Home Bernala 2011: Catatan di Bawah Lentera
0

2011: Catatan di Bawah Lentera

14
0
Martin Aleida

Dalam perjalanannya, waktu menciptakan sejarah, dan kita wajib mencatatnya supaya tidak menjadi si pandir. Sepanjang 2011, ada yang harus dicatat dengan hasrat yang kritis, agar kesalahan atau kelemahan, yang dampaknya bisa mendekati kejahatan, tak terulang lagi. Catatan di bawah ini merujuk pada peristiwa sastra dan seni sepanjang tahun kemarin, yang agaknya luput dari liputan dan analisa media yang disebut mainstream.

Ada tuduhan, penyair Taufiq Ismail menjiplak puisi penyair Amerika Serikat, tetapi dia berani mati membantah tudingan itu. Apalagi sang plagiator tidak menggunakan (Q) tetapi (K) untuk namanya. Puisi curian itu ditemukan dalam e-book terbitan Departemen Pendidikan. Banyak yang tertanya-tanya seraya menggelengkan kepala, mengapa yang menyandang Q, yang keluar-masuk membawa acara sastra ke sekolah menengah atas, memperoleh dana yang berlimpah dari situ, hanya membantah setelah gempar? Bukankah logis kalau dia sudah lama mafhum dengan pencurian itu? Kita serukan kepada (K), keluarlah kau dari persembunyianmu, kawan, katakan yang sebenarnya! Kejujuranmu kemenangan kita semua. Juga kejayaan buat Taufiq Ismail.

Masalah plagiat juga ramai diperbincangkan di media online. Satu cerita pendek yang dimuat di koran Kompas, Jakarta, dengan terang benderang diungkapkan oleh penulis Akmal Nasery Basral, paling tidak memiliki delapan “kesamaan” dengan satu karya penulis Rusia Leo Tolstoy. Koran yang bersangkutan tak bersuara, sang penulis yang beken juga berdiam diri.

Yang menjadi puncak kegundahan orang yang punya sedikit kejujuran, barangkali, adalah yang menyangkut Pusat Dokumentasi H.B. Jassin. Begini riwayatnya:

Rupanya, ada iblis yang menampakkan muka dan hati dari lumpur berbau amis, dan berbisik kepada Taufiq Ismail yang meminta Ajip Rosidi untuk membatalkan sebuah diskusi buku. Kejadian yang sama sekali berada di luar jangkauan imajinasi orang baik-baik, orang kebanyakan. Bayangkan, dua penyair dan pekerja kebudayaan yang ternama, dua-duanya bergelar Doktor Honoris Causa pula, sampai hati memberangus pembahasan sebuah kitab! Buku yang membuat durjana hati kedua orang yang maha heibat itu berjudul Asep Sambodja Menulis, diiringi subjudul “Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang-Pengarang Lekra,” susunan sarjana sastra Universitas Indonesia (Depok-Jakarta), Asep Sambodja. Buku tersebut menelaah karya para penulis (yang dulunya bergabung atau bersimpati pada) Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang tetap berkarya semasa atau setelah jatuhnya rezim militeristis Suharto.

Menurut rencana, meja budaya (ditulis dengan huruf kecil), sebuah kelompok diskusi yang menumpang di Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, akan membahas buku Asep tersebut. Kelompok diskusi ini didirikan oleh sejumlah sastrawan-seniman delapan tahun yang lampau, dengan mengambil bentuk pertemuan reguler, yang diorganisir secara sukarela dan bersifat longgar, tanpa pengurus yang dipilih secara tetap. Penggandaan makalah (kalau ada), air tawar, teh, dan kopi serta nyamikan dibawa sendiri oleh peserta yang murah hati. Kelompok ini pernah menampilkan mantan presiden Indonesia Gus Dur, guru besar sastra Perancis Apsanti Djoko Sujanto, Mudji Sutrisno, Remy Sylado, N. Riantiarno, dan Katrin Bandel.

Setali tiga uang dalam bersikap, Ajip Rosidi, selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, yang membawahi Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, mendesak agar diskusikan tersebut dibatalkan, karena, katanya, ada ancaman dari Taufiq Ismail yang akan mengerahkan pasukan untuk membubarkannya kalau meja budaya ngotot untuk tetap melaksanakan diskusi tersebut. Sadar sebagai penumpang di Pusat Dokumentasi Sastra Jassin, mereka yang menjadi “kaki-kaki” meja budaya mengalah. Tapi, tidak menyerah pada kebatilan budaya tersebut, dan menyelenggarakan diskusi buku itu di bawah tangga Pusat Dokumentasi Sastra Jassin, yang bentuknya seperti tangga pesawat-terbang. Sastrawan senior Gerson Poyk hadir di bawah tangga itu. Sambil mengepulkan asap rokok, di depan sekitar lima puluh peserta, dia menekankan agar para sastrawan-seniman menjauhkan diri dari perseteruan politik, apalagi yang “berdarah-darah.”

Tunggu-punya-tunggu, para peserta yang terus memasang kuda-kuda untuk menghadapi serbuan dari pasukan yang dikirimkan Taufiq Ismail, kecele, karena ternyata tak satu pun batang hidung kaum munafikin itu muncul. Diskusi buku di bawah naungan tangga Pusat Dokumentasi Sastra Jassin itu berlangsung dengan hangat, sebagaimana diskusi meja budaya selama ini, yang diadakan “sekali dalam setiap dua Jumat,” setelah sembahyang berjemaah.

Ajip Rosidi terbuai oleh hasutan Taufiq Ismail untuk memberangus diskusi tersebut, karena Pusat Dokumentasi Sastra Jassin sedang dalam proses konsolidasi. Memang, pada waktu itu pusat dokumentasi sastra tersebut kekurangan dana, antara lain untuk membayar gaji pegawai. Lima staf Pusat Dokumentasi Sastra adalah pegawai negeri sipil, sembilan honorer. Dana tahunan yang disumbangkan oleh Pemerintah Daerah Jakarta sangat minim. Sehingga, ketika berbicara di depan pers, Ajip mengancamakan menutupnya (sic). Karena pernyataan Ajip itu, gemparlah dunia sastra. Ada yang berkomentar, kalau Pusat Dokumentasi Sastra ditutup maka tumpatlah peradaban bangsa ini. Ajip menuai simpati. Dan, ketika Gubernur Jakarta Fauzi Bowo mengunjungi pusat dokumentasi yang didirikan oleh H.B. Jassin itu, Ajip mengulangi lagi gertakannya. Tanpa uraian yang jelas, dia yang duduk bersebelahan dengan Gubernur, di depan kamera, menuntut dana Rp. 1.000.000.000 (satu miliar rupiah). Untuk apa? Tak jelas! Padahal, selama ini, sebelum “gempa”, PDS hanya hidup dengan menyusu pada dana Rp. 168 juta per tahun yang dikucurkan Pemerintah Jakarta.

Dalam pertemuan itu, Fauzi Bowo tidak menanyakan kepada Ajip, apa saja yang telah dia lakukan sebagai pimpinan Yayasan untuk memenuhi hajat hidup Pusat Dokumentasi Sastra. Sang gubernur, mungkin karena dalam posisi tertekan secara psikologis, karena hantaman kanan-kiri, kelihatannya sengaja melupakan bahwa pemerintahan yang berada di bawah kepemimpinannya sudah berkali-kali memberikan dana kepada Pusat Dokumentasi Sastra, dengan sengaja melanggar ketentuan yang menyebutkan pemerintah tidak diperbolehkan memberikan sumbangan kepada yayasan lebih dari satu kali.

Yayasan hanya berpangku tangan. Sekitar hampir sepuluh tahun yang lalu, memang ada pemasukan, tetapi yang berjasa justru Yayasan Lontar (di mana rival Ajip Rosidi, penulis Goenawan Mohamad, duduk sebagai pengurus) dengan menyelenggarakan lelang lukisan Srihadi di Hotel Mulia. Dari hasil lelang itu, Pusat Dokumentasi Sastra menerima sumbangan sebesar Rp. 500 juta berkat kebaikan hati Srihadi, dalam bentuk sumbangan perbaikan perlengkapan, seperti lemari dan tambahan meja-kursi. Srihadi sendiri pernah mampir melihat-lihat jalannya perbaikan di pusat dokumentasi itu.

Ajip Rosidi memang terlalu sibuk. Setelah mengajarkan Bahasa Indonesia di Jepang selama dua puluh tahun, dia menetap di rumahnya yang diperkaya dengan museum dan perpustakaan berlantai dua di Pabelan, Magelang, Jawa Tengah. Sebulan sekali dia ke Jakarta untuk menghadiri rapat Akademi Jakarta, pulangnya mampir di Bandung, Jawa Barat. Di kota itu, belum lama ini, dia membuka sebuah perpustakaan, yang dijadikan semacam pusat studi Sunda. Hati dan pikiran Ajip ada di mana-mana dan terbang kemana-mana. “Itulah yang membikin kami repot,” ucap seorang staf Pusat Dokumentasi Sastra. Untuk membayar gaji tenaga honorer, Endo Senggono, salah seorang staf di situ, pernah meminjam Rp. 10 juta kepada seseorang. Beberapa staf teras di pusat dokumentasi itu untung punya sumber yang dengan murah hati turut mengatasi kesulitan keuangan Pusat Dokumentasi Sastra.

Ajip sudah lama tidak menulis puisi. Imajinasinya justeru berujung pada bagaimana membuat Pusat Dokumentasi Sastra steril, menurut kehendaknya. Sebagai pusat dokumentasi belaka! Karena itu, sebelum pelarangan diskusi buku tadi, dia juga melarang dengan mendesak Bumi Tarung memindahkan diskusi dari situ. Bumi Tarung adalah kelompok pelukis yang berafiliasi pada Lekra, yang didirikan lima puluh tahun yang lampau di Yogyakarta. Djoko Pekik dan Amrus Natalsya adalah produknya. Hebatnya, Endo Senggono, yang hanya bisa tegak dengan tongkat ketiak, dengan berani menyatakan diskusi “jalan terus.” Ajip tak tahu bahwa untuk menutup gaji pegawai honorer, ruangan Pusat Dokumentasi Sastra yang lumayan luas itu, disewakan.

Menjadikan Pusat Dokumentasi Sastra hanya sekedar pusat dokumentasi nampaknya bukanlah apa yang ingin diwariskan oleh H.B. Jassin. Oyon Sofyan, yang selama sekitar tiga puluh tahun bekerja di situ, dan menjadi orang yang dekat dengan Jassin, mengatakan bahwa kritikus dan dokumentator sastra yang tiada duanya itu, menghendaki Pusat Dokumentasi Sastra tidak hanya tempat pendokumentasian, tetapi juga gelanggang diskusi seni-budaya, peluncuran buku, tempat berteduh para seniman budayawan, yang sudah jadi maupun yang akan tumbuh.

Kita tunggu akan kemana dia berlabuh, menjadi sebuah onggokan dokumentasi atau pusat yang mencerahkan dan ilham bagi pertumbuhan budaya kita.

(14)

Martin Aleida Martin Aleida adalah sastrawan yang lahir di Tanjung Balai, Sumatera Timur/Utara, pada 1943. Selain melahirkan karya-karya sastra, mantan jurnalis yang pernah menempuh studi lingustik di Georgetown University, Washingotn D.C, Amerika Serikat, ini juga pernah bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah media massa, di antaranya Majalah Tempo di Jakarta. Sempat menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 2009 – 2012 dan menjadi Penasihat Perkumpulan Lentera Timur dan Media LenteraTimur.com hingga 2013.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *