Home Featured Serdadu Kumbang, Sengatan dari Tana Samawa

Serdadu Kumbang, Sengatan dari Tana Samawa

557
1
Minun menghibur adiknya, Amek, yang baru kehilangan Smodeng, kuda kesayangannya. Foto-foto: www.serdadukumbangthemovie.com

“Pendidikan macam apa yang kalian cita-citakan? Saya tidak bangga kalau cucu saya cerdas di kepala tapi tidak cerdas di dalam hati.”

Pernyataan itu keluar dari mulut Haji Maesa dalam salah satu adegan di film Serdadu Kumbang (2011) saat memprotes kekerasan yang dilakukan guru-guru di sekolah cucunya. Maesa, yang diperankan oleh seniman Putu Wijaya, adalah seorang sesepuh desa. Ia akrab dipanggil Papin, yang tak lain sapaan khas untuk orang tua di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Dialog-dialog yang terbangun dalam film besutan Alenia Pictures ini memang kental dengan nilai-nilai yang tersirat. Dan itulah yang saya kira menjadi ruh penghidup dan penggerak kisah yang ditiupkan dari Tana Samawa (Tanah Sumbawa) ini. Nilai dari keseharian yang bersahaja ditampilkan di antara bentang panorama darat dan laut yang amat memikat.

Nilai-nilai yang dihidupkan oleh peran-peran yang apik ini pun berkelindan dengan kegagahan kaki-kaki kecil yang kuat berlari kencang bak kuda-kuda yang berpacu di padang rumput Sumbawa. Pun dengan kepekaan serta semangat para bocah dalam membantu sesama yang sedang berkesusahan.

Film ini dapat menjadi penyejuk mata dan batin bagi siapapun yang melihat. Hanya saja, terlalu kasarnya PT. Newmont Nusa Tenggara, sponsor tunggal film ini, masuk ke dalam karakter cerita tak pelak menjadi catatan tersendiri.

***

Serdadu Kumbang menjadi bukti konsistensi Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen sebagai sutradara dan produser yang setia memproduksi film bertema anak-anak di Indonesia. Sebut saja film Denias, Senandung di Atas Awan (2006); Liburan Seru (2008); King (2009); dan Tanah Air Beta (2010).

Dari semua judul dengan tema yang khas itu, selalu nampak ada penghargaan atas lokalitas yang ditunjukkan oleh Ari dan Nia dalam bangunan cerita. Jika banyak pihak pembuat film di Jakarta yang ketika menampilkan kisah suatu kawasan selalu memasukkan sosok orang Jakarta sebagai “sinterklas” bagi masyarakat yang bersangkutan, sebagaimana dahulu kulit putih memperlakukan kulit coklat dalam kajian-kajian poskolonialisme, maka Ari dan Nia berbeda.

Serdadu Kumbang yang mulai ditayangkan pada 16 Juni 2011 ini mengangkat kisah dari Desa Mantar, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Selain Mantar sebagai lokasi utama, cerita juga sedikit-sedikit bergerak ke daerah Poto Tano, Maluk, Townsite, dan Taliwang di Sumbawa Barat, serta Pulau Bungin dan Pacuan Kuda Krato di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa.

Mantar yang berjarak delapan kilometer dari pusat Kota Sumbawa dan berada pada ketinggian delapan ratus meter di atas permukaan laut merupakan salah satu obyek wisata di Kabupaten Sumbawa Barat. Teknik pengambilan gambar long shoot dalam Serdadu Kumbang, meski tak seoptimal tampilan pada sinematografi film-film Alenia sebelumnya, cukup berhasil menyapu keindahan panorama hamparan sawah di sebelah timur bukit Mantar dan birunya laut selat Alas-Sumbawa di sebelah barat.

Tak hanya menjadikan Mantar sebagai latar lokasi yang indah, Ari dan Nia juga nampak jeli menjejakkan seluruh jalan cerita pada lokalitas Mantar. Selain lima anak asli Sumbawa yang dilibatkan dalam film ini, yakni Kencor, Jafar, Beda, Ima, dan Lan, detail garapan Serdadu Kumbang nampak lahir dari hasil riset yang tak hanya ‘selewat jalan’.

Nyanyian syahdu Papin tentang dongeng Gunung Tambora, dialek khas plus selipan kosa kata Sumbawa lengkap dengan lagu-lagunya, tradisi pacuan kuda, cerita rakyat tentang asal-usul kumbang dan kupu-kupu, pun permainan tradisional memburu kumbang, tersemat begitu cermat dalam film ini.

Permainan berburu kumbang, lalu memotong bisanya dengan kuku kemudian mengikat si kumbang dengan benang untuk diterbangkan, adalah kegemaran khas anak Sumbawa yang masih dimainkan hingga kini. Terkadang, kumbang tersebut terbang dengan membawa sepotong pesan. Kumbang pulalah yang kemudian dijadikan judul film ini sebagai metafora kehidupan anak-anak Sumbawa.

Kehadiran satu tokoh anak albino dalam film ini pun agaknya bukan sebuah kebetulan. Hal ini senada pada “Legenda Albino” yang pernah saya dengar di  Tanah Sumbawa. Sebagian masyarakat Sumbawa percaya bahwa “si bule” memang bukan orang Sumbawa asli, melainkan keturunan Portugis. Mereka meyakini bahwa kaum Portugis pernah terdampar di bukit Mantar, yang dibuktikan dengan perahu-perahunya yang terdampar di sebelah barat desa, di sebuah tebing menuju laut.

Detail-detail ini sekali lagi menjadi bukti kejelian Ari dan Nia dalam menjejakkan kisah Serdadu Kumbang pada realitas kebudayaan Sumbawa di Desa Mantar. Inilah desa yang terhampar di leher bukit, dimana sinyal telefon genggam hanya ada di pucuk-pucuk tinggi pepohonan.

***

Kisah Serdadu Kumbang berpusat pada tokoh Amek (Yudi Miftahudin), bocah kelas enam Sekolah Dasar yang bersahabat karib dengan Umbe (Aji Santosa) dan Acan (Fachri Azhari). Selain dua sahabatnya, Amek juga memiliki seekor kuda kesayangan yang diberi nama Smodeng.

Ketiga lelaki kecil ini kerap belajar mengaji pada Papin, seorang kakek yang penyayang. Papin mengajari nilai-nilai agama dan moral kepada anak-anak itu dengan cara yang halus dan bijaksana. Papin pula yang melihat bakat Amek yang mahir mengendalikan kuda, takat ia selalu menang dalam lomba pacuan kuda yang sering dilaksanakan di kampungnya.

Tiga sahabat dari Desa Mantar: Amek, Ombe, dan Acan. Mereka sedang mengintip rok ibu guru.

Amek adalah bocah yang terlahir dengan celah di bibirnya. Ia hidup di tengah kemiskinan kolektif yang dirasakan bersama penduduk Desa Mantar. Dengan kondisi sangat sederhana di sebuah rumah panggung, Amek hidup bersama sang Inak (ibu) bernama Siti (Titi Sjuman) dan kakaknya, Minun (Monica Sayangbati). Sejak ditinggal sang ayah, Zakaria (Asrul Dahlan), yang sudah tiga lebaran tak pulang karena mengadu nasib sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, Inak menghidupi keluarganya dengan berjualan minuman di kolong rumah mereka.

Di antara kawan-kawannya, hanya Amek yang tak berani menyebutkan cita-cita ketika ditanya oleh gurunya di sekolah. Amek pun hanya terdiam ketika anak-anak Mantar lainnya menggantungkan aneka botol berisi harapan mereka ke dahan Pohon Cita-Cita yang terletak persis di bibir tebing dan menghadap ke laut lepas. Diamnya Amek bukan tanpa alasan. Amek sadar akan bibirnya yang sumbing, yang membuat dirinya lebih memilih diam karena takut diejek.

Amek adalah salah satu dari sekian banyak murid Sekolah Dasar Negeri 08 Mantar yang tak lulus Ujian Nasional tahun lalu. Sejumlah faktor menjadi latar belakang ketidaklulusan Amek; entah fasilitas pendidikan yang kurang, gaya pendidikan sekolah yang terlampau keras, atau faktor psikologis Amek yang rindu pada sang ayah. Meski demikian, Inak, Minun, dan Ibu Guru Imbok (Ririn Ekawati) terus menerus memompa semangat belajar Amek.

Sebaliknya, Minun duduk di bangku tiga Sekolah Menengah Pertama dan selalu juara kelas. Minun sering menjuarai lomba matematika se-Kabupaten Sumbawa Barat. Sederet piala dan sertifikat berjejer di dinding rumah mereka. Minun adalah ikon sekolah, kebanggaan keluarga, bahkan masyarakat di Desa Mantar.

Di sekolah Amek, para guru berambisi penuh untuk dapat meluluskan seluruh siswanya di tahun ini. Selagi Ibu Imbok dan Pak Openg (Leroy Osmani) menerapkan kelembutan, ada Pak Alim (Lukman Sardi) yang selalu menempa murid dengan disiplin kaku dan keras. Kekerasan ini didukung oleh kepala sekolah, Pak Jabuk (Dorman Borisman).

Lain guru, lain pula siswa. Para siswa justru menempuh cara yang tidak wajar agar bisa lulus ujian. Mereka lebih memilih menggantungkan harapan ke Pohon Cita-Cita.

Amek yang malas belajar lebih sering berkhayal untuk mengikuti jejak Najwa Shihab untuk menjadi seorang pembawa acara berita. Najwa Shihab adalah pembawa berita di stasiun televisi Jakarta namun bersiaran nasional. Amek gemar menonton berita di televisi yang akhirnya membuat ia menjadi satu-satunya pemberi kabar dari dunia luar bagi warga kampungnya.

“Apa rungan negeri kita?” begitu kerap tetangga-tetangga bertanya pada Amek. ‘Rungan’ adalah bahasa Sumbawa untuk ‘kabar’.

Amek pun lantas berdiri di depan jendela, berpura-pura membacakan berita dengan suara lantang.

“…Bertahun-tahun demo, semua atas nama rakyat. Bahkan anak SD pun disuruh demo membakar buku pelajaran demi demokrasi, pemirsa.”

“Pemirsa, potong sana potong sini. Itu namanya biaya koordinasi.”

Demikianlah gaya Amek membaca berita dari balik bingkai jendela kayu di rumahnya. Kalimat-kalimat yang diucapkan hanya berdasar pada ingatan akan berita yang ditontonnya dari televisi yang bergambar buram.

Di sekolah, Amek sering dihukum oleh Pak Alim yang gemar mengajar ala militer. Tindakan Pak Alim sering diprotes Ibu Guru Imbok yang lebih suka mengajar dengan penuh kesabaran dan lemah lembut.

“Saya mau sekolah. Tapi selalu dihukum,” demikian jawaban Amek kepada Ibu Imbok ketika ditemukan sedang membolos dari sekolah.

Dalam satu adegan, Amek secara spontan mengacungkan jarinya, mengaku sebagai penyebab robohnya kursi yang diduduki oleh Pak Alim. Sebelumnya, Pak Alim mengancam tidak akan memperbolehkan seluruh siswa ikut ujian jika tidak ada yang mengaku sebagai penyebab ambruknya kursi. Padahal, guru itu mungkin lupa, kursi sekolah itu memang sudah terlalu reyot untuk menopang berat badannya.

“Saya tidak menukar kursi Pak Alim,” jawab Amek setelah dihukum habis-habisan.

“Lalu mengapa kamu mengacungkan jari?” tanya Ibu Imbok.

“Teman-teman mau ikut ulangan, Bu.”

Konflik berkembang kala Amek dan kawan-kawan mengintip rok Ibu Rukiah (Melly Zamri). Hukuman Pak Alim dan Pak Jabuk terhadap murid-murid lagi-lagi dianggap oleh Ibu Imbok terlalu keras. Untuk mempertegas sikap antikekerasannya, Ibu Imbok akhirnya mengundurkan diri dan mulai mengajar murid-murid di kolong rumah panggung bersama dengan para manula yang buta huruf.

Kisah bergeser ketika Zakaria pulang dari Malaysia. Dengan berkalung emas dan memikul tape recorder, ia disambut bak pahlawan pulang kandang. Malam-malam di Desa Mantar pun riuh dengan ceritanya yang disampaikan dengan salah satu dialek yang ada di Malaysia – yang juga menjadi dialek banyak kawasan di Indonesia.

“Dulu, guru-guru Malaysia belajar ke Indonesia. Sekarang, orang Indonesia belajar ke Malaysia untuk jadi babu… Susah dicari pengemis di Malaysia… Kesenian, tari pendet, reog, semuanya laku di Malaysia,” demikian dongengnya.

Singkat cerita, penampilan mentereng Zakaria ternyata hanya sesumbar belaka. Ketika uang mulai menipis, Zakaria pun menjual jam tangannya yang ia beli di Malaysia. Namun, apa daya, akibat tuna aksara, Zakaria malah dituduh sebagai penipu karena menjual jam tangan palsu. Smodeng, kuda kesayangan Amek, pun diambil paksa sebagai tebusan. Padahal, kala itu Amek sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba joki cilik di Sumbawa. Amek pun berteriak kuat-kuat seraya berlari mengejar Smodeng yang telah ditarik dengan sepeda motor. Namun apa daya, Smodeng tak dapat dikejar.

Kala Amek tenggelam dalam kesedihan, kasih sayang Minun menghapus segala duka Amek dengan kalimat-kalimat lembutnya.

“Kak Minun akan tebus Smodeng pakai tabungan. Smodeng keluarga kita, Mek,” tutur Minun menghibur Amek yang sedang berduka di dermaga.

Kakak beradik itu pun kemudian berpelukan dengan latar laut biru yang luas. Kehangatan kakak beradik ini nampak begitu alami.

Plot pun memuncak ketika hasil Ujian Nasional diumumkan. Minun yang penuh dengan prestasi gemilang dan cemerlang, harus menelan pil pahit bersama ke-26 kawannya yang tak lulus ujian. Minun pun putus asa dan ingin melepas kembali harapan yang telah ia gantungkan di Pohon Cita-Cita. Di sinilah kemudian takdir hadir dengan wajahnya yang getir.  Minun terjatuh dari pohon cita-cita. Nyawanya terenggut di usia yang terlalu muda.

Meskipun film berakhir dengan keceriaan, justru pada puncak inilah Serdadu Kumbang menyengat tajam.

Fenomena Ujian Nasional yang membingkai keseluruhan kisah film ini memang menjadi tragedi yang nyata dan menakutkan bagi para anak dan orang tua di Indonesia.

Ekspresi ketakutan ini direkam secara satir dalam Serdadu Kumbang.

“Kau tak lihat ini muka sudah biru? Sudah dua minggu saya tak buang air besar. Takut anak saya tak lulus,” tukas salah satu orang tua dalam satu adegan menjelang Ujian Nasional.

Serdadu Kumbang pun menampilkan berbagai macam cara yang ditempuh oleh para orang tua agar sang anak lulus ujian, termasuk menjual kambing agar dapat pergi ke dukun.

“Mau jadi bintang sinetron dan lulus ujian,” demikian jawab si anak ketika sang dukun menanyakan keinginannya.

Serdadu Kumbang jelas bukan film yang menyajikan mimpi muluk. Justru, bangunan cerita yang naskahnya ditulis oleh Jeremias Nyangoen ini mengalirkan konflik demi konflik secara bertubi-tubi. Penonton seakan dihadapkan pada semacam potongan-potongan yang ternyata dibingkai dalam satu persoalan nyata: pendidikan nasional.

Serdadu Kumbang, film produksi Alenia Pictures yang mengangkat kehidupan anak-anak Tanah Sumbawa.

Serdadu Kumbang memberi sengatan akan satu dari sekian banyak aspek yang mesti memikul embel-embel “nasional”. Ketika pengetahuan diuji dalam kacamata yang sama untuk anak-anak Indonesia di ujung barat hingga ujung timur, yang panjangnya kira-kira setara dari Inggris hingga Irak, sistem pendidikan nasional seakan mengabaikan nasib anak-anak yang tinggal di pedesaan, atau anak-anak dengan latar belakang yang terlalu beragam.

Persoalan dalam Serdadu Kumbang ini mengingatkan saya pada apa yang pernah dicetuskan oleh Fadhal Alhamid, salah seorang petinggi Dewan Adat Papua. Dengan gusar, ia menyatakan bahwa apa yang diajarkan di sekolah-sekolah kini kerap merupakan sesuatu yang asing.

“(Dulu) kalau ajar membaca… ‘ini api, api menyala, babi lari’. Sesuatu yang mengakar dalam realita. Sekarang, ‘ini Pak Madi, Pak Madi ke sawah’. Siapa Pak Madi? Sawah mana? Orang Papua tidak kenal sawah. Orang Papua kenal hutan sagu,” tukas Fadhal pada pertengahan 2010 di Jakarta.

Standarisasi pendidikan nasional pun menjadi terlalu keji bagi murid-murid di titik-titik yang jauh dari Jakarta, sebuah kawasan yang menghisap sumber daya alam dan sumber daya manusia di seluruh Indonesia. Bagaimana seorang anak di suatu kota yang tak memiliki jalur kereta api, misalnya, dapat menjawab soal-soal kereta api yang hanya ada di kota-kota besar?

“Bagaimana anak SMP di Cikini menjawab soal yang sama dengan anak di pedalaman Papua yang guru keseniannya (juga) mengajar fisika, guru agama mengajar matematika? … Bahkan di Merauke itu ada sekolah yang pohon pisang itu tumbuh di dalam kelas,” demikian tambah Fadhal.

Segala satir dalam Serdadu Kumbang memang bukan tak mungkin betul-betul terjadi pada kehidupan nyata. Satir yang mengantar pada tragedi pahit yang terwujud pada tangisan Amek yang mesti kehilangan kakak tersayang dan juga bentakan Zakaria kepada kepala sekolah.

“Pendidikan macam apa yang menghukum murid-murid seperti ini? Negara macam apa?” raung Zakaria.

Dan sengatan itu pun terasa begitu tajam saat sang kepala sekolah hanya dapat menjawab lemas.

“Ini sudah menjadi ketentuan nasional.”

(557)

Ken Miryam Vivekananda Fadlil Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. Terharu, dan menyentuh hati banget

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *