Home Bernala Membaca Ulang Pahlawan Kita

Membaca Ulang Pahlawan Kita

89
4
Muhammad Ruslailang Noertika (daengrusle)

Untuk mencapai tujuannya yang mulia, yakni kesejahteraan komunal, sebuah bangsa seumpama kendaraan. Ia butuh bahan bakar untuk maju bergerak. Bahan bakar itu, umumnya, kita gali dari semangat perjuangan yang diwariskan oleh para pahlawan – yang dalam benak kita selalu bersifat total hingga jiwa dan darah menjadi harga yang harus dibayar dan yang melulu berpikir bagaimana berkontribusi mulia untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Maka, gelar pahlawan dari pemerintah saja mungkin tak pernah cukup jika dibandingkan dengan apa yang sudah mereka persembahkan untuk bangsa ini.

Sebagaimana pula umumnya kendaraan, ia butuh pasokan bahan bakar sempurna agar bisa bergerak mulus di jejak sejarah bangsa ini. Jangan pernah memasukkan bahan bakar yang penuh kotoran. Hal ini tak saja melambatkan, tetapi juga mengganggu navigasi. Kita tentu tak hendak melenceng dari tujuan mulia hanya karena persoalan bahan bakar.

Kita juga berharap agar kronik perjuangan para pahlawan tanpa catatan cela. Tangan mereka diharapkan tak kotor oleh darah sesama, pikiran mereka tak ternoda oleh pengkhianatan kepada bangsa, harta mereka bersih dari cela, dan yang terpenting jejak perjuangan mereka hanya menghasilkan energi positif.

Akan tetapi, sejarah konon adalah kronik para pemenang. Para pemenang tentu punya parameter subyektif untuk menentukan apa dan siapa saja yang layak diberi nilai plus. Mereka yang berjuang di sisi yang sama dengan si pemenang, meski terseok di antara nista dan aib, namanya akan tetap ditoreh dengan tinta emas sejarah. Bagi para pemenang, tak ada tempat bagi pecundang, tak ada tempat bagi pejuang di kutub berbeda.

Sebaliknya, mereka yang tak sehaluan, meski berjasa, akan dibenamkan dalam samudera lupa, namanya dikotakkan, dan sekiranya tertulis di buku-buku sejarah, itu hanya akan menempati peran antagonis. Di sini, konteks kerap kali dilepas dari teksnya untuk memenuhi pendasaran kepentingan-kepentingan tertentu dari si pemenang atau mereka yang berharap ingin menang. Jalan panjang perjuangan bangsa ini memang sering memakan korban di kalangan anak bangsanya sendiri.

Selagi masih dalam aura peringatan hari pahlawan, ada baiknya kita menjejak ulang kronik beberapa sosok yang dipahlawankan oleh pemerintah Indonesia.

Raden Ajeng Kartini (1879 – 1904)
Raden ini disebut sebagai pelopor emansipasi perempuan Indonesia dengan merintis sekolah perempuan di Rembang, Jawa, tahun 1903. Yang membuatnya terkenal, dan kemudian dijuluki sebagai “a feminist from Java”, adalah korespondensi yang ia lakukan dengan sahabat penanya di Eropa, salah satunya Rosa Abendanon, istri Menteri Kebudayaan Belanda JH Abendanon yang saat itu berhaluan politik etis. Surat-suratnya diterbitkan pada 1911 di Belanda dengan judul: Door Duisternis tot Licht (Dari Gelap Menuju Terang).

Namun, hingga hari ini kita sebetulnya tak pernah disuguhi surat-surat asli Kartini yang diterbitkan itu. Yang ada hanyalah dokumen salinan yang diolah oleh JH Abendanon dan diterbitkan. Beberapa riset yang mencari dokumen asli surat-surat itu selalu membentur tembok gelap. Bahkan, hidup JH Abendanon sendiri tak kalah misterius: tak terlacak garis keturunannya, apalagi peninggalan dokumennya kala hidup.

Kartini, pada kenyataannya, juga bersedia dijadikan istri keempat Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah menjadi istri keempat, yang berarti membiarkan poligami, sejalan dengan semangat emansipasi dan feminisme sebagaimana stigma yang dijejalkan di belakang namanya? Semasa hidupnya, Kartini sangat akrab dengan kalangan Belanda, bahkan beberapa kalangan menganggap ia “orang Belanda” ketimbang pribumi. Bukankah adagium kepahlawanan adalah yang berjuang di kutub berlawanan dengan penjajahan?

Jika rujukannya adalah persoalan kepeloporan pendidikan, Kartini pun bukanlah orangnya. Meski merintis lembaga pengajaran keterampilan untuk perempuan priyayi sejak 1903 di pendopo istana suaminya, ia tak pernah mendirikan sekolah formal. Sekolah Perempuan yang terinspirasi oleh ide Kartini secara resmi dibuka oleh sebuah yayasan pada 1912, beberapa tahun setelah kematiannya.

Dewi Sartika
Dewi Sartika adalah tokoh perempuan Sunda asal Bandung, Jawa Barat kini. Ia merintis pendidikan perempuan sejak 1902, lebih dulu ketimbang Kartini. Lebih dari Kartini, pada 1904, secara resmi ia membuka sekolah bernama “Sakola Istri” di Bandung. Karena kepeloporan memajukan pendidikan di Bandung, Dewi Sartika mendapat bintang jasa oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1929.

Siti Aisyah We Tenri Olle
Dari Sulawesi, kita juga mengenal pelopor pendidikan dan budaya bernama Siti Aisyah We Tenri Olle. Ia adalah perempuan Bugis yang menjadi penguasa selama 55 tahun (1855 – 1910) di Kerajaan Tanete, Sulawesi Selatan kini. Ia mendirikan sekolah rakyat yang lebih maju daripada Kartini dan Dewi Sartika.

Pada 1890-an, We Tenri Olle mendirikan sekolah rakyat secara massal yang tak membedakan jenis kelamin maupun status sosial antara bangsawan dan jelata di Tanete. Siapapun dapat bersekolah. Kelak, sekolah yang didirikan Tenri Olle dikenal sebagai model awal Sekolah Rakyat (volkschool).

Yang lebih mengesankan, Tenri Olle, bersama ibundanya Collipujie Arung Pancana Toa Datu Tanete, adalah tokoh dibalik penggali epos La Galigo. Epos tersebut adalah mahakarya sastra dari Bugis yang terpanjang di dunia. Karena ketelatenannya menggali ulang wiracarita itu, kebudayaan Bugis kemudian dikenal hingga ke Eropa.

Akan tetapi, karena semasa memerintah Tanete ia menganut politik kooperatif dengan Belanda, Tenri Olle tak pernah dilirik menjadi pahlawan.

Selain Dewi Sartika dan Tanri Olle, bangsa-bangsa yang ada di Indonesia juga mengenal sosok perempuan pemberani lainnya. Sebut saja, misalnya, Christina Marta Tiahahu (1800 – 1817) yang tewas di usia 17 tahun saat bertempur melawan pasukan perusahaan dagang Kerajaan Belanda (VOC) di Laut Banda. Begitu pula perempuan-perempuan pemberani lain seperti Cut Nyak Dhien (1848 – 1908), Cut Nyak Meutia (1870 – 1910), atau Nyai Ahmad Dahlan (1872 – 1946).

Jumlah dan kiprah nama-nama perempuan lain tentu jauh lebih banyak. Hanya saja, ia terbenam di lintas sejarah negara ini hanya karena tak begitu dekat dengan puak penguasa dan antek penulis sejarahnya.

Di banding tokoh-tokoh perempuan yang disebutkan di atas, kelebihan Kartini sepertinya ada dua. Pertama, ia ‘konon’ menuliskan idenya dalam bentuk surat-surat dan dibukukan oleh JH Abendanon. Kedua, ia hidup di saat pemerintah kolonial Belanda menjalankan politik etis. Alhasil, ia kemudian dijadikan contoh ‘keberhasilan’ penjajah ini mendidik kaum pribumi.

Tentu saja, dua hal ini tak dimiliki secara penuh oleh Dewi Sartika dan We Tenriolle, apalagi sosok pemberontak macam Christina Martha Tiahahu, Cut Nyak Dhien, atau Cut Nyak Meutia.

Tuanku Imam Bonjol (1772 – 1864)
Imam atau pemimpin gerakan Harimau nan Salapan bagi kaum Padri di Bonjol, Sumatera Barat kini, ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1973 oleh pemerintah Orde Baru. Ia memimpin perang melawan kaum Adat Minang yang dibantu oleh VOC. Perang yang dikenal sebagai Perang Padri ini sejatinya adalah gerakan ‘agama’ yang hendak memurnikan akidah orang-orang Minang, khususnya kalangan pemuka adat Kerajaan Pagaruyung dari hal-hal yang dianggapnya, sesuai keyakinannya yang berorientasi Wahabisme, bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dalam perkembangannya, gerak pasukan Paderi juga meluber ke wilayah utara, memasuki kantong-kantong Mandailing, Karo, dan Batak.

Dalam peperangan yang berlangsung sengit selama delapan belas tahun (1803-1821), praktis yang banyak jatuh korban justru adalah rakyat Minang, ditambah lagi korban akibat gerakan “islamisasi” di tanah Mandailing dan Batak. Konon, tentara Paderi pernah membumihanguskan tanah Batak. Pada bulan Ramadhan 1233 H/1818 M, pasukan Paderi yang dipimpin Tuanku Rao dan Tuanku Lelo membakar ribuan rumah, menangkapi perempuan, dan mengawini perempuan-perempuan yang dianggapnya pampasan perang itu. Kaum lelakinya bernasib buruk: dipancung karena mempertahankan kehormatan perempuan mereka.

Tentang kekejaman kaum paderi, ada juga diungkap rasa penyesalan Tuanku Imam Bonjol dalam ucapannya Adopun hukum Kitabullah banyak lah malampau dek ulah kito juo. Baa dek kalian? (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?).

Kekejaman kaum Paderi ini dibukukan dalam buku “Tuanku Rao” (1964) karangan Mangaradja Onggang Parlindungan. Buku itu tak ayal menggemparkan kalangan ulama di Minang dan tanah Batak. Tak kurang dari Buya Hamka sendiri memberikan klarifikasi sejarah gelap kaum paderi ini dengan menerbitkan buku bantahan “Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao” (1970).

Tuanku Rao yang berdarah batak bermarga Sinambela sendiri tak pernah dijadikan pahlawan oleh pemerintah Indonesia, meski pemimpinnya Imam Bonjol dan sejawatnya Tuanku Tambusai sudah dipahlawankan. Mereka berperang di kutub yang sama, dan kelihatannya tangan mereka tak bersih dari darah kaum sesama yang harusnya dilindungi dari senapan penjajah asing. Apakah Tuanku Imam Bonjol berperang melawan Belanda untuk mencegah bangsanya dari penjajahan, atau untuk melindungi gerakan Islamisasi yang dilancarkan Harimau nan Salapan di tanah Minangkabau dan Batak? Anda silahkan memberikan interpretasi atas kronik sejarahnya.

Sultan Hasanuddin (1631 – 1670)
Sultan Kerajaan Gowa-Tallo ini dikenal sebagai raja yang bertakhta saat pecah perang Makassar (1666-1669) melawan perusahaan VOC. Saat itu, pelabuhan Makassar yang menjadi pintu masuk Kerajaan Gowa-Tallo dari laut dianggap strategis untuk mengamankan kapal-kapal VOC yang membawa hasil tanam rempah dari Maluku. Pelabuhan Makassar yang dibangun secara massif oleh Karaeng Pattingalloang, petinggi di masa pemerintahan kakek dan ayahanda Hasanuddin, ini dulunya dianggap sebagai satu-satunya pelabuhan internasional di Kepulauan Melayu (Malay World), sejak Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, dan kemudian dikuasai Belanda pada 1641.

Perang Makassar yang berlangsung tiga tahun itu menghasilkan kekalahan di pihak Gowa-Tallo. Pemenang perangnya tak lain adalah VOC dan Arung Palakka, raja Bone yang sebelumnya ditaklukkan Gowa. Dalam kronik yang disusun pedagang Inggris dan Speelman, Jendral VOC yang mengalahkan Hasanuddin, sultan Gowa ini sebetulnya tak cakap bertakhta karena kurang memiliki kemampuan administratif dan kualitas kepemimpinan yang kurang unggul jika dibandingkan pendahulunya. Kronik lain menyebutkan bahwa Hasanuddin bersama karaeng-karaeng lainnya juga bertindak selaku ‘pedagang’ serakah yang semena-mena menetapkan harga komoditi sehingga membuat pedagang-pedagang Inggris dan negara lain merasa tak nyaman.

Hasanuddin, yang konon pemberang, juga tak mampu menjaga kestabilan internal pemerintahannya. Ini dibuktikan dengan munculnya tiga kutub pemimpin di kerajaannya: Hasanuddin sendiri, Karaeng Sumannaq, dan Karaeng Karunrung. Belum lagi rongrongan dari negeri-negeri taklukan semisal Bone yang tak puas akan kepemimpinannya yang ‘konon’ kejam terhadap bangsawan-bangsawan Bone.

Konflik internal antar karaeng dan pembangkangan dari negeri taklukan membuat Gowa-Tallo hanya mampu bertahan 3 tahun dalam perang Makassar. Hasanuddin keluar sebagai pihak yang kalah perang, dan takluk di kaki VOC dengan menandatangani perjanjian Bungaya yang isinya sangat melecehkan kehormatan.

Akan tetapi, meski kalah perang, Hasanuddin berada di kutub yang strategis bagi pemerintah Indonesia kini. Ia beruntung berseberangan dengan VOC, representasi Kerajaan Belanda, sehingga dianggap sebagai pahlawan Indonesia. Sementara, Arung Palakka yang bermisi memerdekakan negaranya, Bone, dari penjajahan Gowa, dikalungi gelar pengkhianat karena kolaborasi militernya dengan VOC.

Hal ini sebetulnya amatlah aneh secara logika. Sebab, Hasanuddin, seperti juga Pattimura, Diponegoro, Imam Bonjol, atau Sultan Agung, tidak pernah mengenal ide keindonesiaan, apalagi ihwal perjuangan kemerdekaan nasional. Mereka hanyalah raja atau pemimpin suatu negara yang ‘kebetulan’ takluk di tangan VOC dan sekutunya dalam konteksnya sendiri.

Karaeng Pattingalloang (1600 – 1654)
Sosok pemimpin Gowa-Tallo yang juga penggemar sains dan menguasai lima bahasa asing ini sesungguhnya jauh lebih layak menjadi pahlawan, jika memakai parameter pemerintah Indonesia kini. Di masa pemerintahannya, berdua dengan Sultan Alauddin, Kerajaan Gowa-Tallo mencapai puncak keemasannya. Bahkan mereka berhasil mengusir VOC yang hendak memonopoli perdagangan di Makassar tahun 1651, sembari membiarkan pedagang Portugis dan Inggris menjalankan usahanya di sana.

Karaeng Pattingalloang juga bertindak selaku panglima perang kala menaklukkan I Maddaremmeng, raja Bone tahun 1643. Jadi, manakah yang lebih layak menyandang gelar pahlawan: Hasanuddin yang kalah perang ataukah Pattingalloang yang cerdas dan pemberani?

Mereka yang Tersingkir
Kekritisan dan pemahaman kontekstual amat diperlukan dalam membaca nama-nama pejuang di atas. Begitu juga nama-nama seperti Arung Palakka, Tan Malaka, Amir Hamzah, Kahar Muzakkar, atau Sultan Hamid II.

Arung Palakka (1634 – 1696), misalnya, adalah pahlawan bagi rakyat Bone, meskipun saat itu ia berdiri beriringan dengan VOC melawan hegemoni Hasanuddin, raja Gowa Tallo yang menaklukkan Kerajaan Bone dan beberapa kerajaan Bugis sekitarnya. Sekali lagi, ide tentang perjuangan menegakkan kemerdekaan Indonesia tentu belum ada saat itu. Karenanya, taklah adil menetapkan Arung Palakka sebagai pengkhianat karena ia hanya mencoba menerapkan strategi agar negerinya bisa bebas merdeka.

Nasib buruk juga menimpa Tan Malaka dan Amir Hamzah yang dibunuh oleh kaum republik di masa perjuangan kemerdekaan tahun 1945-1960. Meskipun belakangan diabadikan sebagai pahlawan, mereka mati karena berbeda haluan politik dengan pemuda dan tentara yang saat itu dominan dalam gejolak Indonesia.

Kahar Muzakkar, ajudan pribadi Soekarno di masa perjuangan, juga tewas di Sulawesi Selatan dengan status pemberontak pada 1965-an. Ia diberi label pemberontak karena berkehendak agar tentara di bawah komandonya dimasukkan ke dalam barisan tentara Indonesia. Namun, gagasannya berseberangan dengan Kawilarang dan Nasution yang saat itu memimpin Tentara Nasional Indonesia.

Kita juga nampaknya digiring untuk melupakan, atau mengalungkan posisi nista kepada Sultan Hamid II (1913-1978), perintis kemerdekaan Indonesia yang juga raja terakhir Kesultanan Pontianak. Ia adalah pencipta lambang nasional Garuda Pancasila. Nasibnya tenggelam dalam dinamika pencarian bentuk negara, dimana dirinya menyokong gagasan federalisme, hal yang dianggap pro pada kehendak Belanda.

Haluan politik Sultan Hamid juga berseberangan dengan tokoh-tokoh di arus lain, semisal Soekarno, bahkan sejak jaman Jepang mengusir Belanda. Kalau Soekarno memilih menjadi propagandis Jepang, Sultan Hamid II justru mendekam di penjara tentara Nippon di Jawa. Meski terlibat dalam pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil yang gagal pada 1950, namun kecintaannya kepada Indonesia berbekas dalam lambang Garuda Pancasila yang ia ciptakan di tahun yang sama.

Sejarah, dan juga penetapan kepahlawanan, memang penuh dengan semak interpretasi. Ia bisa lahir dari beragam perspektif, dan melahirkan banyak kesimpulan. Para pejuang itu mungkin memang tak akan merasa begitu penting dijadikan pahlawan atau tidak oleh generasi kini. Tapi, semangat perjuangan mereka nanti akan menjadi bahan bakar untuk kita semua, generasi yang kini menghirup udara bebas kemerdekaan Indonesia. Kalau kita direcoki dengan semangat yang justru luntur dan bercampur kotoran, apakah bisa kita mengendarai kronik mereka sebagai panutan?

Bangsa yang besar memang bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Namun, bangsa yang besar juga ditentukan dengan bagaimana mereka memaknai perjuangan pahlawannya – tidak serta merta menerima begitu saja apa-apa yang dianggap baik untuk kemudian diwariskan dan dijejalkan di kepala kita. Perlu penelaahan yang kritis untuk menjaring hal-hal kotor di sekitar kronik mereka, dan perlu juga ‘keadilan’ dalam memandang konteks yang menjadi jiwa perjuangan para tokoh itu.

Buat saya, pahlawan Indonesia sejati adalah sosok-sosok bersih dan pemberani yang gigih melawan kebusukan bangsanya sendiri. Sebutlah Baharuddin Lopa, Marsinah, Munir, dan banyak sekali nama-nama lain. Dan orang-orang lurus dan berani itulah yang membakar semangat generasi mendatang. Bukan oleh orang-orang yang tangannya berlumuran darah, hartanya tercampur noda haram, dan pikirannya membusuk seenak perutnya.

Bagaimana menurut Anda?

(89)

Muhammad Ruslailang Noertika Muhammad Ruslailang Noertika biasa disapa Daeng Rusle. Saat ini ia tinggal dan bekerja di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Beberapa tulisannya dimuat di beberapa media cetak dan online. Ia bisa ditemui di www.daengrusle.net.

Comments with Facebook

Comment(4)

  1. Daeng rusle, salah satu teman dan juga senior waktu sma yang sampai sekarang eksis didunia tulis menulis khususnya tentang sejarah dan budaya. Salut atas tulisanya, bagus

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. Sekutu Belanda Memuluskan Imperialisme Yahudi

    Kepahlawanan dalam konteks zaman Orba diantaranya melawan musuh bersama yakni Belanda. Ketika ada yang bekerja sama dengan Belanda, maka kriteria utama untuk disebut pahlawan langsung hilang. Mereka kemudian terkonversi menjadi pengkhianat atau semisal dengan itu. Indonesia sebagai suatu nama entitas kebangsaan, memang belum ada ketika Belanda menjadi penjajah. Siapapun yang menjadi pahlawan, tak berurusan dengan entitas tersebut, melainkan demi kepentingan suku, perdagangan dan kehormatan kerajaan.

    Ketika sejarah dituliskan di kemudian hari, sebuah ‘rasa kebangsaan’ ditambahkan dalam penulisan itu yakni siapapun yang melawan Belanda, berarti membela Indonesia. Rasa kebangsaan itu, disusupkan dalam bumbu penulisan. Racikan sejarah semacam itu masih tetap ada sampai sekarang. Hasilnya masih tetap ada yang percaya bahwa siapapun yang bekerja sama dengan Belanda, pastilah ia pengkhianat. Tapi ada sisi hitam yang jarang terbaca dari apa yang dilakukan Belanda dan para sekutunya. Sisi hitam itu berupa masa subur tertanamnya ideologi Yahudi melalui agama yang disebarkan penjajah maupun yang disusupkan secara hening dalam etika adat setempat.

    Para Pengkhianat Sekutu Yahudi

    Mereka yang disebut pengkhianat adalah orang yang menebas, menikam, dan menggorok leher musuh-musuh Belanda. Belanda sangat sulit menguasai berbagai daerah di masa kolonial itu, tanpa bantuan orang setempat. Kemenangan Belanda serta merta diterima sebagai suatu piala yang berisi darah hangat. Belanda mendapatkan piala kemenangan dari para penyokongnya. Para penyokong itu bukan hanya disewa sebagai penonton belaka di tribun terbuka. Para penyokong penjajah tersebut seringkali berada di garis depan untuk melawan orang yang sebenarnya berbahasa, beragama dan bersuku seperti mereka.

    Para penyokong Belanda malah memiliki daya bunuh kepada sesamanya, melebihi tuan-tuan mereka dari pihak VOC Yahudi itu. Bila Belanda menang, mereka juga bersorak sambil menggorok lawan, yang hidupnya sudah di titik napas terakhir. Pola ini terjadi di semua tempat yang berhasil dimenangkan oleh Belanda. Lalu dengan cara itu, Belanda makin menguatkan jemari jahannam di Nusantara. Kemenangan Belanda di Indonesia adalah cengkeraman kejahatan Yahudi tebesar di Nusantara hingga sekarang ini. Mereka yang bekerja sama dengan petinggi VOC dan pemerintah kolonial Belanda, memuluskan penguasaan Yahudi dalam ideologi, budaya, etika dan moralitas. Adat budaya setempat sudah tercemar oleh gagasan Yahudi, karena penjajahan tersebut. Semua itu tak bakal terjadi, tanpa adanya para pengkhianat, yang sosoknya terdapat dalam sejarah yang ditulis di kemudian hari.

    Ostaf Al Mustafa

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (2 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 3 votes)
  3. Nice sharing Daeng Rusle, menyegarkan kembali pengetahuan sejarah saya dan mungkin juga pembaca lainnya. Diantara sekian nama, ada 1 nama yang saya jarang / tidak pernah dengar yi:Sultan Hamid II (yang justru merupakan penemu lambang NKRI).

    Kelihatannya perjalanan sejarah kepahlawanan masa lalu tersebut terjadi lagi saat ini di negeri kita, dimana putih menjadi hitam dan demikian pula sebaliknya. Salah satu perbedaannya terletak pada belum adanya yang dinamakan NKRI saat itu dan masih lebih bersifat kedaerahan.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (3 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +3 (from 3 votes)
  4. Tulisan yang bagus Daeng =) Masalahnya terlalu banyak Kepentingan Politik dalam Sejarah Indonesia dan tergantung pada Rezim yang berkuasa. Di Makam Pahlawan Kalibata banyak Pahlawan yang dimakamkan disana (menurut Pemerintah kita),pertanyaannya,apakah mereka benar-benar Pahlawan?

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (2 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +3 (from 3 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *