Home Featured Indonesia, Sebuah Imajinasi Kompleks
0

Indonesia, Sebuah Imajinasi Kompleks

77
0
Darah Garuda. Foto-foto: www.merahputihthefilm.com.
Darah Garuda. Foto-foto: www.merahputihthefilm.com.

“Kalian tidak akan bisa bertahan satu minggu tanpa kami,” ujar  Major Van Gaartner. “Muslim, Kristen, Katolik, Protestan, Hindu, Java, Bali, Batak, China…. Kalian akan saling membunuh.”

“Setelah kami membunuh kalian,” jawab Dayan.

Dialog antara seorang komandan pasukan Belanda dengan pejuang kemerdekaan asal Bali yang tengah tertangkap itu muncul dalam film “Darah Garuda”. Film yang diluncurkan pada September 2010 tersebut merupakan bagian kedua dari trilogi Merah Putih, sebuah epos perang revolusi kemerdekaan Indonesia.

Film berlatar 1947 yang disokong oleh Hasyim Djojohadikusumo, putera seorang tokoh perlawanan dari Pemerintah Republik Rakyat Indonesia (PRRI) di Sumatera-Sulawesi, memang mengejutkan. Percakapan Van Gaartner, diperankan Rudy Wowor, dengan Dayan, dilakoni Teuku Rifnu Wikana, adalah salah satu contoh bahwa film ini hendak memberikan semacam sengatan kesadaran terhadap khalayak perihal bagaimana berdirinya sebuah negara bernama Indonesia.

Ya, Indonesia memang dibangun oleh negeri-negeri yang sudah terlebih dahulu ada. Negeri-negeri tersebut, jauh sebelum kedatangan orang-orang Eropa, sudah memiliki peradaban atau sistem nilai. Hanya saja, sebelum kedatangan Eropa, tidak ada konsep persatuan diantara negeri-negeri tersebut. Dan, entahlah, apakah Belanda sudah mengetahui watak ketidakharmonisan di antara negeri-negeri tersebut ketika Van Gaartner mengucapkan “kalian akan saling membunuh”?

Para gerilyawan pro Indonesia ditangkap gerilyawan Islam di Jawa Barat.
Para gerilyawan pro Indonesia ditangkap gerilyawan Islam di Jawa Barat.

Jawaban Dayan “Setelah kami membunuh kalian,” juga tak kalah menariknya. Apakah itu maksudnya memberikan pembenaran terhadap apa yang dilihat oleh Belanda? Yang jelas, hingga saat ini, Indonesia memang masih didera oleh sekian banyak konflik terkait identitas, baik secara terang-terangan dan brutal, seperti yang terjadi di Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Maluku, atau yang mengendap di dalam batin dan siap meledak, seperti Jawa, Sunda, Batak, Papua, Aceh, Buton, atau Riau.

Dalam kondisi tidak ada konsep persatuan di antara negeri-negeri tersebut, membangun imajinasi tentang Indonesia tentu bukan perkara mudah. Empat tokoh di film ini, yakni Thomas (Donny Alamsyah, Manado, Kristen), Amir (Lukman Sardi, Jawa, Islam), Marius (Darius Sinatrya, Batavia), dan Dayan (Teuku Rifnu Wikana, Bali, Hindu), adalah simbol dari keberagaman tersebut. Mereka, yang di daerahnya masing-masing mengalami penyiksaan oleh kulit putih, disatukan untuk satu kepentingan: mengusir Belanda. Slogannya adalah to become free, they become one.

Para tokoh ini, yang selamat dari pembantaian Belanda pada film terdahulu, Merah Putih, kemudian diberi tugas yang amat penting oleh salah seorang komandan dalam pasukan Jenderal Sudirman. Perintahnya tak main-main: menyusup ke garis belakang musuh di daerah Jawa Barat untuk menghancurkan proyek pembangunan bandara Belanda; menghancurkan ambisi penyerangan mematikan Jenderal Van Mook dari Belanda.

Kyai, pimpinan gerilyawan Islam, sempat bimbang untuk menentukan nasib gerilyawan pro Indonesia yang ia tangkap.
Kyai, pimpinan gerilyawan Islam, sempat bimbang untuk menentukan nasib gerilyawan pro Indonesia yang ia tangkap.

Dalam perjalanan di Jawa Barat, keempatnya bertemu dan ditangkap oleh gerilyawan Islam. Meski juga sedang melawan Belanda, mereka tampak alergi dengan apa yang disebut Indonesia. Selain persoalan perbedaan etnik tadi, adegan ini seakan mencatat bahwa imajinasi tentang Indonesia berada di antara bayang-bayang perbedaan yang prinsipil.

“Sumatera, Jawa, Celebes, Borneo, itu aku tahu. Tapi Republik Indonesia, mana?” kata seorang gerilyawan Muslim di Jawa Barat.

Pertanyaan materil semacam ini lantas dijawab secara abstrak, tepatnya dari perspektif cita-cita akan adanya sebuah negara baru.

“Republik Indonesia tempat orang-orang merdeka, Bung, dimana anak-anak kita tidak perlu tunduk terhadap orang kafir,” jawab Amir.

Gemas karena melihat ada yang tidak memihak pada apa yang dibayangkan sebagai Indonesia, Thomas pun berang.

“So lama ngana jadi anjing Belanda?”

Sontak geriyawan Islam tadi marah. Ia mengacungkan senapannya ke arah Thomas.

Thomas, pejuang asal Manado, mencelat akibat ledakan bom.
Thomas, pejuang asal Manado, mencelat akibat ledakan bom.

“Aku bukan kacung siapa-siapa dan bukan anjing siapa-siapa! Aku hanya mengabdi kepada Allah Subhana Wa Taala!” Mata sang gerilyawan mendelik berang.

Percakapan ini kemudian berlanjut antara Amir dan Kyai, diperankan Alex Komang, pimpinan gerilyawan Islam. Keduanya berdialog soal anti penindasan berdasarkan surat-surat di Al-Quran. Percakapan itu diakhiri oleh sang kyai dengan sebuah pertanyaan.

“Apa kau benar-benar yakin bahwa Allah akan merestui republik ini?”

Pertanyaan Kyai tak dijawab oleh para tentara. Malah, yang terdengar justru suara petir yang menggelegar. Dan wajah Amir tampak bingung dan meragu.

Selain dialog-dialog yang memikat dan berwawasan sejarah, film ini cukup menggairahkan dari segi gambar. Suasana alam, kantor-kantor tempo dulu, pencahayaan, dan berbagai ledakan tampak begitu nyata. Penonton disuguhkan sebuah kualitas sinematografi yang patut diacungi jempol.

Meski demikian, film ini bukannya tanpa cacat. Salah satunya adalah persoalan dialek. Banyak percakapan yang sepertinya dialihbahasakan secara telanjang dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Dan yang tampak mencolok adalah tidak adanya bahasa Sunda saat para tokoh berada di Jawa Barat. Alih-alih berbahasa Sunda, di sebuah pasar malah terdengar gumaman-gumanan berbahasa Jawa dari masyarakat.

Selain itu, keganjilan juga tampak saat Amir, yang merupakan komandan pasukan, mengucapkan kata sayang pada istrinya. Tak terbayang ada seorang komandan berbicara semacam itu di depan pasukan. Apalagi, yang tengah terbangun adalah emosi serangan mematikan, bukan emosi domestik.

Terlepas dari kekurangan tersebut, apresiasi tinggi haruslah ditujukan pada Teuku Rifnu Wikana dan Donny Alamsyah. Aksi Dayan, yang lidahnya dipotong Belanda, sanggup mengguncang emosi siapapun yang melihat. Ia datang secara tak terduga di saat kawan-kawannya putus asa. Ekspresinya begitu tajam kala ia menusukkan kayu dari tengkuk hingga tembus ke mulut seorang Belanda yang sedang merangsek dengan senapan berat. Tanpa bicara, ia menunjukkan bagaimana sebuah persahabatan harus dijunjung.

Dayan, pejuang asal Bali, datang mendadak menolong untuk kawan-kawannya.
Dayan, pejuang asal Bali, datang mendadak untuk menolong kawan-kawannya.

Hal serupa juga ditunjukkan oleh Thomas ketika ia hendak menghajar Marius karena disangka meninggalkan Dayan di antara pasukan Belanda. Pun, ekspresi tawa sekaligus tangis Thomas begitu kental kala melihat Marius datang membawa pesawat. Kedatangan Marius tak lama setelah Dayan tiba.

“Lihat itu,” kata Thomas pada Amir, Senja, dan Budi (Aldy Zulfikar) yang nyaris mati diberondong peluru Belanda. Tawa dan tangisnya bercampur. “Marius datang bawa pesawat.”

Film ini layak untuk ditonton oleh siapa saja yang rindu pada patriotisme kulit coklat. Dan film ini, bagi saya, mendorong orang untuk mempertanyakan sesuatu yang masih amat relevan untuk zaman ini: Apa kabar gerakan Islam itu? Mengapa kelak menjadi kesatuan layaknya militer? Dan, apa kabar nasib negeri-negeri di Indonesia?

(77)

TM. Dhani Iqbal TM. Dhani Iqbal lahir di Medan, Sumatera Utara. Menulis sejumlah esai, feature, dan cerpen di sejumlah media massa, juga beberapa buku: "Sabda Dari Persemayaman" (novel), "Matinya Rating Televisi - Ilusi Sebuah Netralitas", dan "Prahara Metodis". Melewati karir jurnalistik di beberapa media massa berklaim nasional, baik cetak, televisi, dan online, di Jakarta, dengan konsentrasi sosial, politik, dan kultur. Kini berjibaku di media LenteraTimur.com.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *