Home Featured Kibaran Bendera Kerajaan, Simbol Perlawanan
0

Kibaran Bendera Kerajaan, Simbol Perlawanan

59
0

Polemik tentang keistimewaan daerah Ngajogjakarto Hadiningrat yang digulirkan pemerintah pusat beberapa waktu lalu terus menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Yogyakarta. Masyarakat nampak berjuang untuk mempertahankan keistimewaan tersebut. Simbol perlawanan masyarakat itu terlihat dan terasa sekali melalui kibaran bendera kerajaan di banyak tempat, entah itu di rumah-rumah ataupun kedai-kedai milik masyarakat.

Di dekat Keraton Yogyakarta, seperti di Jalan Wijilan dan kawasan Alun-Alun Utara (Kampung Gudeg), misalnya. Lambaian bendera kerajaan ini terlihat dimana-mana. Begitu juga di halaman depan keraton, Alun-Alun Utara; dipagari bendera yang bertuliskan “Ijab Qobul” (serah terima), atau perjanjian antara Kesultanan Ngajogjakarto Hadiningrat dengan pemerintah Republik Indonesia untuk mengingatkan khalayak akan istimewanya Yogyakarta. Pemasangan bendera tersebut juga diselang-selingkan dengan bendera merah putih.

Adapun isi dari “Ijab Qobul” yang menjadi Amanah Sultan Ngajogjakarto Hadiningrat Hamengkubuwono IX pada 5 September 1945 adalah sebagai berikut:

Bahwa negeri Ngayogyakarto Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah daerah Istimewa dari Negara Republik Indonesia;

Bahwa kami sebagai kepala daerah memegang segala kekuasaan dalam negeri NgajogjakartoHadiningrat dan oleh karena itu, berhubung dengan keadaan pada dewasa ini segala urusan pemerintahan dalam negeri Ngajogjakarto Hadiningrat mulai saat ini berada di tangan kami dan kekuasaan-kekuasaan kami pegang seluruhnya;

Bahwa perhubungan antara negeri Ngajogjakarto dengan pemerintah pusat negara Republik Indonesia bersifat langsung dan kami bertanggung jawab atas negeri kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia.

Kami memerintahkan supaya segenap penduduk dalam negeri Ngajogjakarto Hadiningrat mengindahkan amanat kami ini.

Jika Anda berkunjung Ke Yogyakarta, maka sempatkanlah untuk melihat pemandangan perlawanan rakyat Yogyakarta ini.

Foto: Nofrizaldi
Teks: Arif Budiman

(59)

Nofrizaldi Saat ini, Nofrizaldi merupakan mahasiswa Seni Murni/Grafis Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *