Home Lentera Timur Channel Keindonesiaan dalam Perspektif Papua

Keindonesiaan dalam Perspektif Papua

22
7

Fadhal Alhamid, pemuda Papua yang menjadi pembicara pertama dalam Dialog Nasional Pemuda bertajuk “Menyoal Identitas Kebudayaan Indonesia”, 20 Mei 2010, di Jakarta, mengatakan bahwa Belanda tidak melakukan penyerbuan atau praktek penjajahan di tanah Papua. Alih-alih merusak atau membunuh, Belanda justru menggelar pendidikan dan juga pembangunan bagi masyarakat Papua.

Terkadang, kata Fadhal dalam acara peringatan Hari Kebangkitan Nasional tersebut, ketika orang kecewa dengan pemerintah Indonesia, orang kemudian bernostalgia dengan zaman Belanda yang dianggap baik, termasuk soal pendidikan.

“Kalau ajar membaca… ‘ini api, api menyala, babi lari’. Sesuatu yang kemudian mengakar dalam realita. Sekarang, ‘ini pak madi, pak madi ke sawah’. Siapa pak madi? Sawah mana? Orang papua tidak kenal sawah. Orang papua kenal hutan sagu.”

Terlepas dari perbedaan sejarah, kebudayaan, dan ras dengan kebanyakan negeri-negeri di Indonesia, Fadhal berharap Papua dapat diterima dalam keragaman Indonesia. Papua semestinya diberi ruang untuk turut membentuk dan mewarnai identitas keindonesiaan.

Namun, persoalannya tidak mudah. Dalam berbagai iklan yang setiap hari tayang di ruang-ruang media massa, apa yang disebut cantik itu adalah orang yang berambut lurus dan berkulit putih. Dan kriteria itu membuat orang Papua, di tanahnya sendiri, sulit untuk mengisi posisi-posisi tersebut di pasar, seperti bank atau supermarket.

Fadhal Alhamid: Keindonesiaan Dalam Perspektif Papua. Foto: Redaksi.

Bahkan, ketika ada kontes putri kecantikan yang dibuat oleh kelompok Dharma Wanita di Papua, putri-putri (suku) Dani diajak untuk menjadi putri Jawa, yakni dengan memakaikan sanggul dan kebaya pada tubuhnya. Padahal, perspektif kecantikan bagi orang (suku) Dani bukan itu.

“Perempuan yang cantik itu yang tangannya kuat. Kepalanya kuat untuk memanggul itu noken. Dia orang yang pandai mengurus kebun, pandai mengurus anak, pandai mengurus babi. Itulah perempuan Papua, perempuan Dani yang cantik.

Fadhal juga mencatat persoalan militerisme di papua. Menurutnya, pemerintah dan militer Indonesia lebih merasa terganggu ketika bendera bintang kejora berkibar ketimbang sekolah dan layanan kesehatan tidak berfungsi. Nasionalisme Indonesia hanya hadir dalam bentuk pos-pos militer dan bendera merah putih.

Kalau ada yang menaikkan bendera Bintang Kejora, pemerintah dan militer Indonesia tidak pernah menanyakan kenapa bendera tersebut dinaikkan. Kalau ada yang menaikkan bendera, maka tindakan keras langsung diambil: tangkap, adili, penjara.

“Padahal kalau ada yang kasih naik itu bendera, itu bisa saja karena anaknya tidak lolos itu pegawai negeri, gajinya sekian bulan tidak dibayar, atau karena hutannya dirampas,” kata Fadhal.

(22)

Redaksi Redaksi LenteraTimur.com

Comments with Facebook

Comment(7)

  1. DIMANA PANCASILA KITA

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Gila. Sedih amat sih. Prihatin dengernya. Orang Indonesia memang masih susah terima perbedaan. Semoga kondisi ini berubah ke arah yang lebih baik.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Hebat.
    Kalau saja ada lebih banyak orang yang paham dan peduli tentang masalah2 seperti ini, akan tidak mengherankan kalau orang Indonesia berikutnya jadi benar2 berbudaya.

    Salam Sukses!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Hidup Fadhal!!!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Jujur saja, saya baru “ngeh” soal nasib dan keadaan Papua, setelah saya nonton bioskop yang filmnya berjudul Indonesia Tanah Air Beta.

    Moga-moga pemerintah mendengarnya. Tetapi seminar di Gedung Joeang 45, apakah presiden mau hadir dan mendengarkan? Mudah-mudahan.

    Semoga perjuangan Anda berhasil, saya terus mensosialisasikan soal ini, dimana pun saya berada. Salam sukses.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
    1. Maaf koreksi dikit. Tanah Air Beta itu setting-nya di Timor dan tentang orang-orang Timor. Kalau Papua, nontonnya Denias. Tapi di Denias itu pun sudah sangat di-“ringan”-kan penderitaan orang Papua-nya. (di film itu, tentara tampaknya mulia sekali ;p)

      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Siapa saja boleh berkomentar lebih dalam kekejaman & kezaliman atas sesamanya tetapi Pencipta manusia itu maha adil dan maha penyayang atas semua makhluk berbudi pekerti di muka bumi ini….

    Salam sukses buatmu

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *