Home Featured Kawasan Rawa Tripa Harus Dilindungi

Kawasan Rawa Tripa Harus Dilindungi

28
0
Kanal di areal perkebunan sawit di Tripa, Aceh. Foto: Paneco

Tim Koalisi Penyelamatan Rawa Tripa dan Forum Tataruang untuk Sumatera memandang perlindungan terhadap kawasan hutan Rawa Gambut Tripa masih lemah. Untuk itu, Dewan Perwakilan Rakyat Aceh diminta untuk menjadikan kawasan yang masih bisa diselamatkan sebagai kawasan lindung dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh.

Salah satu penyebab lemahnya perlindungan terhadap hutan Rawa Gambut Tripa adalah statusnya sebagai Areal Penggunaan Lahan (APL). Padahal, untuk menyelamatkan sisa keanekaragaman hayati yang ada di kawasan tersebut, yang juga memiliki kedalaman gambut lebih dari tiga meter, diperlukan status sebagai kawasan lindung. Terutama pada kawasan yang memiliki tutupan hutan yang baik, dimana sejumlah satwa langka masih ditemukan.

Menurut Tim Koalisi dan Forum Tataruang, kajian yang dilakukan terhadap Tripa sudah cukup banyak, dan hasilnya merekomendasikan perlindungan Tripa. Saat ini, Indonesia juga sedang melaksanakan moratorium pembukaan perkebunan sawit di hutan gambut yang harus dipatuhi.

“Kami prihatin dengan tingginya laju degradasi hutan rawa gambut di Tripa karena pembukaan perkebunan kelapa sawit. Pemerintah bertanggungjawab besar karena memberi izin pembukaan kawasan hutan gambut di sana,” ujar Tim Koalisi dan Forum Tataruang dalam pernyataan persnya, Senin (17/1), di Banda Aceh, Aceh.

Tim Koalisi dan Forum Tataruang ini merupakan gabungan dari sejumlah lembaga yang peduli pada lingkungan. Diantaranya Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh, Badan Pengelola Ekosistem Lestari (YEL), Worldwide Fund for Nature (WWF) Indonesia, Jaringan KuALA, Silfa, Transparency International Indonesia, Lembaga Bantuan Hukum Banda Aceh, Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat Hak Azazi Manusia, Uno Itam, dan PeNA.

Tim Koalisi dan Forum Tataruang berharap Panitia Khusus Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh membuka ruang kepada banyak pihak untuk mendiskusikan tentang kawasan Rawa Tripa. Hal ini penting agar Panitia Khusus memiliki informasi yang cukup banyak dalam memutuskan posisi Rawa Tripa dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh tersebut.

Rawa Tripa
Rawa Tripa adalah salah satu dari tiga hutan rawa gambut  yang berada di pantai barat Pulau Sumatera dengan luas mencapai sekitar 59.701 hektar. Secara administratif, enam puluh persen luas Rawa Tripa berada di Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya. Sisanya berada di wilayah Babahrot, Aceh Barat Daya. Wilayah tersebut berada dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional untuk pelestarian lingkungan hidup.

Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Pemerintahan Aceh, di Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 1995, bagian tertentu dari Rawa Tripa yang ketebalan gambutnya lebih dari tiga meter ditetapkan sebagai Kawasan Lindung. Dan Rawa Tripa memiliki kedalaman gambut yang bervariasi dengan kedalaman maksimal antara tiga hingga lima meter.

Dalam catatan Tim Koalisi dan Forum Tataruang, ada empat hal yang membuat Rawa Tripa layak dilindungi. Pertama, ia berfungsi sebagai pengatur hidrologi. Ia seperti spon yang dapat menahan air pada musim hujan dan melepaskannya pada musim kemarau. Rawa gambut juga berfungsi mencegah instrusi (perembesan atau pencampuran) air laut ke darat. Saat tsunami atau smong menerjang pantai barat Aceh, rawa gambut di Tripa terbukti menjadi benteng alami yang mencegah kehancuran lebih parah di kawasan itu.

Fungsi kedua adalah sebagai pusat keanekaragaman hayati yang penting di Ekosistem Leuser. Beberapa jenis tumbuhan dan hewan ternyata hanya dapat hidup dengan baik di kawasan ini, sehingga kehancuran Tripa akan memusnahkan keaneakaragaman hayati dunia. Rawa Tripa juga terkenal memiliki kepadatan populasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) tertinggi di dunia, seperti halnya di Rawa Singkil dan Rawa Kluet, yakni 7.6 individu per kilometer persegi. Di kawasan ini juga ditemukan satwa langka seperti Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis), Buaya Muara (Crocodilus porosus), Beruang Madu (Helarctos malayanus), atau Burung Rangkong (Buceros sp). Dapat juga dijumpai lebih dari tiga ratus jenis tumbuhan sebagai makanan satwa dan bernilai ekonomis tinggi. Sebut saja Cemenggang (Nessia sp) dan Malaka (Tetrameristra glabra) yang merupakan tumbuhan khas dan sumber makanan utama Orangutan.

Fungsi ketiga adalah sebagai penjaga iklim global yang dikarenakan kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan cadangan karbon dunia. Hutan rawa gambut memiliki kandungan unsur karbon yang sangat besar. Menurut perhitungan Matby dan Immirizi (1993), kandungan karbon yang terdapat dalam gambut di dunia sebesar 329-525 GT (1 GT = 109 ton) atau 35 persen dari total karbon dunia. Gambut di Indonesia memiliki cadangan carbon sebesar 46 GT atau 14 persen dari karbon yang terdapat dalam gambut di dunia. Apabila lapisan gambut terbakar atau mengalami kerusakan, materi ini akan mengeluarkan gas terutama CO2, NO2, dan CH4 ke udara dan siap mengubah iklim dunia.

Dan fungsi keempat adalah sebagai sumber ekonomi masyarakat. Kawasan rawa merupakan habitat terbaik dari berbagai jenis ikan air tawar yang memiliki nilai komersil tinggi. Hingga saat ini, ditemukan sekitar empat puluh jenis ikan, diantaranya ikan Jurong, Lele, Belut, Paitan, dan Kerang. Begitu juga dengan hasil hutan non kayu yang meliputi rotan dan madu alam.

Masih menurut catatan Tim Koalisi dan Forum Tataruang, sejak 1990 Rawa Tripa telah mengalami penurunan luas area hutan baik secara kualitas maupun kuantitas (deforestasi) akibat pembukaan perkebunan kelapa sawit oleh sejumlah perusahaan besar dan perambahan oleh masyarakat. Saat ini, dari total kawasan Rawa Tripa seluas 63.228 hektar, hanya tersisa kurang tiga puluh persen hutan (16.634 hektar) yang sudah menjadi konsesi Hak Guna Usaha (HGU). Sejak 2006, laju deforestasi per tahun adalah 11,98 persen.

Hingga sekarang, ada lima Hak Guna Usaha besar yang bekerja di Rawa Tripa. Mereka adalah PT. Kalista Alam, eks PT. SPS II anak PT. Astra Agro Lestari, PT. Gelora Sawit Makmur, PT. Cemerlang Abadi, dan PT. Patriot Guna Sakti (sekarang sudah dikuasai oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya untuk proyek pengembangan pir kelapa sawit). Luas Hak Guna Usaha kelima perusahaan tersebut adalah 38.150 hektar.

Tim Koalisi dan Forum Tataruang menilai, jika tidak dihentikan dan mulai diperbaiki (restorasi, rehabilitasi) dalam waktu dekat, hutan yang tersisa akan segera hancur, rawa akan kering, sebagai dampak pembukaan kanal-kanal oleh perusahaan. Selain itu, teknik pembukaan lahan (land clearing) dengan cara pembakaran kerap dilakukan oleh pihak perusahaan yang memperparah kerusakan di hutan Rawa Tripa.

Konsekuensi yang terjadi kemudian juga tak berhenti pada kerusakan hutan. Jika pemerintah dan masyarakat tetap mengkonversi hutan Rawa Gambut Tripa menjadi areal perkebunan atau penggunaan lainnya, maka paling lambat dua puluh tahun ke depan kawasan dataran rendah Tripa akan tenggelam. Kota Alue Bilie dan Babah Rot akan menjadi batas garis pantai Samudera Hindia.

Perkiraan ini, menurut Tim Koalisi dan Forum Tata Ruang, didasarkan pada hasil penelitian para ahli lingkungan yang menyatakan bahwa jika hutan rawa gambut dibuka, maka akan terjadi pencucian gambut dan penurunan permukaan tanah. Pada tahun pertama, kehilangan lapisan gambut dapat mencapai enam puluh sentimeter, kemudian setiap tahunnya kehilangan dua sampai lima sentimeter.

Ketinggian kawasan hutan rawa gambut Tripa diperkirakan dua meter dari permukaan laut. Jika penurunan permukaan gambut per tahun adalah lima sentimeter, maka dalam waktu 28 tahun terjadi penurunan permukaan gambut sebanyak 140 sentimeter dan ditambah enam puluh sentimeter penurunan pada tahun pertama. Sehingga, dalam waktu 29 tahun, akan terjadi penurunan permukaan tanah gambut sedalam dua meter.

Jika penghancuran Rawa Tripa tidak dicegah, maka pada 2025 diperkirakan air laut menenggelamkan kawasan ini. Ancaman ini akan dipercepat oleh pemanasan global yang memicu naiknya permukaan air laut.

Tak hanya itu, pusat biodiversity pun akan punah, begitu juga 38.150 hektar perkebunan kelapa sawit akan tenggelam, dan 40 jenis ikan bernilai ekonomis tinggi akan hilang. Dan Pemerintah Aceh akan kehilangan 63.228 hektar wilayah daratan.

(28)

TM. Dhani Iqbal TM. Dhani Iqbal lahir di Medan, Sumatera Utara. Menulis sejumlah esai, feature, dan cerpen di sejumlah media massa, juga beberapa buku: "Sabda Dari Persemayaman" (novel), "Matinya Rating Televisi - Ilusi Sebuah Netralitas", dan "Prahara Metodis". Melewati karir jurnalistik di beberapa media massa berklaim nasional, baik cetak, televisi, dan online, di Jakarta, dengan konsentrasi sosial, politik, dan kultur. Kini berjibaku di media LenteraTimur.com.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *