Home Geopolitik Saham dan Jurnalis Tak Berpaham
0

Saham dan Jurnalis Tak Berpaham

19
0
Bursa Efek Indonesia. Foto: Blogspot.

Kasus wartawan yang melakukan permintaan saham kepada PT. Krakatau Steel sudah menjadi gunjingan publik. Hal ini membuat pendidikan jurnalisme menjadi signifikan bagi mereka yang berkecimpung dalam jurnalistik.

Keterlibatan wartawan dalam penjualan saham perdana PT. Krakatau Steel mencuat pertengahan November. Saat itu, Karakatau Steel tengah menjadi polemik terkait harga saham yang ia miliki. Sejumlah wartawan lalu dikabarkan meminta jatah saham perdana produsen baja nasional itu sebanyak 1.500 lot atau setara dengan Rp. 637 juta. Tak hanya itu, wartawan juga disebut meminta uang sebesar Rp. 400 juta untuk membantu menghentikan pemberitaan miring terkait penawaran saham perdana PT. Krakatau Steel.

Satu di antara wartawan itu adalah Indro Bagus Satrio Utomo dari Detik.com. Begitu kabar ini mencuat ke publik, ia langsung mengundurkan diri. Yang menarik, meski ia tidak mempersulit pemeriksaan di Detik.com dengan langsung mengakui keterterlibatannya dalam transaksi saham, ia menyatakan diri tidak bersalah. Dalam akun facebook-nya, ia mengutarakan keyakinannya.

“Saya adalah wartawan yang pedagang saham. Dan tak ada keraguan sedikit pun buat saya untuk menyatakannya dengan lantang dan bangga di hadapan semuanya, khususnya petinggi-petinggi detik dalam sidang Kamis sore. Dan atas dasar itu pula saya memutuskan mundur karena tak satu pun hukum buatan manusia yang boleh mengatur pilihan hidup saya. -Sebuah Testimoni-“, tulis Indro pada Sabtu (20/11).

Sementara itu, wartawan lain yang juga disebut dalam kasus ini adalah Wisnu Bagus dari harian Seputar Indonesia. Namun demikian, Wisnu ternyata sudah tidak lagi bekerja sebagai wartawan Harian Seputar Indonesia saat kasus itu terjadi.

Selain keduanya, ada satu wartawan yang berasal dari Harian Kompas dan satu berasal dari Stasiun Metro TV. Namun demikian, Direktur Pemberitaan Metro TV, Suryopratomo, menegaskan bahwa tidak ada anggota redaksinya yang terlibat dalam kasus penjualan saham PT. Krakatau Steel tersebut.

“Saya sudah lakukan cek secara internal di redaksi saya, ‘apakah kamu terlibat dalam kasus ini’. ‘Apakah kamu membeli saham?’ Dan dia buat dalam surat bermaterai bahwa dia sama sekali tidak ikut dalam pembelian saham Krakatau Steel,” kata Suryopratomo, Minggu (21/11), saat dihubungi LenteraTimur.com.

Lebih lanjut Suryopratomo menjelaskan bahwa wartawan yang melakukan komunikasi dengan Krakatau Steel terkait penjualan saham adalah satu orang. Dan itu bukan wartawannya. Dalam komunikasi tersebut, wartawan itu menyebut akan membawa sejumlah wartawan lain dalam pertemuan untuk negosiasi di hari berikutnya. Dan menurutnya, pertemuan esok itu tak pernah terjadi.

Oleh karena itu, ia meminta Dewan Pers mengklarifikasi persoalan keterlibatan wartawan dalam transaksi saham itu dengan jelas.

“Kalau betul itu terlibat, pasti kita pecat. Tidak ada ampun,” ujar Suryopratomo.

Terkait dengan keterlibatan dalam transaksi saham, Septiawan Santana Kurnia, pemikir jurnalisme, mengatakan bahwa wartawan semestinya dibekali pemahaman untuk tidak ikut dalam transaksi bursa saham. Hal ini diperlukan untuk menjaga independensi dalam memberitakan dunia persahaman.

Karena bermain saham dan jurnalistik adalah dua hal yang dapat menimbulkan konflik kepentingan, Septiawan lantas mengingatkan tentang pentingnya pendidikan jurnalistik.

“Sebuah profesi memerlukan pendidikan. Sekarang, jika dia berasal dari pendidikan jurnalistik, tentu dia akan memiliki wawasan yang terkait jurnalistik,” kata Septiawan, saat dihubungi LenteraTimur.com, Minggu (21/11).

Menurut Septiawan, profesionalisme haruslah dibangun dalam tahapan umur belajar. Ini dianggap penting tak saja demi mewujudkan profesionalitas jurnalis, tetapi juga menguatkan jurnalistik sebagai sebuah profesi. Sebagai sebuah profesi, di dalamnya terkandung berbagai nilai, pemahaman, filosofi, dan aturan main.

Meski pada kenyataannya banyak jurnalis yang berasal dari beragam disiplin ilmu, Septiawan menganggap itu tidak serta merta menyingkirkan pentingnya pendidikan jurnalistik.

“Pendapat yang menyatakan bahwa pendidikan jurnalistik tidak penting, itu hanya di zaman Rosihan Anwar, zaman kemerdekaan, atau di zaman 70-an,” ujar Septiawan.

Menurut Septiawan, sedari sekarang hingga ke depan, pendidikan jurnalisme amat diperlukan bagi mereka yang hendak berkecimpung di dunia jurnalistik.

(19)

TM. Dhani Iqbal TM. Dhani Iqbal lahir di Medan, Sumatera Utara. Menulis sejumlah esai, feature, dan cerpen di sejumlah media massa, juga beberapa buku: "Sabda Dari Persemayaman" (novel), "Matinya Rating Televisi - Ilusi Sebuah Netralitas", dan "Prahara Metodis". Melewati karir jurnalistik di beberapa media massa berklaim nasional, baik cetak, televisi, dan online, di Jakarta, dengan konsentrasi sosial, politik, dan kultur. Kini berjibaku di media LenteraTimur.com.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *