Home Sastra Wasiat untuk Cucuku
0

Wasiat untuk Cucuku

31
0
Martin Aleida

Junjungan hatiku. Dunia sudah berubah sedemikian rupa. Yang tak pernah kubayangkan waktu aku masih belum berjumpa dengan nenekmu dulu, sekarang malahan telah menjadi awal hidupmu. Karena kesibukannya, dokter yang menolongmu memberikan pilihan kepada ayah dan ibumu, apakah kau akan dilahirkan Jumat atau Selasa.

Jauh-jauh dari kota kelahiranmu, ayahmu bertanya kepadaku. Aku ini orang yang kolot dan percaya akan hal-hal yang menjadi tertawaan orang zaman sekarang. Menurut Tajul Muluq, primbon Melayu, yang selalu tersimpan di laci ayahku, rujukan satu-satunya bagi keluarga kami, Jumat adalah hari yang baik, hari pembawa berkah. Maka itulah yang kupesankan kepada ayahmu.

Kamis, aku dan nenekmu tiba di rumah-bersalin di mana kau akan dilahirkan dengan jalan bedah sesar. Bangunannya besar dan bertingkat, terletak di tengah keramaian kota, namun bersih. Anturium menghias setiap pojok. Daunnya lebar dan panjang-panjang sampai sedepa, menebarkan keteduhan ke sekeliling. Gedung itu bukan bandingan dengan rumah bersalin di mana ibumu dulu dilahirkan. Seperti kau, sampai saat yang menentukan, posisinya di dalam kandungan juga sungsang. Duniaku belum mengenal sesar, tapi dia lahir dengan selamat. Kupikir, kepasrahan dan nasib baik yang telah menyelamatkan dia dan ibunya, dan yang juga telah mendatangkan ketenteraman bagiku.

Biaya kelahiran ibumu membuat orang di kantor yang harus mengembalikan uang yang telah kubayarkan, beberapa kali berganti tatapan antara kwitansi dan wajahku, tak percaya begitu murahnya. Tetapi, untuk kau, ayahmu pastilah akan membayar ribuan kali lipat. Aku bermimpi, kalau aku juga punya tumpukan uang setebal itu, aku akan membeli mobil bekas dengan kap terbuka. Pagi-pagi, aku akan mengemudikannya, membawamu ke simpang lima, alun-alun kota, dan kita berjemur, menikmati kehangatan matahari di sana. Akan kuperdengarkan lagu yang lembut untuk meningkah hati kita berdua yang sedang berbunga-bunga. Ngliling, aku  menggodamu sampai terkekeh-kekeh, dan ocehanmu memancing burung-burung bersayap hijau, juga biru, merayap mendekat, ingin mengajakmu terbang.

Ayahmu mungkin masih cemburu padaku. Aku tahu persis bagaimana perasaannya. Bahagia, namun kecemasan masih tak kuasa dia singkirkan. Dengarkan. Ketika kereta, di mana ibumu rebah dengan tenang, akulah yang memegangi besi pegangannya dan perlahan menyorongnya menuju ruang operasi. Tangan ayahmu hanya sekedar tertempel di pojok kereta itu. Langkahnya gontai. Mulutnya terkatup. Matanya redup. Begitulah rupanya cara dia memohon keselamatan. Aku memijat kaki ibumu terakhir kali sebelum aku dan ayahmu dipersilahkan suster menunggu di luar.

Tiga jam dalam penantian yang mendebarkan, seakan kursi panjang tempat kami menunggu tak pernah betah di tempatnya barang sedetik, membuat kami sebentar-sebentar berdiri, memerangi kecemasan, mencuri-curi pandang ke dalam kamar operasi lewat jendela gelap susu, yang berlapis gorden, yang tak pernah dan takkan pernah disibakkan.

“Bapak Krisna….” Seorang suster senyum, berdiri di ambang pintu menggendong bayi dalam bedungan kain seputih kapas. Aku melompat mendapatkanmu. Wow, matamu mendelik-delik hendak mengenali aku. Ah, senangnya, akulah yang pertama kau lihat. Wajahmu merah sekulit bawang. Sisa-sisa balutan cairan di dalam kandungan ibumu masih belum bersih benar diseka dan menempel di keningmu. Tak apa-apa, kupikir menghibur diri, asal kau sehat. Kusentuh ujung kakimu. Ingin kucium.

Beberapa saat kemudian ayahmu mendekat. Senyumnya tertahan walau dia sudah melihat generasi yang ikut dia lahirkan datang dengan mata dan bibir yang membahagiakan. Ada kecemasan yang masih tersisa, tentang apa yang terjadi pada ibumu. Ada rahasia yang dipegang dokter dan ayahmu, bahwa di dalam kandungan ibumu ada gelembung air yang tumbuh, walau jinak. Gelembung yang tak diinginkan itu besarnya hanya sejempol jari kakiku, tapi dia telah mengecoh dokter, sehingga dia tak bisa memberikan perkiraan yang pasti tentang bobot maupun panjang tubuhmu ketika kandungan ibumu menjalani scanning sehari sebelumnya. Dia dokter yang baik, beda beberapa tahun saja dariku. “Semoga esok semuanya baik-baik saja, Sampai jumpa.” katanya sambil senyum meneduhkan.

Aku sudah kembali di kotaku. Senangkah kau mendengarkan bahwa kalau aku sendirian, namamu kuucapkan berkali-kali, menikmati ritme, juga harapan-harapan yang dipantulkannya di dalam hatiku? Namamu itu tentulah ditemukan oleh kedua orangtuamu setelah perbincangan yang tak henti-hentinya. Membujuk, saling meyakinkan. Mungkin juga melibatkan sikap kekanak-kanakan dari ibumu yang langsung menangkap dan meletakkan tapak tangan ayahmu di dekat pusarnya, dan merayu: “Lihat nih, dia sendiri setuju,” sambil menelempapkan tapak tangan ayahmu persis di bagian perutnya yang sedang bertahan terhadap desakan dan hentakan lutut maupun sikumu dari dalam. Hati ibumu memang keras. Nanti akan kuceritakan seperti apa.

Mematok harapan sudah sedemikian sulitnya, sementara mimpi-mimpi berjalan liar sendiri-sendiri, tak siapa pun yang bisa memastikan di mana jalan untuk menemukannya. Kalau boleh, aku berharap kau tumbuh dan menjadi dewasa di sini sajalah. Ya, di kota ini sajalah! Aku khawatir ibumu akan membawamu ke ibu kota yang membuat aku tidak bahagia di usia tuaku ini. Pemukimanmu ini mungkin lebih panas dari ibukota. Tapi, ingat, tak sampai setengah jam, tanpa harus berkelahi dengan lalu lintas yang menyesakkan, kau sudah berada di atas bukit yang sejuk. Dari situ bisa kau nikmati kota di bawah. Hiruplah ketenangan yang datang ketika kau menatap kubah masjid, menara gereja, bubungan kelenteng yang terserak di bawah.

Janganlah kau tumbuh dan menjadi besar di ibukota. Membayangkannya saja aku menangis. Tak tahu aku apa yang akan terjadi padamu nanti kalau kau dibawa ke ibu kota ini. Di sini anak-anak bukannya dimanja dengan lagu-lagu yang lembut. Bukannya dikasihi. Mereka dizalimi, malah. Mungkin kau tak percaya. Tapi, mata kepalaku sendiri yang melihat bagaimana mereka diadu-domba pemerintah dengan orang-orang tua, dan membuat orang-orang tua itu majal perasaannya. Pemerintah menetapkan anak-anak sekolah membayar ongkos bus setengah dari tarif umum. Memang seperti angin surga kedengarannya. Tapi, apa yang terjadi? Para orang tua yang menjadi supir bus, karena mengejar setoran untuk pemilik kenderaan, maka mereka menolak anak-anak naik. Kondektur memalangkan kaki di pintu, supaya anak-anak tak bisa masuk. Mereka hanya memberikan jalan untuk orang dewasa yang membayar penuh. Anak-anak menangis. Bukan karena perlakukan kasar itu, barangkali, tapi karena kehilangan kesempatan belajar.

Dengarkan. Sebagai wartawan, aku pernah berkunjung ke Washtingon D.C. Suatu hari aku hendak mengunjungi temanku di satu apartemen di kota itu. Sebelum melangkah ke pekarangan, kulihat beberapa anak kecil berkulit hitam maupun putih mengenakan selempang, berdiri berjejer mengarahkan teman-teman mereka naik ke bus sekolah berwarna kuning yang sedang menunggu di pingggir jalan. Selama bus itu menunggu kawan-kawanmu itu naik, semua mobil yang berada di belakang berhenti. Tak ada yang menyela bus sekolah itu sampai dia sudah melaju membawa anak-anak pergi. Aku terpaku, manahan hangatnya airmata yang menggelegak hendak tumpah.

Begitu aku bertemu teman itu, dia tanyakan mengapa aku menangis. Balik dia yang kutanya, apakah yang baru kulihat itu anak-anak yang berada di surga atau di bumi nyata? Dia tidak membantah cerita kakekmu ini bagaimana anak-anak diperlakukan di kotaku. Tapi, dia, yang bekerja di radio milik pemerintah, mengeluh bagaimana birokrasi di kantornya begitu menyebalkan. Dia memutuskan untuk berhenti dan pulang.

“Anakmu… Pikirkan anakmu, Sirovi,” bujukku. Dia tak bisa ditahan. Tak lama kemudian, dia benar-benar pulang bersama istri dan anak-anaknya.

Suatu hari dia meneleponku. Di ujung sana kudengar dia menahan air yang mengalir kecil dan hangat di dalam hidungnya yang mancung. “Kemarin, aku menjemput Lala di sekolah. Berdua kami pulang naik becak. Tiba-tiba saja bus kota menyerempet kami. Aku, Lala, dan tukang becak terlempar ke selokan,” katanya. Apa kataku?! Aku berteriak di dalam hati. “Begitulah Jakarta, kawan. Dia bukan Betawi lagi.” Dia terdiam. Sementara aku mengelus dada.

Kotaku ini penuh ujian dan cuma secuil orang yang bisa lulus. Mari kuceritakan bagaima kami anak-anak muda menghabiskan usia muda kami di sini. Tak ada di tempat lain. Coba, tunjukkanlah di belahan dunia mana yang punya “becak komplit”?

Di tengah kota ada sebuah bioskop tua, terletak di persimpangan yang ramai. Kalau malam sudah mengintip, mulai dari depan bioskop itu sampai beberapa ratus meter jauhnya, berjejer puluhan becak. Di atas becak itu menanti perempuan muda. Laki-laki yang tidak takut berbuat dosa terhadap ibu mereka, tanpa halangan, bisa mendekat, tawar-menawar. Kalau sepakat, pasangan dalam sekejap itu langsung dilarikan si tukang becak menuju kamar-kamar yang sempit dan sumpek, sekitar satu kilometer dari situ, wilayah yang bernama seronok: Kota Paris. Ibu kota Perancis itu menemukan kehinaannya. Karena di sini kota itu cuma kumpulan rumah yang terbuat dari gedek dan kajang. Dia menjadi sarang bagi laki-laki yang tak mampu meredam desakan birahi hanya dengan masuk ke kamar mandi atau berendam di sungai seperti yang kulakukan.

Tidak seperti zaman sekarang. Anak-anak muda waktu itu tahu ancaman apa yang mereka hadapi dengan berzina seenaknya. Perempuan-perempuan di atas becak itu belum mengenal AIDS atau HIV. Laki-laki yang menyerah pada dorongan birahi sudah mengerti apa yang akan mereka tuai di bilik-bilik yang mesum. Mereka menunggu beberapa hari. Kalau buang air kecil aman-aman saja, maka tak ada yang perlu dicemaskan. Tapi, kalau saluran air seni sakit menyengat dan tubuh terasa panas merinding, mereka buru-buru minta pertolongan dokter. Kalau mereka malu, ada dokter yang praktek dengan naik becak juga berjejer dengan “becak-becak komplit” di pinggir jalan tadi. Yang membedakan becaknya adalah kitiran yang terus berputar dan papan nama yang mencantumkan namanya. Mereka yang kena dibodohi tukang obat yang berjualan di sepanjang jalan itu juga membeli antibiotika sebagai pencegahan. Anak-anak muda angkatanku tahu penyakit apa yang akan mereka dapatkan di sarang pelacuran. Sementara pemuda zaman sekarang takkan tahu apakah mereka akan mendapat ganjaran berupa HIV yang tidak menunjukkan gejala yang terasa. Tak tahu aku apa yang dlakukan anak-anak muda, yang tak takut pada ibu mereka, di zaman sekarang kalau mereka dicekam birahi.

Bukan permesuman itu benar yang ingin kuwasiatkan untukmu. Perempuan-perempuan itu! Perempuan yang menunggu di atas becak-becak itu adalah gadis-gadis kecil yang dikorbankan orangtua mereka untuk mendapatkan uang gampang. Ketika mereka memasuki usia belasan tahun dan baru mendapat mens beberapa kali, mereka dijodohkan. Setelah nikah sebulan-dua-bulan, perceraian mereka diatur untuk mendapatkan surat cerai. Dengan surat cerai ini gadis-gadis kecil itu dijual kepada para pedagang manusia dan dikirim ke kotaku.

Di pusat-pusat permesumen mereka diperas. Paling banter mereka hanya menerima setengah dari bayaran laki-laki yang meniduri mereka. Para lelaki yang tak pernah takut pada ibu mereka. Yang berpesta di atas tubuh mereka adalah mucikari dan para centeng. Gadis-gadis itu mengirimkan penghasilan mereka ke kampung. Uang semacam itulah yang membuat kampung mereka menikmati kemakmuran.

Waktu aku masih bekerja sebagai wartawan, kuat keinginanku untuk meneliti daerah pengekspor gadis-gadis yang dimalangkan itu. Kantorku mengizinkan. Tapi, nenekmu, yang sering tak bisa kubedakan mana cinta dan mana kecemburuannya, melarangku. “Kau mau kawin di sana, ya?!” katanya menghardik.

Seorang teman yang pernah berkunjung ke sana melaporkan bagaimana seorang biduanita dangdut, yang berasal dari daerah itu, disambut seorang bupati bagaikan seorang putri. Di sana, teman itu melihat sebuah rumah yang cukup besar, tapi terbengkalai. Temboknya masih telanjang belum diplester, sementara bubungannya masih melompong. Rumah itu dibangun dari uang yang dikirimkan secara rutin oleh seorang gadis malang yang harus mengadu nasib di atas becak-becak yang gentayangan di jalan-jalan ibukota. Gadis kita ini terserang penyakit. Kerap demam, badannya dengan cepat menjadi kerempeng.

Kabar tentang dirinya cepat tersebar. Laki-laki, bagaimana pun kuatnya setan birahi di dalam diri mereka, tak mau mendekat. Dia dijauhi. Apa daya, dia putuskan pulang kampung. Untuk membiayai pengobatan, satu-demi-satu kusen, daun pintu dan jendela, kayu kuda-kuda, juga bata, dipereteli untuk dijual sebagai barang rongsokan. Tanah di mana rumah itu berdiri kembali menjadi lahan kosong. Tak ada yang berani mendekatinya, konon pula membelainya. Dia dibiarkan menunggu ajal sendirian sembari berbaring di atas dua keping papan beratap kajang.

Aku tak sudi kau melihat kekerasan dan perlakukan semena-mena terhadap anak-anak di kota ini. Biarlah kenyataan itu hanya sampai ke telingamu sebagai bahan pergunjingan belaka. Kota ini, sebagaimana yang kukatakan, adalah sahara bagi anak-anak. Anak-anak tak punya tempat di sini, apalagi binatang.

Ketika perjudian terbuka dilarang di kota ini, maka anjing yang menjadi korban. Pacuan anjing ditutup, dan anjing-anjing pacu greyhound dicampakkan begitu saja. Mereka luntang-lantung berebut makanan dengan gelandangan. Tak kuat hatiku melihat mereka yang berpinggang langsing dan kaki yang panjang nan tangguh untuk berlari itu melata. Gemuruh sorak-ria para penonton di tribun sudah menjadi masa lalu. Mereka mengais-ngais mencari makanan. Yang mereka temukan cuma remah manusia. Upah menguber kelinci-kelinci yang berlari tak pernah terkalahkan tinggal kenangan.

Tiba-tiba pikiranku terpecut untuk menjadi gembala bagi anjing-anjing terbuang itu. Kau tentu sudah mendengar lagu “13 Horses.” Sebuah lagu yang liriknya begitu menghanyutkan, ditulis oleh Alexander Rybak. Lagu tentang kuda-kuda yang tetap merasa berada dalam gelanggang pacu, ketika kapal yang membawa mereka tenggelam. Mereka berlari dan berlari terus seakan-akan mereka mendengar teriakan yang menyemangati dari tribun, sampai akhirnya mereka mati bergiliran.

Aku bermimpi menjadi juru selamat bagi anjing-anjing greyhound tadi. Di seberang laut ada gelanggang pacu yang merindukan mereka. Anjing balap itu ada sepuluh. Mereka kugembalakan ke pelabuhan tua dan dari sana kami menumpang kapal kayu. Begitu pantai hilang dari pandangan, tiba-tiba kapal diremukkan badai. Aku yang duluan mati. Sementara kesepuluh anjing itu terus berlari di atas ombak, berpacu menuju daratan yang tak pernah mereka tahu pantai mana yang paling dekat. Mereka lari mencicing sekan-akan daratan yang tak tampak menjanjikan kelinci-kelinci yang begitu manis untuk diratah. Gemuruh ombak mereka dengar seperti tempik-sorak penonton dari atas tribun yang memecut kecepatan kaki mereka. Kelinci-kelinci itu sudah kelelahan, sementara kaki-kaki anjing itu terasa semakin berat untuk dilangkahkan. Greyhound dilahirkan tidak untuk menyerah. Tak pernah. Sampai mereka tak kuasa lagi menjulurkan hidung menggapai langit. Satu-demi-satu mereka terbenam bersama turunnya malam. Di laut itu yang tinggal hanya harapan untuk hidup yang tak mati-mati.

Usiaku 85 Desember ini. Kalau kau tanyakan bagaimana sesungguhnya kematian yang kuinginkan, maka jawabanku adalah kematian di ujung tanganmu. Selama hidupku aku telah menyelesaikan delapan maraton. Orang bilang, sekali ikut dalam lomba lari berjarak 42.195 meter itu, maka serangan jantung akan terhindar selama delapan tahun. Aku percaya aku tidak akan dibunuh serangan jantung. Arswendo, kawanku, bilang betapa malunya mati kena stroke. Aku tak mau seperti itu. Kumau kau masukkan aku ke ruang operasi. Robeklah dadaku, pukulilah jantungku sampai dia berhenti berdenyut.

(31)

Martin Aleida Martin Aleida adalah sastrawan yang lahir di Tanjung Balai, Sumatera Timur/Utara, pada 1943. Selain melahirkan karya-karya sastra, mantan jurnalis yang pernah menempuh studi lingustik di Georgetown University, Washingotn D.C, Amerika Serikat, ini juga pernah bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah media massa, di antaranya Majalah Tempo di Jakarta. Sempat menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 2009 – 2012 dan menjadi Penasihat Perkumpulan Lentera Timur dan Media LenteraTimur.com hingga 2013.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *