Home Featured Gowa Discovery Park Dinilai Merusak Cagar Budaya
1

Gowa Discovery Park Dinilai Merusak Cagar Budaya

48
1
Kawasan Benteng Somba Opu. Gambar: www.savebentengsombaopu.com

Forum Somba Opu yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat masih terus mengkampanyekan penolakan atas pembangunan tempat wisata Gowa Discovery Park di Makassar, Sulawesi Selatan. Tempat wisata yang akan dibangun di kawasan budaya Benteng Somba Opu dinilai melanggar Undang-Undang Cagar Budaya.

Dosen Arkeologi Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Asmunandar, mengatakan bahwa pembangunan Gowa Discovery Park  akan mengganggu kawasan tersebut sebagai ruang budaya. Selain itu, pembangunan tersebut juga akan menutup akses warga kota untuk mendapatkan ruang publik yang murah dan tenang.

“Pembangunan wahana seperti waterboom di kawasan itu juga akan mengganggu akses penelitian dan pengungkapan kebesaran Kerajaan Gowa yang masih terpendam. Somba Opu adalah bukti tak terbantahkan atas kebesaran masyarakat Sulawesi Selatan di mata dunia,” kata Asmunandar yang juga koordinator Forum Somba Opu dalam keterangan pers, Senin (20/12).

Senada dengan Asmunandar, Sosiolog yang juga dosen Universitas Negeri Makassar, Ahyar Anwar, juga menyebutkan bahwa Gowa Discovery Park akan mengganggu, mengerdilkan, atau bahkan menenggelamkan aktivitas-aktivitas kebudayaan tradisional yang selama ini ada di Benteng Somba Opu.

“Pembangunan wahana modern sangat mungkin akan menenggelamkan perhatian publik terhadap warisan budaya tradisional Sulawesi Selatan,” ungkap Ahyar Anwar.

Forum menilai, perusakan ruang budaya Somba Opu merupakan kasus pelanggaran pertama terhadap Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Undang-undang tersebut baru ditetapkan oleh pemerintah pada Oktober 2010. Perusakan cagar budaya yang berarti pelanggaran undang-undang tersebut, menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, sebagaimana tertulis dalam keterangan pers, merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime).

Selain menolak pembangunan Gowa Discovery Park, Forum Somba Opu juga menolak keberadaan Tim Evaluasi dan Pengendali bentukan Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo. Tim ini dibentuk pada 15 Desember, dua bulan setelah peletakan batu pertama pembangunan Gowa Discovery Park.

“Setelah memerintahkan penghentian sementara pembangunan GDP sebanyak dua kali, keluarnya SK (Surat Keputusan-red) tersebut seperti akal-akalan untuk meredakan protes. Dari namanya saja sudah mengasumsikan bahwa tim ini sepakat pembangunan GDP terus dilanjutkan dan hanya dikendalikan, meski kelak hasil studi mengatakan bahwa proyek GDP seharusnya tidak dibangun di kawasan Somba Opu,” kata M. Nawir, anggota Forum dari Komite Perjuangan Rakyat Miskin.

Tim ini juga dinilai oleh Forum hanya terdiri dari individu-individu dari institusi formal atau perwakilan institusi formal. Unsur masyarakat sipil sama sekali tak terwakili dalam tim tersebut.

Terkait penolakan pembangunan Gowa Discovery Park di kawasan budaya Somba Opu, Forum Somba Opu juga telah mengambil langkah hukum dengan melaporkan Direktur PT. Mirah Megah Wisata Zainal Tayeb dan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo kepada Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat.

“Kami akan terus mendesak pihak kepolisian untuk mengusut kasus ini. Jika langkah hukum ini tidak menuai tanggapan dari pihak kepolisian, kami dari Forum Somba Opu akan mengambil langkah-langkah lain,” kata Iwan Sumantri, dosen Arkeologi Universitas Hasanuddin.

Forum juga telah mengambil langkah-langkah lain terkait pembangunan tempat wisata ini, diantaranya melaporkan kasus ini ke lembaga-lembaga nasional dan internasional terkait. Langkah tersebut juga disusul dengan penggalangan dukungan dari semua elemen masyarakat Sulawesi Selatan dan Indonesia untuk menghentikan pembangunan Gowa Discovery Park.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa kelanjutan pembangunan objek wisata tersebut tergantung dari hasil penelitian Tim Pengendali dan Evaluasi.

“Selama tim belum memberikan rekomendasi, pekerjaan pembangunan harus dihentikan dahulu,” kata Syahrul seperti ditulis dalam situs Fajar Makassar, www.fajar.co.id, Sabtu (18/12).

Benteng Somba Opu yang terletak di Desa Sapiria, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, memang menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan. Ia dibangun pada abad 16 (1550 – 1650) oleh Raja Gowa ke-IX, Karaeng Tumapakrisi Kallonna dan dilanjutkan oleh Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Pada zamannya, benteng kerajaan yang menjadi salah satu kota Bandar terbesar di Asia Tenggara ini dipersenjatai oleh meriam-meriam berkaliber besar pada setiap sudutnya.

Di dalam benteng seluas 113.590 meter persegi tersebut terdapat istana raja, rumah kaum bangsawan, pembesar dan pegawai-pegawai kerajaan yang dikelilingi tembok. Tak hanya itu, di dalam kompleks benteng juga terdapat berbagai rumah adat dari berbagai suku yang ada di seluruh Sulawesi Selatan. Ia menjadi miniatur Sulawesi Selatan.

Namun demikian, secara arkeologis, seperti yang tertulis dalam situs Fajar Makasar, belum diketahui bagaimana bentuk benteng sebenarnya. Hal ini dikarenakan sebagian dindingnya belum teridentifikasi.

(48)

TM. Dhani Iqbal TM. Dhani Iqbal lahir di Medan, Sumatera Utara. Menulis sejumlah esai, feature, dan cerpen di sejumlah media massa, juga beberapa buku: "Sabda Dari Persemayaman" (novel), "Matinya Rating Televisi - Ilusi Sebuah Netralitas", dan "Prahara Metodis". Melewati karir jurnalistik di beberapa media massa berklaim nasional, baik cetak, televisi, dan online, di Jakarta, dengan konsentrasi sosial, politik, dan kultur. Kini berjibaku di media LenteraTimur.com.

Comments with Facebook

Comment(1)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *