Home Sastra Bendera Tukiran
0

Bendera Tukiran

27
0
Marhaeni Eva

Tukiran nama seorang lelaki dusun yang lugu, polos, jujur, dan sederhana. Tukiran tidak pernah mengenyam sekolahan, alias buta huruf. Maka, orang-orang merasa sah ketika mengolok-oloknya sebagai lelaki bodoh, walau seseorang yang buta huruf tidak selalu bodoh. Yang jelas, Tukiran memang sangat pendiam. Mungkin pemalu atau minder karena merasa bukan orang sekolahan. Meski sangat pendiam dan pemalu, namun Tukiran adalah pekerja keras yang tekun dan ulet. Kesadaran akan kekurangannya sebagai lelaki bodoh tak terpelajar ia tebus dengan keuletan kerja keras serta kejujuran. Itu yang ia andalkan sebagai satu-satunya kebanggaan.

Adalah perempuan dusun tetangga dekat Tukiran, yang bernama Sumyar, yang mampu merenggut hati lelaki lugu ini. Ketika Tukiran kesengsem pada Sumyar, lelaki lugu itu tak mampu mengungkapkan isi hatinya, maka ia meminta tolong emboknya untuk mengutarakan niat Tukiran yang bertekad melamar Sumyar.

“Huh, mengapa tak kau sampaikan sendiri maksud hatimu?! Mengapa harus minta tolong simbokmu? Sudah berani naksir perempuan kok masih mbok-mbok’en!” bentak simboknya pura-pura galak walau dalam hati girang bukan kepalang.

“Bukan berarti aku pengecut, Mbok. Aku ini tahu diri dan saking berupaya hati-hati. Aku kan orang bodoh tak sekolah, sedangkan Sumyar lulus SD. Aku kuatir salah bicara, nanti maksud baikku malah bisa hancur. Simbok dulu yang membuka jalan dan menjelaskan, nanti kalau Sumyar sudah paham, baru aku yang akan bicara jujur apa adanya sebisaku.”

Akan halnya Sumyar, dia belum lama berada kembali di desa itu. Sumyar belum berapa lama pulang kampung, sehabis merantau menjadi pekerja rumah tangga di Makassar. Sumyar sesungguhnya masih betah dan merasa cocok bekerja di “tanah sebrang”, demikian orang-orang di dusunnya lazim mengistilahkan, tetapi Mbok Sayem, ibu Sumyar, yang merasa diri kian renta, meminta kepada Sumyar anak tunggalnya agar kembali ke kampung halaman, pulang. Kala itu Sumyar keberatan untuk kembali ke kampung. Namun haru-biru sang ibu yang melalui surat yang dituliskan tetangganya mengaku bahwa setiap hari tak lepas memikirkan Sumyar dan meratapinya setiap malam, tak henti berharap dan menanti agar Sumyar segera pulang, mendampingi di hari tuanya. Bahkan dalam salah satu suratnya Simbok mengaku memimpikan Sumyar teggelam bersama kapal yang ditumpanginya. Sejak itu Mbok Sayem tak pernah bisa tenang dan selalu menangis setiap kali ingat anaknya.

Walau berat untuk berhenti bekerja dan harus kembali ke desanya yang tandus, miskin tanpa harapan, dan terpencil di bukit kapur Pegunungan Seribu, demi Simboknya, Sumyar pulang juga. Demikianlah ketika Tukiran melihat Sumyar yang terkini, terpikatlah hatinya tiada kepalang. Adapun Sumyar sendiri ketika itu sudah punya pacar, pemuda sesama perantau yang saat itu masih di Makassar. Saat kisah ini terjadi, era kemudahan komunikasi belum terjadi. Belum ada telefon seluler yang menjadi genggaman wajib semua orang seperti sekarang ini. Sumyar hanya bisa berhubungan jarak jauh dengan pacarnya lewat surat-menyurat melalui jasa pos. Kini, setelah kembali ke desanya, giliran Sumyar yang hatinya sedih, gundah, dan galau, harus berjauhan dari pemuda yang mengasihinya.

Diam-diam Sumyar terus menanti lamaran yang dijanjikan pemuda idaman yang jauh di rantau. Jika ia telah menikah, Sumyar ingin memboyong Simbok untuk hidup bersama keluarga barunya di tanah harapan. Namun, sejauh itu lamaran belum juga terjadi. Sementara Tukiran pemuda kampung tetangga malah sudah mengajukan lamaran. Tukiran sama sekali bukan pemuda yang menarik bagi Sumyar; terlalu lugu, polos, kaku. Kata-kata yang mampu diucapkannya hanya sepenggal dua penggal dan terbata-bata pula. Namun, anehnya bagi Mbok Sayem justru sebaliknya; Tukiran bagi Mbok Sayem adalah pemuda yang menarik serta layak jadi menantu. Pemuda itu rajin, tekun, pekerja keras, dan yang jelas bagi Mbok Sayem, Tukiran punya tekad yang jelas, mantap, dan pasti dalam berniat melamar Sumyar. Bagi perempuan kolot yang lugu dan sederhana seperti Mbok Sayem, itulah yang terpenting dalam menjamin masa depan anaknya.

Dalam kekalutan menghadapi desakan yang kian merangsek dari ibunya agar segera menikah, ditambah kegalauan menati lamaran pacarnya di rantau yang ia nanti-nantikan namun tak kunjung tiba, Sumyar jadi gelisah, bimbang, bingung. Lagi-lagi demi Simboknya, Sumyar mulai mempertimbangkan untuk menerima lamaran Tukiran. Ia mencoba membayangkan sosok pemuda calon menantu idaman ibunya itu. Tukiran tidaklah jelek, walau sekali waktu pun Sumyar belum pernah melihatnya tersenyum. Mungkin pemuda itu tidak bisa tersenyum, pikirnya. Bangun tubuhnya tegak ramping berotot liat, kekar namun langsing; menjanjikan keperkasaan dan keuletan yang lincah. Tutur katanya pendek, secukupnya, apa adanya, tak bisa berbasa-basi apalagi berseni kata. Inilah rupanya yang justru membuat Simbok terpikat memilihnya sebagai calon menantu; lelaki yang tak banyak mengobral omong, tak banyak lagak namun berketeguhan tekad serta berbuat nyata. Akhirnya Sumyar pun menikahi Tukiran.

Tentang halnya pacar Sumyar yang ada di rantau yang kala itu ditunggu-tunggu lamarannya oleh Sumyar dan lebih diharapkan sebagai pilihan hidupnya sebelum Tukiran, bukannya tidak memberi kabar lewat surat sebagaimana yang disangka Sumyar. Si pemuda rantau pacar Sumyar sudah berkirim kabar, bahkan menyatakan akan segera melamarnya. Maka,  dalam suratnya itu pacar Sumyar telah membuat janji ketemu, serta berharap agar Sumyar segera memberi balas jawaban.

Ternyata, telah terjadi ketidak-waspadaan pada pihak Sumyar selama ini. Dia kurang mencermati adanya kemungkinan sabotase dari pihak saudara sepupunya yang selama ini dijadikan tumpangan alamat surat menyurat antara Sumyar dengan sang pacar di rantau. Rupanya si saudara sepupu selama ini telah diam-diam ikut memihak Tukiran, oleh karenanya surat-surat pacar Sumyar pun ditahan tak disampaikan kepadanya. Itulah yang membuat Sumyar galau gelisah, merasa penantiannya sia-sia tanpa harapan. Sementara ibunya terus mendesak –sedak agar Sumyar segera menerima lamaran Tukiran yang sudah jelas, dari pada menanti sesuatu yang tak pasti.

Beberapa tahun kemudian, ketika akhirnya kasus surat tersebut terdengar oleh Sumyar, perempuan ini sudah punya seorang anak dan tinggal di rumah mertuanya mengikuti Tukiran. Sumyar sedemikian gusarnya saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi beberapa tahun yang lewat itu. Namun, menyadari kenyataan bahwa ia kini istri Tukiran dengan orok merah dalam gendongannya yang tengah menyusu, ia merasa tak berdaya sekaligus terpuruk dalam sesal basi yang sangat kadaluwarsa.

Suatu pagi di hari pasaran desa, Sumyar yang tengah berbelanja di pasar desa dikejutkan oleh sapaan seseorang. Terperanjatlah Sumyar saat ditolehkan lehernya kearah si penyapa yang sudah berdiri persis di hadapannya; ternyata lelaki mantan pacarnya dulu.

“Sur?!” hanya itu pekik tertahan yang mampu terloncat diantara sengal napas yang sendat.

“Ya, Sum. Piye kabarmu?” Tanya haru lelaki bernama Sur mantan pacarnya.

Hanya airmata Sumyar yang serentak menyungai mewakili jutaan kata tak terungkap, yang mengendap berbilang warsa lamanya. Lelaki yang dipanggil Sur itu memandang Sumyar dengan tatapan haru yang sabar. Dipapahnya Sumyar untuk diarahkannya ke sebuah kedai lusuh khas tengah pasar, namun Sumyar berupaya menepis dengan berat dan enggan. Sur pun mengerti dan tidak memaksa.

“Tidak bisakah kita berbicara sejenak, Sum?”

“Untuk apalagi, Sur?”

“Untuk apa lagi? Hmm, yah, entahlah, untuk apalagi. Mungkin setidaknya ada penjelasan tentang kesalahpahaman yang menghantui setiap mimpi.” Sur menjawab gamang.

“Di mana?” bimbang Sumyar bertanya.

“Entah..,” desah Sur. “Mungkin kau lebih tahu.”

“Baiklah.” Sumyar menghela napas setelah berpikir. “Tiga petak ladang kering dari belakang rumah Simbok, ada sepetak ladang dimana batang-batang singkong masih tersisa. Di ladang singkong itu berdiri sebatang pohon Kesambi, disanalah kau bisa temui aku. Siang nanti.”

“Baik, aku pasti datang,” sambut Sur mantap.

Tanpa berkata-kata lagi Sumyar bergegas pergi ke arah dimana lengang bisa menenangkan kegugupannya. Ia limbung dalam langkahnya. Kemunculan Sur di hadapannya bagai mimpi yang menyeruak begitu saja dalam letih tidurnya. Dalam langkah limbungnya, Sumyar masih serba kebingungan dalam keterkejutan yang belum lagi mereda. Bulu kuduknya meremang mengiring degup jantungnya yang tak mau tenang setiap terbayang pertemuan tadi. Begitu tiba-tiba, tak disangka, dan berlangsung sangat cepat. Hari itu Sumyar tak mampu meredakan gelisah hatinya. Dia tak jadi berbelanja karena sudah tak bisa berpikir, lantaran pikir dan hatinya dipenuhi haru-biru terkait kejadian yang tak juga mampu meredakan kencang degup jantungnya. Maka, ketika di ujung lorong pasar ditemuinya angkutan pedesaan berjurusan searah rumahnya, ia pun segera mencengklak naik tanpa pikir lagi.

Sesampainya di rumah mertua, diambilnya bayinya lalu segera berbenah sekadarnya dan pamit pulang menengok Simboknya, tanpa menanti suaminya pulang berladang. Walau agak heran, sang mertua pun tak banyak tanya, hanya beranggapan bahwa Sumyar kangen Simboknya, dan itu wajar.

Sesampainya di rumah Simbok, Sumyar berupaya keras bersikap sewajar mungkin. Ya, sewajar seorang anak yang sangat merindukan kehangatan khas ibunya, walau batinnya rusuh disesaki pertikaian kemelut tentang bayangan akan bertemu lagi dengan Sur yang terus membuatnya berdebaran. Sumyar berupaya selahapnya menyantap pepesan udang sungai yang dilinting Simbok dalam daun pisang batu berbumbu bawang, garam, dan kemangi dalam kegelisahan yang membuatnya tersedak-sedak. Sesaat selepas makan, ia serahkan anaknya ke gendongan sang nenek yang dengan lahap merindu cucu. Tanpa dihiraukan, Simbok yang sudah asyik menimang-nimang cucu, Sumyar berlalu.

Langkah Sumyar mengancas lempang menuju ladang kerontang. Di bawah rindang kanopi pohon kesambi ia berhenti. Di situlah ternyata Sur telah menanti.

“Sudah lama?” sapa Sumyar agak rikuh.

“Sejak pagi tadi. Secepat langkahmu berlalu menghindariku,” jawab Sur lirih. Tatapnya perih. Sumyar tampak bingung bersikap. Sur menjadi gamang. Mereka resah.

“Kemarilah mendekat, Sum. Apa yang kau takutkan terhadapku?” Sur berupaya mencairkan kebekuan dan keresahan mereka. “Sejak pertemuan di pasar tadi bahkan kau tak memberi kesempatan aku menyalami tanganmu.”

“Aku tidak takut padamu, Sur. Aku takut pada sorotan mata yang ada di mana-mana, karena keadaan kita tidak lagi seperti dulu. Bagaimana kabarmu?” Sumyar mengulurkan tangan yang disambut genggam erat dan keharuan oleh Sur yang tak menjawab tentang kabar dirinya sebagaimana ditanyakan Sum. Bahkan Sumyar sempat melihat mata lelaki itu mengembun.

“Aku juga sangat ingin bertanya, bagaimana kabarmu, Sum. Tapi, ah, ini tentu akan sangat menyakitkan bagi kita. Aku paham bahwa kita sama-sama saling ingin mengetahui kabar masing-masing, sangat ingin, sekaligus sangat takut untuk mendengar jawaban apapun. Benar?”

“Tepat! Lalu bagaimana kau bisa tahu bahwa hari ini aku bakal ke pasar, hingga kita bisa bertemu?”

“Kekuatan katresnan, Sum. Kekuatan hati yang mencintai yang mampu menuntunku ke arah mana orang yang selalu kurindukan itu berada.”

Sumyar terkejut. Hatinya berdebar hangat mendengar jawaban Sur. Ia baru ingat bahwa sudah lama dirinya tidak pernah mendengar percakapan dengan lelaki yang cara omongnya tidak biasa ini. Sur bukanlah model lelaki yang gemar mengobral kata-kata. Namun kalimat-lakimat yang diucapkannya, kata-kata yang dipilihnya selalu terdengar tidak biasa, terdengar bebeda, mengejutkan tapi menarik dan menghangatkan hati bagi Sumyar. Tidak seperti Tukiran, yang tak pernah mengeluarkan kata-kata lebih dari satu dua kalimat ketika ada keperluan. Tapi begitu menyadari keadaan sekarang serta ingat janji yang tak ditepati, Sumyar mendadak marah dan kecewa.

Katresnan? Cinta, katamu Sur? Berapa lama waktu itu kaubiarkan aku menanti kabarmu?”

Air mata Sumyar menghujan seketika. Sur gugup dan cemas menghadapi air mata Sumyar. Direngkuhnya perempuan itu namun menepis dengan sengit. Sur terus membujuk untuk menenangkan Sumyar. Hatinya sendiri begitu hancur. Ia rasakan matanya panas merebak.

“Sum, dengar, kumohon beri aku kesempatan apa yang kukatakan saat kita bertemu di pasar sekilas tadi, yakni menjelaskan kesalahpahaman yang terus menghantui setiap mimpi. Untuk itu aku terus mencarimu. Untuk itu aku datang padamu.”

“Memangnya kau mau menjelaskan apalagi, Sur?”

“Menjelaskan bahwa ternyata surat-suratku tak disampaikan kepadamu oleh saudara sepupumu,” jawab Sur dengan tatapan nanar yang perih. Sumyar tersengat kejut pedih.

“Gusti Allah!! Untuk apa dia berbuat begitu?! Dari mana kau tahu itu?”

“Dari pengakuannya sendiri yang lambat laun tak tahan didera perasaan bersalah. Dia tak menyampaikan surat-suratku, agar kau bisa segera menyerah untuk tunduk pada bujukan Simbok dan mau menikahi Tukiran.”

Sumyar terduduk menangis sedih tak berdaya demi mendengar penjelasan Sur. Maka ketika Sur  memeluknya, perempuan itu pun kini tak menolak. Direbahkannya dan ditumpahkannya pula segala yang memenuhsesaki batinnya selama ini, sekaligus rindu dendam yang sarat kesalahpahaman.

“Sumyar,” bujuk Sur lunak, “kau berhak marah atas kelancangan sepupumu serta keculasannya padamu hingga kita menjadi korban. Tapi manfaatnya? Tanpa kaugugat pun sepupumu itu sudah dirundung sesal setiap kali mengingat kau dan aku.”

“Maafkan aku, Sur…  Aku sangat menyesali kebodohanku, mengapa ketika itu tak panjang akal. Aku hanya mengandalkan kedatangan surat-suratmu dengan menantinya penuh keyakinan. Dan ketika waktu yang panjang tak mendatangkan berita yang kaujanjikan, maka aku menyerah dan beranggapan bahwa kau telah ingkar janji. Waktu itu aku sadar, jarak kita yang jauh menuai banyak hambatan.  Aku menikah demi Simbok yang menggantungkan harapan padaku anak satu-satunya. Dan Simbok dengan pemikirannya yang kolot, ketika itu hanya melihat Tukiran yang terbaik, karena pemuda itu punya niat dan tujuan yang jelas terhadapku.”

“Hmmh, mengapa perempuan selalu mengatakan bahwa ia melakukan hal yang bukan keinginannya demi keluarganya?” ratap Sur menerawang nanar, “Demi ibunya, demi bapaknya, demi anaknya, pendeknya demi mereka yang konon dicintainya. Apakah semua perempuan seperti itu? Lalu kapan perempuan melakukan sesuatu demi dirinya sendiri?” Sur mendesah panjang seraya menatap Sumyar dan menepuk-nepuk pundaknya penuh kasih. Ia paham meski pedih.

“Kau menyalahkan atau menyesalkan keputusanku?” Sumyar bertanya penuh sesal.

“Sama sekali tidak. Sudahlah, kita tahu bahwa ini sangat menyakitkan bagi kita berdua. Tak perlu saling menyalahkan.Hentikan tangismu, Sum. Hatiku hancur menghadapi air matamu. Aku mengerti kau sangat menyesal. Aku yang bersalah, Sum. mestinya ketika itu aku cepat datang sebelum terlambat. Bebalnya aku. Kini tak guna sesal. Biar kutanggung akibat ketololanku. Kuharap Tukiran sangat mencintaimu sebagaimana yang kudengar.”

Tangis Sumyar yang tanpa suara tak mereda malah kian mengguncang. Air matanya menyungai tak terbendung. Kata-kata Sur dan kesabaran sikapnya terhadapnya membuat Sumyar begitu trenyuh. Ia makin terenyuh lantaran menyaksikan sendiri betapa laki-laki itu menanggung duka namun tak hendak ditonjolkannya di hadapan Sumyar untuk mendulang iba. Hati Sumyar kian hancur membayangkan punggung lelaki itu yang makin jauh dan makin jauh dari jangkauan pandangnya untuk pergi. Ia sungguh tak sanggup. Perempuan itu juga membayangkan bagaimana perasaan Sur saat nanti harus pergi meninggalkannya, setelah sekelumit waktu yang berpihak pada mereka untuk bertemu harus berlalu. Benar yang Sur katakan tadi bahwa lakon ini amat sangat menyakitkan bagi mereka berdua.

Sementara itu dari balik rumpun perdu yang menyemak, Tukiran perlahan merangkak layaknya seekor biawak. Sejak pulang berladang dan tak mendapatkan lagi istri dan anaknya di rumah, Tukiran tahu kemana harus menuju untuk memburu keluarganya itu. Makan siang yang terhidang tak pula dilahap hingga kenyang. Tak ada curiga apalagi cemburu yang membayang dalam benak Tukiran pada mulanya. Ia menyusul langkah Sumyar ke rumah Simbok mertua, semata tuntutan kepatutan dan harga diri seorang suami yang wajib menjadi sayap pelindung bagi anak bini.

Ia tak kaget saat hanya melihat anaknya dalam gendongan mertua. Ia tahu Sumyar rindu berkutat di ladang belakang, maka seperti biasa disusulnya Sumyar sepenuh gairah kerja dengan langkah gesit ringan tanpa suara. Kehadirannya yang tanpa suara memang menjadi ciri khas lelaki lugu ini. Kemanapun ia pergi, sabit yang tajam tak pernah ketinggalan ia sengkelatkan di pinggang belakang, bukan karena ia seorang gali tukang berkelahi, tapi karena ia seorang petani.

Ketika cangkul tak ia sandang, setidaknya sabit mesti menyertai.  Tapi kali ini langkah gesitnya sendat oleh sentak jantung yang disusul didih panas darah amarah yang buncah ruah seolah memecah sekujur urat darah.  Ia melihat kejutan menyakitkan yang tak pernah terbayang tak pernah disangka yang menusuk telak inti jiwanya. Di bawah pohon Kesambi dilihatnya Sumyar tengah berdua dengan lelaki! Ia berharap pandangnya keliru, tapi nyatanya itu Sumyar, istrinya, tambatan hatinya. Rasa pedih pengkhianatan dan panasnya cemburu membuat tubuhnya hendak meledak seketika.

Panasnya darah ia rasakan membuncah naik ke kepala. Namun, sebelum darah memuncrat merah jadi malapetaka, Tukiran yang tak pernah makan sekolahan itu secepat kilat meraih kesadarannya. Ditiarapkannya tubuh membara kepada bumi, dicengkeramnya tanah gersang yang disemaki rerumput teki. Mulutnya mangap bagai sekarat menuang pedih meredam rintih. Tukiran menangis sunyi, menyiramkan air matanya pada tanah kemarau yang kerontang. Kesadaran lebih menyakitkan dibanding khilaf yang terlampiaskan.

Sekalipun pedih tak terkira, namun Tukiran merasa mujur tak terbakar bara amuk yang tentu memakan banyak korban. Sembari merayap dalam senyap bagai seekor singa mengintai mangsa, dihayatinya rasa pedih yang memarut-marut hatinya. Ia menyaksikan dengan gamblang mereka berdua, meski tak mendengar apa-apa yang mereka percakapkan. Tukiran bisa membaca dengan jelas bagaimana sikap istrinya terhadap lelaki itu, begitu pula sebaliknya. Dari cara mereka menatap dan merengkuh, Tukiran paham benar bahwa mereka saling mencintai. Hati Tukiran dirajam cemburu menyaksikan tatapan pedih penuh kerinduan  serta rengkuhan tergesa-gesa antara kedua insan itu, walau tak ada perbuatan mereka yang mengarah birahi.

Jika menuruti hasutan keakuan akan terlecehkannya harga diri, maka dengan sabit tajamnya saat itu dengan mudah ia bisa memangkas leher lelaki yang tengah berhangat mesra dengan istrinya di naungan Kesambi. Namun, bagi Tukiran yang hanya punya jiwa bening dan lugu sebagai petani ladang, takkan ia nistakan harga dirinya untuk menjadi pembunuh. Keperkasaan baginya bukan ketika ia sekadar  bisa dan berani  membunuh lelaki yang menemui istrinya. Sabit bermata tajam yang tiap pagi diasahnya dengan hati-hati untuk bekerja keras mencabit rumput, memangkas dahan dan membabat semak belukar, takkan ia nodai dengan darah sesama manusia, apalagi jika itu harus mengaitkan Sumyar, perempuan yang begitu ia cintai. Dengan melampiaskan dendam kepada lelaki itu, terlebih hingga ada darah menetes, Tukiran merasa bahwa cara demikian itu hanya akan merendahkan dan menodai cintakasih. Baik cintakasihnya kepada Sumyar maupun cintakasih lelaki itu kepada Sumyar dan sebaliknya. Biarlah seluruh dunia menertawakan dan melecehkanya sebagai lelaki pengecut tak bernyali. Tukiran tetap bersiteguh dengan sikap dan cara yang ia pilih dan ia yakini. Tukiran pun meilih diam sendirian merenungi luka hati, makin menelungkup menengkurapi bumi.

Saat perlahan ia bangkit dari telungkup, dilihatnya mereka berdua sudah tak ada di naungan Kesambi. Ia edarkan pandang ke seluruh ladang; sepi. Tukiran pun melangkah gontai kearah pohon Kesambi. Bagai hilang akal ia amati bekas-bekas telapak dengan mata membeliak. Tiba-tiba Tukiran berlutut dekat bekas-bekas telapak kaki yang mereka tinggalkan tadi. Ia robek kaus petani berwarna putih yang selalu ia kenakan tiap berladang. Dengan sabitnya ia membuat bendera putih dari sobekan kausnya lalu ia pancangkan dengan tiang bambu setinggi tubuhnya.

Entah mengapa tiba-tiba terbetik niat di benak Tukiran untuk menancapkan bendera tepat di mana barusan tadi sang istri melakukan perjumpaan dengan lelaki. Tukiran tak tahu dan tak peduli warna bendera apa melambangkan apa. Baginya yang penting ada bendera yang harus menancap di sana sebagai tengara ada peristiwa yang sangat melukai hatinya.

(27)

Marhaeni Eva Marhaeni Eva lahir di Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah. Perempuan yang lahir pada 7 Desember 1965 ini adalah penulis novel berjudul “Berguru pada Anjing”, “Namaku Djantan”, dan “Air Mata Retak”. Saat ini ia berdomisili di Sleman, Yogyakarta.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *