Home Featured Memantik Kesadaran Konsumen Lewat Fikih

Memantik Kesadaran Konsumen Lewat Fikih

27
0
Fiqih Perlindungan Konsumen - Risalah Jihad Konsumen.

Kasus Prita Mulyasari dengan Rumah Sakit Omni Internasional, Tangerang, Banten, masih mengendap dalam pikiran tiap-tiap kita. Kasus ini sepertinya menjadi salah satu potret konsumen yang akhirnya membuka wawasan kita akan hak sebagai konsumen. Kasus Prita mungkin adalah satu dari sederetan kasus yang terpublikasikan, mencuat ke media massa dan kemudian menjadi kasus besar.

Publik pun masih hangat-hangatnya menekuri bagaimana tarik ulur kasus susu formula yang menurut hasil penelitian Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat, terdeteksi bakteri enterobacter sakazaki yang belum jua diumumkan ke masyarakat. Ini beresiko, dan konsumen harus ekstra hati-hati dalam mengkonsumsi susu buat bayinya. Padahal, konsumen berhak untuk mendapatkan informasi yang benar dari sebuah produk (right to information) dan hak terlindungi dari sebuah produk (right to safety).

Ya, seiring meningkatnya era globalisasi ekonomi saat ini, konsumen sebagai pengguna barang atau jasa sering menjadi objek aktivitas bisnis untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Tak jarang, pelaku usaha melakukan promosi, penjualan, atau penerapan perjanjian standar yang merugikan konsumen. Rendahnya tingkat kesadaran dan pendidikan hukum menambah lemahnya posisi konsumen. Pemerintah sendiri sudah mengesahkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

Selama ini, sudah cukup banyak buku-buku yang mengulas tentang perlindungan konsumen yang digayutkan dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen itu. Sebaliknya, kajian yang coba mengelaborasi perlindungan konsumen dalam perspektif keagamaan tampak masih sangat langka. Nah, Soffa Ihsan, sang penulis, yang berlatarbelakang pendidikan pesantren dan pascasarjana hukum ini berupaya menggali khazanah keilmuan keislaman lewat hukum Islam (fikih) untuk dijadikan sebagai “landasan teori” dalam merumuskan  perlindungan konsumen.

Ajaran Islam sebagai bagian dari “khazanah keagamaan dan spiritual” dalam kemajemukan bangsa Indonesia, punya daya paradigmatis untuk mengelaborasi konsep-konsep berikut tata hukum terkait perlindungan konsumen. Sebagai negara yang tengah memacu pembangunannya, Indonesia memerlukan pengayaan dan penguatan dalam soal perlindungan konsumen dari perspektif keagamaan.

Di buku setebal 220 halaman dan diterbitkan oleh Pustaka Cendikiamuda, Jakarta, ini, Soffa mengubek-ubek konsep perlindungan konsumen yang terpapar dalam kajian para ulama fikih, baik klasik maupun kontemporer. Kitab-kitab fikih sedari lama sudah membahas perihal konsumen (musytary) dalam lalu lintas perniagaan (buyu’). Konsep-konsep fikih seperti seluk beluk akad, asas kebebasan berkontrak, hal-hal yang merusak (fasakh), keadaan suka sama suka (‘an taradhin minkum), kebolehan pembatalan akad, jual beli gharar, ghubn, dan hak khiyar (hak pilih konsumen) adalah seperangkat konsep yang dibidik guna merumuskan perlindungan konsumen.

Hasilnya, Soffa fasih membuktikan bahwa konsep-konsep perlindungan konsumen dalam fikih memiliki tingkat otentisitas yang teruji secara akademis-ilmiah. Misalnya saja, soal hak pilih konsumen jika ada cacat barang (default) yang terdapat dalam pasal 5 Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Hak pilih konsumen ini kemudian melahirkan product liability yang merupakan pendasaran legalitas terhadap hak pilih konsumen. Dalam fikih, ini disebut dengan hak khiyar yang masuk kategori khiyar al-‘aib, yaitu hak pilih konsumen untuk meneruskan atau membatalkan dalam transaksi jika cacat barang terjadi (halaman 197).

Hak khiyar ini dirumuskan oleh ulama fikih juga sebagai rambu-rambu untuk melindungi konsumen dari jenis-jenis produk yang menyesatkan atau membahayakan konsumen. Dalam fikih, ditegaskan bahwa sebuah produk harus terjamin secara kualitas maupun aspek moralitasnya. Fikih merumuskannya dengan istilah ghubn (penipuan) dan gharar (kesesatan informasi), dua hal yang menyangkut aspek moralitas yang harus dijaga oleh pelaku usaha dalam menawarkan produknya.

Ya, dunia usaha yang sehat menjadi dambaan publik. Lewat fikih konsumen, harapan itu kian menguat.  Simak komentar KH Said Aqiel Siradj dalam kata pengantar buku ini, “Islam sebagai agama tamaddun dan tsaqafah, agama peradaban dan pengetahuan, tentu sangat mendorong terjadinya peradaban bisnis yang akan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.”

(27)

Masud Abdalla Direktur eLSAS (Lembaga Studi Agama dan Sosial), Jakarta.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *