Home Featured Modern Ala Indonesia

Modern Ala Indonesia

13
3
Panggung tempat berlangsungnya harmonisasi kebudayaan antaretnik.. Foto: LenteraTimur.com/Ken Miryam Vivekananda Fadlil.

Di atas panggung, muncul dua penari yang membawakan tarian adat Papua dengan diiringi tabuhan tifa bertalu-talu. Selang beberapa lama, seorang penari berpakaian adat Dayak menyusul masuk panggung dengan membawakan tarian khasnya sendiri. Musik pun berganti kumandang seiring kedatangan sang putri Dayak. Penari Papua sontak menyambutnya dengan melakukan tarian Dayak pula.

Adegan ini merupakan bagian dari peluncuran program PESONA (Pesanan Oleh-Oleh Nusantara) dari Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) di Hotel Four Seasons, Jakarta, pada Rabu, 4 Agustus 2010. PESONA merupakan program yang dirancang untuk menasionalkan makanan lokal melalui layanan jasa pengiriman.

Karena terkait dengan upaya melintas batas kuliner seluruh Indonesia, tak heran jika peluncurannya pun lantas menggunakan atribut-atribut kebudayaan yang ada di Indonesia. Sejumlah etnis yang ada di Indonesia dipadukan dalam harmoni gerak yang dinamis dan menarik.

Setelah penari Papua menarikan tarian Dayak tadi, muncul sepasang muda-mudi Melayu, yang dicirikan dengan baju kurung dan teluk belanga, menari rentak di atas panggung. Sang Papua dan sang Dayak pun turut bergoyang sesuai irama Melayu. Ditengah tarian, penari Melayu dan penari Papua menampilkan atraksi saling bertukar pasang. Selanjutnya, keriuhan nada Melayu lantas digantikan dengan alunan gamelan Bali yang dinamis, seiring masuknya seorang penari Bali. Koreografi gerakan pun sontak berganti; dari tari Melayu ke tari Bali.

Saat itu, saya seperti disuguhkan tarian kecak di atas panggung. Kenapa seperti? Sebab, yang melingkari sang penari utama seraya bersimpuh dan mengangkat kedua belah tangannya bukanlah mereka yang menggunakan sarung kotak-kotak hitam-putih, sebagaimana khas Bali, melainkan mereka yang berpakaian adat Papua, Dayak, dan Melayu.

Pertunjukan belum berakhir di sini. Bunyi gesekan rebab yang menyayat kemudian terdengar mengalihkan denting gamelan Bali. Rebab tersebut menandakan kehadiran sang jawara Betawi berbaju koko yang mempertontonkan gerakan-gerakan silatnya. Seluruh penari, wakil dari suku-suku lain yang telah lebih dulu di atas panggung, pun segera menyambut kedatangan pesilat ini dengan melakukan gerakan tari sesuai gerak sang pesilat.

Selintas, saya merasa bahwa inilah wujud nyata dari praktik multikultural yang selama ini jarang merasuk dalam keseharian kita. Dan kesadaran untuk mengemas acara peluncuran produk baru dengan praktik kebudayaan serupa ini memang sudah tercium sejak awal.

Sejak pukul 19.30, lagu “Kicir-Kicir” dari Betawi telah dimainkan secara dinamis sebagai pembuka acara. Aransemen lagu tersebut dimainkan dengan paduan alat musik tradisional dan modern oleh para pemusik berseragam hitam. Tanpa terhenti, lagu rakyat ini kemudian beralih ke irama “Yamko Rambe Yamko”. Buat saya, ini lagu yang sudah lama sekali tak saya dengar. Terakhir kali saya mendengarnya mungkin di sekolah dasar.

Nuansa Minang kemudian terdengar kental di lagu ketiga. Betapa ada perasaan hangat yang menjalar-jalar di hati saya saat mendengar musik-musik rakyat ini berkumandang di sebuah hotel mewah di Jakarta.

Di penghujung irama Minang, bunyi saluang yang tadinya mendominasi lalu sayup menghilang. Nadanya tergantikan oleh permainan saksofon tunggal yang melagukan  melodi sebuah lagu nasional, “Tanah Air Beta”. Alunan saksofon di malam yang gerimis menambah syahdunya suasana acara yang berlokasi di sisi kolam renang ini. Dalam hati, saya pun ikut mendendangkan lirik lagu ini dengan perasaan bergetar.

“Indonesia tanah air beta… Pusaka abadi nan jaya… Indonesia sejak dulu kala… tetap dipuja-puja bangsa….”

Mata saya terkunci menatap panggung bernuansa Jawa dan Bali itu. Saya tersadarkan, betapa jarangnya praktik-praktik nasionalisme seperti ini saya temukan. Di panggung hitam itu, kekinian dan masa lalu bertemu dan menghasilkan harmonisasi nada yang betul-betul baru. Saya tersenyum lega. Ternyata, JNE masih mampu menarik makna; di saat budaya kita sendiri begitu indah, kaya, dan belum tereksplorasi seluruhnya, apalah gunanya membarat-baratkan segalanya?

Konferensi pers dalam peluncuran program PESONA dan buku Jejak Kuliner Indonesia. Dari kiri ke kanan: Pemimpin Redaksi Wisataloka (kini LenteraTimur.com) TM. Dhani Iqbal, Direktur Eksekutif JNE Johari Zein, Direktur Pemasaran Mohamad Feriadi, dan Corporate Communications Senior Manager JNE Visi Firman. Foto: Dede Murdy

Peluncuran Buku Jejak Kuliner Indonesia
Praktik nasionalisme ini juga ternyata mewujud dalam buku Jejak Kuliner Indonesia yang diluncurkan pada malam yang sama. Di halaman pembuka buku ini, Direktur Eksekutif JNE, Johari Zein, yang akrab disapa Jo, mengatakan, ide awal mencatat kuliner khas di negeri ini bersumber dari tingginya intensitas perjalanan yang dilakukan JNE untuk memperluas jaringan ke seluruh Indonesia. Perjalanan inilah yang kemudian mempertemukan mereka dengan fenomena-fenomena menarik terkait kuliner khas daerah.

“Latar sejarah, kisah manusia yang berada dibelakang masakan tersebut, hingga citarasa khas yang tak bisa saya temui selain di tempat asalnya, tak pelak menjadi sebuah kekayaan yang tidak terukur nilainya. Dengan kemajuan teknologi dan transportasi saat ini, sesungguhnya memang sudah tidak lagi menjadi kendala bagi kami untuk mengantarkan citarasa. Ya, mengantarkan citarasa dari satu tempat ke tempat lainnya di Indonesia. Namun demikian, kami yakin dokumentasi yang baik tetap dibutuhkan,” demikian tukas Jo dalam pengantar buku setebal 400 halaman ini.

Ide Jo ini kemudian disambut baik oleh redaksi Wisataloka.com (kini Lenteratimur.com). Ada niat yang segendang seirama antara JNE dengan Wisataloka.com dalam upaya pendokumentasian kuliner khas seluruh Indonesia. Dalam waktu empat bulan, buku yang memuat  feature hasil reportase dan wawancara dengan penjual asli dan pakar kebudayaan setempat pun berhasil diterbitkan.

“Buku Jejak Kuliner Indonesia bukan hanya menjawab kerinduan masyarakat terhadap makanan khas daerah, tapi juga mendokumentasikan apa yang sudah kita miliki sendiri dan meminimalisasi punahnya sebuah produk kebudayaan,” tutur Pemimpin Redaksi Lenteratimur.com, TM Dhani Iqbal, yang kerap disapa Iqbal, saat konferensi pers berlangsung.

Disaksikan Bondan Winarno, Pemimpin Redaksi Wisataloka.com TM. Dhani Iqbal bercerita sedikit tentang buku Jejak Kuliner Indonesia. Foto: Wisataloka.com/Ken Miryam Vivekananda Fadlil
Disaksikan Bondan Winarno, Pemimpin Redaksi Lenteratimur.com TM. Dhani Iqbal bercerita sedikit tentang buku Jejak Kuliner Indonesia. Foto: Lenteratimur.com/Ken Miryam Vivekananda Fadlil.

Saat di atas panggung bersama Bondan Winarno, pakar kuliner Indonesia, Iqbal memang mengungkapkan bahwa banyak makanan-makanan khas Indonesia yang sedang atau telah punah. Kepunahannya disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya karena masuknya makanan-makanan dari tempat lain.

“Makanan yang memberikan ancaman atas eksistensi makanan lokal itu tak hanya datang dari KFC (Kentucky Fried Chicken) atau makanan-makanan cepat saji dari barat, warung padang pun ternyata kerap dianggap sebagai ancaman”.

Mendengar ini, Bondan pun mengamini.

“Agar tak punah, makanan memang tak boleh hanya sekadar dimakan, tapi juga harus diceritakan. Kalau ikut bahasa anak sekarang; di-lebay-kan agar maknyus,” seloroh Bondan di atas panggung.

Pada malam itu, melalui buku, gerak, dan lagu, JNE telah membuktikan adanya visi kebangsaan dan kebudayaan Indonesia dalam nafas bisnisnya. Hal ini tentu saja membawa harapan segar. Jika modern dimaknai sebagai hal yang baru, maka ini adalah wujudnya. Andai saja banyak pihak terinspirasi akan hal ini, tentunya, dengan mengutip kalimat Iqbal dalam pengantarnya di buku Jejak Kuliner Indonesia, “…apa-apa yang menjadi identitas Indonesia dapat berdiri sama kuat, kokoh, bergerak keluar, dan tak mudah tersapu angin”.

(13)

Ken Miryam Vivekananda Fadlil Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

Comment(3)

  1. Kemarin saya ke Gramedia di Semarang. Belum ada ya?

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Tahniah saudaraku… TM. Iqbal… serta seluruh perangkat redaksi wisataloka spesial buat Ken Miryam, atas peluncuran Buku Jejak Kuliner Indonesia. Bagaimana patik bisa dapatkan bukunya. Apa sudah ada di pasaran?

    Peluncuran buku JKI ini sangat mengispirasi hamba.

    Sekali lagi selamat… Sukses!!!

    Tabik patik,
    Tengku Irham Kelana (Rumah Budaya Nusantara)

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *