Home Featured Kolonialisme dalam Primitive Runaway
0

Kolonialisme dalam Primitive Runaway

30
0
Program Primitive Runaway milik Stasiun Trans TV. Gambar: www.transtv.co.id.

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara berang atas program Primitive Runaway yang ditayangkan stasiun televisi asal Jakarta, Trans TV. Untuk itu, Aliansi meminta stasiun tersebut menghentikan acara itu sekaligus melakukan permintaan maaf kepada publik.

Program Primitive Runaway yang tayang setiap hari Jumat pukul 19.30 WIB di stasiun Trans TV menuai protes banyak pihak. Program tersebut dinilai berperspektifkan kolonial dalam memandang yang lain.

Sebagai pemilik otoritas, Senin (27/12), di Jakarta, Komisi Penyiaran Indonesia lantas mencoba memediasi kedua belah pihak, termasuk kelompok pemantau televisi Remotivi. Dan pada kesempatan tersebut, Aliansi yang sudah mendapat permintaan maaf dari Trans TV secara langsung, meminta agar tayangan Primitive Runaway dihentikan dan stasiun tersebut harus melakukan permintaan maaf kepada publik.

“Kita minta untuk dihentikan segera. Enggak ada lagi (program tersebut di) minggu depan. Mereka harus minta maaf secara publik atas penyiaran-penyiaran itu. (Minta maaf selama-red) tiga hari, tiga kali dalam satu hari secara berturut-turut di Trans TV dan satu media nasional cetak,” tegas Abdon Nababan, Sekretaris Jenderal Aliansi usai pertemuan.

Namun demikian, tak ada kesepakatan apapun dalam pertemuan tersebut. Stasiun televisi yang menggunakan frekuensi nasional itu mengaku masih membutuhkan waktu untuk melakukan evaluasi internal atas program Primitive Runaway.

“Intinya kita tampung masukan teman-teman. Ini kita lagi sampaikan ke internal. Dan kita coba evaluasi. Hasilnya mungkin akan kita sampaikan nanti,” kata juru bicara Trans TV, Hadi, ketika dihubungi, Selasa (28/12), di Jakarta.

Saat ditanya kapan evaluasi tersebut akan selesai, Hadi tak menjawab pasti.

“Lihat situasi internal. Apalagi sekarang banyak yang ke luar kota. Tapi kita sesegera mungkin tindak lanjuti itu,” tambah hadi.

Kesadaran atas bermasalahnya program Primitive Runaway muncul tatkala Roy Thaniago, pemimpin Remotivi, menuliskan artikelnya di penghujung November 2010 di sebuah harian Jakarta. Menurutnya, tindak pelecehan tak saja tampak dari nama program itu, tetapi juga pada bangunan dramaturginya. Masyarakat adat kerap kali diposisikan sebagai sesuatu yang lain (the other), sesuatu yang memaksakan kehendak kepada masyarakat luar.

Dalam catatan Roy, pada edisi 31 Juli di suku Sakkudai, Mentawai, Sumatera Barat, orang di sana tampak menjilati bingkisan yang diberikan oleh “orang kota”. Dan dua bintang hiburan televisi yang menjadi tamu, Ramon dan Ladya Cheryl, dikenakan pakaian adat secara paksa.

“Masyarakat adat selalu dipandang sebagai makhluk aneh yang perlu disorot handycam (dipegang oleh bintang tamu) sepanjang waktu, sekalipun telanjang,” tulis Roy.

Saat ditemui, Roy juga mengaku geram jika ada media yang masih menuliskan “masyarakat terbelakang”, “suku terasing”, atau “masyarakat liar”. Menurutnya itu sesuatu yang bodoh, tidak layak, dan menghakimi.

“Itu cara pandang kolonial,” kata Roy yang juga hadir dalam mediasi tersebut.

Apa yang dikatakan Roy sebetulnya juga bisa dirujukkan pada pandangan Eropa atau Barat (dahulu?) dalam prasangka-prasangkanya ketika memandang kebudayaan lain. Dalam buku Race et Histoire (1952) (Ras dan Sejarah, 2000) , Claude Levi-Strauss pernah mengatakan sebuah anekdot tentang perbandingan kebudayaan yang sederajat.

Levi-Strauss mengatakan, beberapa tahun setelah penemuan benua Amerika, orang Spanyol mengirimkan komisi penyelidik untuk meneliti apakah penduduk di wilayah Antilla Raya memiliki nyawa atau tidak. Tapi, tim komisioner itu tertangkap. Mereka ditenggelamkan. Ternyata, penduduk pribumi juga ingin meneliti, apakah tawanan berkulit putih mayatnya dapat membusuk atau tidak.

(30)

TM. Dhani Iqbal TM. Dhani Iqbal lahir di Medan, Sumatera Utara. Menulis sejumlah esai, feature, dan cerpen di sejumlah media massa, juga beberapa buku: "Sabda Dari Persemayaman" (novel), "Matinya Rating Televisi - Ilusi Sebuah Netralitas", dan "Prahara Metodis". Melewati karir jurnalistik di beberapa media massa berklaim nasional, baik cetak, televisi, dan online, di Jakarta, dengan konsentrasi sosial, politik, dan kultur. Kini berjibaku di media LenteraTimur.com.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *