Home Geokultur Dari Binde Biluhuta ke Es Krim Medan

Dari Binde Biluhuta ke Es Krim Medan

6
0
Makanan khas yang didatangkan langsung dari daerahnya ke Jakarta. Foto-foto: Dede Murdy.

Meja bundar bertaplak putih di hadapan saya tampak semarak. Semangkuk binde biluhuta asal Gorontalo hadir sebagai makanan pembuka. Kemudian, berturut-turut datang sepiring kepiting balikpapan, ayam taliwang, sate madura, tongseng, dan karedok betawi. Tak ketinggalan pula makanan khas Indonesia lainnya. Sebut saja mi medan, gudeg jogja, lumpia semarang, atau bolu meranti keju. Terakhir, es krim medan pun muncul sebagai penutup.

Semua panganan khas ini didatangkan langsung dari daerah asalnya. Ia terhidang apik dan menggugah selera. Dalam hati saya berdecak kagum. Mendatangkan beragam makanan khas seluruh Indonesia langsung dari daerahnya pada satu meja dan pada satu waktu tentu bukan perkara mudah.  Akan tetapi, pada acara peluncuran produk terbaru dari Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) yang bertajuk PESONA (Pesanan Oleh-Oleh Nusantara) yang berlokasi di Hotel Four Seasons, Jakarta, Rabu, 4 Agustus 2010, perusahaan anak negeri ini  telah membuktikan bahwa mereka mampu mewujudkan hal yang tak mudah itu.

“Dengan PESONA, kami ingin mengenalkan makanan sebagai budaya lokal agar dapat dirasakan secara nasional. Kalau dulu kita hanya bisa merindukan makanan-makanan khas daerah, kini kita tinggal angkat telefon dan hubungi JNE. Konsumen dimungkinkan untuk membeli makanan khas daerah lain tanpa harus melakukan perjalanan keluar kota. Produk ini diharapkan juga mampu menghidupkan UKM yang ada di daerah-daerah, sehingga originalitas dan kelestarian produk lokal tetap akan terpelihara,” papar Direktur Eksekutif JNE, Johari Zein, yang akrab dipanggil Jo ini, dalam konferensi pers yang digelar sebelum acara berlangsung.

Direktur Eksekutif JNE Johari Zein.

Pada kesempatan tersebut, Jo meyakinkan bahwa makanan yang akan dikirimkan, yang ada di katalog, sudah melalui seleksi kelayakan sehingga aman dikonsumsi. Namun, jika makanan yang diinginkan tidak ada di katalog, JNE tetap akan melayaninya melalui apa yang disebut layanan PESONA Suka-Suka. Pemesan cukup hanya memberikan data lokasi, jenis, dan jumlah makanan.

Tapi, bagaimana jika ada keterlambatan, tak sampai, atau rusak? Ternyata, JNE menjaminnya dengan pengembalian biaya. Dan soal biaya, JNE memastikan bahwa harga makanan yang diperoleh konsumennya sama seperti harga jual dari produsen.

“Yang dibayar hanya actual cost dari penjual dan ongkos kirim saja. Biaya penjemputan dan pengantaran kami hitung sebagai bentuk CSR (corporate social responsibilities) JNE,” jelas Jo.

(6)

Ken Miryam Vivekananda Fadlil Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *