Home Featured Senyawa Seni dan Penanganan Trauma Pascabencana

Senyawa Seni dan Penanganan Trauma Pascabencana

69
0
Roci Marciano dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta menyampikan makalah dengan cara teatrikal. Foto: Panitia Seminar.

Seni untuk rakyat tak hanya jargon belaka. Tengok saja bagaimana Teater Tradisi Sego Gurih dengan lakon Andhe-Andhe Lumut secara nyata telah berkontribusi dalam program penanganan trauma pascabencana untuk para korban letusan Gunung Merapi.

Brian Triananda dan Roci Marciano dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta memanfaatkan talenta mereka di bidang teater untuk mementaskan naskah Andhe-Andhe Lumut yang dibawakan secara jenaka, tetapi sarat makna. Semangat para pengungsi di keenam posko yang tersebar di Sleman, Muntilan, Klaten dan Magelang  kembali dibangkitkan dengan media seni  pertunjukan ini.

“Teater Tradisi Sego Gurih dengan naskah Andhe-Andhe Lumut mencoba menyindir para korban dengan kata-kata semangat dan mempertentangkan dengan apa yang mereka alami saat bencana. Naskah ini intinya mengkomunikasikan makna sebuah kebahagiaan, keselamatan, dan keberuntungan,” papar Roci dalam Seminar Nasional Mahasiswa yang dihelat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Sabtu (2/4).

Bertempat di Gedung Kuliah Umum (GKU) ISI, seminar bertema “Peranan Seni Pertunjukan dalam Rekontruksi Sosial Pasca-Bencana Alam” ini menghimpun pengalaman-pengalaman mahasiswa bidang seni pertunjukan saat terlibat langsung dalam kegiatan pemulihan psikologis korban bencana alam. Pembicara dalam kegiatan ini adalah mahasiswa dari daerah terdampak bencana alam, seperti Aceh, Sumatera Barat, Jakarta, Yogyakarta, dan Kupang.

Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia pun hadir meramaikan seminar ini sebagai peserta. Di antaranya adalah perwakilan mahasiswa dari kampus Universitas Syiah Kuala, Aceh; Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang; Universitas Pelita Harapan, Jakarta; Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung; Institut Seni Indonesia Surakarta; Universitas Kristen Emmanuel, Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta; Universitas Negeri Surabaya; Sekolah Tinggi Bilbatikta, Surabaya; dan Universitas Gorontalo.

“Kita mengajak kawan-kawan untuk diskusi bersama dan saling menyampaikan pengalaman mereka saat melakukan pemulihan psikologis korban bencana,“ ujar Yohanes Don Bosco Bakok, Ketua Pelaksana Seminar.

Seminar ini menggarisbawahi bahwa seni adalah media terdepan dalam upaya meminimalisasi trauma masyarakat pascabencana. Kegiatan ini teramat penting dilakukan untuk meringankan beban mental psikologis yang dihadapi korban bencana alam.

“Kita ingin menekankan (bahwa) nasib seseorang itu hanya orang itu yang bisa mengubahnya. Mau hanyut dengan kesedihan atau bersiap mengejar impian masa depan? Itu yang coba kita ingin sampaikan dalam trauma healing tersebut,” ungkap Roci.

Dalam seminar ini, Saphira Herta dan Roselina Djitro, mahasiswa dari Universitas Pelita Harapan Jakarta juga menjelaskan bagaimana terapi musik dapat dijadikan upaya pemulihan psikologis korban bencana alam. Dari penjelasan mereka, terungkap bahwa dalam aplikasinya, terapi musik dapat digunakan dalam bidang klinis maupun non-klinis.

“Di Indonesia sendiri belum pernah diterapkan, baru di Amerika Serikat terapi musik ini dipakai,” papar Saphira.

Saphira mengungkapkan bahwa diperlukan konsep yang matang untuk penerapan terapi musik ini sebagai upaya pemulihkan psikologis korban.

“Harus ada kerjasama yang solid antara pemusik atau pemain musik itu sendiri dengan psikolog/konselor untuk mengetahui emosi, psikososial, dan leisure skill (keterampilan rekreasi – red.) sebelum pola ini diberikan kepada korban,” papar Saphira.

Kedua mahasiswa tersebut mengakui bahwa pola terapi ini belum pernah mereka terapkan di lapangan, terutama pada korban bencana.

“Usai kegiatan ini, saya akan berkonsultasi dengan pihak kampus (agar konsep ini) lebih dimatangkan dan diterapkan pada daerah yang terkena bencana. Workshop dan seminar ini menjadi referensi bagi kami untuk menerapkan terapi musik ini,” sebut Roselina.

Di sesi berbeda, paparan dari Ryan Seong Ndewi, mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, mengungkapkan bahwa mahasiswa di Nusa Tenggara Timur (NTT) seringkali berbaur bersama masyarakat untuk tampil dalam satu panggung kesenian yang sama. Jika mahasiswa hanya berkesenian dengan kelompoknya, seni tersebut menjadi kurang diterima.

“Intinya, kesenian rakyat lebih utama,” aku Ryan.

Lantas bagaimana ketika terjadi bencana, apakah seni pertunjukan berfungsi untuk memediasi pemulihan psikologis korban?

“Untuk NTT, belum pernah ada bencana yang membutuhkan seni pertunjukan sebagai media untuk mengatasi beban psikologis masyarakat. Jadi kami belum bisa menjawab,” kata Ryan.

Sementara itu, Kharis Muharram, mahasiswa Universitas Syiah Kuala Aceh memaparkan bagaimana mahasiswa dengan seni pertunjukannya bersenyawa dalam proses penanganan trauma pascagempa dan gelombang tsunami di Aceh tahun 2004 silam.

“Di Aceh sendiri, (pada) 2004 itu, satu bulan pertama dilakukan pemulihan mental bagi mahasiswa asli daerah yang kena bencana. Bulan berikutnya, mahasiswa tadi dan komunitas yang datang dari daerah luar Aceh melakukan kegiatan pemulihan bersama. Dan bulan berikutnya lagi, mahasiswa asli Aceh sudah dapat melakukan pemulihan mental psikologis masyarakat sendiri, sampai saat ini,” ungkap Kharis.

Di Taman Budaya Aceh-lah, para mahasiswa yang diceritakan Kharis tersebut mementaskan teater, tari, dan musik bersama anak-anak dan orang dewasa untuk memulihkan trauma mereka terhadap bencana.

“Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memulihkan psikologis korban. Banyak pesan yang ingin disampaikan. Pendekatan media seni pertunjukan adalah salah satu media yang mudah diterima, dicerna, dan banyak manfaat. Ada sisi lain yang bisa didapat oleh korban dari seni ini,” pungkas Kharis.

Namun, bertolakbelakang dengan Aceh dan Yogyakarta, di Sumatera Barat, seni dirasa masih kurang berperan penting selepas bencana gempa bumi pada 30 September 2009 silam.

Dedi Novaldi dari Institut Seni Indonesia Padang Panjang mengungkapkan bahwa pascabencana, masyarakat Minangkabau lebih mendahulukan bagaimana kehidupan yang mereka jalani bisa bangkit dan normal kembali.

“Masyarakat Minangkabau lebih menyerahkan diri mereka pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena memang tipikal masyarakat di sana lebih mengedepankan nilai-nilai agama Islam. Masyarakat memilih kembali beraktivitas seperti biasa. Yang bertani kembali ke sawah atau ladang mereka. Yang berdagang kembali menjual dagangan di pasar. Untuk rumah mereka yang roboh karena gempa, kembali mereka dirikan di atas bangunan yang roboh tersebut. Mereka tidak pindah ataupun menjual tanah agar bisa mencari lahan kehidupan yang baru. Perlu diketahui, untuk menjual tanah di Minangkabau tidak mudah. Tanah adalah harta pusaka yang sangat sakral,” papar Dedi.

Oleh karena itu, kegiatan seni pertunjukan untuk pemulihan beban mental masyarakat menjadi tidak begitu gencar dilakukan. Peran pemerintah untuk dapat kembali menghidupkan perekonomian masyarakat Minang-lah yang  menjadi lebih penting.

“Intinya, jika kebutuhan pokok masyarakat telah terpenuhi maka kebutuhan selanjutnya seperti kesenian baru bisa menyusul,” ujar mahasiswa jurusan musik ini.

Dedi pun mengungkapkan bahwa hal ini juga menjadi indikator tidak harmonisnya perkembangan seni pertunjukan di Sumatera Barat sebagaimana di Yogyakarta. Masyarakat Sumatera Barat menilai seni hanya sebagai parintang-rintang ari atau pengisi waktu luang setelah aktivitas mereka yang lain selesai; seperti bekerja ke sawah, berdagang, atau berkantor. Simpulnya, di Sumatera Barat, seni tak dianggap berpotensi untuk menjadi sumber kehidupan.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Drs. Subandrio, M.Si, yang kala itu tampil  sebagai pembicara kunci memaparkan bahwa Indonesia memang sangat rawan terhadap ancaman bencana. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama yang solid dari seluruh pemangku kepentingan terkait aksi-aksi mitigasi bencana.

“Nah, peran mahasiswa juga penting di sini. Seperti yang terjadi baru-baru ini, erupsi gunung Merapi di DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) dan Jawa Tengah dan saat ini masih dihantui bencana lahar dingin. Mahasiswa bisa punya peran untuk meringankan atau meminimalisir trauma para korban, memberikan semangat agar mereka tetap bisa bersabar dan melanjutkan masa depan mereka,” tukas Subandrio.

Untuk melakukan aksi mitigasi tersebut, media senilah yang memang kerapkali dipergunakan oleh para mahasiswa.

“Tapi alangkah lebih baiknya (jika) juga dipikirkan setelah karya itu dipentaskan bersama masyarakat, apa yang bisa dilakukan setelah itu? Artinya mahasiswa hendaknya juga memikirkan follow up (tindak lanjut – red)” pesan Subandrio.

(69)

Arif Budiman Arif Budiman lahir di Minangkabau, Sumatera Barat. Saat ini ia beraktivitas sebagai mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, angkatan 2008. Pria yang lahir pada 1990 ini sangat berminat pada jurnalisme. Dan hal yang paling ia sukai adalah melakukan peliputan; bergumul dengan fakta-fakta di lapangan. Ia pernah menjadi reporter pada majalah sekolah P’Mails yang diterbitkan oleh koran terbesar di Padang (Padang Ekspres Group) dan penulis di situs resmi dinas pendidikan kota Padang, Selain itu, ia juga pernah melakukan peliputan dalam kegiatan Festival Seni Internasional 2008 di Yogyakarta. Kini ia adalah perwakilan sekaligus desainer LenteraTimur.com di Yogyakarta.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *