Home Featured Tana Toraja dan Eksotika Warisan
0

Tana Toraja dan Eksotika Warisan

67
0

Jika sebelumnya lebih sering mengunjungi daerah wisata alam, kali ini saya menitikberatkan perjalanan pada daerah wisata yang sarat akan sejarah dan budaya. Tempat itu adalah dataran tinggi di Sulawesi Selatan yang kelestariannya tak pudar dimakan waktu: Tana Toraja.

Meskipun kabupaten ini beribukota di Makale, namun aktivitas tersibuk berada di Rantepao. Di Rantepao, akomodasi dan kemudahan akses lebih mendukung untuk menuju kawasan-kawasan budaya, seperti Lokomata, Sa’dan, Marante, Mendoe, Buntao, hingga bagian selatan yaitu Lemo, Karasik, Buntu Pune, Ke’te Kesu, Londa, Palatokke, La’bo, Randanbatu, serta kawasan pegunungan di utara. Saya berkesempatan mendatangi beberapa kawasan cantik tersebut dan merasakan pengalaman yang sungguh mengesankan.

Lemo, tempat pertama yang saya kunjungi, tak hanya memiliki panorama elok yang menggabungkan keindahan pegunungan, pedesaan dan bentangan sawah menghijau. Di sini, warisan budayanya pun wajib diperhitungkan. Begitu pula ketika singgah di Londa, saya belajar mengenai eratnya hubungan keluarga, baik sebelum maupun sesudah kematian. Tempat ini memiliki tebing besar sebagai balkon untuk menempatkan tau-tau (boneka kayu mereplika wujud seseorang sebelum meninggal) pada pintu masuk goa yang berisi peti mati serta tengkorak dan belulang. Berikutnya, di La’bo, saya mendapat kesempatan untuk menyaksikan tomate (upacara pemakaman tradisional Toraja yang senantiasa berlangsung pada musim kemarau antara bulan Juli hingga September).

Teringat akan kartu pos bergambar kawasan budaya Ke’te Kesu yang pernah dilayangkan oleh seorang kawan beberapa tahun lalu, saya pun berkunjung ke sana. Dua barisan rapi yang terdiri dari rumah Tongkonan dan lumbung padi merupakan pertunjukkan utama di tempat ini selain tumpukan tengkorak dan belulang yang berjajar rapi di sepanjang tangga jalan menuju tebing. Melipir ke utara, Sa’dan adalah sebuah desa adat di mana para penduduk wanita setempat mendirikan pertokoan sederhana yang menjual hasil tenun ikat dalam bentuk kain, tas dan pakaian.

Perjalanan lantas saya tutup dengan kunjungan ke Buntu Pune. Di sini, ada dua rumah tongkonan dan enam lumbung padi. Masyarakat setempat percaya, salah satu pendiri Buntu Pune adalah Pong Marambaq, seorang bangsawan yang pernah menjadi kepala daerah setempat pada awal abad ke-20. Ia melakukan perlawanan pada masa penjajahan Belanda hingga akhirnya wafat ketika diasingkan di Ambon, Maluku.

(67)

Novieta Tourisia Penulis lepas, berdomisili di Jakarta.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *