Home Lentera Timur Channel Konstruksi Kolonial dan Kompleksitas Perbatasan

Konstruksi Kolonial dan Kompleksitas Perbatasan

12
0

Perbatasan selama ini kerap dipandang dari perspektif negara sebagai ruang legalitas, kedaulatan, formalisme. Pemberitaan di media massa pun tak lepas dari kacamata sebagaimana kekuasaan dan kapital memandang perbatasan. Perbatasan dianggap kawasan yang terpencil, statis, bahkan terbelakang.

Akan tetapi, faktanya tidak demikian. Ada kompleksitas yang dialami oleh apa yang disebut perbatasan dengan labelnya yang terpencil dan disebut berada di beranda depan. Bahkan, interaksi kehidupan masyarakat perbatasan secara ekonomi tidak mengenal batas. Kawasan perbatasan justru bersifat regional bahkan global. Logika komoditas menjelaskan bahwa ia akan selalu mencari akses terdekat ke pasar. Dan pasar itu adalah yang kini berada di negara lain.

Dave Lumenta. Foto: Redaksi.

Dan secara sejarah, Belanda dan Inggris, yang mengkonstruksi negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tidaklah kaku dalam menentukan tapal batas. Meski dalam beberapa kasus tampak main-main dengan garis-garis batasnya, yang di antaranya dibagi bahkan sebelum Belanda sampai ke daratan, batas-batas tersebut nampak sebagai sesuatu yang tentatif.

Ketika Indonesia kemudian mencoba memberi batas-batas sendiri, ia menggunakan perspektif darat. Contohnya adalah Deklarasi Djuanda 1957. Dalam deklarasi itu, negara menggunakan logika ruang yang kaku yang sebetulnya tidak sesuai (compatible) dengan cara kerja alam. Manusia di kawasan yang disebut perbatasan, dengan tradisi ratusan tahun dalam berdagang, punya logikanya sendiri dalam menghidupi dirinya. Pun nelayan, yang menggunakan perspektif arus laut.

Dan alih-alih mengajarkan bahwa Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara merupakan hasil konstruksi kolonial, sekolah-sekolah justru mengajarkan bahwa Indonesia merupakan warisan dari Majapahit, sebuah negara kerajaan yang ada di Jawa.

Dave Lumenta, ahli perbatasan dari Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, memaparkan pemikirannya ini dalam Dialog Pemuda II – Identitas Kebudayaan Indonesia di Perbatasan. Dialog ini juga menghadirkan pembicara Jeverson Petonengan (Sangihe, Sulawesi Utara), Andre Parera (Atambua, Nusa Tenggara Timur), Jeffry Papare (Papua), Umar Pasandre (Bajo, Gorontalo), Zamzami A Karim (Bintan, Kepulauan Riau), Saibansah Dardani (Batam, Kepulauan Riau), Hendrikus Adam (Kalimantan Barat), dan Rahman T (Nunukan, Kalimantan Timur).

(12)

Redaksi Redaksi LenteraTimur.com

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *