Home Featured Medan dan Para Kuli yang Datang dari Jauh
4

Medan dan Para Kuli yang Datang dari Jauh

222
4
Gedung AVROS atau BKS PPS kini. Foto: Setiadi R. Saleh.

Berbagai kawasan di Pulau Sumatera memiliki catatan sejarahnya masing-masing. Satu sama lain kerap kali tak segendang seirama. Jejak dan arah modernisasi yang ada tidaklah tunggal. Dan demikianlah Medan yang kini menjadi ibu kota Provinsi Sumatera Utara.

Secara geografis, Medan berada di sisi jalur pelayaran Selat Malaka. Hal ini sangat strategis utuk perdagangan ekspor dan impor. Dan itu jugalah yang membuatnya, selama ratusan tahun, menjadi negeri kosmopolit, yang menjadi titik perjumpaan macam-macam etnis, bangsa, dan ras. Ia menjadi miniatur sekaligus proyeksi bagi akumulasi dan kumpulan umat-umat, mazhab-mazhab pemikiran, pluralisme dan multikulturalisme, dan panduan atas lorong tempo dulu dan modernitas.

Meski berusia ratusan tahun, Medan yang berada di negara Kerajaan Deli tercatat mengalami ekskalasi pertumbuhan pesat sejak pihak swasta, yakni Belanda, membuka perusahaan perkebunan secara massif pada 1909. Dan itulah magnet sejarah Medan, yang dapat ditelisik dari perkebunan karet, tembakau, kopi, teh, lada hitam, sawit, hingga kronik kuli kontrak.

Kuli Kontrak
Pada 1918, dalam banyak catatan, Medan disebutkan dihuni oleh macam-macam ras dan bangsa. Di kawasan ini, sebanyak empat ratusan orang berasal atau keturunan Eropa, 35 ribuan orang berasal dari bangsa-bangsa atau etnis-etnis di Kepulauan Melayu, delapan ribuan dari atau keturunan Tionghoa, dan ratusan lain berasal atau keturunan dari ras-ras atau bangsa-bangsa lain.

Angka tidak sekedar angka. Di balik angka selalu ada cerita. Dan demikianlah angka klasifikasi penduduk Medan di awal abad 20 itu. Apa artinya? Apakah seluruh etnis Tionghoa itu, misalnya, menjadi pedagang semua? Di sini, mitos bahwa orang Tionghoa adalah melulu bangsa pedagang yang tangguh, pintar, dan selalu hoki menjadi tidak sepenuhnya benar.

Orang-orang Tionghoa yang datang ke Medan, demikian juga ke kawasan lain di Sumatera Timur (kini menjadi bagian provinsi Sumatera Utara), tak lain adalah kuli-kuli kontrak yang bekerja di perkebunan. Mereka didatangkan oleh pihak yang mengurus kebun. Akan tetapi, orang-orang dari Tionghoa ini kemudian digantikan oleh orang-orang dari Jawa – meski ada juga catatan yang menunjukkan bahwa orang-orang dari negeri-negeri itu hadir secara bersamaan sebagai kuli. Sebab, pada masa itu, buruh-buruh Tionghoa yang didatangkan dari Shantou dianggap bekerja kurang baik dan suka berkelahi.

Terus terang, penulis kesulitan menemukan data mentah ihwal kuli-kuli dari Tionghoa dan Jawa. Misalnya, berasal dari manakah kuli-kuli Jawa yang datang ke Medan itu? Sekilas, jawabannya cenderung adalah Jawa Tengah. Di sini, leluhur keturunan Jawa memang umumnya berasal dari Jawa Tengah. Akan tetapi, apakah berasal dari Semarang atau tepatnya berasal dari kota apa, itu yang tidak diketahui.

Pada kuli Tionghoa, asal usulnya sudah banyak disebutkan orang. Tercatat, kuli-kuli Shantou  itu berasal dari Guangdong, Republik Rakyat China. Orang Shantou dulu disebut orang Tiochiu (Tioshan).

Selain itu, apa yang menyebabkan imigran-imigran dari kedua negeri tersebut melakukan migrasi ke tanah Deli? Apa iming-iming dari pengelola perkebunan? Logika sederhana, tentu saja karena adanya upah. Tapi, bagaimana dengan pribumi (Melayu)? Apakah ada warga negara Kerajaan Deli yang menjadi kuli? Dan mengapa mereka tidak tertarik menjadi kuli?

Dalam situs-situs dan buku-buku di Belanda, persoalan kuli Jawa, China, juga India, banyak diulas. Dan dalam foto-foto tersebut, seringkali tampak bahwa yang menjadi mandor adalah pribumi. Bisa jadi posisi mandor atau manajemen itu merupakan hasil kerjasama antara Belanda sebagai perkebunan kebun dengan negara Kerajaan Deli.

Banyak cerita yang menyebutkan bahwa nasib kuli dari ketiga negeri tersebut memprihatinkan. Kendati demikian, catatan kisah kuli zaman kolonial di Sumatera Timur tak selamanya suram. Bahkan, dahulu para kuli mendapat jatah yang disebut catu 11 yang terdiri dari beras, ikan, gula, garam, minyak goreng, minyak lampu (minyak tanah-mitan), susu, teh, kopi, pakaian (kain), ditambah satu perumahan, pemeliharaan kesehatan sebagai hak dasar.

Oleh pengelola kebun, Belanda, pemberian rumah dan fasilitas ini dilakukan untuk memudahkan pengawasan dalam bekerja. Sisa-sisa model rumahnya sampai sekarang masih dapat kita temukan di sekitar Perumahan Perhubungan Indah, Desa Kolam, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.

Jika kita kilas lagi, mendekati abad 20, terdapat migrasi massif berantai yang datang ke Medan, yakni orang-orang Tionghoa, orang-orang Jawa, dan orang-orang India. Mereka berbeda dengan imigran Minangkabau, Mandailing, dan Aceh. Tiga imigran terakhir, umumnya, datang untuk bekerja sebagai pedagang, guru, ulama, atau manajemen dari perkebunan-perkebunan tersebut.

AVROS, Dahulu dan Kini
“Bahwa di tanah kosong para kapitalis berniat membangun sebuah kantor besar yang bersaing dengan Harrison & bangunan Crosfield. Jika ini terwujud, kita akan melihat dari satu ujung ke ujung bangunan raksasa Kesawan yang indah, orang-orang Medan akan menghargai ini.”

Tulisan tersebut tercantum dalam koran Pewarta Deli pada 29 Juli 1931, yang sedang menceritakan ihwal gedung AVROS yang dibangun pada 1918 oleh GH. Mulder. AVROS adalah akronim dari Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatera, atau asosiasi umum perkebunan karet di pantai Sumatera Timur. Gedung yang kini disebut BKS PPS, atau Badan Kerja-Sama Perusahaan Perkebunan Sumatera (Sumatera Planters Association), berada di Jalan Paleisweg dan Sukamuliaweg, yang sekarang disebut Jalan Pemuda dan Jalan Palang Merah, Kesawan, Medan.

Gedung AVROS di masa lalu. Foto: KITLV 1931 dan VROS, Present day Sumatera Planters Association - 2009

Bangunan ini memiliki lima lantai dengan ornamen balkon dan tipe langit-langit yang melengkung, jendela kaca besar, dan tangga yang terbuat dari kayu. Di kubahnya tertulis angka 1918. G.H. Mulder tampaknya terpengaruh dengan aliran Rasionalisme abad 20. Hal ini tampak dari konstruksi sederhana dan tampilan art-deco. Bisa dilihat juga dari kubah dengan balkon dan atap yang menyerupai kubah, yang berfungsi melindungi dari sinar matahari dan menjaga sirkulasi udara agar ruangan tetap terasa dingin-sejuk.

Di gedung inilah kita bisa mendapati jejak-jejak sejarah, seperti sidik jari, cap jempol para kuli kontrak, atau arsip lainnya. Sayang, bangunan gedung ini tampak kurang mendapat perhatian serius. Padahal, di sinilah segala macam persoalan terkait perkebunan diurus, yang sampai sekarang masih berfungsi sama.

AVROS adalah milik dari BKS PPS, Sumatera Planters Association, yang berfungsi sebagai mediator kerja antara 150 perusahaan perkebunan, yang terdiri dari kepemilikan swasta domestik, kepemilikan asing swasta, dan kepemilikan negara. Tafsir penulis, yang disebut swasta domestik itu adalah milik pribumi-pribumi, asing swasta itu adalah milik Belanda, dan negara itu adalah milik Kerajaan Deli. Komoditas utama adalah karet, kakao, gula, dan minyak sawit.

Di dalam AVROS terdapat sekitar tiga ratus anggota perkebunan. Para anggotanya kebanyakan dari perusahaan Belanda. AVROS terdiri dari Amerika, Inggris, Jerman, Prancis, Belgia. Presiden pertama AVROS adalah V. Ris, kemudian R. Nolen, lalu disusul J. Fernhout. Sumber KITLV menyebutkan bahwa AVROS pernah digunakan sebagai tempat laboratorium riset pertanian dan perkebunan yang dipimpin oleh Dr. Abraham Arnold Lodewijk Rutgers (1916-1923).

Singkatnya, dalam manajemen AVROS sampai pertengahan 1930-an, terdapat tiga organisasi buruh. Pada 1912, AVROS membentuk Java Immigranten Bureau (JIB) yang bertugas sebagai agen perekrutan yang kala itu mencapai sekitar empat ribu orang. Lalu membentuk Algemeen Delisch Emigratie Kantoor (ADEK) yang mengakomodasi imigran di tiga kota waktu itu, yakni Jawa, Batavia, dan Semarang. Kemudian AVROS membentuk Vrije Emigratie Van DPV (VEDA) yang menjadi semacam wadah untuk memberikan kesempatan “jatah” keluarga untuk bekerja di perkebunan, yang disebut “laukehs” bagi yang telah bekerja dan “sinkehs” bagi pendatang baru.

Kini, gedung AVROS, atau BKS PPS, dipakai sebagai fasilitator untuk menentukan aturan-aturan umum bagi buruh, seperti upah harian sesuai peraturan Badan Kerja Sama Pengusaha Perkebunan Sumatera (BKS PPS), upah tidak dibayar bila mangkir, mendapat fasilitas Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), keluarga sakit mendapat pengobatan di klinik perusahaan, mendapat Tunjangan Hari Raya (THR) keagamaan dan bonus tahunan sesuai peraturan BKS PPS, mendapat hak cuti, atau mendapat catu beras sesuai peraturan BKS PPS.

Apa yang terjadi dulu, masih terjadi sekarang. Semua saling terhubung. Apakah kondisinya membaik, sama saja, atau memburuk, mari kita lihat.

 

Referensi
http://www.kpsmedan.org/index.php?option=com_content&view=article&id=64&Itemid=58

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/03/12/23467/kesejahteraan_buruh_perkebunan/

http://books.google.co.id/books/about/Capitalism_and_confrontation_in_Sumatra.html?hl=id&id=vLUDdnas8xoC

http://www.sumatrabisnis.com/artikel/2id2059.html

http://www.kompas.com/read/xml/2010/09/08/02402545/ironi.indonesia.di.kebun.karet

http://books.google.co.id/books/about/Capitalism_and_confrontation_in_Sumatra.html

Agencies and Clients: Labour Recruitment in Java, 1870s-1950s by Yoko Hayashi CLARA Working Paper, No. 14, Amsterdam, 2002.

Bridges To New Business The economic decolonization of Indonesia by J. Thomas Lindblad KITLV Press, Leiden, 2008.

Medan; A Plantation City on the East Coast of Sumatra 1870-1942 (Planters, the Sultan, Chinese and the Indian) by Dirk A. Buiskool The 1st International Conference On Urban History, Surabaya, August 23rd – 25th 2004.

Inventaris van het archief van de NV Deli Maatschappij, Dochtermaatschappijen en Gefuseerde Bedrijven, (ca. 1700) 1869-1967 by M. W. M. M. Gruythuysen R. T. M. Guleij A. M. Tempelaars Nationaal Archief, Den Haag, 1988.

Medan: The Challenges In The Heritage Conservation of A Metropolis by Soehardi Hartono Badan Warisan Sumatra (Sumatra Heritage Trust), The 1st International Conference On Urban History, Surabaya,August 23rd – 25th 2004.

Tours through Historical Medan and Its Surrounding by Dirk A. Buiskool and Tjeerd Koudenbourg, PT Tri Jaya Wisatapermai Tours & Travel, Medan, 1999.

(222)

Setiadi R. Saleh Setiadi R. Saleh adalah penyair asal Langsa (Aceh Timur) dan kemudian menetap di Medan (Sumatera Utara). Usai menamatkan kuliah dan bekerja di Bandung (Jawa Barat), kini ia kembali berdomisili di Medan. Karya-karya sastra dan esainya dimuat di sejumlah media massa di Medan, Jakarta, dan Bandung.

Comments with Facebook

Comment(4)

  1. Mas Faijri,

    Terima kasih atas info nya, saya sendiri sedang mencara trag2 nya moyang saya yang dulu kuli, transmigran Jawa Deli. Gedung Veda nya masih ada ngga? Dan daftaran/list kuli2 yang dikirim ke Deli itu masih ada ngga?

    Di tunggu info nya dari Mas Fajri ya
    email saya: refreshpublishing@gmail.com

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Saya sedang mencari tahu kakek moyang yang katanya orang belanda yang bekerja di perkebunan Deli dan menikah dengan nenek buyut saya yang berasal dari temanggung, jawa tengah.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
    1. Ayo mba Tri Mari kita mencari cerita nya moyang anda. Saya sendiri turunan Kuli Jawa dan Belanda, menetap di Belanda.

      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Artikel yang menarik bung, dan asal nya mungkin dari seluruh jawa tapi sebelum di kirim ke Deli yang dulu dikenal sebagai Oostkust Sumatera, assembly pointnya adalah di kota saya, Semarang dimana terdapat intitusi bernama VEDA (Vrije Emigratie van de Deli Plantersvereeniging (D.P.V) en de Algemeene Vereeniging voor Ruberplanters ter Oostkust van Sumatera (A.V.R.O.S)) selengkapnya disini http://yogifajri.blogspot.com/2013/03/the-story-behind-tangsi-mrican.html 🙂 Salam

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *