Home Featured Mengendus Minang di Tanah Deli

Mengendus Minang di Tanah Deli

245
0
Rumah Gadang Ikatan Keluarga Gasan Saiyo di Medan, Sumatera Utara. Foto: Indra.

Merantau dan Minangkabau memang dua kata yang bertaut erat. Menyisiri Amaliun, Halat, Bromo, Sukaramai, Mandala, hingga Denai, mengantar saya pada komunitas kaum perantau Minangkabau di Kota Medan, Sumatera Utara. Di sini, bahasa Minang tak lagi menjadi sesuatu yang asing di telinga. Penghuni kawasan ini adalah mereka yang sebagian besar berasal dari Padang Pariaman, Sumatera Barat; para perantau yang hendak mengadu untung di Tanah Melayu Deli.

Tabiat merantau sebetulnya tak hadir begitu saja. Pada awalnya, ia didorong oleh kebutuhan perluasan wilayah karena tempat asal di pedalaman Sumatera Barat (Luhak Nan Tigo) tak lagi memadai untuk menunjang kehidupan. Merantau hingga ke daerah pesisir pun menjadi jalan keluar. Seiring semakin meningkatnya perdagangan dengan dunia luar, semakin besar pula dorongan merantau ke kota-kota besar. Kota Medan adalah salah satu pilihan.

Di Medan, yang penduduknya berasal dari beragam bangsa dan ras, hampir seluruh orang Minang hidup dari berdagang. Seperti China yang sukses membangun jaringan bisnisnya, begitu pulalah kaum Minang. Kaum Minang piawai dan sukses dalam menjalankan bisnisnya, entah itu rumah makan atau tekstil.

Pada 1930-an, sebagian besar orang Minang yang merantau ke Medan cenderung memilih “Kota Maksum” sebagai tempat tinggal mereka. Daerah ini dekat dengan “Pajak Sentral” (Pusat Pasar), pusat kegiatan perdagangan di Kota Medan.

Di tahun itu, kawasan Sukaramai belum menjadi pilihan lokasi perantauan. Alasannya, Sukaramai adalah wilayah pinggiran kota berupa hutan rimba. Daerah hutan itu lebih banyak dihuni oleh warga perantau dari kaum Jawa. Karena itulah, nama daerah tersebut berbunyi serupa seperti nama-nama daerah di Jawa Barat yang mayoritas diawali kata ‘suka’.

Pasar Sukaramai yang dahulu merupakan hutan rimba. Foto: Indra.

Gelombang besar kedatangan kaum perantau Minang terjadi pada awal 1950-an. Sukaramai, hutan rimba itu, pun mulai dijadikan sasaran tempat tinggal. Sejak itu, Sukaramai secara terus-menerus menjadi daerah tujuan migrasi bagi orang-orang Minang. Kini Sukaramai justru lebih tersohor sebagi pusatnya pemukiman orang Minang di Medan.

Pasar Sukaramai pun lebih banyak dikuasai oleh pedagang dari Minang. Kebanyakan dari mereka menjadi pedagang kain yang telah berdagang sejak puluhan tahun, bahkan ada yang sudah mencapai generasi ketiga. Jelas sudah, pedagang asal Minang di Medan bukanlah pedagang kemarin sore.

Tak hanya Sukaramai, suasana Minang juga kental terasa di kawasan Bromo. Di sini, memproduksi sepatu kulit menjadi pilihan pekerjaan yang paling banyak ditekuni oleh masyarakat perantau Minang. Produk mereka banyak dijual ke berbagai daerah, dalam dan luar Sumatera Utara.

Salah satu penjual sepatu yang bercakap-cakap dengan saya kala itu adalah Bakri dan keluarganya yang tinggal di Jalan Bromo, Gang Karya Budi. Pria berusia lima puluh tahun itu mengisahkan bahwa ia telah memulai usahanya sejak 1985. Bersama istri dan anak-anaknya, ia membuat sandal kulit khusus untuk wanita. Mereka memproduksi sandal wanita tersebut secara manual dengan tangan, dibantu oleh sekitar sepuluh tenaga kerja yang sebagian besar masih keluarga sendiri. Selain membuat sepatu kulit, mereka juga membuat sandal kulit, baik untuk pria maupun wanita.

Sendal kulit produksi Bakri. Foto: Dheni.

Omzet usaha lelaki asal Desa Gasan Gadang, Pariaman, Sumatera Barat ini bisa mencapai Rp 10 juta setiap bulannya, apalagi di bulan “ramai” menjelang Lebaran dan Tahun Baru. Dalam satu minggu, mereka bisa memproduksi sepuluh kodi sandal kulit, atau sekitar dua ratus pasang.

“Harganya sekitar Rp. 30 ribu per pasang. Kita biasanya buat tergantung pesanan. Jadi merek sesuai pesanan orang, biasanya pakai nama tokonya. Kalau soal kualitas, gak kalahlah,” tutur Bakri mempromosikan produk buatannya tersebut.

Di gang itu terdapat dua industri rumah (home industry) sepatu, termasuk usaha Bakri ini. Sedangkan di gang-gang lainnya, tersebar ratusan rumah industri lainnya yang juga memproduksi sandal dan sepatu kulit.

“Mereka semua orang Minang, terutama berasal dari Pariaman,” tambah Bakri.

Usaha lain yang ditekuni oleh orang Minang di kawasan Bromo dan sekitarnya adalah bisnis konveksi berupa usaha jahitan seragam dan kemeja. Hendra, pedagang yang juga berasal dari Pariaman, mengaku telah menjalankan usaha jahitan seragam sekolah milik orang tuanya sejak 1996. Untuk melakukan usahanya itu, ia dibantu oleh tiga orang pegawai sebagai tukang jahit.

“Biasanya kita bisa memproduksi sekitar 200-300 potong dalam satu minggu. Seragam yang sudah siap kemudian kita kirim ke Pajak Sentral dan ditampung oleh para pedagang di sana,” ujar pemuda berusia 22 tahun tersebut.

Lain Hendra, lain lagi Syafrizal. Pria berusia 37 tahun yang tinggal di Gang Kurnia ini tidak hanya memproduksi seragam sekolah. Ia juga membuat kemeja-kemeja harian untuk pria. Dalam satu minggu, para pekerjanya yang berjumlah lima orang bisa menghasilkan sekitar 500 potong kemeja.

“Kemeja ini kita kirim ke Pajak (pasar-red) Petisah. Harganya sekitar Rp 45-60 ribu. Kalau untuk seragam, biasanya sesuai pesanan orang,” jelas Syafrizal yang juga berasal dari Pariaman.

Dalam satu bulan, omzet usaha Syafrizal mencapai sekitar Rp. 8 juta. Kemeja produksinya juga tidak hanya dijual di dalam kota, tetapi juga dikirim sampai ke Batam dan Bengkalis, Kepulauan Riau.

Saat menelusuri jejak rantau orang Minang di Tanah Deli, bangunan berciri khas Minang justru jarang saya temukan. Bangunan rumah bertingkat dua milik Ikatan Keluarga Gasan Saiyo (IKGS) Sumatera Utara di Jalan Laksana hanyalah satu dari dua bangunan yang masih bergaya Minang. Ia terletak tak jauh dari Jalan Amaliun atau Jalan Halat.

Gapura bagonjong (bergonjong). Foto: Jefry.

Bangunan tersebut masih menggunakan atap bagonjong (bergonjong/tanduk kerbau) khas Rumah Gadang, rumah adat Sumatera Barat. Namun, sisa tubuh bangunan itu dibangun dengan gaya modern. Gaya bagonjong ini dapat ditemukan pula pada sebuah gapura di sebuah gang di Jalan Arief Rahman Hakim.

Keberadaan orang Minang di suatu daerah, termasuk di Medan, memang lebih jelas ditandai dengan ciri khas Rumah Makan Padang dan Sate Padang. Pedagang makanan asal Minang ini bisa ditemui hampir di setiap jalan. Mereka memilih nama-nama khas Minang, seperti Rumah Makan Minang Jaya atau Minang Maimbau.

Label “Sate Padang” yang terpasang pada gerobak-gerobak sate di hampir setiap pinggir jalan di Medan ini pun turut menjadi penanda. Nama yang dipampang berbeda dengan sate di Sumatera Barat, yang biasanya membawa nama daerahnya sendiri, seperti “Sate Pariaman” atau “Sate Bukittinggi”.

Sebaran kaum Minang di Medan memang mudah untuk diendus. Ibarat bibit, kaum mereka bisa tumbuh dimanapun ia disebar. Jejak mereka taklah buyar dan tak samar. Ia mengakar, tumbuh, kemudian menjelma sebagai suatu identitas kultural yang menjelas.

(245)

Adela Eka Putra Marza Anak kampung dari pesisir Sumatera Barat ini pertamakali melahirkan karya tulisnya saat masih di bangku Sekolah Menengah Pertama. Kini, pria yang menekuni pekerjaan sebagai penulis dan berlatarbelakang pendidikan jurnalistik ini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *