Home Featured Yogyakarta dan Karnaval Toleransi Kebudayaan
1

Yogyakarta dan Karnaval Toleransi Kebudayaan

46
1
Pesta kembang api. Foto-foto: Lenteratimur.com/Arif Budiman.

Sabtu, 16 Oktober 2010. Pukul 18.08 WIB. Azan magrib baru selesai berkumandang diantara menara-menara masjid Yogyakarta. Jalan-jalan utama sudah mulai dipenuhi ratusan kendaraan. Mobil, motor, becak atau andong. Semua berlalu lalang. Semua sibuk menuju kota. Bahkan, tak sesekali pula aturan lalu lintas dilabrak.

Malam itu memang berbeda dari biasanya. Kota Yoogyakarta penuh sesak. Para pengemudi merayapi jalan untuk sampai ke sebuah jalan bernama Malioboro. Masyarakat dari berbagai sumbu, baik di selatan, utara, timur, maupun barat, bergerak menuju titik fokus di jantung kota. Tepatnya di sebuah titik bernama Nol Kilometer yang masih sejalur dengan jalan Malioboro.

Hari itu, Yogyakarta, yang akrab disebut kota pelajar, sedang merayakan hari jadinya yang ke-254. Walau pun hari jadi tersebut jatuh pada 7 Oktober, tapi perayaannya tetap dipersembahkan sampai satu minggu ke depan.

Jogja Java Carnival (JJC) 2010 adalah nama dari hajatan kota yang memiliki slogan “Berhati Nyaman”. Dalam puncak acara tersebut, tema yang dipilih adalah Harmonight (keharmonisan malam). Ada pertunjukan jalanan (street performance) yang dilakukan di sepanjang jalan, dari Malioboro menuju alun-alun utara.

Selain diadakan pada malam hari, keunikan lain acara ini terletak pada kostum peserta, yang mengangkat mitologi kebudayaan Jawa dengan kebudayaan daerah serta negara lain serta lain sebagai partisipan. Mitologi-mitologi itulah yang kemudian ditransfer ke dalam suatu pertunjukan.

Pada penampilan di malam yang diselimuti gerimis tersebut, ada tujuh karya seni terbuat dari material berat (vehicle) yang dipertunjukkan. Karya seni tersebut adalah Gunungan, Golong Gilik, Putri Bulan (Dewi Ratih), Naga Jawa (Harda Walika), Tumbuh (Tuwuh), Dewi Air (Tirta Segara), dan Global Warming (Bumi Kebranang). Penampilan karya seni ini dipadukan dengan koreografi, musik, dan pencahayaan yang sangat mewah.

Karya seni dari material berat yang digarap dengan sangat serius dan penuh totalitas itu diarak dari tempat parkir Abu Bakar Ali, melintasi jalan Malioboro, terus ke titik Nol Kilometer, hingga lapangan alun-alun utara, persis di hadapan panggung VVIP yang di tempati Raja Ngayogyakarta Hadiningrat Sultan Hamengku Buwono X. Di tempat itu juga ada Walikota Yogyakarta Herry Zudianto, Deputi Pariwisata dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, wakil-wakil pejabat di masing kabupaten di Provinsi Yogyakarta, serta seribuan undangan lain.

Karya seni berupa ular jawa.

Masing-masing karya seni tersebut berjalan dengan seniman yang melakukan gerakan-gerakan. Seperti pada karya Global Warming, dimana ada sebuah bumi raksasa kira-kira berdiameter lima meter ditarik menggunakaan mobil Jeep. Uniknya, bumi itu bisa berputar-putar. Di atas bumi yang dibentuk seperti bola dunia tersebut, para seniman yang menggunakan kostum seperti api, air, dan tanah menari-nari. Dibelakang, ada puluhan penari lain yang saling berkelompok dengan tetap menggunakan kostum tiga unsur tadi.

Tapi sayang, penampilan yang indah dan memukau tersebut agak terganggu dengan tidak teraturnya penonton. Badan jalan yang seyogyanya digunakan sebagai jalur atraksi, malah disesaki oleh penonton yang sangat bernafsu melihat lebih dekat. Akibatnya, tidak ada ruang lepas bagi para seniman untuk lebih leluasa tampil atraktif. Satuan keamanan dari panitia yang berjaga-jaga di sepanjang jalan yang dilalui karya seni akhirnya tak bisa berbuat banyak. Jumlah penonton yang mencapai ratusan ribu orang tidak sebanding dengan jumlah personil keamanan.

Menurut panitia acara yang diketua Ferry Astono, karnaval ini diikuti lebih seribu seniman yang berasal dari dalam dan luar negeri, seperti Medan, Kupang, Bangka Selatan, Pamengkasan Madura, Thailand, dan Suriname. Dari Bangka, misalnya, mempertunjukkan kereta kuda raksasa yang khas dengan musik Melayunya. Sedangkan Thailand menampilkan keberagam pakaian adat tradisinya dengan menggunakan mahkota Pagoda.

Iring-iringan karya seni juga dihias-selaraskan dengan sistem suara dan tata cahaya yang menawan. Setidaknya ada sembilan bandul lampu yang di pasang di sepanjang Malioboro hingga Alun-alun utara. Jarak antarbandul sekitar 500 meter. Di masing-masing bandul cahaya itulah karya seni berat itu memainkan kisah mitologinya masing-masing.

Peserta karnaval dari Thailand dengan tarian tradisional.

Gubenur Yogyakarta yang juga Sultan Kerajaan Jogjakarta, Hamengku Buwono X, dalam sambutannya menyebutkan, Yogyakarta adalah miniatur dari Indonesia yang sesungguhnya.

“Yogyakarta menjadi  ruang bagi anak-anak muda yang kreatif. Karya-karya dari kreativitas mereka sudah banyak dikenal oleh dunia,” katanya.

Tak ketinggalan Walikota Yogyakarta Herry Zudianto turut menyampaikan apresiasinya.

“Inilah jati diri Yogyakarta yang sesungguhnya. Terbuka untuk kebudayaan lain yang diberikan ruang untuk berkembang tanpa melupakan budaya asli nenek moyang,” ucapnya dengan senyum sumringah.

Karena disiarkan secara langsung di stasiun TVRI Nasional dan TVRI Yogyakarta, masyarakat yang tak berkesempatan datang juga dapat menikmatinya.

Acara ini lantas ditutup pada pukul 21.47 WIB dengan pertunjukan dari kelompok agama Buddha. Rombongan yang membawa mobil tronton sebagai panggung ini cukup menarik minat penonton. Konon, kehadiran kelompok agama ini menunjukan Yogyakarta sebagai Kota Toleransi (­The City of Tolerance).

Kiri: Kereta kuda raksasa dari Bangka Selatan. Kanan: Partisipan dari keluarga besar Buddha Yogyakarta.
Kiri: Kereta kuda raksasa dari Bangka Selatan. Kanan: Partisipan dari keluarga besar Buddha Yogyakarta.

Meski demikian, penonton yang menduga atraksi sudah berakhir malah masih dikejutkan dengan percikan kembang api yang membubung di langit alun-alun utara dan bersambut di titik nol kilometer, persisnya di dekat Kantor Pos Besar. Beragam formasi percikan kembang api membuat susana malam itu menjadi heboh. Orang-orang, terutama kaum hawa, histeris. Suasana menjadi seperti malam tahun baru.

“Wah, luar biasa. Indah banget, Bang,” celetuk seorang pemudi pada pasangannya.

Di pangung VVIP, kegirangan juga terlihat dari Sultan Hamengku Buwono X dan Herry Zudianto. Keduanya dibawa keliling naik becak oleh rombongan Juru Becak Malioboro yang ikut berpesta. Malam itu, tak ada batasan antara penguasa dengan rakyat biasa. Semuanya bersatu. Melebur.

(46)

Arif Budiman Arif Budiman lahir di Minangkabau, Sumatera Barat. Saat ini ia beraktivitas sebagai mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, angkatan 2008. Pria yang lahir pada 1990 ini sangat berminat pada jurnalisme. Dan hal yang paling ia sukai adalah melakukan peliputan; bergumul dengan fakta-fakta di lapangan. Ia pernah menjadi reporter pada majalah sekolah P’Mails yang diterbitkan oleh koran terbesar di Padang (Padang Ekspres Group) dan penulis di situs resmi dinas pendidikan kota Padang, Selain itu, ia juga pernah melakukan peliputan dalam kegiatan Festival Seni Internasional 2008 di Yogyakarta. Kini ia adalah perwakilan sekaligus desainer LenteraTimur.com di Yogyakarta.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. Siapa bilang Yogyakarta kotanya toleransi. Bohong itu. Lihat saja iklan-iklan lowongan kerja di koran-koran KR atau Bernas… pasti mencantumkan syarat agama harus muslim secara terang-terangan. Padahal di Jogja sendiri cukup banyak perantau asli Indonesia yang secara religi bukan muslim. Gimana mereka dapat pekerjaan jika seperti itu caranya. Dan yang menyedihkan… banyak perusahaan-perusahaan di Yogyakarta pemiliknya bukan Islam, mereka tidak pernah sadar memperkerjakan para personalia dan HRD seorang Islam fanatik. Sehingga diluar pengetahuan Boss para HRD rasis itu seenaknya membuat iklan di koran dengan mencantumkan kata-kata “syarat muslim/ rajin sholat/ berjilbab” dan tentu saja dia akan hanya menerima pelamar dari muslim saja…

    DIMOHON KEPADA PARA PEMIMPIN PERHATIANNYA TERHADAP MASALAH INI !

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 2 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *