Home Lancong Hujan Berhias di Tanjung Lesung
2

Hujan Berhias di Tanjung Lesung

67
2
Tanjung Lesung saat hujan rinai. Foto-foto: Arnellis.

Dari tempat duduk, seharusnya saya bisa memandang Gunung Krakatau secara jelas. Sayang, saya belum beruntung. Sepagian ini hujan membuat uap air melayang di atas laut Selat Sunda. Pemandangan menjadi terbatas. Namun saya masih bisa tersenyum memandang pasir putih basah digelung ombak. Rintik hujan ternyata tak menghalangi keindahan daerah ini: Tanjung Lesung.

Dengan menggunakan mobil pribadi, saya melancong ke kawasan wisata di Jawa Barat ini. Dari Jakarta melewati Tangerang, Serang, Pandeglang, Labuan, hingga sampai di Tanjung Lesung, dibutuhkan waktu sekitar 4-5 jam. Jika tidak mampir makan rabeg di Serang dan membeli ikan di Labuan, mungkin perjalanan hanya butuh kurang dari empat jam.

Saat cuaca cerah, Gunung Krakatau bisa terlihat jelas dari tempat ini.

Pantai berpasir putih menghampar di sepanjang daerah yang menjorok ke laut hingga ke daerah lengkung dekat muara sungai. Dari atas, lengkungannya mirip lesung, alat untuk menumbuk padi. Saya, yang menginap di sebuah rumah penduduk yang kebetulan kenalan salah seorang teman, kemudian menuju salah satu resort. Dengan satu mobil yang berisi lima penumpang, biayanya adalah Rp. 50 ribu.

Dibuka oleh pemerintah daerah pada Januari 1998, kawasan wisata Tanjung Lesung memiliki luas 150 hektar. Di kawasan ini, berbagai resort, cottage, juga hotel banyak bertebaran dengan ragam fasilitas dan harga. Setiap resort menempati kavling-kavling yang menawarkan keunggulan masing-masing. Beach Club yang berada di kavling C1, misalnya, menyediakan beragam fasilitas olahraga air dan perjalanan wisata. Sebut saja peralatan permainan jet ski, banana boat, kayak, atau menyelam berjajar yang  berada di sebelah restoran dengan dekorasi laut yang menarik.

Saya tertarik pada penawaran perjalanan wisata ke gunung berapi Krakatau yang bisa ditempuh selama 1,5 jam dengan speed boat. Tapi biayanya sangat mahal untuk kantong saya, yaitu Rp. 5,5 juta per trip untuk rombongan delapan orang. Trip ke Ujung Kulon juga tersedia dengan harga Rp. 6 juta per trip. Pilihannya adalah Ujung Kulon Peucang Family Trip, Ujung Kulon Cigenter River Trip, atau Ujung Kulon Lighthouse Trip.

Berbagai permainan air yang ditawarkan resort.

Di seberang pantai Tanjung Lesung tampak sebuah pulau. Namanya Pulau Liwungan. Petugas Beach Club mengatakan ia bisa mengantar saya ke sana dengan perahu motor selama setengah jam dengan biaya Rp. 400 ribu per perahu. Saya tertarik, tapi sepertinya tidak mungkin saya ke sana dalam cuaca seperti ini. Hujan masih membayang dan membuat jarak pandang saya terbatas. Ombak melemparkan karang-karang mati ke tepian pantai. Angin berhembus dingin dan menderakkan dermaga kayu. Burung-burung beterbangan di atas air laut yang menjebak banyak ikan ke tepian. Saya menikmati alam sambil berharap cuaca cerah esok hari.

Pulau Liwungan

Debur ombak membawa karang mati ke pantai Pulau Liwungan.

Ternyata, keesokan pagi, hujan bermain-main lagi. Saya yakinkan diri saya beruntung bertemu keadaan seperti ini. Pergi ke pantai tapi rasanya seperti ke Puncak, adem angin semilir basah. Semalam, saya dan teman mendapat info perahu nelayan yang bisa mengantar ke Liwungan dengan harga separuh yang ditawarkan di resort. Pagi ini bapak nelayan itu datang dan berkata bahwa perjalanan bisa dilakukan saat cuaca membaik. Pukul delapan hujan pun mereda. Rinai masih terasa namun tak membasahi baju. Kami putuskan berlayar saat itu juga menuju pulau di Kecamatan Panimbang, Pandeglang, itu. Perahu motor bermesin satu siap menunggu dekat muara berair coklat. Jumlah kami adalah lima orang ditambah seorang juru mudi dan dua orang awak perahu.

Di perjalanan air berwarna coklat mulai beralih berwarna kehijauan. Terdapat pemandangan menarik selama 40 menit pelayaran. Dua buah kapal berisi batubara parkir di laut. Juru  mudi mengabarkan, kapal itu milik salah satu pembesar terkenal di negeri ini. Keramba bambu berjajar di laut antara dua daratan ini. Kabar si awak perahu, ikan pari dan ikan scorpion pun sering main ke sini.

Pulau Liwungan di kejauhan.

Sampai di Pulau Liwungan, kami disambut seorang ibu di satu-satunya rumah di pulau itu. Ia menjaga rumah milik si pengontrak pulau. Ia berkabar, Pulau Liwungan adalah milik Pemerintah Provinsi Banten yang sedang dikontrak oleh seorang kaya raya. Luas tanah pulau ini kira-kira 50 hektar, tetapi mulai berkurang luasnya akibat abrasi.

Si ibu memperhatikan salah seorang teman kami yang berwajah oriental. Kukatakan padanya, temanku itu berasal dari Shanghai, China. Si ibu lalu bilang, banyak turis asing yang berkunjung ke pulau itu. Di pulau yang berarti kaliwungan atau dikelilingi gunung itu, turis umumnya senang memancing. Ia bilang, anak lelakinya sering membawa turis Amerika, Korea, atau Arab ke pulau itu untuk memancing ikan.

Saat itu datang serombongan pemancing dari Citeureup, desa seberang pulau ini. Saya mengikuti para lelaki itu menuju sisi utara pulau. Mereka berjalan hingga air laut mencapai batas pinggang dan mulai menenggelamkan pancing bambunya. Banyak kayakas atau kepiting kecil berkeliaran di pasir yang sewarna dengan tubuhnya.

Nelayan memancing dengan bambu di Pulau Liwungan.

Saya kembali ke rumah si ibu. Halamannya dipenuhi kayu-kayu yang sebagian sudah dipotong menjadi kayu papan.  Menurutnya, kayu ini didapat dari pohon ketapang di dalam hutan yang terletak di tengah pulau. Saya jadi tertarik untuk berkeliling pulau. Tak sampai dua jam, katanya. Dengan ditemani sang juru mudi perahu, saya dan tiga orang teman memulai berjalan ke dalam hutan. Pohon kelapa, pakis, petai, dan mengkudu banyak dijumpai di sini. Kami menyusuri hutan dan menyisiri pantai. Abrasi memakan tanah hingga beberapa pohon tumbang dan lapuk dimakan air asin. Tiba-tiba seekor biawak melintas cepat di depan kami. Sekelebat saya lihat tubuhnya seukuran anjing besar. Teman saya kaget, tapi kurasa hewan itu yang lebih kaget. Pak juru mudi bilang, di sini juga ada monyet, tapi tak banyak jumlahnya. Ia juga memastikan ular tidak ada di pulau ini.

Di sisi timur, pantai melandai dan pohon-pohon tumbuh rendah. Tampak deretan batu yang berjejer rapi seperti buatan tangan. Pasir putih dikotori rumput laut dan dedaunan mati. Menurut Pak juru mudi, terumbu karang di bagian sini masih bagus. Saya tak bisa mengiyakannya sebab air laut keruh setelah hujan begini. Namun, lanjutnya, banyak wisatawan yang sudah membuktikannya setelah ber-snorkeling atau menyelam di kawasan Gunung Krakatau ini.

(67)

Arnellis Arnellis lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 4 Mei 1985. Lulusan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, ini pernah mengajar Bahasa Indonesia di banyak tempat, baik untuk anak sekolah maupun orang asing. Kini ia bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di sebuah sekolah di Jakarta.

Comments with Facebook

Comment(2)

  1. Aku sudah pernah ke villa kalicaa… Emang enak yah suasananya pantai bersih, pasir putih, n gak rame, bener2 tempat ngadem yang asiiik, apalagai bisa manfaatin olahraga air macem jetski gitu ya, jadi pengen ke sana lagi deh.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. Liliss… Keren artikelnya… Jadi pengen nulis juga, hehe!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *