Home Featured Mengapa Gorontalo Tak Diistimewakan Juga?

Mengapa Gorontalo Tak Diistimewakan Juga?

605
8
Patung Nani Wartabone. Foto: Blogspot.

Polemik keistimewaan Yogyakarta membuat gerah banyak daerah di Indonesia. Setelah sebelumnya Surakarta meminta kembali keistimewaan yang pernah disandangnya, kini giliran Gorontalo mempertanyakan status istimewa yang semestinya melekat di dirinya.

”Gorontalo itu lebih dulu merdeka dari Indonesia. Kalau Indonesia 17 Agustus 1945, Gorontalo sudah merdeka sejak tanggal 23 Januari 1942. Harusnya Gorontalo dijadikan daerah Istimewa sejak dulu.”

Kalimat itu diucapkan Bate atau Ketua Adat Gorontalo, Dadi Kasim Usman, di penghujung Januari lalu. Usai melaksanakan salat magrib, DK Usman – nama akrabnya – menerima saya di rumah sederhananya di kawasan perumahan BTN, Kelurahan Pulubala, Kecamatan Kota Utara, Gorontalo.

Ia mengenakan peci berwarna biru dan kemeja putih dipadu celana kecoklatan saat itu. Di usianya yang memasuki 75 tahun, DK Usman terlihat segar. Ia mampu membaca buku lamanya yang ditulis dengan tangan tanpa menggunakan kacamata.

”Hulondhalangi adalah nama Gorontalo dulu. Biasa juga disebut Hulondhalo. Sistemnya adalah kerajaan. Namun sejak Belanda masuk, Hulondhalo berubah menjadi Gorontalo.”

DK Usman mulai bercerita kepada saya. Ia lalu mengambil sebatang rokok, kemudian menyulutnya.

Sebelum Indonesia muncul, kata DK Usman, Gorontalo sama halnya dengan negeri lainnya di Indonesia yang berbentuk kerajaan. Masing-masing memiliki kedaulatan sendiri hingga akhirnya dikuasai oleh Belanda yang ingin menjadikannya sebagai wilayah kekuasaan. Kesadaran akan perasaan senasib karena dijajah oleh bangsa asing itu lalu melahirkan patriotisme masyarakat Gorontalo yang tak mungkin dilupakan hingga kini. Memori itu adalah peristiwa 23 Januari 1942.

Hari itu, 23 Januari 1942, rakyat Gorontalo yang dipelopori oleh Teme Djonu, atau yang dikenal dengan nama Nani Wartabone, berjuang dan menyatakan kemerdekaan sekaligus membentuk pemerintahan sendiri. Situasi awal di tahun 1942 itu merupakan era yang sangat menyulitkan bagi Belanda. Karena di Eropa pada saat itu, Belanda diduduki Jerman. Sementara di kawasan Asia, Jepang mulai menebarkan peperangan. Situasi tersebut dipakai Teme Djonu untuk mengusir kekuasaan kolonial Belanda dan menyatakan Gorontalo telah merdeka.

Setelah berhasil mengusir Belanda, Nani Wartabone bersama Koesno Danoepojo, Pendang Kalengkongan, dan beberapa tokoh lainnya telah membentuk Komite 12 untuk persiapan pengibaran bendera merah putih pada 23 Januari 1942. Pada hari itulah proklamasi kemerdekaan Gorontalo dikumandangkan. Mereka kemudian membentuk Dewan Nasional untuk menjalankan pemerintahan yang terdiri dari Nani Wartabone, Koesno Danoepojo, Oesoep Reksosoemitro, dan Aloei Saboe.

”Perjuangan dan perlawanan rakyat Gorontalo ini memang tidak begitu dikenal oleh mereka yang berada di Jawa,” tandas DK Usman. Asap rokok terhembus dari mulutnya.

Kemerdekaan Gorontalo didapat tidak dengan cara mudah. Perlawanan rakyat bermunculan dan dilakukan hingga titik darah penghabisan demi mengobarkan api revolusi. Salah satu perlawanan melawan Belanda yang paling dikenal masyarakat Gorontalo adalah perang yang dipelopori pemuda bernama Panipi. Perlawanan ini kemudian dikenal dengan nama perang Panipi.

”Sejarah telah jelas mengatakan bahwa Gorontalo lebih dulu merdeka dibandingkan Indonesia yang ada di Jawa,” kata DK Usman.

Indonesia, lanjut DK, mulai dikenal di Gorontalo sejak adanya sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928. Sejak peristiwa itu, Gorontalo dianggap bagian dari negara Indonesia yang dijajah oleh pemerintahan kolonial Belanda, yang dikenal dengan nama Rechtatreeks Bestuur.

Pasca-Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, semangat keindonesiaan di Gorontalo untuk mengusir penjajah Belanda memuncak. Rakyat Gorontalo mengobarkan perlawanan. Rakyat telah mengetahui dwi warna: merah putih, sebagai bendera Indonesia. Teme Djounu atau Nani Wartabone menjadi pelopornya. Nama Nani Wartabone memang tidak begitu dikenal di luar Gorontalo, apalagi Jawa. Namun, cerita tentang patriotisme Nani Wartabone tak akan pernah surut bagi masyarakat Gorontalo hingga kini.

”Dari sini saja kita bisa melihat betapa istimewanya Gorontalo dibandingkan dengan daerah lain,” ujar DK.

Namun pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, Gorontalo menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi yang berpusat di Makassar. Belanda yang waktu itu masih berkeinginan menjajah Indonesia, membuat strategi pecah belah. Menurut DK Usman, pecah belah itu dilakukan dengan memecah Indonesia menjadi beberapa negara. Mereka mendirikan Republik Indonesia Serikat yang terdiri dari enam belas negara bagian. Gorontalo waktu itu menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur, sebuah negara bagian di Republik Indonesia Serikat.

Pada 1950, Republik Indonesia Serikat dibubarkan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri. Sejak saat itulah Gorontalo kembali menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi.

Kerajaan Gorontalo
Buku album itu terlihat lusuh. Isinya catatan DK Usman tentang silsilah raja-raja di Kerajaan Gorontalo. Ia mewawancarai orangtuanya dan pemangku-pemangku adat perihal sistem kerajaan di Gorontalo.

”Di Gorontalo itu ada tujuh belas kerajaan-kerajaan kecil yang disebut Linula,” ucap DK Usman.

17 Kerajaan kecil itu adalah Hunginaa, Lupoyo, Bilinggata, Wabu, Biawu, Padengo, Huangobotu Olowala, Tapa, Lawonu, Toto, Dumati, Ilotidea, Pantungo, Panggulo, Huangobotu Oloihi, Tamboo, dan kerajaan Hulondhalangi.

Yang unik, dari tujuh belas kerajaan itu, tiga kerajaan dipimpin oleh perempuan, yakni Kerajaan Tamboo dipimpin oleh Putri Daylambuto, Kerajaan Toto dipimpin oleh putri Tilopalane, dan Kerajaan Lawonu dipimpin oleh putri Bongohulawa. Dengan demikian, bisa dilihat kalau Gorontalo sejak dulu telah mempraktikkan derajat kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

” Namun dari tujuh belas Linula ini, sering terjadi pertikaian dan peperangan. Sebab ada yang ingin mendominasi dan menguasai. Dan ada empat kerajaan yang paling menonjol dan ingin berkuasa saat itu,” DK Usman bercerita.

Pertikaian itu berlangsung cukup lama. Hingga akhirnya, kehadiran Raja Ilahudu yang dikenal dengan sebutan Wadi Palapa mampu meredam emosi dari masing-masing Linula. Raja Ilahudu tak lain adalah putra dari pimpinan kerajaan Hulondhalangi, yakni raja Humolanggi. Sama seperti ayahnya, raja Ilahudu ini rajin mengunjungi kerajaan-kerajaan lainnya.

”Raja Ilahudu ini sering menganjurkan untuk hidup rukun dan damai kepada pimpinan kerajaan lainnya. Ia pula yang menolak peperangan sebagai jalan untuk melanggengkan kekuasaan. Sikapnya itu mendapat simpati dari raja-raja lainnya,” ujar DK.

Pada 1383, Raja Ilahudu semakin sering mengunjungi kerajaan lainnya dengan maksud, mengajak mereka untuk bersatu menjadi satu kerajaan, yakni kerajaan Gorontalo. Hasilnya, semuanya menyetujui 17 kerajaan tersebut melebur menjadi satu kesatuan kerajaan.

Menariknya, ketika akan dipilih siapa yang bakal dijadikan raja bagi kerajaan Gorontalo, Ilahudu menyatakan sikapnya dengan menolak diangkat sebagai raja secara langsung, sebagaimana yang lazim terjadi. Ia malah menganjurkan untuk dilakukan pemilihan dengan cara musyawarah.

”Pemilihan raja kesatuan Gorontalo ini dilakukan di Banthayo Po Boide atau tempat berkumpulnya para tokoh untuk memilih raja. Dan akhirnya Raja Ilahudu-lah yang terpilih sebagai Raja Gorontalo,” kata DK.

Kerajaan Gorontalo baru berakhir pada 1859, dengan raja terakhirnya adalah Zainal Abidin Monoarfa. Saat itu, Belanda mulai masuk ke kawasan yang kini disebut Indonesia, termasuk Gorontalo. Menurut DK, ketika Belanda masuk, banyak orang-orang lokal yang diangkat menjadi Jogugu atau Wedono, yang dipekerjakan untuk tuan-tuan Belanda.

”Watak-watak itu sepertinya mulai terlihat sekarang. Sebab banyak yang menghamba pada pihak asing,” tandasnya.

Dengan sejarah yang ada, kata DK Usman, sudah sepantasnyalah Gorontalo dijadikan pula sebagai daerah istimewa. Seperti halnya Yogyakarta, daerah-daerah lainnya di Indonesia juga banyak yang memiliki kedaulatan kerajaan masing-masing. Dan itu layak pula dijadikan daerah istimewa.

(605)

Christopel Paino Christopel Paino adalah seorang jurnalis kelahiran Gorontalo. Kini ia menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta dan anggota Divisi Media Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

Comment(8)

  1. assalamualaikum wr wb. mohon maaf bisa minta kontak peneliti soal artikel ini? karena kami sangat membutuhkan informasi serupa utk pembuatan FILM DOKUMENTER tentang kota Gorontalo. terimakasih. mohon informasinya saya tunggu diemail sy, dewiaprilia7@ymail.com.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Gorontalo merupakan suatu propinsi yang sangat kuat kala itu,,. Dan merupakan suatu kesatuan yang mereka bikin itu hanya semata_mata demi kemerdekaan negara indonesia.. Jadi, gorontalo tidak akn menuntut kenapa gorontalo bukan menjadi propinsi yang di istimewakan.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Bagaimana dng sejarah ttg Kasim Lasimpala dan Kelima Anaknya (para Boki)

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 1.0/5 (2 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: -1 (from 1 vote)
  4. kok kerajaan panipi ga ada? hanya pemuda bernama panipi?

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Jujur aku asli gorontalo tpi aku gak tau tentang sejarah gorontalo

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Boleh jadi benar rekayasa. Suharso Monoarfa adalah genersi ke-10 dari garis Tahir yg tertua, Sandiago Uno juga ke-10 dari garis Jamalu yang bungsu, Suharso lahir 1953, 10 generasi X 20 tahun=200 tahun. Zainal Abidin harusnya lahit 1753. Kerajaan berakhir bersaman denga bangkrutnya VOC 1799.???

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. Sultan Zainal Abidin Monoarfa sudah tidak ada tahun 1859, Mungkin yang dimaksud adalah Sultan Iskandar Pui bin Sultan Pui-bin sultan Mbuinga bin Duma binti Zainal Abidin Monoarfa. Jadi Sultan Pui adalah ketrunuan ke-4 dari Sultan Zainal Abidin. Keturunannya masih memakai gelar Sultan tapi kekuasaan ada di ditangan Belanda. Cucu-2 Sultan Iskandar Pui masih kelahiran antara tahun 1875 dan 1895. Boleh jadi ada kesalahan/rekayasa Belanda dalam penulisan sejarah. Atas anjuran Belanda anak anak Sultan Pui di beri fam Monoarfa . Anak anaknya dalah Tahir, Satari, Salim dan Jamalu, dan 3 perempuan.
    Anak tertua dari Satari, Apanyo 90 tahun dan hidup sampai tahun 1950an. Jadi kalau diurut Sultan Zainal Abidin jauh sebelum 1859, ada kemungkinan masih pada zaman VOC 1799.
    Penyandang fam Monorfa sekarang ini yang kelahiran tahun 1950-1960 adalah generasi ke-9
    dari Zainal Abidin. Jika satu generasi dihitung 20 tahun berarti 180 tahun. Zainal Abidin hidup akhir tahun (1960-180=) 1780. Besar kemunginan bersamaan dengan ahir zaman VOC.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  8. Dalam sejarah, Gorontalo sudah Istimewa sejak dahulu kala.hingga kini.hanya saja kita tidak suka tonjolkan diri (buktinya, kalau betul Gorontalo adalah bagian dari NKRI, maka harusnya kemerdekaan RI dari Sabang sampai Merauke adalah tgl 23 januari 1942) Kini tinggal bagaimana kiita mempertahankan Budaya,dan Bahasa-bahasanya (Gorontalo, Suwawa, Atinggola). BRAVO HULONTHALO. Mari bersatu membangun provinsi ini. Salam

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *