Home Featured Tanah Air Beta: Harga Sebuah Nasionalisme

Tanah Air Beta: Harga Sebuah Nasionalisme

104
6

Setiap konflik senantiasa menyertakan duka. Tidak hanya struktur sosial atau pemerintahan yang menjadi kacau balau, tetapi juga keluarga. Perpisahan di antara mereka yang saling menyayangi pun kadang menjadi tak terelakkan. Kondisi semacam itulah yang hendak diangkat dalam film Tanah Air Beta.

Film besutan Ari Sihasale, yang diluncurkan perdana pada 14 Juni 2010 di Planet Hollywood, Jakarta, ini tampaknya hendak menunjukkan adanya duka-duka terabaikan di balik narasi besar perseteruan Indonesia dan Timor Leste. Duka itu bermunculan tak lama setelah referendum berdarah pada 1999 di Timor Leste yang berujung pada pisahnya tetangga Nusa Tenggara Timur itu dari Indonesia.

Kesuraman pun muncul pada adegan pembuka. Di sana ada eksodus besar-besaran dari mereka yang memilih bergabung dengan Republik Indonesia sebagai tanah airnya. Langkah kaki-kaki tak bersepatu. Panasnya tanah berdebu. Matahari yang menyengat. Kibaran bendera merah putih yang lusuh di atas gerobak yang kepayahan. Semuanya dibalut dengan alunan musik yang dapat membuat orang merasa tercekam. Dan pada saat yang sama, penonton pun sontak diajak bertanya, demi alas an apakah sesungguhnya mereka mau melakukan eksodus itu?

Jawaban atas pertanyaan ini memang tak kunjung ditemukan hingga film berujung. Film ini lebih cenderung mewujudkan gambaran romantika kasih sayang seorang ibu, Tatiana (Alexandra Gottardo) pada anaknya, Merry (Griffit Patricia) dan Mauro (Marcel Raymond).

Tatiana dan Merry, yang hidup di sebuah kamp pengungsian di Kupang, Nusa Tenggara Timur, harus berjuang menjalani hidup yang keras dan susah. Dalam kehidupan yang berantakan pascakonflik, keduanya pun memendam rindu seraya terus berjuang menemui Mauro, abang Merry, yang tertinggal di Timor Leste.  Perjuangan Tatiana dan Merry untuk berkumpul kembali dengan Mauro ini kemudian dibantu oleh Abu Bakar (Asrul Dahlan) dan Carlo (Yehuda Rumbindi).

Film ini diperankan oleh banyak bintang, seperti Alexandra Gottardo (Tatiana), Asrul Dahlan (Abu Bakar), Lukman Sardi (Lukman), Yehuda Rumbindi (Carlo), Robby Tumewu (Koh Ipin), Thessa Kaunang (Ci Irene), Ari Sihasale (Dr. Joseph), Griffit Patricia (Merry), Marcel Raymond (Mauro), dan Martalita Nadia (Merry Kecil).

(104)

Ken Miryam Vivekananda Fadlil Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

Comment(6)

  1. Obrigado, Alenia. Berkat film ini sa jadi lebih cinta MERAH PUTIH-INDONESIA, kapan bisa ke bogor sa tunggu. Obrigado!!!!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Minta fotonya Marcel Raymond ya 🙂
    Makasih.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Film TANAH AIR BETA … Film inilah yang telah membangkitkan semangat yang telah hilang buat kita yang berada di tanah Timor…. Sukses selalu buat FILM TANAH AIR BETA. N Thanks a Lot buat MAS ARI SIASALE WITH CREWnya…
    THEnGS….
    GBU Alwayssssss….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Hidup film Indonesia!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *