Home Featured El Melayu Clasico, Indonesia vs Malaysia
1

El Melayu Clasico, Indonesia vs Malaysia

38
1
Indonesia dan Malaysia. Gambar: Repro.

Pertandingan final sepakbola Piala Federasi Sepakbola Asean (AFF) 2010 antara Indonesia dan Malaysia pada 26 dan 29 Desember 2010 akan lebih dari sekedar pertandingan olahraga. Ia ibarat perang saudara dengan dua nasionalisme yang baru “kemarin” dibuat.

Jika kaos kedua negara dicopot, maka sesungguhnya taklah ada beda diantara keduanya. Kulit sama coklat-hitam, rambut sama hitam, dialek sama bunyi, dan bahasa sama pengertian. Keduanya juga masih memiliki persoalan perbatasan yang sama. Kalaupun berbeda, itu hanya ada pada identitas negaranya. Tapi, negara itupun sebetulnya juga sama-sama tak lepas dari bikinan orang-orang Eropa, khususnya Belanda dan Inggris.

Sebelum tendangan pertama pada 26 November 2010 di Bukit Jalil, Malaysia, sulit untuk tak ingat pada penentuan mana Indonesia dan mana Malaysia yang dilakukan Eropa saat menancapkan kaki jahatnya di kawasan Asia Tenggara. Melalui serangkaian taktik, strategi, dan perjanjian, Belanda dan Inggris membagi-bagi kue kekuasaan di banyak tempat. Di Pulau Kalimantan dan Pulau Sebatik, kedua kolonial itu membuat gerakan membagi kekuasaan melalui The Boundary Convention di London pada 20 Juni 1891, The Boundary Agreement di London pada 28 September 1915, dan The Boundary Convention di Den Haag pada 26 Maret 1918.

Berdasarkan bagi-bagi kue Belanda dan Inggris itulah pemerintah Republik Indonesia, yang bersemangat penuh melakukan nasionalisasi atas apa-apa yang menjadi milik Belanda, dan pemerintah Kerajaan Malaysia kemudian bertemu dan membuat kesepakatan pada 28 November 1973 di Jakarta dan 18 November 1974 di Sabah mengenai perbatasan di Kalimantan.

Karena orang Eropa itu sudah minggat, dan di wilayah yang ditinggalkan muncul negara-negara baru, tak pelak muncul kesulitan. Sebab, posisi perbatasan yang dibuat Belanda dan Inggris, yang dibuat berdasarkan kepentingan ekonomi dan politik mereka sendiri, kerap menggunakan tanda-tanda alam. Dan tanda alam itu kini banyak yang sudah lenyap, bergeser, atau butuh penafsiran ulang. Karenanya, pada 2004 saja Indonesia dan Malaysia sudah membuat 19.328 buah tugu sebagai penegasan batas kedua negara (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, 2004).

Perilaku membelah-belah kawasan tak hanya dilakukan Belanda dan Inggris di Kalimantan. Hal yang sama juga terjadi di Papua pada 16 Mei 1895. Ketika itu, kedua negara sepakat membelah Pulau Irian (Papua) menjadi dua: bagian barat dikuasai Belanda dan bagian timur dikuasai Inggris. Bagian barat selanjutnya menjadi bagian Indonesia dan bagian timur diserahkan kepada Australia, yang kemudian menjadi negara sendiri bernama Papua New Guinea.

Seperti Papua, batasan yang sama juga terjadi di kawasan Timor Leste. Hanya saja, kali ini bagi-bagi kue tidak dilakukan Belanda dengan Inggris, melainkan dengan Portugal. Perjanjian-perjanjian kedua negara Eropa itu terjadi pada 20 April 1859, 10 Juni 1883, 1 Juli 1893, dan 1 Oktober 1904. Timor Leste, yang dikuasai Portugal, kemudian menjadi bagian dari Indonesia, sebagaimana Nusa Tenggara Timur yang dikuasai Belanda. Tapi kemudian Timor Leste menjadi negara sendiri pada 1999.

Namun demikian, persinggungan yang paling banyak dan sering terjadi memang adalah antara Indonesia dan Malaysia. Keduanya menempel dari arah barat ke arah timur Kalimantan. Ia juga menempel di Selat Singapura dan Selat Malaka. Keduanya pun tak hanya dekat secara geografis, tetapi juga lekat secara kebudayaan dan nenek moyang.

Ambil misal Bintan, yang terakhir menjadi tempat saling tangkap orang-orang antarkedua negara. Secara faktual, Bintan adalah bagian dari Indonesia. Tapi, secara historis, ia merupakan halaman dari Kesultanan Johor, Malaysia.

Melalui Traktat London pada 1824, Belanda dan Inggris membelah kesultanan tersebut menjadi dua. Johor yang beribukota di Singapura dimiliki Inggris, dan Riau-Lingga, yang merupakan pecahan Johor, dikuasai Belanda. Selanjutnya, seperti biasa, apa-apa yang dimiliki Belanda menjadi milik Indonesia dan apa-apa yang dimiliki Inggris menjadi milik Malaysia.

Kedekatan kebudayaan juga tampak dari saling silang keturunan antarkedua negara pada zaman dahulu. Sebut saja sejumlah isteri Sultan Deli yang berasal dari putri-putri Kesultanan Perak, Kesultanan Johor, atau Kesultanan Kedah. Begitu juga Sultan-sultan di Selangor dan Johor merupakan keturunan anak-anak Sultan Bugis. Sultan pertama Negeri Sembilan pun adalah putra dari Sultan Pagaruyung. Sedangkan Sultan Terengganu berasal dari Kesultanan Palembang. Dan Sultan pertama Siak tak lain adalah putra dari Sultan terakhir Malaka.

Saling silang keturunan ini, dalam perspektif sekarang, tentu membuat kebudayaan keduanya tampak tumpang tindih. Ketika Malaysia hendak merawat kebudayaannya, tentulah itu berarti mereka akan mengeksplorasi kebudayaan yang juga eksis di Indonesia. Sayang memang, tak banyak orang memahami hal sesederhana ini.

Sementara itu, dalam kekinianpun, serial kartun Upin Ipin yang milik Malaysia, misalnya, juga digemari di Indonesia. Selain kesamaan kebudayaan dan bahasa yang digunakan oleh tokoh Upin dan Ipin, nuansa sosiologis dan dialeknya juga sama dengan masyarakat Indonesia di banyak tempat, khususnya di Kalimantan dan Sumatera. Apalagi, seperti kata Jusuf Kalla dalam pidato kebudayaan di Jakarta, Juli lalu, pembuat serial kartun itu juga orang Indonesia yang karyanya telah ditolak oleh televisi-televisi asal Jakarta.

Fakta bahwa pembentukan negara Indonesia dan Malaysia, juga banyak negara-negara di Asia Tenggara, merupakan hasil dari pembagian kue kekuasaan antara Inggris dan Belanda rasanya perlu untuk dipahami masyarakat luas. Keduanya pernah disakiti oleh orang-orang Eropa. Bahkan, wilayah tradisional keduanya dibagi-bagi di London atau Den Haag tanpa seizin atau sepengetahuan subjek-subjek di dalamnya; seolah tak ada manusia dan peradaban di dalamnya.

Berdasarkan fakta sejarah ini, maka menyaksikan laga sepakbola kedua negara akan menjadi lebih mengasyikkan. Kini keduanya bertemu dalam kaos negara yang berbeda. Siapa yang lebih tertib? Siapa yang kini unggul? Indonesia lawan Malaysia. El Melayu Clasico. Selamat bertanding. Peluklah negara yang kalah.

(38)

TM. Dhani Iqbal TM. Dhani Iqbal lahir di Medan, Sumatera Utara. Menulis sejumlah esai, feature, dan cerpen di sejumlah media massa, juga beberapa buku: "Sabda Dari Persemayaman" (novel), "Matinya Rating Televisi - Ilusi Sebuah Netralitas", dan "Prahara Metodis". Melewati karir jurnalistik di beberapa media massa berklaim nasional, baik cetak, televisi, dan online, di Jakarta, dengan konsentrasi sosial, politik, dan kultur. Kini berjibaku di media LenteraTimur.com.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. jangan mimpi dulu.. Indonesia belum waktu nya tuh….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *