Home Bernala Kelamin dan Dusta Kita
0

Kelamin dan Dusta Kita

14
0
Soffa Ihsan

Tubuh itu anugerah kehidupan. Ia bagian integral atas suatu totalitas yang utuh menyatu dengan jiwa dan roh. Dengan ciri dan fungsi biologisnya, tubuh kemudian diberi makna yang bergantung pada sistem nilai dan budaya yang diberlakukan. Pun ia kerap disetangkupkan dengan hal suci dan profan. Ada semacam cultural capital – meminjam Pierre Boudieu, filosof Perancis – dimana tubuh telah menjadi orientasi perbuatan dan pemujaan.

Dalam jejak-jejaknya, selalu muncul kecenderungan pengkotakan atas tubuh yang telah berjalan berlarut-larut. Pada satu sisi, “rezim sekuler” memperlakukan tubuh sebagai obyek permainan pasif. Di sisi lain, “rezim religius” melihat tubuh sebagai potensial berbahaya dan karenanya harus dikontrol dengan ketat.

Kedua rezim tersebut nampaknya berfokus pada hal yang berbeda, tetapi sesungguhnya sama. Pangkalnya adalah “wille zur macht”, kehendak untuk menguasai tubuh sebagai obyek dan masing-masing ingin berperan sebagai pemilik yang sah bagi tubuh. Dampak lanjutnya, lahirlah “nalar” dikotomis hitam-putih. Nasib kelamin pun tak urung dipatok-patok, hingga mendesak-desakkan “tubuh yang rasis”.

Buka-Tutup
Lama nian hal-ihwal kelamin menjadi amuk perbantahan. Ataukah, ini akibat menghunjamnya perasaan ketercemaran diri yang menurut hasil tilikan Paul Ricoeur, filosof Perancis, sebagai memori paling tua dalam sejarah peradaban manusia? Wawasan antara bersih dan najis telah menyumsum dan tak henti menciptakan makna hingga kini. Tak ada lagi saintliness of evil, keberanian menatap kenyataan yang kadung dikutuk najis.

Padahal, kita saksikan saja, dalam Serat Centini bahkan digambarkan bagaimana harus bermain, hari apa sesuai wetonnya, dan ciri-ciri wanita dengan hal ihwal perempuan. Dalam gua-gua juga sudah terpancak relief-relief yang bergambar kelamin. Perhatikan lingga yang bersimbol penis juga. Ingat pula dalam Kamasutra, Asmorogomo, Ars Amatoria, Sansekerta, Jawa, dan Latin. Namun, nyatanya karya-karya budaya itu tidak menunjukkan dan terkesan tuna susila atau pornografi, betapapun menguraikan teknik hubungan seks dan seluk-beluknya.

Karena itu, ketika kini ada yang uring-uringan ihwal “dunia kelamin”, maka itu bisa dipertanyakan. Jangan-jangan, tambah maju kita justru tambah puritan. Seolah ada “rezim” yang berhak menentukan tata susila yang berlaku. Estetika sepertinya haruslah sesuai dengan moralitas yang rigid, kalau tidak maka karya tersebut bersifat tuna susila. Karya-karya yang menguar kelamin dianggap sebagai populer, kurang bermutu. Sementara, ihwal politik atau ekonomi, seketika kita justru makin “liberal” hingga ketika terjadi kasus-kasus gigantik, entah itu soal Bank Century, mafia pajak atau penegakan hukum, ia menjadi begitu “demokratis”.

Ingatlah peristiwa kontra goyang ‘Inulmania’. Seolah masyarakat benar-benar diobrak-abrik tata susilanya oleh Inul, lalu marah-marah. Ada penghakiman bahwa apa yang dilakukan Inul itu tak sopan, berdosa, dan harus diberantas. Tapi, apa yang terjadi? Muncul resistensi terutama dari massa. Maka, ‘Inulmania’ pun tetap lestari. Dan pula yang paling mutakhir kasus video Ariel, Cut Tari dan Luna Maya, selalu muncul pro-kontra di ranah publik.

Itulah perlawanan budaya terhadap pandangan yang dinilai terlalu kaku, dogmatis, dan melegitimasi status quo sebagai pengemban peradaban. Ya, sedari dahulu kala, dimana pun kita berada, pasti ada sebuah kutub budaya. Yang satu mengatasnamakan budaya adiluhung, yang lain mewakili budaya pinggiran yang kerap dikerangkeng sebagai jelek dan maksiat. Inikah gambaran seksualitas yang tutup-buka?

Dalam serenteng sejarah kepenulisan, juga kita saksikan pernah terjadi penindakan oleh aparat negara terhadap pengarang dan karya-karya yang didakwa isinya telah melanggar moral umum. Di Perancis, Gustave Flaubret pernah dipanggil ke muka hakim untuk mempertanggungjawabkan penulisan romannya, Madame Bovary, yang dianggap tidak sopan. Demikian juga, pemerintah Inggris dan Amerika telah melarang terbitnya Ulysses karangan James Joyce dan Lady Chatterley’s Lover karangan D.H. Lawrence yang menguar masalah homoseksual dan lesbian dengan alasan yang sama. Seiring berjalannya waktu, karya-karya tersebut ternyata mendapatkan kedudukan yang terhormat dan menjadi karya klasik kelas satu. Ukuran-ukuran tuna susila dari waktu ke waktu senantiasa berubah menurut zamannya.

Ketika terbit roman Armjn Pane, Belenggu, pada 1940, tidak sedikit orang merasa tersinggung kesadaran susilanya oleh adegan tokoh utama dokter Sukartono yang menghadapi pasien perempuan. Kain pasien perempuan itu diceritakan tersingkap sehingga tampak bagian paha. Sekarang, karena perkembangan zaman, era globalisasi, roman-roman picisan bertebaran. Sebut saja Nick Carter, tabloid lher yang ada di mana-mana, atau film porno. Bahkan, adegan ciuman di film atau televise sudah dianggap ramai, apalagi akses internet sangat terbuka. Alhasil, adegan di dalam Belenggu itu boleh dikata sama sekali tidak menjadi perhatian pembaca karena tak menyinggung kesadaran apa pun, kecuali membangkitkan kesan-kesan yang sentimental.

Siapa yang baca-baca sastra Jawa tentu akan mengenal Gatoloco, karya yang berisi ajaran mistik Islam Jawa yang sudah tergolong dalam karya-karya klasik, yakni karya-karya yang telah memperoleh kedudukan terpandang dan terhormat di tengah-tengah bacaan lain. Mistik di dalam karya itu diuraikan melalui simbolisasi seksual. Sekalipun memiliki suasana lokal serta bentuk ekspresi yang lain, karya itu amat dekat sifatnya dengan puisi mistik India seperti yang terkandung dalam Prem Sagar dan Gita Govinda atau dengan sajak-sajak Arab-Persi seperti yang dikarang oleh Hafiz dan Ibn Hizam yang mempersenyawakan juga persatuan antara Khalik dan makhluk dengan persatuan tubuh antara laki-laki dan perempuan.

Seorang sufi, Ibnu Arabi, melihat bahwa tatkala laki-laki mencintai perempuan, sesungguhnya itu adalah penyatuan. Dan pada saat terjadi hubungan persebadanan, itulah saat terjadinya pernyatuan rasa antara laki-laki dan perempuan, sebagaimana perasaan yang dialami dalam meniti jalan menuju Tuhan (wushul).

Nah, kelamin tidak mesti setenteng dengan ketunasusilaan. Akankah ia harus didustakan? Kedustaan hanya milik organ-organ selain kelamin, seperti mulut utamanya. Mulut berucap, belum tentu niat hati yang terpendar. Mulut perlambang ‘ketidakjujuran’. Sementara, kelamin hanyalah “alat bantu” yang dikhotbahkan berfungsi sebagai “pelestari” keturunan. Walau, ia memang juga bisa menjadi penangguk kenikmatan belaka.

Begitulah, kelamin bisa melambangkan kejujuran atau kepolosan. Kedustaan kelamin terjadi manakala bersenyawakan dan bersimbahkan pemerkosaan, kekerasan, terorisme, militerisme, dan kolonialisme. Kalau ada tuduhan terjadinya komodifikasi atau deviasi, bukankah itu tak hanya terjadi di jagad kelamin, tapi sudah merembesi di semua lini kehidupan?

(14)

Soffa Ihsan Menulis esai di berbagai media massa nasional dan lokal. Ia menulis banyak buku pemikiran, termasuk novel. Satu diantara buku non-fiksinya adalah "In The Name of Sex - Santri, Dunia Kelamin, dan Kitab Kuning". Sempat menjadi redaktur di LenteraTimur.com di Jakarta hingga 2012.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *