Home Featured Menanti di Balik Pintu Panti

Menanti di Balik Pintu Panti

25
3
Kawalu, Tasikmalaya, Jawa Barat. Gambar: Google Earth.

Di saat anak-anak lain dapat bersekolah dan bermain, anak-anak Panti Asuhan Hasanah Kautsar di Tasikmalaya, Jawa Barat, tak dapat melakukan hal serupa. Sedari Rabu (8/12) hingga Sabtu (11/12), mereka masih terkurung di dalam panti.

Sebanyak sepuluh anak berusia 10-14 tahun beserta tiga pengurus Panti Asuhan Hasanah Kautsar di Cicariang, Kawalu, Tasikmalaya, Jawa Barat, tak dapat menikmati kebebasan. Anak-anak di panti yang dimiliki oleh Jamaah Ahmadiyah Indonesia ini tak bisa keluar akibat penguncian dari luar yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Tasikmalaya dan Kepolisian Resor Kota Tasikmalaya.

Selain menjadi tak bisa bersekolah dan mengikuti ujian akhir semester, untuk makan pun anak-anak panti terpaksa mengandalkan pasokan dari luar pagar.

“Cuma dapat bahan mentah saja dari luar pagar,” ujar Syihab Ahmad, salah satu mubaligh panti asuhan yang juga turut terkunci, kepada LenteraTimur.com, Sabtu (11/12).

Selain mendapat bahan mentah, panti juga terkadang dikirimi makanan dalam bentuk siap santap oleh anggota Ahmadiyah yang berada di sekitar panti. Dengan pasokan makanan ini, anak-anak dan pengurus panti pun terhindar dari kelaparan.

Mengenai kondisi anak-anak, Syihab mengatakan semuanya dalam keadaan sehat.

“Kalau soal rasa takut diserbu, ada. Tapi hanya sedikit. Anak-anak cenderung sudah kuat menghadapi ini. Ini bukan yang pertama untuk mereka. Kali ini anak-anak merasa cemas sekali karena tidak dapat ikut ujian,” papar Syihab Ahmad.

Ketakutan atas penyerbuan yang dimaksud oleh Syihab terkait dengan pihak-pihak yang tidak menyenangi keberadaan Ahmadiyah. Apalagi, menurut Syihab, tak lama setelah penguncian dilakukan oleh aparatur negara, muncul kelompok Front Pembela Islam (FPI) yang berteriak-teriak untuk melakukan pembakaran panti. Hanya saja, hujan membuat kelompok itu membubarkan diri.

Akan tetapi, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Front Pembela Islam Tasikmalaya, Asep, membantah hal tersebut. Menurutnya, Front tidak pernah mendatangi Panti Asuhan Hasanah Kautsar milik Ahmadiyah.

“Itu rekayasa. Sangat rekayasa,” bantah Asep kepada LenteraTimur.com, Jumat (10/12).

Asep menyebutkan bahwa yang didatangi oleh pihaknya pada Rabu sore itu adalah tempat ibadah Ahmadiyah, bukan panti asuhan.

“Yang disegel di Kawalu itu adalah masjid, bukan panti,” tegas Asep.

Asep mengaku bahwa Front Pembela Islam kerap mendapat informasi dari warga bahwa tempat tersebut telah digunakan oleh Ahmadiyah untuk menyebarkan ajarannya.

“Setiap Jumat, tempat itu dilakukan untuk salat jumat berjamaah. Jadi, kami hanya ingin membantu pemerintah dalam menindak Ahmadi, karena kegiatan Ahmadi telah melanggar apa yang sudah ada dalam SKB (Surat Keputusan Bersama-red),” ujar Asep.

Surat Keputusan Bersama yang dimaksud adalah surat yang dikeluarkan oleh Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung pada 9 Juni 2008. Surat tersebut terkait dengan pembatasan aktivitas keagamaan dari kelompok Ahmadiyah.

Selain surat tersebut, pada 2005, di Tasikmalaya, juga telah dikeluarkan surat serupa yang ditandatangani oleh Walikota Tasikmalaya, Bupati Tasikmalaya, Kepala Kejaksaan Negeri Tasikmalaya, Kepala Kepolisian Resor Kota Tasikmalaya, dan Kepala Kepolisian Resor Tasikmalaya. Surat ini kemudian disusul dengan Surat Keputusan Bersama lain, pada 2007, yang ditandatangani oleh Walikota Tasikmalaya, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tasikmalaya, Kepala Kejaksaan Negeri Tasikmalaya, Komandan Distrik Militer 0612 Tasikmalaya, dan Kepala Kepolisian Resor Kota Tasikmalaya.

Surat-surat inilah yang mendorong diadakannya pertemuan Badan Koordinasi Penganut Aliran Kepercayaan Masyarakat (Baperpakem) Tasikmalaya pada Rabu pagi. Dalam pertemuan tersebut, hadir petinggi-petinggi Tasikmalaya, diantaranya Kepala Kepolisian Resor Kota Tasikmalaya, Kejaksaan Negeri Tasikmalaya, Ketua Majelis Ulama Indonesia Tasikmalaya, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tasikmalaya, Front Pembela Islam Tasikmalaya, dan Iyon Sofyan, Ketua Ahmadiyah Kawalu, Tasikmalaya.

Pertemuan ini menghasilkan pemikiran bahwa Jamaah Ahmadiyah Indonesia telah melanggar kesepakatan yang tertuang dalam berbagai Surat Keputusan Bersama (SKB). Meskipun Iyon sempat mendebat hal ini, aset Ahmadiyah pun tetap disasar untuk segera disegel.

Asep mengatakan bahwa ada empat hal yang menjadi perhatian pascapertemuan tersebut. Pertama, menuntut agar organisasi Ahmadiyah dibubarkan; kedua, aset-aset Ahmadiyah perlu dibekukan; ketiga, tarik semua buku ajaran Ahmadiyah yang beredar di masyarakat; dan keempat, Front Pembela Islam wajib membina anggota Ahmadiyah agar meninggalkan kesesatannya.

Terkait hal tersebut, masjid milik Ahmadiyah di Tasikmalaya pun disegel. Setelah itu, petugas bergeser ke Kawalu, lokasi dimana Panti Asuhan Hasanah Kautsar berdiri. Asep meyakini bahwa penyegelan ini sesuai dengan prosedur yang dibuat oleh Pemerintah.

“Jadi, pada hari itu (Rabu sore), yang dilakukan FPI hanya memastikan bahwa lokasi ibadah Ahmadiyah telah disegel,” kata Asep.

Asep menganggap tindakannya sudah legal. Namun, segel yang menutup masjid milik Ahmadiyah, yang berjarak enam kilometer dari panti di  Kawalu, ternyata kini telah berhasil dibuka oleh Ahmadiyah sendiri pada Jumat sore (10/12).

“Tadi sore kita buka. Polisi sudah persilakan karena itu segel enggak resmi,” kata Doni Sutriana, salah seorang pimpinan lokal Ahmadiyah, Sabtu dini hari (11/12).

Ketiadaan surat perintah penyegelan resmi lantas membuat pihak Ahmadiyah turut memperjuangkan agar Panti Asuhan Hasanah Kautsar di Kawalu juga dapat segera dibuka. Perjuangan itu ditempuh melalui jalur Lembaga Bantuan Hukum dan Kepolisian Daerah Jawa Barat.

Ketika ditanya mengenai sikap Front Pembela Islam atas nasib anak-anak tersebut jika penyegelan di Kawalu dilakukan secara permanen, Asep tetap bersikeras bahwa tempat tersebut bukanlah panti asuhan. Namun, jikapun benar, pihaknya siap menampung anak-anak tersebut.

“Jika memang benar di lokasi tersebut ada anak-anak yatim piatu, serahkan saja kepada FPI. Kami sangat-sangat siap untuk menerimanya. Kami akan membina mereka agar kembali ke jalan Allah,” tegas Asep.

(25)

Ken Miryam Vivekananda Fadlil Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

Comment(3)

  1. Ketika ditanya mengenai sikap Front Pembela Islam atas nasib anak-anak tersebut jika penyegelan di Kawalu dilakukan secara permanen, Asep tetap bersikeras bahwa tempat tersebut bukanlah panti asuhan. Namun, jikapun benar, pihaknya siap menampung anak-anak tersebut.

    “Jika memang benar di lokasi tersebut ada anak-anak yatim piatu, serahkan saja kepada FPI. Kami sangat-sangat siap untuk menerimanya. Kami akan membina mereka agar kembali ke jalan Allah,” tegas Asep.

    Tanggapan: 1. kalau utk urusan memastikan itu panti atau bukan kenapa nggak chek-rechek dulu sebelum FPI action?

    2. sy pernah berkunjung ke tempat itu. Memang itu panti asuhan kok cuma memang ada yg bukan yatim dan ada yg yatim/piatu. Yang memiliki ortu lengkap ia jauh dr ortu. Anak2 yg jauh dr ortu itu contohnya kawan sy asal Maluku dan sekolah di Tasikmalaya.

    3. Btw, baik itu panti atau bukan tidaklah layak memperlakukan org lain seperti itu.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. satu digempur oleh tujuhpuluhdua, dimana para penguasapun bersatupadu pula dg golongan tujuhpuluh dua utk memerangi yg satu, tentu itu menjadi berat bila diukur dg ukuran duniawi, namun dlm pandangan Allah justru yang satu itulah yang akan memenangkan “pertarungan”. bersyukurlah ada FPI, yg dengan itu keimanan para Ahmadi akan selalu diasah untuk menjadikan keimanannya semakin tajam….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. sesama islam kok ribut…..???? apa kata dunia…….??????

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *