Smong

19
1
Sebaran gunung api di Indonesia. Gambar: www.bnpb.go.id.

“Engel mon sao surito. Inang maso semon manoknop sao fano. Unen ne alek linon, fesang bakat ne mali. Manoknop sao hampung tibo-tibo maawi. Ede smong kahane, turiang da nenekta. Miredem teher ere fesan nafi-nafi da. Smong dumek-dumek mo. Linon uwak-uwakmo. Elaik keudang-keudang mo. Kilek suluh-suluhmu. Angalinon ne mali olek suruk sauli. Maheya mihawali fano me tenggi…”

“Dengarlah suatu kisah. Pada zaman dahulu kala tenggelam suatu desa. Ada gempa yang mengawali, disusul air yang surut. Tenggelamlah seluruh kampung secara tiba-tiba. Itulah smong namanya, kata nenek moyang kita. Ingatlah pesan dan nasihatnya ini. Smong (tsunami) air mandimu. Gempa ayunanmu. Petir gendang-gendangmu. Halilintar lampumu. Jika datang gempa kuat disusul air yang surut, segeralah cari tempat dataran tinggi agar selamat…”

Para orang tua di pulau itu tak bosan-bosan melantunkan nafi-nafi (cerita lisan) tentang smong (tsunami) ketika mereka hendak menidurkan anaknya, makan, atau tengah berkumpul bersama keluarga maupun tetangga. Lirik yang berisikan nasihat mengalir begitu saja. Tidak ada ketentuan atau panduan dalam keseragaman menuturkan kata per katanya. Hingga kini, kisah smong masih mencengkeram kuat benak anak-anak Pulau Simeulue, salah satu kabupaten termuda di Aceh.

Berdasarkan sejarah, Simeulue berasal dari nama seorang wanita cantik yakni Si Melur. Ia adalah penduduk asli pulau yang diperistri oleh ulama asal Kerajaan Pagaruyung Sumatera Barat yang bernama Halilullah. Halilullah diminta Sultan Aceh untuk mengislamkan rakyat Pulau Simeulue yang ketika itu bernama Pulau U. Di Simeulue inilah Halilullah diberi gelar oleh para murid-muridnya dengan nama Tengku Di Ujung.

Bencana smong pertama kali terjadi di Simeulue pada 1833. Setelah itu, tak ada cerita kearifan lokal yang diciptakan sampai smong besar kembali terjadi di 1907. Sebuah ensiklopedia dari Hindia Belanda di bawah redaksi D.G. Stibbe yang terbit 1909 mengungkapkan bahwa pada tahun 1907 tersebut seluruh daerah pantai barat Simeulue dilanda ombak pasang yang cukup dahsyat dan menelan banyak korban.

Alkisah dituturkan orang-orang tua di Simeulue, bahwa ketika nenek moyang mereka sedang asyik mengumpulkan ikan dengan sukacita karena air laut surut tiba-tiba, sayup-sayup terdengar bunyi seperti  gemerisik daun dan kayu kering yang dibakar. Lama-kelamaan suara itu semakin keras. Tak lama, suara tersebut serta-merta berubah bergemuruh. Secara tiba-tiba air laut (ombak) menampakkan diri seperti tembok tinggi; mengamuk, menggulung, lalu menyeret mereka ke lautan lepas. Korban jiwa berjatuhan. Ada yang hanyut tak kembali, tersangkut di pepohonan, dan juga mati sesak tertimbun lumpur.

Dari tragedi 1907 itulah para orang tua Simeulue mulai melisankan peristiwa itu secara turun menurun di tiap generasi. Yang diceritakan bukan hanya cerita tentang keganasan smong dan akibat yang ditimbulkannya, tetapi juga mengenai gejala-gejala alam yang mendahuluinya.

Warga yang bermukim di Pulau Simeulue hingga kini masih teramat dekat dengan istilah smong. Kisah smong yang tetap memiliki nyawa dalam ruang kehidupan sosial masyarakat Simeulue menggambarkan adanya muatan pengetahuan sosioekologis-historis-kultural terkait manajemen dan risiko bencana. Ini membuktikan sebuah proses sosialisasi panjang untuk menjunjung tradisi budaya lisan dari nenek moyang hingga keturunan termuda Pulau Simeulue saat ini.

Masyarakat Indonesia sendiri, secara keseluruhan, tidak banyak mengetahui konsep kearifan lokal mengenai smong ini. Masyarakat terlanjur asing terhadap istilah “smong” dan lebih akrab dengan kata “tsunami” asal Jepang. Tsunami, yang berasal dari kata “tsu” yang berarti pelabuhan dan “nami” adalah gelombang, diartikan secara umum sebagai pasang laut besar di pelabuhan.

Dalam tradisi menyerap kata-kata asing, penyerapan dilakukan setelah rujukan yang sama tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Dengan demikian, bahasa yang dipakai semestinya adalah smong, bukan tsunami. Tak sebatas istilah, smong juga mengikutsertakan kearifan-kearifan ekologis yang terkandung dalam maknanya. Terbukti, dengan nafi-nafi tentang smong ini, banyak warga Simeulue yang terselamatkan dari bencana smong pada tragedi 2004 yang menggoyang Samudera Hindia dan menghancurkan Aceh dan sekitarnya.

Di Pulau Simeuleu dengan luas 198.021 hektar dan berpenduduk lebih dari 83 ribu jiwa, jumlah korban pada bencana besar dan dahsyat kali itu “hanya” tujuh orang. Kebanyakan dari mereka adalah orang tua yang tidak sempat lari keluar karena terkena reruntuhan gempa.

Beberapa warga Simeulue yang merantau ke Aceh daratan pun dikabarkan selamat ketika smong menggulung ratusan ribu korban jiwa di pesisir barat dan timur Aceh. Begitu gempa dahsyat itu datang, warga asal Simeulue langsung berlari ke tempat tinggi sambil berteriak-teriak: “Smong! Smong! Lari ke tempat tinggi!”

Namun, sebagian warga Aceh justru bereaksi mencibir, “Orang Pulau,  gila…”. Mereka justru menghampiri laut guna mengambil ikan yang menggelepar. Alhasil, orang pulau yang “gila” inilah yang terselamatkan karena dapat membaca tanda-tanda alam, bahwa di balik laut yang surut itu ada air bah yang mengancam.

Pengalaman lampau terhadap gempa yang terjadi di Pulau Simeulue telah menjadikan alam sebagai laboratorium yang sangat akurat bagi penduduknya. Secara geografis, Pulau Simeulue memang kawasan yang sering terkena gempa dan smong. Kondisi geologi pulau tersebut berada di pertemuan tiga lempeng tektonik besar, yakni Eurasia, Australia, dan Samudera Pasifik. Jika tidak diiringi pengetahuan untuk mencegah atau meminimalisasi dampaknya, pergerakan lempeng yang saling bertabrakan ini tentu berpotensi menimbulkan bencana.

Air laut yang surut secara tiba-tiba, bau asin dari arah laut yang sangat menyengat, angin dingin yang berhembus dari arah laut, ikan-ikan yang menggelepar di pantai, hingga penampakan gelombang raksasa dan suara gemuruh yang sangat keras, dikenali oleh warga Simeulue sebagai ciri-ciri akan terjadinya smong. Jika itu terjadi, teriakan warga akan menciptakan semacam pesan berantai kepada warga lain untuk menyelamatkan diri. Smong pun dapat diibaratkan sebagai peringatan dini oleh manusia terhadap akan datangnya bahaya bencana sehingga masyarakat dapat menyelamatkan diri ke tempat yang aman.

Mentawai
Pada 25 Oktober 2010, pukul 21.42 WIB,  gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter versi Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengguncang Mentawai, Sumatera Barat. Pusat gempa terjadi di kedalaman 10 kilometer dan memicu gelombang gigantik yang meluluhlantakkan Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan serta daerah sekitarnya.

Korban tak terelakkan. Bantuan sulit sampai ke tangan korban karena keterbatasan infrastruktur kepulauan. Kunjungan berduyun-duyun pejabat daerah dan pusat justru cenderung merepotkan dengan segala protokolernya.  Inilah wajah buruk nasib kepulauan dalam hal proteksi dan mitigasi bencana.

Peristiwa ini menunjukkan adanya riwayat panjang petaka gempa dan smong yang cenderung diabaikan. Tamparan keras atas bencana yang pernah terjadi sebelumnya di tanah air ini ternyata belum memberikan efek jera.

Tatanan geologi Indonesia yang memberikan sumberdaya teramat kaya juga menimbulkan ancaman bahaya kebumian yang sangat tinggi, baik persebarannya maupun kualitasnya. Mengingat ancaman vulkanik dan tektonik yang mengepung, masyarakat Indonesia semestinya tak boleh melepaskan sikap waspada sedetik pun. Namun kenyataan berbicara sebaliknya. Kita hidup terlalu tenang, seolah sudah hidup di alam surga. Sekali lagi, kita dipaksa berkaca atas tabiat kepekaan yang rendah di tengah ancaman bencana yang tinggi.

Petaka di Mentawai sebetulnya telah sejak lama diramalkan akan terjadi. Namun, sistem deteksi dini yang mestinya siaga memagari pesisir berpotensi smong ternyata hanya wacana belaka. Alat pendeteksi smong berteknologi tinggi dan relatif rumit tentunya banyak memakan sumber daya modal dan manusia. Selain itu, sistem deteksi tersebut masih memiliki kelemahan dari segi kecepatan penyampaian informasi. Sementara, ribuan pulau yang tersebar seluruh Indonesia mestinya memiliki pusat-pusat penanggulangan bencana, lengkap dengan fasilitas pendukung jika terjadi kondisi darurat.

Keberhasilan masyarakat Simeulue dalam menghadapi bencana smong kiranya dapat memicu kita untuk mempelajari kembali dan merevitalisasi kearifan-kearifan budaya lokal secara lebih mendalam, secara lebih simultan. Sebagai salah satu peradaban berusia cukup tua, masyarakat Mentawai semestinya juga memiliki kearifan lokal sebagai sistem adaptasi dan mitigasi untuk hidup di pulau yang rentan gempa dan smong.

Namun, kearifan lokal itu kini terkubur entah dimana. Mungkin ia begitu saja tersapu oleh arus modernisasi republik. Menjadi kebutuhan kita semua untuk sudi kembali menggali akar itu, selain tentunya tetap berupaya membangun sistem deteksi smong yang tepat guna. Dan upaya penggalian teknologi masa lalu ini mesti diupayakan secara serentak di seluruh daerah. Tidak hanya Mentawai. Sudah saatnya kita tak lagi abai atas warisan mereka yang tak lalai.

(19)

Ken Miryam Vivekananda Fadlil Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. Untuk Mentawai, pejabat yang berkompeten dalam mitigasi memang separo hati….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *