Home Featured Mengapa Kau Masih Kunci Panti Kami?
1

Mengapa Kau Masih Kunci Panti Kami?

21
1

Anak-anak penghuni panti itu nampak menjaga jarak pada setiap tamu yang datang. Ketika ditanya, mereka selalu menghindar. Mereka menolak diwawancarai. Gerak tubuh mereka seperti takut-takut menghadapi setiap yang dirasa asing. Kewaspadaan secara otomatis menjelma menjadi semacam pertahanan diri para penghuni Panti Asuhan Hasanah Kautsar, Kawalu, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Jiwa-jiwa muda ini adalah korban teror. Sejak 8 Desember 2010, panti tempat tinggal mereka digembok aparat negara. Alasannya, bangunan tempat tinggal mereka itu adalah tempat beribadah kaum Ahmadiyah. Pihak yang menggembok seakan abai terhadap apa yang sesungguhnya dialami anak-anak ini. Apalagi, bukan hanya di panti asuhan ini saja mereka pernah mengalami teror.

Sebut saja Ahmad Faisal, 16 tahun. Ia datang dari Manis Lor, komunitas Ahmadiyah di Kuningan, Jawa Barat. Di sana, ia pun mengalami teror serupa. Bahkan,  komunitasnya pun mengalami korban kekerasan. Dan Ahmad Faisal tak sendiri. Di panti asuhan itu ada Sopwatur Rohman, 18 tahun. Setelah berkali-kali terusir dari kampungnya di Lombok, Nusa Tenggara Barat, kini ia mengalami teror yang sama di Tasikmalaya.

Pelemparan batu dari orang yang tak dikenal ke arah panti mereka telah menjadi hal lumrah.  Hingga kini, hari-hari sepi masih menyelimuti panti asuhan itu. Tempat itu seperti kehilangan gairah. Tak terdengar canda dan gelak tawa khas anak-anak remaja.

Tapi, hingga saat ini mereka masih tetap berupaya melakukan aktivitas seperti biasa. Hanya saja, untuk pergi sekolah, mereka tak bisa melewati pintu pagar yang digembok. Karenanya, mereka menyiasati dengan keluar melalui pintu kamar mandi dan memanjat dinding. Cara-cara mengandung risiko keselamatan akhirnya mesti ditempuh. Entah apa yang harus mereka lakukan jika pintu kamar mandi itu juga turut digembok paksa.

Peristiwa ini jelas merupakan pelanggaran hak anak seperti tercantum dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Dalam undang-undang itu jelas tercantum bahwa anak-anak dari kelompok minoritas harus mendapat perlindungan khusus (Bab I, Pasal 1, poin 15). Anak-anak juga tak semestinya dilibatkan dalam konflik-konflik orang dewasa.

Sebuah panti asuhan yang harusnya menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi anak-anak yang telah kehilangan asuhan orang tuanya telah menjadi ajang teror orang dewasa. Kini, teror itu justru mesti membayangi proses hidup, tumbuh, belajar dan berkembang mereka. Padahal, apapun alasannya, tak semestinya anak-anak menanggung akibat fisik maupun psikis dari teror tersebut.

Di tengah ketidaknyamanan, selamat tahun baru 2011, Adik-Adik.

(21)

Feri Latief Fotografer lepas, berdomisili di Jakarta. Ia lulusan terbaik World Press Photo Courses 2004-2005. Ia juga kontributor foto pada National Geographic Indonesia, Reuters, dan beberapa media lain.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. Salam kenal bung Feri. Sy ijin copi ya utk data pribadi sy jg utk arsip organisasi JAI.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *