Home Nukilan Menyelidik Sebagai Sebuah Panggilan
1

Menyelidik Sebagai Sebuah Panggilan

24
1
Menelisik Lorong Gelap. Foto: Repro
Menelisik Lorong Gelap. Foto: Repro

“Dari jendela saya merayap di tengah kegelapan. Di bawah gedung, saya melihat beberapa penjaga Kejaksaan Agung tengah berjaga-jaga. Saya berharap mereka tak mendongak ke atas… Kaki saya gemetar. Selain takut ketahuan penjaga di bawah gedung, saya juga takut jatuh. Wah, kalau jatuh bisa ko’it.”

Secara tak sengaja, saya menemukan buku berjudul Reportase Investigasi-Menelisik Lorong Gelap karya Dadi Sumaatmadja. Seingat saya, ini adalah buku soal investigasi kedua dalam bahasa Indonesia setelah Septiawan SK (Jurnalisme Investigasi, 2003).

Sebenarnya, buku yang setiap halamannya dibuat dua kolom ini sudah relatif lama terbitnya, yakni 2005. Tapi, setelah saya cari di sana sini, belum banyak resensi yang ditulis atas buku ini. Padahal, menurut saya, buku ini cukup bisa menjadi obor dari kelamnya jurnalisme Indonesia, yang belakangan terus mengalami kekeringan, yang hanya memahat angka-angka di atas nisan penderitaan kemanusiaan.

Salah satu aspek yang menggelitik dari buku ini adalah gaya bahasanya, seperti contoh paragraf di atas. Pembaca dibawa untuk mengidentifikasikan diri sebagai seseorang yang berada di tepi tembok lantai atas. Aspek horor disampaikan melalui medium bahasa sehari-hari, seperti ko’it. Seakan lucu, padahal sungguh serius. Seakan sastra, padahal ditulis dalam konteks nonfiksi, yakni upaya memaparkan praktek penyelidikan kasus korupsi di Bank Duta yang melibatkan Dicky Iskandar Di Nata, tahun 1991; sebuah penyelidikan yang membuat dirinya harus mengendap-endap di pinggir tembok.

Gaya bahasa seperti ini sebenarnya relatif baru di Indonesia. Dan secara kategorik, ia tersebut sebagai jurnalisme sastra. Maksudnya, Dadi memaparkan fakta yang ditemuinya dengan menggunakan gaya bahasa sastra yang sarat detailitas yang emotif. Di sini, seorang wartawan tak perlu takut untuk dicap tak objektif. Dewasa ini, objektivitas telah diakui sebagai sesuatu yang muskil, buta, dan ilutif. Jauh lebih penting untuk menekankan akurasi, otentitas, ketimbang objektivitas. Dan muatan emosi yang hadir dalam setiap kata atau kalimat justru bisa memudahkan seorang wartawan dalam mencapai otentitas.

Meski demikian, sastra, sebagai medium pikiran, yang dalam hal ini adalah jurnalisme, tidak saja mampu menguatkan otentitas, tetapi juga mempertegas aspek pertunjukkan atau dramaturgi di benak pembaca. Misalnya ketika Dadi bercerita tentang upayanya mengejar Try Sutrisno di Bandara Halim Perdanakusumah untuk diwawancarai.

Di luar bandara, Dadi melihat iring-iringan kendaraan militer yang melaju kencang dan bisa begitu saja menerobos pos yang dijaga provost Angkatan Udara (AU). Takut kehilangan kesempatan, Dadi yang mengendarai mobil segera tancap gas, menempel di belakang konvoi militer itu.

“Ah, lu kan udah dihormatin sebagai provost. Sesekali lu jadi jendral. Ngangguk kiri-kanan,” tulis Dadi menjawab keinginan rekannya yang ingin berhenti dulu di pos penjagaan.

Tapi ternyata itu Pasukan Pengamanan Presiden (Paspamres) Suharto, bukan penjemput Try Sutrisno.

“Beberapa saat hati kami kebat kebit,” kata Dadi. “Kalau ketahuan dari pers, kami bisa celaka.”

Benar saja. Setelah berhasil wawancara Try Sutrisno, kerah baju Dadi dicengkram dan digelandang ke kantor provost AU.

“Gara-gara kamu semua penjaga saya dimasukkan sel… Kalau saya sampai dipecat, tak matiin kamu!’” kata Dadi menirukan bentakan kata provost di sana.

Praktik Investigasi

Penggunaan nasrasi membuat peristiwa menyublim menjadi adegan. Dan adegan-adegan hidup yang ada di buku ini ada dalam kerangka tentang bagaimana seorang wartawan melakukan investigasi.

Berdasarkan pengalamannya, dan sebagai pembeda dengan depth reporting, Dadi memberikan banyak tahap untuk melakukan investigasi. Diantaranya bagaimana mencuri dokumen, riset literatur, menggambar pohon masalah, memburu dokumen tertulis, penyamaran, menulis laporan investigasi, hingga memikirkan dampak tulisan. Satu sama lain saling berkelindan.

Tahap-tahap investigasi ini sebetulnya memiliki kesamaan dengan buku-buku investigasi lainnya, baik yang berbahasa Indonesia maupun asing. Namun berbeda dengan yang lain, Dadi memberikan contoh kasus yang pernah dialaminya sendiri pada masing-masing tahapnya.

Soal penyamaran, misalnya. Untuk menelisik kasus judi yang diduga terjadi di kapal pesiar bernama Royal Pacific, Dadi tidak hanya membekali diri dengan pengetahuan tentang tatacara perjudian, tetapi juga menulis kolom pekerjaan di paspornya menjadi enterpreneur.

Namun, ada yang harus menjadi catatan di tahap memikirkan dampak tulisan ini, seperti pada kasus Asuransi ABRI (Asabri) yang diduga mengalami penyimpangan dana. Ketika itu Dadi memang tidak jadi menuliskan laporannya gara-gara memikirkan dampak. Tapi itu sudah terjadi delapan tahun yang lalu. Semestinya Dadi bisa melaporkannya di buku ini.

Wartawan Senior

Jacoeb Utama, Pemimpin Umum Harian Kompas, pernah bilang, buku adalah mahkota bagi wartawan. Dan wartawan senior yang belum menulis buku sebenarnya bukan wartawan senior, kata Amarzan Lubis, wartawan Tempo, tapi wartawan tua (Ignatius Haryanto, Kompas, 20/08/05).

“Fatwa” dari beberapa dedengkot jurnalistik ini rasanya mengena bagi Dadi Sumaatmadja. Senioritas memang seharusnya tidak dilihat dari usia, tetapi dari pencapaian-pencapaian keunggulan yang tak lekang dimakan jaman. Dengan buku, seorang wartawan telah menancapkan diri di arus sejarah. Dia sudah melampau arus keseharian yang seremonik, berisik, dan banal.

Elaborasi bahasa dan tips praktik investigasi berdasarkan pengalaman merupakan sesuatu yang diperlukan bagi jurnalisme Indonesia dewasa ini. Dan tidak berhenti di situ saja, Dadi juga coba melengkapinya dengan menularkan semangat juang bagi para jurnalis, baik yang sudah lama maupun baru.

Semangat ini terasa saat ia menulis soal bagaimana sulitnya membentuk tim investigasi di majalah Tajuk. Sebagai seorang redaktur, bongkar pasang terus dilakukannya sampai ditemukan anggota yang siap berjibaku, ngotot, peka, kritis, sabar, dan fair.

Meski demikian, bukan hanya mentalitas yang diperlukan, tetapi juga minat dari wartawan yang bersangkutan. Tidak bisa wartawan yang gemar ekonomi, politik, atau berita-berita straight news, dipaksakan masuk ke investigasi. “Kita tidak bisa memaksakan setiap wartawan untuk enjoy pada setiap bidang… yang namanya wartawan, umumnya memiliki ego tinggi,” tulis Dadi.

Gaya Dadi memimpin wartawan investigasi itu cukup egaliter dan santai. Menurutnya, itu efektif. Beberapa wartawan yang awalnya tak banyak bicara, kini sudah mahir berdebat dan mulai mengimbangi Dadi. Dadi mengaku sempet dongkol campur geli juga. Pasalnya, setelah mahir berdebat, umpatan pedas wartawan-wartawan itu kelak menuju dirinya.

Tapi Dadi tak ada masalah dengan struktur jabatan. Pada wartawan-wartawan itu Dadi bilang, “Gua enggak peduli suatu saat lu nyalip jabatan gua. Tetapi sampai kapanpun, seumur hidup lu, lu enggak bakalan bisa ngelampauin gua. Gua pernah jadi komandan lu.”

Bahasa terakhir itu cukup mengharukan. Itu terdengar seperti ucapan seorang ayah pada anaknya.

(24)

TM. Dhani Iqbal TM. Dhani Iqbal lahir di Medan, Sumatera Utara. Menulis sejumlah esai, feature, dan cerpen di sejumlah media massa, juga beberapa buku: "Sabda Dari Persemayaman" (novel), "Matinya Rating Televisi - Ilusi Sebuah Netralitas", dan "Prahara Metodis". Melewati karir jurnalistik di beberapa media massa berklaim nasional, baik cetak, televisi, dan online, di Jakarta, dengan konsentrasi sosial, politik, dan kultur. Kini berjibaku di media LenteraTimur.com.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. Wah jadi pengen beli bukunya. Mantap ulasannya mas…!!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *