Home Nukilan Layar Balibo Five dan Perang Cara Pandang
1

Balibo Five dan Perang Cara Pandang

49
1

Tentara Indonesia Menyerbu.
Tentara Indonesia Menyerbu. Foto-foto: www.balibo.com

Sebuah helikopter melayang-layang di udara. Seorang tua kulit pucat bersama seorang muda Timor panik. Tak lama keduanya berlari tak karuan. Helikopter itu mulai memberikan tembakan-tembakan. Si tua terperosok sembari berlindung di balik sebuah ceruk pepohonan besar.

Inilah secuplik dari film kontroversial Balibo Five yang berlatarbelakang perang pada 1975 di perbatasan Indonesia dengan Timor, tepatnya di Desa Balibo. Film ini berplotkan arus mundur (flashback) dari ingatan seorang Juliana, diperankan oleh Bea Viegas, yang masa kecil hingga dewasanya mengalami tekanan batin luar biasa. Perempuan itu menceritakan kisahnya di depan seorang pewawancara berkulit pucat.

Saat bercerita itulah film ini memusarkan diri pada kasus tewasnya lima jurnalis asal Australia. Dan si tua yang ditembaki itu, Roger East, yang diperankan oleh Antoni La Paglia, adalah seorang wartawan tua asal Australia yang datang ke Timor untuk mencari kelima jurnalis itu. Kelimanya adalah Greg Shackleton, Tony Stewart, dan Gary Cunningham dari Channel 7, dan Brian Peters dan Malcolm Rennie dari Channel 9.

Sebetulnya, East tak peduli dengan apa yang terjadi di Timor. Namun, Jose Ramos Horta, utusan dari pemerintahan darurat Timor yang diperankan oleh Oscar Isaac, membakar sentimen East. Horta ingin agar East membantu perjuangan rakyat Timor dengan mengendalikan kantor berita. Terlebih, Australia tahu apa yang terjadi di Timor, termasuk kasus hilangnya kelima jurnalis itu.

Tak lama setelah tiba di Timor, dalam perjalanan di tengah hutan menuju Balibo untuk mencari tahu nasib kelima jurnalis itu, East dan Horta disambut hujan peluru dari sebuah helikopter. Dan ini sempat membuat East gentar. Ia berpikir untuk pulang saja. Tapi di hutan itu Horta kembali membakar emosi East. Kata Horta, hal semacam inilah yang terjadi pada lima jurnalis asal Australia itu. Helikopter Indonesia, yang dibuat oleh Amerika Serikat, menembaki mereka berdua karena informasi dari intelijen Australia.

Pada bagian lain, film ini menggambarkan, dengan cukup detail, apa yang terjadi pada kelima jurnalis televisi itu. Kelima jurnalis itu, dengan naluri mendapatkan eksklusifitas gambar, tidak turut berlarian sebagaimana yang dilakukan pasukan Timor saat pasukan Indonesia menyerbu. Alih-alih lari, mereka justru mengambil arah berlawanan. Mereka mengambil tempat di sebuah tembok yang memungkinkan mereka berlindung sembari mengambil gambar.

Tak lama, muncullah orang-orang bersenjata namun tak berseragam militer. Bahkan ada yang mengenakan celana pendek layaknya turis. Sekilas, ini mengingatkan kita pada laporan majalahJakarta Jakarta pada Januari 1992 (Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, Edisi II, 2005), dimana tentara Indonesia tak berbaju dan bawa senjata saat insiden Dili meletus pada 12 November 1991.

Jurnalis Australia bersiap meliput kedatangan pasukan militer Indonesia.
Jurnalis Australia bersiap meliput kedatangan pasukan militer Indonesia.

Kelima jurnalis itu bergulat dengan detik. Mereka bertahan demi keyakinan bahwa pasti ada diantara orang-orang itu yang berseragam militer Indonesia. Pasukan tak berseragam itu kian mendekat. Setelah mendapatkan gambar yang dimaksud, juga karena kian terdesak, mereka kabur kencang-kencang. Tapi sayang, mereka terkepung. Dengan kepanikan luar biasa, akhirnya mereka bersembunyi di sebuah rumah kosong.

Di luar rumah persembunyian itu, orang-orang tak berseragam tadi berteriak-teriak, “Hajar!”, “Hajar!”, dan berbagai celotehan lain dengan aksen Indonesia. Di sini saya merasakan keganjilan. Orang-orang itu adalah pasukan militer. Apakah memang begitu sikap militer saat berperang atau melakukan penyergapan atau pengepungan? Dalam pikiran saya,militer itu berbasis komando, dan tidak berteriak-teriak “Hajar!”, “Hajar!”, seperti preman kampung yang hendak menyerang kampung tetangga.

Dalam pengepungan itulah kelima jurnalis televisi tersebut tewas ditembak. Dan Roger East sendiri tewas oleh tentara Indonesia yang datang secara tiba-tiba melalui udara Kota Dili pada 7 Desember 1975. Ketika itu East sedang bekerja, memimpin kantor berita dari negeri yang ditempur Indonesia.

Sikap Nasionalis?
Entah disengaja atau tidak, film ini lahir setelah pengadilan koroner New South Wales, Australia, memutuskan pada November 2007 bahwa Tentara Nasional Indonesia adakah pelaku pembunuhan terhadap lima jurnalis Australia. Dan pada Agustus 2009 lalu, Polisi Federal Australia berencana menyeret mantan petinggi tentara Indonesia ke Mahkamah Internasional sebagai penjahat perang.

Secara konsitusional, perang 1975 itu sepertinya memang bermasalah. Ketika itu, Jenderal Suharto selaku Presiden Indonesia nyatanya memang tidak pernah meminta persetujuan kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk melakukan perang. Sebagai seorang diktator, barangkali ia merasa tidak perlu mengindahkan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 11 yang mengatur perihal tindakan perang atau perdamaian dengan negara lain.

Apakah perseteruan Indonesia dengan Australia akan memasuki babak baru? Entahlah. Yang jelas, diktator Suharto memang telah meninggalkan persoalan besar buat generasi Indonesia berikutnya. Dan rasanya itu menjadi persoalan pelik, tentang bagaimana seorang nasionalis harus menyikapi persoalan Balibo ini.

Semata Fiksi

Lima jurnalis Australia berlari karena dikejar tentara Indonesia.
Lima jurnalis Australia berlari karena dikejar tentara Indonesia.

Film ini memang jelas tidak berimbang. Ia menempatkan Indonesia sebagai si hitam dan Timor sebagai si putih dari sebuah perseteruan politik global yang kompleks. Namun demikian, bagaimanapun film adalah sebuah fiksi. Dan fiksi memiliki dunianya sendiri. Merujukkannya secara total pada realitas sama dengan memasuki kamar yang salah. Sama halnya ketika pada 1965 pengadilan Sumatera Utara mengadili cterita pendek Ki Pandjikusmin yang mashyur itu karena dianggap mendiskreditkan agama Islam.

Dan pelarangan sebuah film dari Lembaga Sensor Film, yang notebene lembaga pemerintah, sungguhlah bukan hal cerdas. Keberadaan teknologi komunikasi internet sudah tak bisa dibendung. Alih-alih sentralistik, penyebaran informasi kini terjadi secara acak. Pemutaran film ini di berbagai tempat secara tegas telah membuat pemerintah kian kehilangan wibawanya.

Dalam adat pikiran sesaat saya, semestinya yang melarang film itu adalah pihak Australia sendiri. Sebab, tindakan Australia itu akan dipandang sebagai sebuah tantangan serius bagi Indonesia. Namun Perdana Menteri Australia Kevin Rudd justru mengembangkan layar lebar-lebar. Ia akan tetap membawa kasus lima jurnalis yang tewas pada 1975 itu ke depan hukum. Dan film ini, yang bagi saya nilai propagandanya setara dengan film G30S/PKI, pun terus beredar dari satu tempat ke tempat lain.

Sementara itu, dalam adat pikiran yang berkebalikan dengan Australia, Indonesia pernah melarang film Romusha (1973) karya Sjumandjaya demi menjaga hubungan baik dengan Jepang. Begitu juga lagu Terang Bulan yang pernah dilarang Sukarno untuk dinyanyikan oleh orang Indonesia karena, kabarnya, sudah diberikan kepada Malaysia untuk dijadikan lagu kebangsaan.

Sekilas, Indonesia adalah negara yang tak mau ribut-ribut dengan orang luar. Namun, berkebalikkan dengan itu, Indonesia juga memproduksi film-film yang menunjukkan kelakuan bandit-bandit Belanda atau Inggris, macam film Nagabonar atau film Merah Putih. Hanya saja, saya belum mendengar ada protes dari Belanda atas film-film tersebut.

Dalam konteks tewasnya jurnalis Australia pada 1975, biarlah itu menjadi urusan diplomat-diplomat Indonesia, yang sekaligus dapat kita uji sejauh apa nyalinya melawan negara koloni Inggris itu. Sedangkan dalam konteks film, ada baiknya jika seniman-seniman Indonesia segera membuat film tandingan yang setara dengan Balibo Five.

(49)

TM. Dhani Iqbal TM. Dhani Iqbal lahir di Medan, Sumatera Utara. Menulis sejumlah esai, feature, dan cerpen di sejumlah media massa, juga beberapa buku: "Sabda Dari Persemayaman" (novel), "Matinya Rating Televisi - Ilusi Sebuah Netralitas", dan "Prahara Metodis". Melewati karir jurnalistik di beberapa media massa berklaim nasional, baik cetak, televisi, dan online, di Jakarta, dengan konsentrasi sosial, politik, dan kultur. Kini berjibaku di media LenteraTimur.com.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. Sejarah masuknya Inggris ke Australia, orang2 aslinya dibantai dan sekarang suku Oborigin dibuat mati perlahan lahan(mati perdata). Tdk mendapat kedudukan apa2 di tanah kelahirannya dan malahan mendpt perlakuan tdk baik

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *