Home Featured Sang Pencerah: Bersetia Dengan Cita-Cita

Sang Pencerah: Bersetia Dengan Cita-Cita

101
0
Kyai Haji Ahmad Dahlan, Sang Pencerah. Foto-foto: www.sangpencerahthemovie.com
Kyai Haji Ahmad Dahlan, Sang Pencerah. Foto-foto: www.sangpencerahthemovie.com.

Sempat tertangkap nada cibiran penonton di bioskop ketika nama raja sinetron, Raam Punjabi, terpampang di layar sebagai produser. Pengalaman ini saya temui ketika menonton film “Sang Pencerah” besutan sutradara Hanung Bramantyo,  yang diputar perdana pada 8 September 2010, serentak di seluruh Indonesia.

Namun, cibiran itu tak berlangsung lama. Adegan awal film yang menyuguhkan sinematografi apik karya Faozan ‘Pao’ Rizal serta olahan musik yang digawangi oleh Tya Subiakto perlahan-lahan cukup berhasil melarutkan penonton pada babak awal kisah perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Hanya saja, semakin lama penggunaan musik terasa cukup mengganggu karena terasa ada ketidakkonsistenan dengan atmosfer masa lampau.

Menghadirkan masa lampau ke layar lebar tentu saja tak mudah dan tak murah. Sempat hangat di beberapa situs berita, diperlukan dana produksi sebesar 12 milyar untuk mewujudkan ide yang sudah 15 tahun mengendap ini.

Patut diapresiasi bahwa dalam durasi  112 menit,  gambar bergerak produksi MVP (Multivison Plus) Pictures ini berani menyajikan  latar suasana Yogyakarta pada tahun 1800-an secara dominan. Reka-ulang bangunan Masjid Agung Kauman, wilayah keraton, Kota Gede, Bintaran, dan Stasiun Kereta Api Lempuyangan, termasuk sudut-sudut kota Yogyakarta, berhasil menghadirkan atmosfer di tahun itu dengan cukup nyata. Hal ini didukung pula dengan kekuatan kostum dan tata rias dengan detail yang cermat di sepanjang kisah.

Kisah mengalir sejak  kelahiran sang tokoh hingga pada masa ia mendirikan Muhammadiyah pada 12 November 1912.  Romantika perjuangan tokoh pembaharu ini digambarkan tak bebas dari kegelisahan, bahkan nyaris keputusasaan.

Konflik mulai terbangun saat Darwis remaja (Ihsan Taroreh) digambarkan sebagai sosok yang kerap gelisah dengan lingkungan sekitarnya; ketika Islam di Jawa tak lepas dari praktik mistisme. Kegelisahan Darwis ini tergambar jenaka ketika ia mencuri makanan sesaji yang diletakkan warga kampung  di bawah sebuah pohon besar.

Sebuah catatan pengantar di awal film menyebutkan bahwa praktik sesaji ini merupakan warisan dari Syekh Siti Jenar. Tudingan langsung terhadap nama tersebut agaknya sebuah kecerobohan.

Kauman, latar film ini, adalah sebuah daerah sekitar keraton yang lekat dengan pengaruh Hindu. Dan hingga saat ini pun keraton masih memiliki dua kyai: Kyai Kauman dan Kyai Hindu. Artinya, sesaji justru dipertahankan oleh Sunan Kalijaga ketika ada perkawinan budaya saat ia memasukkan nilai Islam dalam masyarakat Hindu.

Selain sesaji, film ini pun cenderung melakukan simplifikasi nilai pada isu yasinan dan tahlilan. Padahal, ia merupakan isu besar yang hingga kini diusung oleh Muhammadiyah, yang tentunya terbit dari kegelisahan pendirinya.

Praktik sesaji sudah menjadi tradisi masyarakat Kauman, Yogyakarta.
Praktik sesaji sudah menjadi tradisi masyarakat Kauman, Yogyakarta.

Kecemasan mengenai praktik Islam yang menggelisahkan ini akhirnya mendorong Darwis, yang waktu itu baru berusia 15 tahun, untuk melakukan perjalanan laut ke Mekkah guna mendalami agama Islam sekaligus berhaji. Sejarah mencatat, selama kurun waktu lima tahun di sana, Darwis berkenalan dengan pemikiran-pemikiran para pembaharu islam seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah.

Sayang, dalam film ini tak diceritakan bahwa di Arab itu Darwis bertemu dengan Hasyim Ashari, yang kelak menjadi pendiri Nahdhlatul Ulama. Keduanya, bersama Agus Salim, nantinya akan berguru pada imam madzhab Syafi’iyah di Masjidil Haram asal Indonesia, Ahmad Khatib. Padahal, jika ini diceritakan, pendirian Muhammadyah akan menjadi utuh sebagai dialektika Islam Indonesia; bukan sesuatu yang begitu saja muncul dari bumi.

Sekembalinya ke tanah air,  kehidupan Darwis yang telah berganti nama menjadi Kyai Haji Ahmad Dahlan (Lukman Sardi), mulai memasuki babak seru. Beberapa praktik keliru dalam beribadah yang berkembang di masyarakat mulai ia koreksi. Langgar Kidoel Kauman pun didirikannya sebagai pusat penyebaran pemikiran dan ajarannya.

Berbeda dengan tempat pendidikan lain yang selalu monolog, Dahlan justru melakukan praktik pendidikan secara dialogis. Ia mendorong santri untuk memulai pertanyaan. Dan keluarlah pertanyaan dari seorang santri.

“Agama itu apa, Kyai?”

Alih-alih menjawab, Dahlan justru memainkan biolanya. Nadanya begitu indah. Semua menjadi terdiam. Mata-mata terpejam. Usai itu, ia mengatakan inilah agama. Indah. Damai. Tenteram.

Lalu Dahlan kemudian meminta salah satu santrinya, Hisyam muda (Joshua Suherman), memainkan biola tersebut. Terdengar nada sumbang yang memecah tawa. Di sini ia mengucapkan pemikirannya tentang agama.

“Agama hakikatnya seperti musik. Ia dapat memberi  keindahan, ketenteraman, dan mencerahkan. Seperti musik,  ia mengayomi, menyelimuti.  Namun, jika kita tidak mempelajarinya dengan benar, itu hanya akan membuat resah dan menjadi bahan tertawaan.”

Jawaban ini sungguh berkualitas. Hanya saja, apakah benar ini merupakan rekam jejak asli dari Ahmad Dahlan dahulu? Dalam poster film ini, memang terbaca kalimat “Tentang Ahmad Dahlan”. Namun, kita tidak dapat menemukan kalimat “Berdasar kisah nyata” sebagaimana film-film tentang seseorang yang nyata. Akhirnya, memang menjadi lebih tepat jika meresepsi film ini (hanya) sebagai salah satu tafsir “Tentang Ahmad Dahlan” yang masih perlu diverifikasi lagi perkara referensi dan kebenarannya.

Upaya Dahlan untuk mengubah sudut pandang ajaran Islam yang telah tumbuh selama setengah abad di Kauman memang tidak semudah membalik telapak tangan. Ketika pemuda 21 tahun itu berpendapat bahwa arah kiblat semua masjid dan langgar harus diubah, para kyai, termasuk penghulu Masjid Agung Kauman, Kyai Cholil Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo), menentang keras.  Dahlan, yang kemudian memiliki kiblat sendiri, pun dianggap kyai kafir yang dicap sebagai musuh bersama.

Para pemegang tradisi cemas dengan gerakan Ahmad Dahlan.
Para pemegang tradisi cemas dengan gerakan Ahmad Dahlan.

Di pekatnya malam, segerombolan laki-laki berbondong-bondong menuju Langgar Kidoel Kauman. Sambil memekikkan “Allah Akbar”, mereka mengangkat obor tinggi-tinggi. Langgar hancur, terbakar, rata dengan tanah.

Adegan robohnya surau ini sangat relevan dengan konteks konflik agama yang kerap dan baru saja dialami oleh Indonesia kini. Perusakan rumah ibadah dan kekerasan dengan membawa-bawa agama yang ditampilkan dalam film itu seolah ingin menunjukkan bahwa peristiwa yang sering kita alami saat ini sebenarnya telah berakar lama.

Teriakan “Allahu Akbar” yang diserukan berulang-ulang oleh para perusak surau, mau tak mau, membawa kenangan buruk atas kelakukan serupa kaum fundamentalis di sekitar kita; yang dengan mudah menyebut kafir pada siapa pun yang baru atau berbeda.

Adegan perusakan langgar ini berhasil meraih puncak emosi penonton. Tapi, akibatnya, ketika film berlanjut, emosi jadi sulit untuk terbangun kembali. Klimaks terlanjur lebih dulu terjadi, padahal cerita belum berhenti di sini.

Dibantu dengan dukungan keluarga, meski sempat merasa “kalah”, Dahlan kembali bangkit dan meneruskan ajarannya. Dengan dukungan sang istri, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid setianya: Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara), dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Dahlan meneruskan perjuangannya.

Dahlan memilih untuk tetap bersetia pada cita-cita, meski harus kembali dicemooh. Ia mendapat tuduhan kyai kejawen ketika ia  merapat ke lingkungan cendekiawan Jawa, Boedi Oetomo.

Satu hal yang mengganjal, persinggungan Dahlan dengan Sarekat Islam, organisasi bervisi kebangsaan yang lahir lebih dulu dari Boedi Oetomo, hanya disebut selintas. Seolah, Dahlan hanya terpengaruh oleh orientasi Boedi Oetomo untuk peduli pada kerja-kerja terorganisir dan pendidikan.

Pengabdian sosial sebagai sikap beragama Ahmad Dahlan.
Pengabdian sosial sebagai sikap beragama Ahmad Dahlan.

Terbantu dengan momentum Ramadhan dan lebaran, film yang bernafaskan perlawanan terhadap fanatisme bertaut kebencian pada umat lain ini cukup menjadi pembicaraan di kalangan masyarakat. Ditambah lagi dengan maraknya isu fundamentalis agama, kebutuhan untuk memahami agama secara damai menjadi terasa amat kontekstual dan dekat.

“Sang Pencerah” akhirnya hadir sebagai sebuah karya konkret atas sebuah refleksi. Refleksi yang berhasil membuat kita bertanya, sesiap dan sesantun apa kita mampu membuka hati untuk menerima atau merefleksikan sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda.

(101)

Ken Miryam Vivekananda Fadlil Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *