Home Bernala Menyoal “Musik Melayu”
3

Menyoal “Musik Melayu”

97
3
Tengku Ryo Riezqan

Entah kapan persis dimulai, namun 2009 dipandang sebagai tahun maraknya musik-musik bercitarasa Melayu. Banyak orang memandang bahwa tren pasar musik Indonesia mengarah ke nuansa Melayu. Dan sontak sejumlah musisi top memandang fenomena itu sebagai berita buruk bagi musik Indonesia.

“Malu musik Indonesia diracuni Melayu.” Demikian pernyataan seorang musisi papan atas Indonesia saat menanggapi maraknya musik-musik beraroma Melayu. Pernyataan tersebut pada dasarnya diamini oleh banyak musisi lain. Bagi mereka, musik-musik Melayu yang dibawakan oleh sejumlah musisi dianggap kampungan dan menimbulkan degradasi.

Pernyataan yang menyudutkan tersebut dialamatkan kepada grup-grup musik pendatang baru. Mereka yang baru datang ini diklaim sebagai representasi musik Melayu yang merebut pasar industri musik Indonesia. Namun, benarkah mereka sedang membawakan musik Melayu?

Jika kita tinjau secara seksama, kelompok-kelompok musik yang dimaksud itu sama sekali tidak mengusung musik Melayu. Mereka sebenarnya lebih condong ke nuansa pop rock ala Malaysia yang meledak di pertengahan tahun 1990-an.

Saat membawakan sebuah aliran atau jenis musik tertentu, ada hal-hal yang harus diperhatikan sebagai suatu kaidah. Ada hal yang harus dipenuhi dari perspektif skala nada (scale) maupun ritmiknya. Musik blues, misalnya, dimana skala yang digunakan pada umumnya adalah Pentatonic Blues Mayor/Minor, dan jenis ritmik atau progresinya seperti 12 bar Blues atau Rock Blues.

Contoh lain bisa kita amati pada musik Jazz. Di sini progresi akor dan skala jenis ritmik, seperti swing, 6/8, atau bee bop, harus memiliki pondasi dan dasar khusus agar musik tersebut mengeluarkan nuansanya yang khas.

Begitu juga dengan musik Melayu. Musik ini memiliki jenis ritme tersendiri, seperti Zapin, Joget, Mak Inang, Gazal, atau Senandung. Saat menyanyikannya, cengkok dan lengkoknya khas, dan ini berbeda dengan dengan Dangdut atau Keroncong.

Musik Melayu. Foto: Dokumentasi Tengku Ryo Riezqan.

Nuansa musik Melayu akan mencuat jika ada unsur-unsur yang mendukungnya, baik dari jenis bunyi-bunyian, ritmik, maupun melodi lagu berikut ornamentasinya yang disebut Grenek.

Atas dasar pemikiran ini, sungguhlah menyedihkan dan memalukan melihat musisi kita, bahkan yang sudah berada di papan atas, tidak mengenal musik dari budayanya sendiri. Mereka lebih memahami musik-musik dari budaya Barat, seperti Rock n Roll, Fussion, Metal, atau Grunge, berikut dengan perilaku, busana, dan gaya bicara. Dan mereka sangat berbangga hati dengan itu semua.

Sebenarnya, hal-hal semacam itu, yakni mengusung musik-musik asing, tidaklah menjadi sebuah masalah. Sebab musik memang harus dibebaskan dari hal-hal yang menyempitkannya. Akan tetapi, meskipun tidak mengusung musik yang bernuansa tradisi negeri, hendaknya ada sebuah penghormatan dan rasa menghargai, tidak serampang menilai prinsip musik tertentu dalam kebutaan budaya.

Dan pada saat yang sama, kata “Melayu” itu bukanlah sekedar sebuah suku kata. Kata itu mengalir di dalam darah jutaan manusia yang terlahir sebagai putra putri bangsa (bukan lagi suku) Melayu yang buminya terhampar melampaui batas-batas negara.

Pernyataan tanpa dasar yang mendiskreditkan Melayu sungguh membuat saya cemas. Pernyataan dari idola-idola musik semacam itu dapat berpengaruh kepada generasi muda.

Bagi saya, suku kata “Melayu” harus diredefinisi sehingga tidak dengan bebas dianggap mewakili dari sesuatu yang bersifat negatif. Kita terlanjur akrab dengan istilah “Janji Melayu”, “Jam Melayu”, “Kerja Melayu”, “Politik Melayu”, atau “Intel Melayu”. Bukankah ini doktrinasi tidak langsung yang merasuki pikiran kita?

(97)

Tengku Ryo Riezqan Tengku Ryo Riezqan adalah musisi sekaligus aktivis budaya yang dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, pada 26 September. Karena aktivitasnya, ia memperoleh gelar adat Tengku Merdangga Diraja Kesultanan Negeri Serdang.

Comments with Facebook

Comment(3)

  1. Bangga rasanya membaca tulisan abang. Musik Melayu adlh sebuah ciri khas sekaligus jati diri dan identitas budaya bangsa. Salam hangat, Jimy.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. Salam kenal dear Roell, saya kira apa yang anda amati benar adanya, opini publik yang dibentuk sepertinya dirujukkan ke arah itu sementara masyarakat Melayu sendiri menyadari tetapi tidak pernah angkat bicara, benang merah yang begitu panjang melebihi batas daerah dan negara dimiliki bangsa Melayu, mungkin beberapa pemikir dalam pihak yang berotorisasi secara politik menyadari hal ini, dan bisa jadi dianggap sebagai ancaman.

    Saya melihat lewat kaca mata pandang awam saya bahwa saat ini kesadaran mulai timbul dimana-mana, untuk itu selalu saja ada pihak-pihak tertentu yang berusaha menciptakan propaganda dan konflik, yang paling signifikan adalah nasionalisme dalam konteks batas negara namun bila berbicara tentang budaya tentulah hal ini terlalu dangkal.

    Saya tidak menginginkan sebuah supremasi atas budaya atau etnis tertentu tetapi pemahaman jatidiri itu sangat diperlukan sebagai identitas.

    Kesadaran dan kebersamaan dalam menjaga keberlangsungan sebuah budaya harus terbebas dari pandangan sempit tentang batas wilayah yang disebut negara.

    Wassalam.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  3. Salam kenal ya dear Tengku. Ikut semboyan Laksamana Hang Tuah yang kuhafal “Tak Melayu Hilang di Dunia” kurasai bukti kini bahwa ras Melayu yang mendiami Madagaskar sampai Fiji di Pasific: makin diselami para peneliti dan pekerja seni yang rajin hadir dalam festival serumpun. Sungguh telah jauh dari kefahaman kawan2 di negeri Anda bahwa Lagu Melayu milik ‘daerah’ tertentu. Kusimak dari Tuhfat al-Nafis karangan Raja Ali Haji medio abad 19 di Penyengat bahwa Hang Tuah atau Daeng Mampawa diberi Raja Makassar pada Sultan Melaka. Emang luas Melayu itu loh. Tetapi para dosen di negeri Anda masih melihat Melayu dengan bingkai amat kecil.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +2 (from 2 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *