bani Umayyah dengan program-program ekspansi militer. Tetapi, setelah Mu’awiyah meninggal dan diganti putranya, Yazid bin Mu’awiyah, keadaan kembali pada kekacauan.

Tantangan yang dihadapi Yazid datang dari para pendukung Ali. Semula pendukung Ali menginginkan Hasan bin Ali mempertahankan klaim kekhalifahan untuk menghadapi Mu’awiyah di Damaskus. Namun, sikap Hasan yang tidak memberi respon memuaskan membuat kecewa para pendukung Ali. Harapan akhirnya diberikan kepada putra Ali yang lain, yaitu Husein. Husein bergabung dengan pendukung Ali untuk memberontak di Kufah, Irak kini. Tetapi, sebelum tentara Syiria (Suriah) datang menyerbu, banyak kalangan dari penduduk Kufah yang menarik dukungannya kepada Husein setelah dibujuk Gubernur Syiria. Dengan kekuatan militer yang terbatas, Husein menolak untuk menyerah sehingga mereka terpojok di padang pasir Karbala, dekat Kufah. Tentara Yazid berhasil menghancurkan mereka. Dan Husein–putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah, cucu Rasulullah—terbunuh dengan cara yang sangat kejam dan tragis.

Sejak terjadinya peristiwa Karbala tersebut, para pendukung setia Ali bin Abi Thalib dan keturunannya dikenal dengan sebutan Syiah (selengkapnya “Syiah Ali” atau “Partai Ali”). Dengan menggunakan sentimen kematian tragis Husein, kaum Syiah perlahan-lahan mengkonsolidasikan diri dan mengembangkan pandangan-pandangan keagamaan, sosial, dan politik yang kelak mengkristal menjadi doktrin Syi’isme.

Syiah akhirnya berkembang tidak semata sebagai kekuatan politik, tapi juga menjadi kekuatan pemikiran Islam dalam berbagai bidang, seperti fiqih, tafsir, hadits, dan teologi. Bahkan, pemikiran-pemikiran filsafat juga lebih berkembang di dunia Syi’i, daripada Sunni. Tradisi pemikiran Islam rasional yang dipengaruhi Mu’tazilah juga lebih berkembang dalam tradisi Syi’i.

Dalam sejarah Islam di Timur Tengah, dinasti yang dikuasai Syiah antara lain Dinasti Buwaihi (Syiah Zaidiyah berdiri pada 334 H/945 M), Dinasti Dailamiyah (juga Syiah Zaidiyah, berdiri pada 315 H/927 M), Hamdaniyah (berdiri pada 317 H/1004 M), dan Fatimiyyah (pecahan Syiah Ismailiyah, berdiri pada 297 H/900 M). Dinasti-dinasti tersebut tidak pernah mencoba untuk menumbangkan kekuasaan Sunni yang dikuasai Bani Abbasiyah di Bagdad. Dinasti-dinasti ini, meski cukup gencar mengembangkan paham Syiah, namun mereka tetap memberikan kebebasan kepada warga Sunni untuk tetap dalam kesunnian mereka. Begitu juga ketika dinasti-dinasti Sunni berkuasa, seperti Dinasti Saljuk (berdiri 429 H/1037 M) dan Dinasti Ayyubiyah (berdiri 564 H/1169 M), kaum Syiah tetap hidup dalam kesyiahannya. Bahkan, penguasa-penguasa Sunni sering bekerjasama dengan otoritas Syiah moderat untuk mencegah pertumbuhan kelompok-kelompok Syiah ekstrim, termasuk Syiah Qaramithah.

Pertarungan ideologi politik Sunni-Syiah, menurut Azyumardi Azra (1995), baru muncul sejak Dinasti Safavi berkuasa di Persia (907-1501 H/1145-1732 M). Syeikh Ismail, pendiri Dinasti Safavi, memproklamasikan paham keagamaan Syiah sebagai “paham agama resmi” negara. Ia mewajibkan setiap khatib di mimbar untuk memuja Ali bin Abi Thalib dan imam-imam Syiah yang lain, sembari mengutuk Abu Bakar, Umar, Usman serta penguasa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Kekuatan militer digunakan untuk menundukkan orang-orang Sunni yang tidak mau mencerca ketiga khalifah tersebut. Kebangkitan Kesultanan Safavi menjadikan Persia sejak masa itu hingga sekarang menjadi pusat keagamaan dan politik Syiah. Itulah Iran yang kita kenal sekarang.

Dari paparan di atas, hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa Sunni dan Syiah merupakan anak kandung yang absah di dalam Islam. Memang ada sejumlah perbedaan doktrin antara Sunni dan Syiah, tapi “permusuhan” dua kelompok besar dalam Islam ini bukan karena persoalan perbedaan dalam menafsirkan Islam, tapi lebih karena pertentangan politik.

Meski demikian, relasi Sunni-Syiah secara politik tidaklah monoton. Ada saat dimana keduanya bisa  bekerjasama, berbeda tapi tidak saling mengganggu, namun ada juga fase dimana pertikaian politik dan paham keagamaan begitu kental. Meski secara politik sering bermusuhan, tapi Syiah sebagai kekuatan peradaban Islam tak pernah bisa diabaikan. Bahkan, tidak mungkin bisa melepaskan Syiah dalam mempelajari peradaban Islam dan perkembangan filsafat Islam.

Bagaimana dengan Syiah Indonesia?
Memang tidak ada data pasti kapan Syiah datang ke Indonesia. Meski ada yang berspekulasi seperti M. Yunus Jamil (1968) dan A. Hasymi (1983) yang mengatakan Islam yang datang ke Indonesia adalah Islam Syiah, bahkan pernah menjadi kekuatan politik tangguh di kepulauan ini, namun hal tersebut tidak cukup meyakinkan. Meski demikian, yang sulit disangkal adalah dekatnya kultur keislaman Indonesia, terutama Nahdatul Ulama (NU) dengan tradisi Syiah. Bahkan KH. Abdurrahman Wahid, yang biasa disebut Gus Dur, pernah menyatakan bahwa Nahdatul Ulama secara kultural adalah Syiah minus imamah; Syiah adalah Nahdatul Ulama plus imamah.

Mengapa demikian? Dalam tradisi Madzhab Syafi’i di Indonesia, ia sangat kental dengan tradisi Syiah. Ada beberapa puji-pujian khas Syiah yang sampai sekarang dibaca di pesantren-pesantren dan masjid-masjid. Penulis ingat betul ketika masa remaja selalu membaca pujian ini menjelang shalat subuh: likhamsatun uthfi biha harral waba’ al-khatimah. Al-mushtafa wal murtadha wabnahuma wa Fatimah (Aku memiliki lima “jimat” untuk memadamkan epidemi yang mengancam; mereka adalah al-Musthafa (yakni Nabi Muhammad), al-Murtadla (yakni Ali ibn Abi Talib, menantu dan sepupu Nabi), kedua putra Ali (yakni Hasan dan Husein), dan Fatimah (isteri Ali). Gus Dur menyebut gejala ini sebagai “Syiah kultural” atau pengaruh Syiah dari segi budaya, bukan dari segi akidah.

Ada juga wirid-wirid tertentu yang jelas menyebutkan lima keturunan ahlul bait, tradisi ziarah kubur, membuat kubah pada kuburan, tradisi tahlilan, peringatan kematian hari ke tiga, ke tujuh atau empat puluh, dan juga tradisi haul. Tradisi-tradisi tersebut tidak dikenal dalam tradisi madzhab Syafi’i di Mesir, misalnya, tapi dikenal dalam tradisi Syafi’i di Indonesia. Dalam tradisi Nahdatul Ulama juga dikenal membaca shalawat diba’ yang biasanya dibaca pada setiap malam Jumat. Pada shalawat tersebut disebutkan seluruh imam Syiah yang dua belas. Masyarakat Nahdatul Ulama juga sangat menghormati keturunan Nabi Muhammad (ahlul bait), bahkan terkadang agak berlebihan. Orang Nahdatul Ulama-Jawa pada umumnya tidak berani mengadakan hajat pada bulan Asyura, karena bulan tersebut merupakan bulan kesedihan, yaitu terbunuhnya Husein pada 10 Asyura. Demikian juga dengan tradisi tabuik di Pariaman Sumbar atau tabot di Bengkulu sangat kental dengan tradisi Syiah.

Tanpa harus menjadi Syiah, tradisi tersebut berjalan begitu saja sebagai bagian dari tradisi keagamaan. Hal inilah yang kemudian menjadikan sebagian kalangan beranggapan tidak relevan mempertentangkan secara tajam antara Sunni dan Syiah dalam konteks Islam Indonesia. Di samping Islam Indonesia tidak mempunyai sejarah konflik Sunni-Syiah, keduanya bahkan saling menyerap tradisi dan saling belajar.

Pertanyaannya, kenapa belakangan ini Sunni dan Syiah mengalami ketegangan sedemikian rupa di Sampang dan Pasuruan? Gejala ini tentu saja aneh, mengingat ia justru terjadi di kantong-kantong Nahdatul Ulama yang dikenal moderat. Ada beberapa hal yang bisa digunakan untuk menjelaskan hal tersebut.

Pertama, di dunia Islam, pada tingkat global, terjadi persaingan yang sangat kuat antara Iran (Syiah) dengan Saudi Arabia (Sunni yang Wahabi). Saudi Arabia sebagai “pusat Islam” beserta jaringan-jaringannya mengerahkan segala upaya untuk menangkal perkembangan Syiah di dunia Islam.

Kedua, Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yang dikenal moderat merupakan wilayah yang mudah dipengaruhi Syiah. Apalagi dengan bukti-bukti kedekatan kultural sebagaimana tersebut tentu sangat mengkhawatirkan Saudi Arabia. Dalam konteks inilah, kelompok-kelompok Salafi yang sangat dipengaruhi oleh doktrin Wahabisme yang sekarang tumbuh dimana-mana bertemu dengan kepentingan Saudi Arabia. Dalam konteks anti Syiah, keduanya mempunyai kepentingan yang sama, membendung Syiah. Bagi kelompok Sunni-Salafi-Wahabis ini, Syiah dianggap sebagai kelompok yang sudah keluar dari Islam.

Ketiga, menguatnya kelompok intoleran, terutama dari kalangan Sunni-Salafi-Wahabis, ini berpengaruh ke mana-mana, termasuk ke dalam tubuh Nahdatul Ulama. Jika Nahdatul Ulama secara kelembagaan tidak mampu membendung infiltrasi kelompok intoleran, maka beberapa kantong Nahdatul Ulama akan dengan mudah dimanfaatkan sebagai kekuatan “penggebuk” Syiah. Potensi ke arah tersebut bisa saja terjadi jika kalangan Sunni ekstrim dan Syiah ekstrim terus berdebat mengenai akidah yang pasti tidak akan berujung pada titik temu. Sunni-Salafi-Wahabis akan terus menerus mencari-cari kesalahan Syiah, sementara Syiah akan terus menerus menyalahkan sahabat-sahabat Nabi seperti Abu bakar, Umar, dan Usman.

Keempat, pelan-pelan, menguatnya pengaruh Saudi Arabia melalui kekuatan Sunni-Salafi-Wahabis ini ditandai dengan terjadinya pergeseran cara masyarakat di sebagian wilayah Indonesia dalam merespon perbedaan. Jika sebelumnya sejumlah masyarakat Indonesia dikenal toleran dengan perbedaan, sekarang sudah mulai terjadi pergeseran yang penting diwaspadai.

(32)

Rumadi Rumadi adalah peneliti Senior di the Wahid Institute, Jakarta. Ia juga dosen di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri, Jakarta.

Comments with Facebook

Comment(2)

  1. Tulisan yg msh tendensius

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. saran kami bagi penulis ; sebaiknya anda lebih mempeljari tentng syiah, asal usul syiah, dan siapa itu syiah

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: -1 (from 1 vote)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *