Home Lancong Nagari Sungai Pinang
4

Nagari Sungai Pinang

242
4
Laut biru dengan ombaknya yang tenang mengantarkan kita menjelajahi satu persatu dari gugusan pulau. Foto-foto: Lenteratimur.com/Arif Budiman.

Nagari Sungai Pinang di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, adalah sebuah kawasan wisata yang kaya dengan potensi wisata bahari. Salah satunya dikarenakan kabupaten ini menghadap ke pantai barat Sumatera.

Selain pesona alam, kawasan ini juga menyimpan catatan-catatan sejarah yang tertoreh dalam ingatan masyarakat. Dari penuturan Pak Datuak atau Uda Datuak, warga setempat, dikatakan bahwa nama Sungai Pinang berasal dari penanam sebatang pohon pinang di kawasan Sungai Pinang Lamo (lama). Kawasan ini berjarak sekitar enam kilometer dari daerah wisata Sungai Pinang sekarang (di Kecamatan Koto XI Tarusan).

Saat ditanam oleh Inyiak (sebutan untuk para orang tua atau sesepuh atau pemuka tokoh masyarakat) di sungai, batang pinang tersebut ditembus oleh air. Artinya, air mengalir melewati atau menembus batang pinang. Kejadian mistis ini kontan membuat warga terkejut dan menilainya sebagai sebuah keajaiban. Sejak itu diambilah penanaman sebatang pinang itu sebagai nama dari sebuah nagari yaitu Sungai Pinang, meskipun kawasan tersebut adalah bukanlah sungai, tetapi laut.

Jarak dari Padang ke kabupaten ini adalah 35 kilometer dengan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan darat. Dan sesampainya di Pesisir Selatan, saya menyambangi sebuah nagari (kecamatan) Sungai Pinang; sebuah kampung kecil yang tepat berada di sepanjang kawasan wisata Mandeh. Sungai Pinang dikenal dengan lima pulau, dan tiap pulaunya menyimpan potensi bahari yang berbeda.

Di sini saya mencoba bertandang ke setiap pulau yang disebut-sebut memiliki kekayaan bahari yang luar biasa. Untuk bisa sampai ke pulau tersebut, saya harus menaiki perahu nelayan yang disewakan masyarakat sekitar. Sebab, di kawasan ini memang belum ada motor boat yang bisa membawa kita keliling pulau layaknya wisata bahari di daerah lain.

Untuk menghampiri satu pulau, lengkap dengan keterangan pemandu, yang dilakoni oleh nelayan itu sendiri, saya harus mengorek kocek Rp. 20 ribu. Memang sangat tradisonal, tapi disinilah kita bisa merasakan asyiknya menjelajahi wisata Sungai Pinang yang memang sangat perawan.

Pulau Pagang

Nama Pagang diambil dari kata Pedagang.

Pulau pertama yang saya kunjungi adalah Pulau Pagang. Nama “Pagang” berawal dari seringnya daratan di tengah laut tersebut disinggahi oleh para pedagang masa dulu, baik dari Eropa, Arab, ataupun Persia. Dari situlah nama Pagang diambil yang bisa diartikan Pedagang.

Saat mendaratkan kaki di pulau ini, sungguh saya takjub. Ternyata pulau ini sudah dikelola oleh sebuah jasa pariwisata bahari. Pengelolanya menyebut Pulau Pagang sebagai pusat pondok wisata rekreasi keluarga. Aksi olahraga pantai bisa kita lakukan di sini, mulai dari diving, berselancar, parasailing, hingga memancing. Semua akan membuat kita tak mampu berkata ingin pulang. Setiap akhir pekan, pulau ini ramai dikunjungi wisatawan asing yang menyewa kapal-kapal persiar.

Tak lama waktu saya bermain-main di pulau ini. Saya mesti mengunjungi empat pulau lagi. Padahal saya masih ingin berlama-lama di Pagang. Apalagi, menurut pemandu, ada masakan khas berupa ikan karang yang sangat lezat. Tapi saya harus melanjutkan perjalanan. Anda akan menjadi orang yang beruntung jika dapat berwisata lebih lama di sini.

Pulau Bintangur
Kali ini saya sampai di Pulau Bintangur. Nama Bintangur berasal dari sebuah pohon besar yang hidup di pulau tersebut, yaitu pohon bintangur. Pohonnya besar dan rindang. Saya hanya mengelilingi pulau ini sebentar. Sebab, pulaunya hanya ditumbuhi pepohonan kelapa dan ratusan anak pohon bintangur yang membukit.

Pulau Karanggo
Perahu motor yang membawa sayapun mengarah ke pulau Karanggo. Jaraknya tidak jauh dari Pulau Bintangur. Sampai di pulau ini, lagi-lagi saya tidak sempat turun dari perahu. Sebab, pulau ini hanya berupa batu karang besar yang dikelilingi pasir-pasir putih. Sangat sulit menemukan landasan pasir yang pas untuk berhenti. Asyiknya, kita berenang dengan pelampung untuk bisa menduduki pulau batu ini.

Menurut pemandu, pulau ini seringkali menjadi penyelamatan ketika ada nelayan yang terdampar.

Di sini, saya menemukan tiga orang turis asing dan satu turis lokal yang sedang asik memancing di atas pulau batu itu. Turis tersebut melambaikan tangannya sambil mengangkat joran pancingan. Ia memberikan isyarat mengajak saya untuk memancing bersama. Saya hanya dapat membalas lambaian tangan mereka.

Senja membelah Sungai Pinang.

Pulau Marak
Sekitar pukul 15.55 WIB, saya sampai di pulau Marak. Jaraknya sedikit jauh dari pulau Karanggo. Ia menjadi salah satu pulau yang kini tengah dikembangkan menjadi kawasan wisata pemiliharaan Ungko dan Siamang. Di pulau ini saya disambut oleh sorakan hewan-hewan mamalia itu, seakan menjadi pertanda ucapan selamat datang. Sekarang, Ungko dan Siamang ini dikelola oleh Yayasan Kalaweit dari Perancis yang bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan.

Pulau ini memang sangat terkenal dengan wisata mamalianya, dan sering dikunjungi mahasiswa perternakan yang ingin melakukan riset. Pulau Marak memiliki luas sekitar satu kilometer dengan panjang dua kilometer. Hamparan pasir putihnya sangat indah dengan jejeran bungalow-bungalo yang siap disewakan pada pengunjung.

Pulau Nyamuk
Awan sore yang sedikit menghitam di langit Merak melepas perjalanan saya menuju pulau Nyamuk. Jarak pulau ini dekat dengan daratan Sungai Pinang tempat saya berangkat pertama tadi. Dengan begitu, ini pulau yang menjadi kunjungan terakhir saya. Sesuai namanya, pulau ini menyimpan jutaan nyamuk dengan beragam jenis spesies.

Lagi-lagi saya tidak turun. Penyebabnya karena saya tidak punya bekal untuk menghadapi jutaan nyamuk itu. Begitu juga dengan pemandu yang tak berani mendaratkan perahunya di pulau itu. Ia beralasan, saya datang sore hari dimana nyamuk-nyamuk justru sedang berkeliaran mencari makan.

Salah satu sudut kawasan Sungai Pinang di wisata Mandeh.

Sayang sekali. Sebab saya begitu ingin mendarat untuk melihat ratusan penyu melahirkan ratusan telur di sepanjang bibir pantai berpasir putih itu. Dan saya hanya dapat melihat dari jauh beberapa penyu yang berenang ke laut.

Perjalanan ke pulau Nyamuk menutup jelajah Saya di lima pulau di kawasan wisata Sungai Pinang. Matahari tenggelam di langit Mandeh pun menghentikan perjalanan saya pada akhir pekan ini.

(242)

Arif Budiman Arif Budiman lahir di Minangkabau, Sumatera Barat. Saat ini ia beraktivitas sebagai mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, angkatan 2008. Pria yang lahir pada 1990 ini sangat berminat pada jurnalisme. Dan hal yang paling ia sukai adalah melakukan peliputan; bergumul dengan fakta-fakta di lapangan. Ia pernah menjadi reporter pada majalah sekolah P’Mails yang diterbitkan oleh koran terbesar di Padang (Padang Ekspres Group) dan penulis di situs resmi dinas pendidikan kota Padang, Selain itu, ia juga pernah melakukan peliputan dalam kegiatan Festival Seni Internasional 2008 di Yogyakarta. Kini ia adalah perwakilan sekaligus desainer LenteraTimur.com di Yogyakarta.

Comments with Facebook

Comment(4)

  1. bagi yang ingin berwisata ke nagari sungai pinang..saya siap membantu..

    soal nya itu adalah nagari kelahiran saya,bukan cuma laut nya yang indah,tapi juga ada sungai yang eksotik…teman2 saya ketagihan ke kampung halaman saya ini..yang ingin berlibur ke kampung saya bisa hub no 082154535530

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Sungai Pinang sangat bagus. Budaya masih kental di sanaaaa….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Sungai Pinang dan Pisang memang kawasan menarik dan eksotik. Saya sering ke area tersebut, dan hingga saat ini tetap saja merindu. Laut tenang dengan kawasan yang beragam pantai di tepi perbukitan. Sangat cocok untuk kegiatan refresh apa saja bentuknya… outbound dll. Cuma sayang saja belum tergarap dan benar-benar diurus secara baik dan pemasaran menarik oleh pihak-pihak yang seharusnya melihat ini sebagai aset pariwisata yang menakjubkan dan menawarkan kesempatan bagi banyak orang. Demi pengembangan aset tersebut yang akan meningkatkan taraf kehidupan masyarakatnya, terutama kaum pesisir, tentunya perlu perhatian dalam modal, pengetahuan (pelatihan), dsbnya…. Semoga Allah Ridho. Tidak perlu seperti Bali. Kita jual saja yang memang budaya negeri…. Nah tentu harus ada bapak angkat dan semacamnya… karena dalam memasarkan diperlukan pula pernak pernik budaya khas yang memang unik dan berkualitas ok. Kalo perlu hadirkan segera dewan/komite persiapan yang memang ahlinya, baik dalam maupun luar…. Semoga.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Saya pernah lihat acara semacam penjelajahan di TVRI edisi nagari sungai pinang ini. Ada sesuatu yang menarik, penduduk di nagari sungai pinang ini sering mencari ikan dengan menggunakan bagan. Nah, katanya, wanita dilarang masuk ke dalam bagan ini. Kenapa ya? Menarik sekali. Alamnya masih sangat asri sekali. Jadi ingin melancong ke sana.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 2.0/5 (2 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +2 (from 2 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *