Home Lancong Mengarung di 20 Jeram
11

Mengarung di 20 Jeram

38
11
Berarung jeram saat kabut dan rinai hujan membayang. Foto-foto: Arnellis.

“Kejar!”

Suara menggelegar itu datang dari Kang Andi dan mengarah ke saya dan teman-teman.

Seorang peserta arung jeram terlempar dari perahu. Tim rescue berteriak agar peserta itu menjaga tubuh tetap dalam posisi duduk dan menghadap arus maju. Namun ia terlalu panik. Berliter air sudah ditenggaknya. Ia terbawa arus. Perahu rescue yang berjaga terlewati.

Perahu saya dan teman-teman, yang kebetulan sedang merapat di tepian, segera diburu pacu. Dayung saya bergerak cepat. Kami menghadang peserta hanyut itu tadi. Teman saya yang berada di sisi kiri perahu berhasil memegang jaket pelampung orang itu. Kang Andi lantas menariknya ke dalam perahu kami.

Di perahu kami, wajah peserta hanyut tadi tampak membiru. Pelan-pelan ia duduk dan bisa bernapas teratur. Tak lama kemudian ia tersenyum. Setelah itu kami tahu, ia terlempar dari perahu sebab tangannya tak memegang tali tengah perahu dengan kuat. Posisi tubuh lemah itulah yang segera diblender dalam deras jeram. Kang Andi menenangkan, “Kan jadi ada cerita ya…” Si peserta hanyut dan kami semua tertawa.

Peristiwa tersebut terjadi saat saya mengisi akhir pekan dengan wisata arung jeram di Sungai Cicatih, Sukabumi, Jawa Barat. Di bulan basah ini, berarung jeram merupakan ide bagus yang menantang.

Tapi, bergabung dengan rombongan wisata justru membuat saya lengah. Saya terlampau merasa nyaman karena sudah ada panitia yang mengurus segala urusan perjalanan. Pergi pulang saya tinggal bersantai di sebuah bis besar ber-AC. Saya meluncur ke tujuan sejak pukul enam pagi sambil melahap kudapan untuk sarapan. Di perjalanan yang katanya memakan waktu tiga jam, saya sempat mencuri tidur. Betapa sedap. Hingga saat bus berhenti sejenak di pom bensin lepas Ciawi dan Cibadak, saya baru sadar… saya lupa membawa celana ganti! Bodoh! Padahal panitia sudah mengingatkan sejak jauh hari bahwa peserta arung jeram harus membawa pakaian ganti. Sebab sudah tentu kita akan basah saat main air.

Ketika tiba di meeting point di Cinutug, rombongan disambut oleh para petugas penyelenggara. Panitia rombongan kami menggunakan jasa operator Riam Jeram, sebuah usaha di bidang white water rafting and outdoor activities, begitu yang saya baca di brosur kemudian. Semua peserta diminta segera bersiap. Saya bingung. Saya tak berniat bertanya kepada panitia apakah tersedia toko yang menjual pakaian. Di tempat itu hanya ada bangsal kecil dan empat kamar mandi untuk berganti pakaian. Di bawah pohon di sisi kiri bangsal terlihat jejeran sandal jepit. Petugas mengabarkan sandal-sandal itu siap dibeli jika ada yang membutuhkan sandal karet khusus. Semua tas peserta ditaruh di meja. Nanti tas-tas itu akan dipindahkan ke titik akhir pengarungan.

Saat peserta sibuk bersiap, saya keluar bangsal dan menyeberang jalan. Gerimis menemani saya menuju warung terdekat. Di sana saya iseng bertanya apakah ada celana yang dijual. Si ibu pemilik warung bilang, beli pakaian hanya bisa di pasar. Dan butuh angkutan kota atau angkot untuk pergi ke sana. Saya hanya bisa mengutuki diri.

Saya buru-buru kembali ke bangsal. Petugas dan panitia mulai berteriak-teriak. Mereka meminta para peserta segera bergegas menaiki angkutan lokal yang tersedia. Angkot bercat putih jurusan Cibadak-Warung Kiara  ini digunakan operator Riam Jeram untuk membawa peserta ke starting point. Ada juga satu truk kecil milik Riam Jeram yang direbuti peserta yang sengaja ingin menikmati angin dan rinai hujan.

Perjalanan meninggalkan Cinutug melintasi hutan karet dan sawah berpadi. Jalan aspal berlubang tak menghalau sopir untuk mengemudi dengan cepat. Tak sampai setengah jam, saya tiba di Bojongkerta. Ini adalah starting point, titik awal keberangkatan arung jeram dan titik mulai degup pacu jantung saya. Peserta dipersilakan mengambil jaket pelampung dan helm, serta mengambil dayung karet hitam. Sambil menunggu semua bersiap, sejumlah peserta mengunyah gorengan dan teh manis yang disediakan operator.

Setelah itu petugas operator mengadakan briefing. Ia seperti api unggun yang kami kelilingi. Semua orang mendengarkan petunjuknya dengan cermat. Ini penting demi keselamatan di atas sungai dengan debit dua level di atas normal. Deras dan tak terduga (lihat Tips Berarung Jeram).

Perahu karet oranye saya menanti dan segera dihinggapi tujuh orang. Sang pemandu dengan dayung kuningnya berada di belakang untuk mengemudi. Ia akan memberi aba-aba ‘maju’, ‘mundur’, ‘stop’, atau ‘boom’ sepanjang perjalanan. Saya harus patuh pada Kang Andi, pemandu saya itu. Rintik hujan makin terasa, mengawali awal petualangan saya.

Kampung jeram.

Pemandu mengatakan kami akan menempuh 20 jeram di sepanjang 12 kilometer sungai dengan lebar sekitar 20 meter ini. Jeram pertama bernama Slalom. Nama yang lucu. Nama-nama jeram berikutnya juga sama lucunya. Jeram Ngehe, Serius, Jontor, Kuku Patah, Asmara, Undercut, Pabeulit, Gerbang Jeram, dan Zigzag. Nama-nama ini diambil dari kejadian-kejadian unik yang pernah terjadi saat pengarungan.

Misalnya, pernah ada pasangan cinta yang jatuh ke air bersama-sama sehingga dinamakan Jeram Asmara. Jeram juga dinamai dari kejadian yang berulang kali terjadi di tempat tersebut. Seperti Jeram Kuku Patah, sebab di jeram ini cukup banyak peserta arung jatuh ke air dan berusaha menjejak dasar hingga kukunya patah. Sisanya dinamai karena bentuknya, seperti Pabeulit (bahasa Sunda) sebab ada batu yang bisa melilit perahu, atau Zigzag sebab jeramnya berkelok-kelok.

Rintik hujan berubah menjadi deras saat saya naik turun dibuai riak. Perahu terpontang-panting dimainkan air coklat susu. Saya dan peserta seperahu sibuk tertawa dan berteriak-teriak. Kang Andi menyemangati peserta dengan tos dayung setiap usai melewati jeram.

Tapi, saat tertawa-tawa itu, seorang peserta yang duduk di haluan terpaksa menenggak air sungai cukup banyak. Sebuah tips: jangan pasang mulut terbuka jika jeram menghadang.

Sementara belum melewati jeram, saya bisa menikmati pemandangan di kiri kanan. Bukit di atas sungai banyak ditumbuhi pepohonan rendah. Sebagian besar adalah tanah persawahan yang memanfaatkan irigasi sungai. Satu dua ekor biawak terlihat. Burung-burung terbang menghindari mereka. Saat perahu menepi, saya melihat engkang-engkang, laba-laba air yang asyik bermain bombomkar. Dua orang lelaki duduk mencangkung di tanah tepi sungai, menggenggam jala. Ternyata ada banyak ikan juga di air deras ini.

Lepas Jeram Zigzag, jeram kesepuluh, perahu mengarah ke sebuah gubuk di tepian. Ini Desa Cilulumpang, tempat istirahat sepanjang jalur pengarungan. Kelapa muda dan bala-bala (istilah Sunda untuk bakwan) menanti di sana. Satu jam perjalanan terlewatkan. Para peserta mulai pamer cerita sementara perahu kembali dicek keadaannya. Beberapa perahu diisi angin kembali dengan pompa. Para pemandu menghampiri perahu rescue dan bercengkrama di sana.

Pukul 12 lewat, perjalanan kembali dilanjutkan. Hujan masih deras mengguyur saat melewati Jeram Warok, Marzuki, Gigi, Rollercoaster, Blender, Jeram Panjang, Terlena, dan Jeram Cihuy. Setelah itu sungai tampak kian melebar. Sungai Cicatih bertemu dengan Sungai Cimandiri. Sungai ini pada akhirnya akan bermuara di Pelabuhan Ratu yang juga ada di Sukabumi, Jawa Barat.

Tinggal dua jeram yang tersisa dan nama jeram itu sungguh mewakili hati, Jeram Kerinduan dan Jeram Maskot. Sebetulnya masih ada satu jeram lagi yang menarik dilalui, yaitu Jeram Harga Diri. Namun trip 12 kilometer ini tidak sampai ke sana. Arus mengguncang seperti kuda di sisa perjalanan. Dan kami pun melabuhkan perahu di Kampung Jeram di Desa Leuwilalay.

Petualangan telah usai, tapi tidak buat saya. Para peserta dipersilakan mandi dan berganti pakaian, lalu menikmati makan siang sambil bersantai di saung. Saya memutar akal, sebab panitia tak mungkin mengurus kebodohan saya ini. Saya berkeliling melihat-lihat Kampung Jeram, finishing point Riam Jeram ini. Tampak saung-saung beratap rumbia, tenda kemah, dan menara flying fox di antara hamparan rumput hijau. Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango tampak remang dalam gerimis yang tak juga henti. Dari sanalah sumber limpahan air Sungai Cicatih.

Saya bertanya pada seorang petugas, adakah toko yang menjual pakaian ganti. Jawabannya sama, tak ada. Saya bertanya kembali apa ada kendaraan yang bisa membawa saya ke pasar terdekat. Katanya, tidak ada angkot di sini. Saya makin mendesak petugas, sebab didorong bayangan masuk angin jika saya pulang ke Jakarta berbasah-basahan. Usaha saya berbuah hasil. Kang Dola namanya. Dia bersedia mengantar saya ke pasar dengan motornya.

Saung untuk melepas lelah usai berarung jeram.

Ternyata pasar yang dimaksud berada di desa tetangga. Saya menempuh kurang lebih 20 menit perjalanan mendaki. Masih lengkap dengan baju basah dan cucuran hujan. Dingin tak usah ditanya. Tapi sungguh tak dinyana ini jadi bonus petualangan saya. Di sepanjang jalan saya menemui bendungan kecil yang airnya berasal dari sungai. Sawah-sawah padi dan kebun warga basah nan hijau. Seorang ibu dan anak kecil duduk di teras kayu berpanggung. Sebuah bangunan besar tengah dibangun untuk pindahan Lembaga Pemasyarakatan Sukabumi. Hingga akhirnya laju motor berhenti di Pasar Cigombong.

Usai mendapat celana jins seharga satu setengah kali lebih mahal daripada jins Mangga Dua Jakarta, saya kembali pulang. Perjalanan tak juga membosankan karena Kang Dola membagi banyak cerita. Ia sudah delapan tahun bekerja sebagai pemandu arung jeram. Riam Jeram memang mempekerjakan warga sekitar seperti Kang Dola dan kawan-kawannya. Mereka dilatih oleh Aranyacala Trisakti, sebuah kelompok pencinta alam Universitas Trisakti, Jakarta. Pemilik usaha ini rupanya berasal dari kelompok tersebut. Kang Dola harus melewati satu tahun pendidikan dan latihan medan, berikut tes membawa penumpang arung jeram tanpa alat bantu. Setelah lulus, ia baru dapat disebut pemandu, dan juga menjadi tim rescue.

Kang Dola merasa cukup beruntung. Di jalur Sungai Citatih, hanya ada dua operator yang berkuasa, Riam Jeram dan Cherokee. Riam Jeram beroperasi sejak 1996, sementara Cherokee dua tahun lebih muda. Sungai Citatih memang berbeda dengan Sungai Citarik yang dirubungi lima operator usaha serupa. Sungai Cicatih juga tetap ramai walau bukan di musim hujan. Menurutnya, pengunjung tetap saja ada di musim kemarau sebab debit air Cicatih masih memungkinkan untuk pengarungan. Selama air mengalir, pendapatannya pun turut mengalir.

Tiba di Bojongkerta, saya segera berbenah. Mandi, makan, dan minum jamu tolak angin. Panitia melenakan peserta lagi dengan membagikan doorprize. Sebagian peserta sibuk membeli foto-foto yang diambil fotografer operator sepanjang pengarungan. Setiap peserta mendapat sertifikat sebagai bukti partisipasi. Terbaca di sana, kesulitan pengarungan yang tadi saya lakukan adalah tingkat III-IV. Tingkat kesulitan tertinggi untuk Sungai Cicatih ini, tetapi masih bisa dilalui dengan aman oleh pemula.

Panitia menyerukan peserta menaiki angkot untuk kembali ke Cinutug. Rute kepulangan ini sama seperti yang saya lalui tadi ketika ke pasar. Namun rasa aspal ini tak secanggih ketika didaki dengan motor. Dalam hati saya senang karena saya lupa membawa celana. Angkot meloncer jalan dan hujan masih tak mau diam.

(38)

Arnellis Arnellis lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 4 Mei 1985. Lulusan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, ini pernah mengajar Bahasa Indonesia di banyak tempat, baik untuk anak sekolah maupun orang asing. Kini ia bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di sebuah sekolah di Jakarta.

Comments with Facebook

Comment(11)

  1. Seingat gue ada jeram jabrik deh… karena di jeram itu ada yang meninggal dan namanya jabrik… Akhirnya jeram tersebut dinamain jabrik…. Betul sekali… Di musim kemarau Citatih masih bisa dipake…Ssoalnya gue arung jeram di sana bulan Agustus….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Info harga dari operator ini bisa dihubungi di 021 7699016.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Heem jadi pengen nyoba, sebelumnya saya sudah nyoba arus liar dan itu mantaaab banget. Btw, kok gak ada info harganya ya? Saya cek di web-nya juga gak dicantumin. Mau dong info harganya…
    Thanks for infonya.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Pengalaman yang menarik Arnelis. Walaupun aku gak pernah berarung jeram, tapi aku dapat merasakan puas dan asyiknya berarung jeram dan mendapatkan pelajaran “berharga” mengenai “celana” dari tulisan2mu.. hehehe..

    F

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Judulnya perjalanan panjang mencari celana… Btw, sudah menciptakan nama buat jeram lu sendiri belum?????

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Hahaha… Nelii… Bagaimana kamu bisa melupakan ‘celana’???

    Sangat menarik!! Kita harus membuat rencana mengarung bersama ini lain waktu… (karena yang sebelumnya gagal dengan sukses!)

    Aku tunggu cerita mu selanjutnya Nel! ^^

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. Membawa pembaca ikut merasakan gak bawa celana ganti pada saat ngarung…

    Asik… Terus menulis….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  8. Wuih.. canggih Nel. Bisa hapal ke semua nama jeram. Dua jempol lah… hehehe.

    Gw juga pernah ke Cicatih Nel, tapi gak pake jasa provider, kami dibantu kawan2 Pecinta Alam Teknik, KAPA, untuk berarung jeram di sini. Kalau dibandingkan dengan Citarik, Cicatih jelas lebih panjang jalurnya. Dan karena di kanan-kiri sungai masih alami belum terjamah, pemandangannya tentu lebih seru disini….

    Yang paling seram adalah pertemuan kedua sungai Nel, tapi pemandangan saat matahari hampir terbenam mengalihkan perhatian dari rasa takut. Yang terbayang di dalam pikiran hanya keindahan alam dan kuasa Tuhan….

    Beruntunglah bisa ngarung di Cicatih… Pun, kalau menggunakan jasa provider pastinya keluar uang lebih banyak. Hehehe.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  9. Wah, kalau lihat foto-fotonya dan membayangkan ceritanya seru banget nih.. Yang lebih “gaul” lagi ternyata nama jeramnya lucu dan unik.. Bukan hanya menantang ternyata berarung jeram ada kejadian- kejadian “lucunya” juga sampai-sampai nama jeramnya sendiri dinamai dengan kejadian tersebut… Kayanya layak dicoba 😀

    Terimakasih untuk informasinya.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  10. Jadi pengen ke sini nih gw…. Nabung dulu ah.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *