Home Lancong Budaya Sungai dari Lok Baintan
6

Budaya Sungai dari Lok Baintan

14
6
Suasana Sungai Martapura yang diramaikan oleh kesibukan para pedagang. Foto-foto: LenteraTimur.com/Nasrudin Ansori.

Banjarmasin. Ibukota dari provinsi Kalimantan Selatan ini punya segudang cerita yang menarik untuk disimak. Dari soal nama, misalnya, Banjarmasin berawalmula dari kata “Banjarmasih”, yang cikal bakalnya dapat ditarik dari nama patih Kerajaan Banjar, yakni Patih Masih atau Patih Oloh Masih. Kota ini sendiri berasal dari Desa Oloh Masih atau Kampung Melayu. Dan dalam bahasa Ngaju, Oloh Masih memang diartikan sebagai orang Melayu.

Karena kesulitan menyebut Banjarmasin, orang-orang Belanda, yang melakukan penjajahan ke banyak negeri di Indonesia, menyebut Kerajaan Banjar dengan “Bandzermash”. Pelafalan ini berlanjut hingga 1664, yang terlihat dari surat-surat Belanda yang ditujukan kepada kerajaan.

Selain dari nama yang punya cerita unik, Banjarmasin juga sudah lama dikenal sebagai kota yang akrab dengan air. Pada masa kolonial Belanda, Banjarmasin sudah memiliki pelayaran teratur yang terhubung tidak saja dengan Sampit, Kotabaru, Samarinda, Martapura, Marabahan, Negara, Amuntai, Buntok, Muara Teweh, dan Kuala Kapuas, tetapi juga dengan daerah di luar Kalimantan, seperti Singapura dan Surabaya.

Seorang calon pembeli mendekati salah satu pedagang untuk memilih barang dagangan.

Hingga kini, kehidupan sungai masih menjadi ciri khas di Banjarmasin. Bahkan simbolisasinya bisa ditemui di depan Kantor Walikota Banjarmasin berupa sandaran perahu. Tak heran, jika mendengar nama Banjarmasin, benak sebagian orang melayang pada suasana pasar terapung. Dan untuk itu, ia dikenal dengan julukan “kota seribu sungai”.

Banjarmasin sebenarnya memiliki dua pasar terapung dengan dua lokasi yang berbeda, yakni Pasar Terapung Muara Kuin di Sungai Barito dan Pasar Terapung Lok Baintan di Sungai Martapura. Jika pasar terapung pertama lebih bersifat turistik, maka suasana berbeda akan kita temui di Lok Baintan.

Pasar Terapung Lok Baintan dapat dicapai dalam waktu sekitar satu jam dari Banjarmasin. Dan di pasar inilah kehidupan Banjar yang bersahaja menampakkan diri. Di sini suasananya terasa lebih alami dan sederhana. Pasar ini tercipta sudah lama dan kehidupan di sini memang betul-betul tergantung pada sungai secara turun temurun.

Pada waktu-waktu tertentu, jumlah pedagang di atas sampan di sini bisa mencapai ratusan. Mereka berdagang sayur mayur, buah-buahan, ikan segar, baju, sabun, pasta gigi, bahkan kue terang bulan. Penduduk sekitar Lok Baintan memang tak perlu lagi mengunjungi pasar tradisional di darat. Mereka cukup membeli aneka kebutuhan di pasar terapung.

Setiap pagi, pedagang Pasar Terapung Lok Baintan mengayuhkan sampannya di atas Sungai Martapura.

Salah seorang pedagang di Pasar Terapung Lok Baintan adalah Ibu Yani. Ibu paruh baya ini sudah berjualan di atas sampan sekitar 20 tahun. Baginya, Sungai Martapura adalah lahan untuk mencari rejeki. Barang dagangan yang ia angkut di atas sampan cukup sederhana, diantaranya sayur mayur dan aneka buah hasil kebun, seperti daun singkong, kangkung, hingga buah jeruk.

Setiap pukul 06.00 WITA, Ibu Yani mengawali harinya dengan mendayung sampan ke lokasi pasar terapung di sekitar Dermaga Lok Baintan. Di sana, beserta pedagang lainnya, ia melakukan aktivitas jual beli layaknya pasar tradisional di darat. Ada proses tawar menawar antarpedagang dan pembeli.

Yang tak kalah menarik adalah sistem pertukaran barang. Di sini, mata uang bukan segalanya. Ada sistem lama yang dapat menggantikan rupiah, yakni barter. Umumnya, dagangan yang akan dibarter adalah hasil bumi berupa sayur mayur dan buah-buahan. Besaran dan keberimbangan jumlah hasil barter tergantung kesepakatan antarkedua belah pihak. Jika sepakat, maka masing-masing akan mendapatkan barang sesuai keinginan dan selanjutnya digunakan untuk keperluan pribadi di rumah.

Pasar Terapung Lok Baintan juga menjadi ajang favorit juru foto dari berbagai kota di Indonesia, bahkan negara lain. Namanya sudah cukup terkenal di kalangan wisatawan. Namun sayang, hal ini tidak banyak diketahui oleh warga Banjarmasin sendiri. Ironis memang. Sebuah produk atau praktek budaya sungai yang sangat langka tersebut seakan-akan tertutupi oleh entitas-entitas modern berupa ritel yang menyerbu Banjarmasin. Namun demikian, Pasar Terapung Lok Baintan nyatanya sanggup bertahan dan tetap menunjukan eksistensi dan reputasinya sebagai cerminan kehidupan Banjar yang sederhana.

Di atas sampan di sekitar Desa Lok Baintan, calon pembeli dapat memilih barang sesuai keinginan.

Untuk mengunjungi Pasar Terapung Lok Baintan, Anda cukup menyewa kapal klotok yang banyak ditemui di sekitar Banjarmasin. Dengan kapasitas 20 penumpang, Anda dapat menyewanya dengan harga Rp. 150 ribu. Tarif ini sudah termasuk biaya bahan bakar minyak (BBM) dan biaya supir kapal klotok. Selama perjalanan menuju Lok Baintan, Anda akan disuguhi pemandangan kehidupan Banjar di tepian sungai. Aktivitas di sekitar sungai umumnya dimulai sejak pagi hari.

Pedagang soto Banjar pun mudah ditemui di sekitar sungai. Sebut saja Soto Bang Amat yang sangat terkenal di kalangan wisatawan. Jadi, tak ada salahnya jika setelah menikmati keunikan suasana pasar terapung, Anda mampir sejenak untuk mencicipi kuliner khas Banjar yang lezat.

(14)

Nasrudin Ansori Nasrudin Ansori adalah seorang penulis yang berdomisili di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia sangat menyukai dunia petualangan, fotografi, buku, internet, mie ayam, dan persahabatan. Kini ia menjadi Perwakilan Lenteratimur.com di Kalimantan Selatan.

Comments with Facebook

Comment(6)

  1. Duh, ulun urang Banjar tapi kada suah ka sini. Suatu saat ulun harus ka sini.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. thanks atas komentar nya…meski saya telat menjawab nya…
    agus tri wijaya : kapan ya kita trip bareng lagi…?

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Ruginya aku… Ngaku urang banjar tapi kada tau wan pasar yang satu nee…. Tunggu lagi aku pasti ke sana….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Ini keren buangeeet…. Suatu hari saya pengen ke Lok Baintan.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Kada suah lgi ke Lok Baintan nah…
    Wktu halus ja bahari kapasar terapung =pp
    hehehehehehe.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Well done Nas… Good Job, selamat ya! Nanti pulang dari Makassar & Tanah Toraja posting lagi ya tulisannya.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *