Home Featured Yogyakarta Selalu Membuat Saya Ingin Kembali

Yogyakarta Selalu Membuat Saya Ingin Kembali

9
0
Ujung Jalan Malioboro. Foto-foto: Ahmad Zaelani

Matahari sudah hampir hilang dari pandangan. Bapak pengayuh becak yang mangkal di jalan Malioboro menyunggingkan senyum manakala saya datang untuk bertanya. Saat itu, saya hendak mencari angkringan (kedai kecil yang menjual makanan dan minuman kecil khas Yogya) yang enak untuk dijadikan tempat ngeteh. Ia menyebutkan arah sambil menyorongkan jempol.

Ya, senyum ramah serta jempol yang digunakan sebagai penunjuk merupakan dua dari sekian banyak tata krama yang berakar di masyarakat Yogya (lihat Romantika di Yogya). Tidak seperti masyarakat kota besar, seperti di Jakarta, masyarakat Yogya sangat mudah dimintai tolong. Mungkin ini yang membuat banyak turis betah dan selalu kembali ke sana.

Tukang becak.

Lalu, saya pun meminta bapak tadi mengantar. Maklum, kalau harus berjalan kaki lagi saya sudah tidak sanggup. Kaki saya pegal karena seharian berjalan menyusuri Malioboro untuk berbelanja batik dan suvenir, salah satunya di Mirota. Angkringan yang dimaksud bapak ‘supir’ becak itu bernama Angkringan Cak Man. Letaknya di ujung Stasiun Tugu. Di sana, tersedia macam-macam panganan, yang akan semakin mantap jika ditemani segelas minuman hangat. Satu yang paling digemari adalah Kopi Joss, kopi hitam yang disajikan panas dengan arang di atasnya. Karena tidak terlalu suka kopi, saya putuskan untuk memesan sebungkus nasi kucing dengan lauk orak-arik tempe dan segelas teh manis hangat. Tak berapa lama sesudah makan, mata saya pun mulai mengeryap karena kantuk. Saya kembali ke hotel.

Esoknya, saya berkunjung ke Taman Sari. Sebuah pesanggrahan milik Sultan yang dulu berfungsi sebagai tempat beristirahat sekaligus semedi. Pada bangunannya, banyak diterapkan ornamen Jawa berpadu gaya arsitektur Portugis. Berbentuk kompleks, Taman Sari terdiri dari kolam pemandian, kanal, ruangan khusus, dan sebuah kolam besar. Ada juga lorong yang konon berfungsi sebagai jalan rahasia menghubungkan Taman Sari dengan Keraton Yogyakarta dan Pantai Selatan. Hmmm, saya jadi membayangkan kebenaran legenda hubungan Sultan dan Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul.

Tak jauh dari sana, saya menemukan tempat menarik bernama Cemeti. Dulu, tempat ini adalah bangunan megah untuk pertunjukan kesenian rakyat, semacam tarian atau teater. Sayang, gempa dan kurangnya perhatian dari pemerintah membuat tempat ini rusak di banyak sisi. Karena penasaran, saya panjat bagian atapnya. Menakjubkan! Dari sana saya bisa menyaksikan seluruh pemandangan kompleks Taman Sari.

Terakhir, saya menyambangi Pasar Ngasem, persis di belakang bangunan Cemeti. Pasar Ngasem merupakan pasar tradisional sekaligus pasar burung terbesar di Yogyakarta. Di pasar tradisionalnya, saya membeli getuk goreng dan bakpia sebagai oleh-oleh. Saya tidak membeli apa-apa di pasar burung karena dengan mengamatinya saja, tentu selain burung, saya sudah puas dan mual. Ada kelelawar, musang, tikus, dan ular piton.

Cemeti.

Humm, tampaknya inilah akhir petualang saya. Saya mau kembali ke hotel saja. Besok, pagi-pagi sekali, sudah harus berada di kereta untuk pulang ke Jakarta. Dua hari perjalanan memang singkat, tetapi pengalaman ini cukup memancing hasrat saya untuk kembali ke Yogya.

(9)

Fifi Juliana Jelita Seorang perempuan biasa yang berharap anak-anak Indonesia dapat mencintai buku, alam, serta orang-orang di sekitar mereka. Berdomisili di Jakarta.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *