Home Featured Borobudur, Peradaban yang Tersungkur

Borobudur, Peradaban yang Tersungkur

85
0
Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia. Foto-foto: Lenteratimur.com/Ken Miryam Vivekananda Fadlil.

“Maaak, si dedek nemplok di atas candi, tuuh..!”

Teriakan itu memekak, memecah pagi yang sunyi di atas Candi Borobudur. Tampak seorang anak kecil tertawa-tawa di atas stupa candi. Tangan sang ayah, yang saat itu juga tertawa-tawa, erat memegang pinggang si kecil; menjaganya agar tak jatuh. Si ibu kemudian sibuk mengambil gambar anaknya itu melalui kamera telefon genggam.

Tak lama, terdengar pengumuman dari pengeras suara yang terpancang pada tiang tinggi di sisi luar candi. Isinya tak lain himbauan untuk menjaga perilaku saat mengunjungi Borobudur, seperti tidak membuang sampah, tidak merokok, tidak menyentuh, menaiki, dan duduk di atas batuan candi. Pengumuman itu disusul dengan kedatangan dua petugas keamanan yang akhirnya bersiaga di sekitar kompleks candi yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, ini.

Peristiwa di atas adalah secuil dari cerita-cerita tentang Borobudur kini. Borobudur sejatinya digunakan sebagai tempat meditasi penganut Buddha. Kata Borobudur yang kita kenal sekarang berasal dari  “Bhumi Sambhara Bhudara” yang bermakna sebagai Bukit Peningkatan Kebajikan (setelah melampaui 10 tingkatan Bodhisattva) (lihat Sunrise dan Yoga di Borobudur).

Candi megah yang elok, magis, dan purbawi ini telah jauh dari fungsi awalnya sebagai tempat suci.  Mungkin hanya setahun sekali saat Waisak, Borobudur kembali menemukan jatidirinya sebagai bangunan ibadah. Selebihnya, selama 364 hari Borobudur, ruang-ruangnya hanya dipandang sebagai monumen, bendawi, dan kerap tak diperlakukan secara spiritual maupun intelektual.

Warisan peradaban yang tak lagi tercatat sebagai tujuh keajaiban dunia.

Keajaiban Dunia
Menyikapi fenomena macam Candi Borobudur secara non-intelektual juga tampak dari posisinya dalam apa yang disebut warisan dunia. Pada 1991, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco) telah menetapkan candi megah tersebut sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site). Ia sempat tercatat sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia.

Tapi, sebelum kajian Borobudur tuntas dilakukan, gelar itu kini telah lepas dari genggaman. Penyebabnya karena hasil poling yang rendah. Poling tersebut menunjukkan bahwa popularitas Borobudur di mata dunia telah jauh menurun. Artinya, ada semacam ketidakmampuan atau keengganan untuk mengelola sebuah warisan peradaban dengan baik dan sungguh-sungguh.

Hal ini melempar ingatan saya akan Sipadan-Ligitan yang kini bernasib jauh lebih baik setelah lepas dari Republik Indonesia yang seolah enggan merawat daerah perbatasan.

Kata ‘ahistori’ kini seakan bersemat di Borobudur. Meski telah melewati dinamika sedemikian panjang, banyak misterinya yang masih belum terungkap secara ilmiah. Mulai dari teknologi pembangunan Borobudur, asal naskah untuk kisah yang terukir di seluruh relief candi, atau misteri penggambaran Adibuddha yang tak sempurna dalam ruang stupa induk candi.

Relief-relief kebajikan yang belum semuanya diketahui apa kisah dan maknanya.

Rahasia tersembunyi tentang akar nilai-nilai kesucian Borobudur ini tentunya akan semakin sulit diungkap karena suasana tertentu yang tercipta di sekitar Borobudur. Padahal, pengamanan Borobudur dan zona-zona yang mengelilinginya sangat diperlukan agar terbentuk keseimbangan dan jaminan legal dalam pengembangan kawasan wisata dengan tetap mengedepankan kepentingan konservasi. Sangat ironis, candi yang sesungguhnya memiliki nuansa kesunyian ini malah dikelilingi oleh lingkungan yang cenderung “bising”.

Sebut saja perkara cara pedagang sekitar Borobudur menjajakan dagangannya kepada para turis. Tengok juga fenomena pembangunan sektor pendukung seperti Museum Rekor Indonesia (MURI), Taman Burung, dan Museum Kapal Samudraksa yang semestinya dapat dibangun di daerah lain agar keramaian tak tumpah ruah di sekitar Borobudur saja. Kesemuanya menjadi bukti bahwa pihak pengelola Borobudur terkesan lebih menekankan komersialisasi daripada misi awal, yakni konservasi.

Karena banyak pihak yang memiliki wewenang legal dalam pemeliharaan Borobudur, tak dapat dipungkiri bahwa ada ego sektoral dari masing-masing instansi.  Selain menciptakan kendala, cetak-biru yang menjembatani masing-masing pemangku kepentingan tak dirancang dengan tajam. Apalagi, konsistensi masih menjadi kendala laten dalam program-program yang diinisiasi pemerintah.

Penemuan Borobudur
Pada masa penjajahan Inggris di tahun 1814 di Jawa, dibawah pemerintahan Gubernur Jendral Sir Thomas Stamford Raffles, seorang perwira bernama H.C. Cornelius diutus untuk meneliti laporan tentang adanya bebatuan aneh di suatu lokasi. Bebatuan itu sudah dirambati oleh semak belukar. Ia tampak angker, membuat orang takut untuk mendekat. Saat diperiksa, semua terkejut. Terkuaklah sebuah candi raksasa berkondisi memprihatinkan dengan patung-patung Buddha yang terserak.

Ketika masa penjajahan Belanda, situasi berubah. Banyak patung dan bagian-bagian candi yang diambil orang atau pejabat Belanda. Bahkan, pada 1896, pemerintah Hindia Belanda, melalui Residen Kedu, mengambil delapan gerobak penuh patung dan bagian Borobudur untuk dihadiahkan kepada Raja Siam, Chulalangkon. Chulalangkon yang sempat mengunjungi Borobudur memang mengaku tertarik akan patung-patung Buddha tersebut. Sampai sekarang, benda berharga dari Borobudur itu tersimpan di Museum Bangkok, Thailand.

Kerusakan sebelum pemugaran. (Repro)

Pada 1907 sampai 1911, Borobudur akhirnya mengalami restorasi besar-besaran. Pimpinan restorasi adalah Ir. Th. Van Erp, seorang insinyur Belanda yang tertarik akan falsafah dan ajaran-ajaran yang terkandung dalam Borobudur. Untuk itu, dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India hingga akhirnya dapat menggambar sketsa bentuk Candi Borobudur.

Sementara itu, kajian mengenai landasan falsafah dan agama yang ada di balik Borobudur, yakni Mahayana-Yogacara yang cenderung bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana, dilakukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom. Perlu ketelitian dan kesabaran dalam proses restorasi tersebut agar bisa diperoleh bentuk candi seperti saat dibangun. Kerja Van Erp membuahkan hasil yang memuaskan.

Namun apa daya, proses alam tak dapat dicegah. Sepeninggal Belanda, penampilan Borobudur sempat kembali terbengkalai. Rupanya kembali tak ubah seperti tumpukan sampah. Saat itu, arca-arca diam sekarat di antara stupa-stupa yang sewaktu-waktu bisa amblas, runtuh.

Buddha terkurung separuh.

Pada 1967, seorang Indonesia bernama Soekmono berhasil meyakinkan peserta Kongres Orientalis Internasional ke-27 (The XXVII International Congress of Orientalists) di Ann Arbor, Michigan, Amerika Serikat, mengenai pentingnya pemugaran Candi Borobudur kembali. Kaum orientalis akhirnya mendukung upaya pelestarian pusaka dunia yang dipercayakan kepada Indonesia. Pemugaran Borobudur dimulai pada 10 Agustus 1973 di bawah komando Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu.

Ketika pemugaran berhasil dilakukan, kekhawatiran bahwa Candi Borobudur akan menjadi bukit puing karena keausan dan kerapuhan batu-batunya kala itu pun menjadi tidak terbukti. Dan kemudian Borobudur pun menjadi tujuh dari keajaiban yang ada di dunia.

Sejarah Borobudur
Sebelum ditemukan Inggris, Borobudur merupakan situs dari sebuah narasi besar. Ia adalah bukti dari kejayaan suatu zaman di Asia. Berdasarkan prasasti Karang Tengah dan ditambah dengan prasasti Kahuluan, dinyatakan bahwa Borobudur didirikan oleh Raja Samaratungga dari wangsa Syailendra sekitar tahun Sangkala atau tahun Caka 746 (824 Masehi). Syailendra adalah nama dinasti dari raja-raja Sriwijaya yang melakukan ekspansi ke tanah Jawa pada abad ke-7 Masehi.

Patung Buddha dari ketinggian.

Proses pembangunan candi ini berakhir di masa puteri Raja Samaratungga yang bernama Dyah Ayu Pramodhawardhani pada sekitar tahun 847 Masehi. Menurut prasasti Klurak (784 M), pembuatan candi besar ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya dan seorang pangeran dari Kashmir yang bernama Visvawarman. Namun, legenda Jawa menganggap bahwa Gunadharma adalah insinyur penggagas Borobudur.

Satuan hitung pada masa Borobudur dibangun adalah ‘tala’. ‘Tala’ adalah jarak rambut pada dahi hingga ke dasar dagu atau jarak rentang maksimal ibu jari dan jari tengah. Memang tak mudah diterima logika, bagaimana dengan satuan panjang seperti itu, kalkulasi ukuran candi menjadi sangat presisi, memiliki format seimbang, dan terstruktur secara matematika. Dan menariknya, setiap ukuran di bagian kaki, badan, dan kepala candi selalu memiliki perbandingan 4:6:9.

Tak terbayang pula bagi saya seperti apa teknik membawa, memotong, dan memahat batu-batu untuk membangun konstruksi seindah, semasif, dan semegah Borobudur. Ditambah lagi dengan saratnya berbagai filosofi Buddha dalam setiap arsitektural dan reliefnya. Tentunya ada wawasan agama, filsafat, dan perhitungan detil dari sang pengagas. Dan pastinya, ada juga niat, siasat, dan alat yang dikerahkan secara dahsyat dan amat serius.

Setelah rampung dibangun, Borobudur menjadi pusat spiritual termegah bagi penganut agama Buddha. Ia tersusun oleh 1.600.000 buah batu cadas gunung berapi dan dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 meter dari atas permukaan laut. Ia menjadi stupa Buddha tunggal terbesar di dunia dengan bentuk piramida berundak setinggi sembilan lapis lantai. Enam lantai bagian bawah berbentuk bujur sangkar yang lingkaran terluarnya dipenuhi dengan galeri relief sepanjang hampir tiga kilometer.

Patung Buddha tak berkepala.

Tapi sayang, bersamaan dengan surutnya agama Buddha dan lenyapnya dinasti Syailendra, secara berangsur kejayaan Borobudur mulai tertutup kegelapan. Seiring dengan berpindahnya pusat kerajaan Jawa ke Jawa Timur, praktis Borobudur menjadi tak terurus. Borobudur pun beralih rupa menjadi gundukan batu yang tertutup semak belukar bekas abu letusan gunung berapi.

Kini Borobudur memang tak lagi separah saat ditinggalkan Belanda. Mahakarya ini masih tampak megah, tak lagi terperangkap semak-semak liar. Hanya saja, jika dahulu fisiknya yang terkubur, kini kisahnya yang terpendam. Bahkan, Kantor Pusat Studi Borobudur pun beralih menjadi sebuah hotel. Borobudur… ia seperti tersungkur diantara ulah perilaku pengunjung dan komersialisasi yang kental.

(85)

Ken Miryam Vivekananda Fadlil Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *