Home Bernala Pudarnya Eksistensialisme Musik
0

Pudarnya Eksistensialisme Musik

29
0
Soffa Ihsan

Apa “musik pop” itu? Pertanyaan macam ini mungkin (pernah) mencuat di benak siapa saja. Setiap hari, barangkali, indra kita menangkap musik seperti itu melalui medium-medium semisal radio atau televisi, baik versi konvensional maupun online, ataupun di panggung-panggung pertunjukkan.

Akan tetapi, mungkin kekecewaan yang kita dapat tatkala berusaha menjawab pertanyaan apa itu “musik pop”. Dieter Mack, seorang komponis dan etnomusikolog Jerman, pernah mengatakan bahwa ”jika kita meneliti istilah ini, maka segala sesuatu akan menjadi kabur saja”.

Terhadap istilah ini, Fabio Dasilva dalam buku the Sociology of Music (1984) berujar, ”Music will be described but not defined” (musik akan menjelaskan tapi tak mendefinisikan). Dengan begitu, definisi “musik pop” mengidap kekaburan bawaan dari definisi “musik” yang tak jelas itu.

Meski tak terdefinisikan, “musik pop” masih dapat ditandai. Pengamat musik Indonesia, Suka Hardjana, mengungkapkan ciri musik ini sebagai musik orang kebanyakan, komersial, sifatnya hiburan, dan salah satu bentuk dari pengaruh kebudayaan Barat.

Musik Indonesia berangkat dari perkembangan kekaburan definisi. Ia beradaptasi dengan berbagai macam situasi negeri ini. Televisi yang muncul pada 1960-an menjadikan dirinya pusat jaringan baru musik yang lebih agresif bagi pemirsanya. Perpindahan drastis dari budaya dengar (radio) ke budaya lihat (televisi) tak pernah padu konsepnya. Program televisi yang lebih terarah untuk tujuan hedonis, iklani, dan badani, menjadikan musik lambat laun kehilangan sistem nilainya sebagai bagian dari filsafat kesenian, tanpa perenungan.

Dunia musik kita juga tampak kontradiktif manakala bersinggungan dengan politik. Ada kalanya, ia divonis demi hukum seperti kasus kelompok Koes Plus pada zaman Orde Lama atau kasus lagu-lagu cengeng pada masa Orde Baru. Pun bentuk-bentuk pencekalan lain. Banyak pula, para musisi pop dimanfaatkan sebagai penyihir massa dalam kampanye partai atau malah sebagai anggota legislatif sebuah partai.

Di abad ini, musik pop kian berkibar seturut perkembangan teknologi informasi. Perkembangan ini tampak biasa-biasa saja seperti tak ada persoalan. Seperti biasa pula, kritik musik di media muncul dan akhirnya tenggelam tanpa ada refleksi apa-apa.

Namun, seperti dalam teori kritisnya, filosof Jerman Max Horkheimer justru melihat ada “apa-apa” dibalik “yang tidak ada apa-apa” itu. Di balik musik itu, ada gerakan yang mengalir berdasarkan sistem tertentu, yaitu logika kapital. Peran sistem inilah yang memonopoli jalannya aktivitas musikal. Ia akan terus memakai si pemusik sejauh bisa laris. Urusan musikologis tak terlalu diperhitungkan. Karenanya, musik yang serius, kontemplatif dan bernuansa etnis akan jeblok pasarannya seperti, misalnya, yang dialami kelompok Discuss, pengusung progressif rock.

Kuatnya pendiktean musik instan pada konsumen menyeret pula pengkutuban antara musisi pop dengan musisi serius. Musisi pop terus berkibar di panggung-panggung publik, sedang musisi serius sekedar mengisi musikalisasi teater yang tampil di gedung-gedung tertutup. Kita sepertinya sulit membayangkan antara grup musik semisal The Titan atau Hello untuk berdialog dengan Tony Prabowo, Leo Kristi, atau Arjuna Hutagalung.

Dalam jejaring sistem kapital, yang menurut Weber harus terus menerus ditanamkan untuk mencapai tujuan kapitalis, pada gilirannya berdampak serius. Fungsi musik yang semula sebagai hiburan, sarana edukasi, sensitivitas atau spiritual, menjadi kabur. Selera masyarakat didikte oleh sang kapitalis. Selera semacam inilah adalah selera semu yang kering apresiasi, apalagi musical literacy di masyarakat.

Berjibunnya masyarakat menonton pertunjukan musik tidak serta merta bisa dijadikan tolok ukur tingkat apresiasi musik. Bagi kapitalis, apresiasi semacam itu tentu rasional, tapi irasional bagi konsumennya. Munculnya groupis yang memuja-muja idola artisnya, kerusuhan sewaktu konser musik, peniruan gaya hidup, adalah sebagian kecil dari ungkapan irasionalitas itu.

Adakah solusi untuk soal itu?. Tidak. Sebab memang tidak mungkin. Teori kritis Horkheimer memang sukses ketika berada pada tataran evaluatif, tapi melempem dalam tataran praksis-emansipatoris, dalam arti mengubah dan menata kembali. Apapun teorinya, dalam klaimnya sebagai katalisator suatu praksis-emansipatoris, macet total.

Sikap Bermusik
Di Barat sendiri, ketika Beatles muncul dengan mengusung genre musik rock yang renyah, dunia musik waktu itu juga mengalami metamorfosis. Meruyaklah kala itu berbagai group rock seperti The Comet, Rolling Stones, Black Sabbath, Deep Purple, Led Zeppelin, Pink Floyd, Yes, The Doors, dan Grand Funk.

Ada kegerahan yang melahirkan “revolusi musik” yang derasnya serentak dengan arus perubahan sosial yang terlebih dulu hadir pada 1960-an, saat protes terhadap perang Vietnam menggelegar. Ia tak hanya ditandai oleh makin beragamnya tehnologi sound effect dengan kian bisingnya eksplorasi bunyi dalam musik, tapi juga lirik-lirik lagu bernada protes, kecaman, dan juga renungan. Lahirlah, misalnya, apa yang disebut psychedelic rock seperti pada Yes dan Pink Floyd dengan gaya musikal dan lirik yang menggetarkan alam bawah sadar.

Memang, lahirnya group-group ini tak lepas dari menguatnya unsur kapital dalam sejarah musik. Namun, setidaknya tampilnya aneka gaya musik tersebut ditandai oleh kuatnya karakter musikal dan sikap eksistensial yang menciri khusus di era musik tahun 50-an hingga 70-an. Ada sikap scholarship yang tampak dalam langkah bermusik mereka. Musik bagi mereka menjadi a way of life, sehingga penjelajahan musikal bahkan spiritual terasa menjasad.

Beatles, misalnya, saat menapaki tangga popularitas justru melakukan penjelajahan dengan mengambil unsur-unsur musik Timur setelah melalui perlawatan di India. George Harrison, sang gitarisnya, kemudian memeluk agama Hindu dari akibat adanya “dialog musikal” Barat-Timur. Jimmy Hendrix juga telah membelalakkan mata betapa penubuhan musikalnya telah menjadi bagian yang menyatu dalam mensikapi getir-getir rasialisme yang tengah merajam-rajam kala itu.

Sikap bermusik inilah, yang kian menyusut di era musik dewasa ini. Musik dipisahkan dari “sisi dalam” manusia dan melulu dikemas dalam adonan yang slapstick. Akibatnya, tercerabut ia dari akar eksistensial kemanusiaan. Tak ada lagi sikap eksistensial dalam bermusik. Sebab, yang penting adalah popularitas dan uang. Tak usah heran, kalau penyanyi dangdut Inul Daratista dalam waktu yang begitu cepat telah meraih sukses materi yang mencengangkan.

Munculnya pentas-pentas musik yang tampak begitu gebyar, gemuruh, dan gemintang selayak Indonesiaan Idol dan lainnya, agaknya lebih sebagai bentuk dari superfisialisasi bermusik. Ajang musikal tersebut lebih menyodorkan realitas untuk menjual mimpi dalam menuju popularitas. Pendidikan musik tak lagi penting, karena yang lebih penting adalah “jalur cepat” menuju perwujudan mimpi menjadi selebritis, sebagaimana tayangan-tayangan dunia gemerlap di televisi.

Spiritual Ngepop
Tak terkecuali, meruaknya musik dan lagu yang terinspirasi dari keagamaan (Islam) makin menabalkan kategori musik pop. Sungguh sulit mengelak dari labrakan kebudayaan pop (pop culture). Kilahnya, paling-paling yang penting lirik-liriknya berisikan ketuhanan. Soal aransemen, tak butuh eksplorasi musikal yang mendalam. Kalau sudah begitu, apa bedanya group-group Nasyid seperti Raihan, Suhada Voice, Harmoni Voice, atau juga Snada jika dibandingkan dengan kelompok-kelompok musik pop lainnya seperti Paterpan atau Drive.

Belum lagi, “cap Islami” yang dipanggulnya. Bukankah konsep Nasyid tak jauh beda dengan Acapella atau Gregorian yang menjadi tradisi musik gereja? Bahkan, pada abad ke-15 M, Gregorian pernah dilarang oleh pihak gereja. Seni musik dalam tradisi Islampun yang bergenre syi’ir dan kasidah sebenarnya warisan dari masyarakat Arab jahiliah.

Kalau bicara soal spiritualitas dalam musik, mestinya tidak menyempit semata lirik-lirik pengagungan terhadap kenabian dan ketuhanan. Sebaliknya, juga meluas dan menerobos ke dalam sisi-sisi eksistensial manusia. Menurut pemikir Islam Ibnu Arabi, nyanyian berfungsi untuk menggetarkan hati. Jika begitu, lirik-lirik yang bernada protes dan perenungan eksistensial–termasuk protes atas agama–juga memuat spiritualitas oleh sebab mampu menggetarkan kesadaran untuk menjelajah lebih kritis terhadap tembok agama yang seringkali tampil dalam wajah yang paradoks terhadap kemanusiaan. Kegelisahan yang pernah ditumpahkan oleh John Lennon melalui lagu Imagine-nya; Imagine there is no heaven and no religion too. Imagine there is no heaven, no hell bellow me.

Membebaskan konsumen musik dari irasionalitas sama halnya dengan sebutir debu yang menentang badai gurun yang dahsyat. Apalagi, masalahnya memanunggal dengan berbagai krisis yang mendera negeri ini.  Berharap dari sistem pendidikan musik juga tak mungkin. Jangankan dari perspektif pendidikan musik, pendidikan di Indonesia sendiri sudah berubah menjadi industri. Berat mengharap munculnya “revolusi kebudayaan” yang mencerahkan. Paling-paling, harapan dibalik musik pop yang irasional itu terkandung nilai-nilai adiluhung yang bisa diserap konsumen, dan sistem pendidikan musik kita masih mampu mewariskan sepercik musical literacy bagi bangsa ini.

(29)

Soffa Ihsan Menulis esai di berbagai media massa nasional dan lokal. Ia menulis banyak buku pemikiran, termasuk novel. Satu diantara buku non-fiksinya adalah "In The Name of Sex - Santri, Dunia Kelamin, dan Kitab Kuning". Sempat menjadi redaktur di LenteraTimur.com di Jakarta hingga 2012.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *