Home Geokultur Thank You For Smoking
6

Thank You For Smoking

67
6
Gedung Sampoerna dengan pilarnya berbentuk rokok. Foto-foto: Yudasmoro Minasiani.

NV.Handel.Mij – Sampoerna, Sigaretten Fabriek, Liem Seeng Tee 1932.

Tulisan berbahasa Belanda itu terpampang di atas gedung House of Sampoerna. Gedung yang dibangun pada 1862 ini memang bukan gedung biasa. Inilah tempat wisata sejarah yang menjadi saksi atas sebuah kegigihan manusia sekaligus perjalanan salah satu industri rokok terbesar di tanah air.

Gedung House of Sampoerna berada di Surabaya, Jawa Timur, persisnya di sebuah tempat agak terpencil di daerah Jembatan Merah, Surabaya Lama. Meski di tempat terpencil, areal gedung ini sangat bersih dan terkesan elegan. Ia berdiri megah dengan empat buah pilar – yang jika diperhatikan, pilar-pilar tersebut berbentuk rokok dengan tulisan “234” (Dji Sam Soe) di bagian atasnya.

Saat petugas keamanan membukakan pintu gedung sambil tersenyum ramah, aroma wangi tembakau langsung menyergap penciuman saya. Dan beberapa jenak saya lalu terpana. Bagi saya, gedung ini lebih mirip sebuah kafe atau lobi hotel berbintang daripada sebuah museum.

Saya melihat air mancur mini dengan ikan hias yang sedang berenang di kolam. Udara dari mesin pendingin terasa sangat nyaman. Lantainya mengkilap. Petugas-petugasnya berpenampilan bak pelayan hotel berbintang. Dan tak ketinggalan lukisan-lukisan besar dan barang-barang kuno menghiasi lobi utama gedung ini.

Untuk pengunjung yang ingin tahu sejarah berdirinya Sampoerna, disediakan sebuah monitor dengan teknologi layar sentuh (touch screen). Kisah ini menarik perhatian saya untuk beberapa saat.

Liem Seeng Tee
Liem Seeng Tee, the founder of Sampoerna, memiliki kisah perjuangan hidup yang berliku. Datang ke Indonesia bersama ayah dan saudara perempuannya pada 1898, Liem kemudian diadopsi oleh sebuah keluarga China di Bojonegoro, Jawa Timur. Di keluarga baru ini Liem mulai mempelajari cara berdagang. Alhasil, di usia 11 tahun ia sudah melakukan praktik berdagang dengan berjualan kue di stasiun.

Pada 1912, Liem menikahi Siem Tjiang Nio dan bekerja di pabrik rokok di Lamongan, Jawa Timur. Enam bulan kemudian, Liem memulai sendiri usahanya dengan berjualan makanan dan tembakau di Surabaya. Di sini, usaha berdagang tembakau mulai menampakkan hasil yang menggembirakan. Dagangannya semakin laku dan permintaan terus bertambah.

Bagian dalam House of Sampoerna.
Bagian dalam House of Sampoerna.

Namun demikian, Liem memiliki keterbatasan peralatan untuk melayani semua permintaan itu. Dan untuk itulah ia bersama Tjiang Nio terpaksa meracik dan melinting sendiri tembakau mereka hingga larut malam. Bahkan, rumah mereka yang sederhana harus bercampur dengan peralatan berat pencetak kertas rokok.

Usaha Liem kemudian mulai menunjukkan hasil. Pada 1913, ia membentuk usaha resmi dengan nama Handel Matschappij Liem Seeng Tee yang kemudian berganti menjadi Handel Matschappij Sampoerna.

Untuk dapat bersaing dengan kompetitor, Liem mengandalkan kualitas tembakau dan bahan rempah-rempah yang didatangkan dari Madura dan Zanzibar, Afrika. Dari sini muncullah bermacam merek seperti Summer Palace dan Sampoerna Star. Merek-merek tersebut merupakan jenis rokok berfilter pertama di Indonesia. Sedangkan untuk jenis rokok kretek, merek-merek yang diproduksi disesuaikan dengan angka kode produksi, seperti 123, 720 dan 678.

Pada 1932, Liem membeli sebuah gedung yang awalnya adalah sebuah panti asuhan putra yang dikelola Belanda. Gedung inilah yang kemudian menjadi pabrik dalam memproduksi rokok-rokok Sampoerna.

Jejak Sejarah
Puas menikmati kisah panjang Liem Seeng Tee, saya melanjutkan dengan menikmati lukisan-lukisan yang ada di dekat monitor layar sentuh. Semua lukisan ini berhubungan dengan rokok, entah itu gambar orang merokok atau hanya sekedar gambar rokok lengkap dengan koreknya.

Koleksi korek ini sangat menarik. Menurut catatan yang ada, korek-korek tersebut merupakan hasil koleksi seorang anak kecil Belanda saat mereka menjajah dulu. Puluhan merek dengan berbagai ukuran kotak korek api berjajar rapi di dua buah etalase. Kebanyakan kotak korek ini adalah produksi dari Eropa dan Amerika.

Kemudian saya mengarah ke sisi kanan lobi utama. Lukisan-lukisan besar masih menghiasi bagian ini. Hampir semua lukisan ini berhubungan dengan tema tembakau.

Tak jauh dari situ, ada sebuah lemari kaca yang di dalamnya terpajang dua stel kebaya milik Siem Tjiang Nio, istri Liem Seeng Tee. Kebaya berwarna putih gading itu masih terlihat baru lengkap dengan selendangnya.

Patung di salah satu sudut museum.

Sebuah patung lelaki tua di atas meja antik juga menarik perhatian saya. Ia digambarkan sedang menikmati sebatang rokok kretek. Lalu ada juga sosok Liem Seeng Tee bersama istrinya dalam sebuah foto berukuran sebesar lemari pakaian.

Bagian berikutnya dari gedung ini lebih memamerkan contoh-contoh bahan baku yang digunakan untuk membuat rokok. Berbagai jenis tembakau terpampang berjajar rapi dalam sebuah lemari kaca. Jenis-jenis yang dipamerkan, antara lain, adalah tembakau Bali, Jawa, dan Bondowoso.

Di sini juga diperlihatkan berbagai komponen peralatan untuk meracik tembakau, diantaranya sebuah gelas ukur dan timbangan. Peralatan-peralatan ini merupakan peralatan awal yang digunakan oleh para peneliti Sampoerna yang kini menjadi Research & Development Department.

Sebuah mesin tua pencetak bungkus rokok juga dipamerkan di ruangan ini. Di atas mesin itu, ada tulisan besar: “Original Heidelberg” – seakan ingin menunjukkan betapa penting peranannya dulu. Jenis-jenis kertas rokok yang digunakan untuk memproduksi rokok dari zaman ke zaman juga tak ketinggalan dipamerkan.

Di sisi lainnya, saya dapat melihat jenis rokok khusus dengan bungkus kotak berwarna emas. Di kotak itu tertulis “Istana Presiden” dan “Istana Wakil Presiden”. Saya jadi penasaran, apakah ada racikan khusus juga untuk rokok-rokok pemimpin negara ini?

Ruangan yang sama juga dihiasai dengan miniatur sebuah warung. Ia memamerkan produk rokok Sampoerna serta berbagai jajanan khas tempoe doeloe, lengkap dengan lampu petromaksnya. Tak jauh, ada dua buah sepeda onthel milik Liem Seeng Tee yang masih sangat terawat dan mengkilap.

Nah, masih ingat tentang kelompok Marching Band Sampoerna yang merebut hati penonton saat Tournament of Roses di Pasadena, Amerika Serikat, tahun 1990 dan 1991? Kisah-kisah tentang kejayaan itu dapat dilihat di sini. Ada seragam marching band, musik instrumen, hingga monitor layar sentuh yang memutar adegan-adegan turnamen yang membanggakan tersebut. Sejenak terbersit dalam benak saya, betapa kontribusi luar biasa sudah diberikan Sampoerna kepada bangsa ini.

Ruang melinting rokok.
Ruang melinting rokok.

Setelah melihat-lihat bagian sejarah di lantai dasar, saya tertarik untuk menuju ke lantai dua. Di dinding sisi kiri anak tangganya, terpasang poster-poster iklan Sampoerna. Lantai dua ini ternyata berfungsi untuk lokasi kios. Berbagai macam cinderamata dapat diperoleh di sini, mulai dari t-shirt, pin, buku, kotak rokok, korek gas, gantungan kunci, tas, dan berbagai macam gaya notebook.

Di bagian depan kios, saya melihat dinding kaca yang membatasi seluruh lantai dua. Di balik dinding kaca itu, ada sebuah ruangan luas yang dipenuhi meja-meja kerja. Meja-meja itu berjajar memanjang dari kiri ke kanan lengkap dengan peralatan kerja di atasnya.

Ruangan ini tak lain adalah tempat bagi sekitar 3.000 pekerja wanita yang bisa melinting rokok lebih dari 325 batang dalam waktu satu jam. Pengunjung juga bisa bergabung dengan para pekerja di sini untuk beradu cepat dalam hal melinting rokok.

Surabaya Heritage Track
Setelah berkutat di dalam gedung, saya melangkah ke luar. Dan perhatian saya tertuju pada sebuah bis yang, kalau di Jakarta, seukuran Metro Mini. Warnanya merah menyala dan berbentuk seperti trem. Pada petugas saya bertanya, dan jawabnya itu adalah bis Surabaya Heritage Track (lihat juga Menelusuri Jejak Surabaya).

Bis ini semacam tour bus yang membawa rombongan wisatawan untuk mengelilingi beberapa bagian kota Surabaya, terutama daerah kota tuanya. Tak ada biaya yang dipungut untuk ikut dalam tur ini.

Dalam sehari, bis lucu dan unik yang berpangkalan di House of Sampoerna ini menjalani tiga kali trip, yaitu pukul 10.00-11.30 WIB, 13.00-14.30 WIB, dan 15.00-16.30 WIB. Untuk hari Jumat-Minggu, waktu trip diperpanjang setengah jam menjadi 09.00-11.00 WIB, 13.00-14.30 WIB dan 15.00-17.00 WIB.

Bis Surabaya Heritage Track yang unik.

Surabaya Heritage Track adalah program tur berkeliling Surabaya dengan gratis untuk mengunjungi situs-situs bersejarah, mempelajari legenda tentang Surabaya – atau yang dikenal dengan “Babad Surabaya” -, dan untuk berfoto-foto di daerah-daerah bersejarah, seperti monumen Tugu Pahlawan dan gedung PT Perkebunan Nusantara yang dahulu adalah tempat menimbun hasil bumi pada zaman penjajahan Belanda.

Secara umum, tur menggunakan bis ini memang menyenangkan. Saya dapat berjalan-jalan mengelilingi kota tua Surabaya dengan pemandu yang ramah, bis yang nyaman, dan tanpa mengeluarkan ongkos sepeserpun.

“Di sinilah dulu Brigjen Malaby tewas tertembak,” jelas pemandu suatu ketika saat kami berhenti di area Jembatan Merah. Brigadir Jenderal Malaby adalah komandan pasukan Inggris yang tewas dalam pertempuran dengan pejuang Indonesia pada 30 Oktober 1945.

Selama 1,5 jam kami berjalan-jalan menjelajahi sejarah kota Surabaya. Karena bentuk bis yang unik, sepanjang perjalanan kami menjadi pusat perhatian masyarakat Surabaya. Dan perjalanan ini berakhir dengan kembali ke House of Sampoerna.

(67)

Yudasmoro Minasiani Sebelum terjun dalam dunia travel writing sepenuhnya, ia sempat bekerja sebagai seorang manager di restoran cepat saji di Jakarta. Namun karena kecintaan pada dunia traveling dan jurnalistik, pria yang hobi menulis, naik sepeda, dan menyantap sate kambing ini pun akhirnya memutuskan untuk sepenuhnya menjadi travel writer. Karya-karya lainnya dapat dilihat di www.mahavishnu8.multiply.com.

Comments with Facebook

Comment(6)

  1. Menarik juga kalau ada semacam museum yang menunjukkan sejarah perjalanan rokok sebagai perusak kesehatan & mungkin peradaban manusia. Lengkap dengan foto profil penderita kanker paru, pembahasan bahwa rokok adalah entry point bagi kalangan remaja untuk menggunakan berbagai subtances yang lebih berbahaya, proyeksi tentang bagaimana bila prioritas alokasi belanja rokok dalam keluarga dialihkan ke aspek lain, dan berbagai hal lain yang relevan utk disajikan… (Film ‘The Insider’ bisa jg jadi referensi). Terima kasih.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. ….. Mrching Band Sampoerna, bagaimana riwayatmu kini???? Setahuku mereka juga punya sekolah Marching Band pertama di Indonesia.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Good one!
    Bisa jadi rekomendasi saat ada di Surabaya.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Wah wah…Boljug nih artikel. Sekali-kali arrange trip ke sini.

    Salam Wisata,
    Anton – Bukittinggi

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Artikel memikat sentimentil kesejarahan kita, sekaligus mengoyak perasaan. Betapa rokok itu sudah lama memendam di ingatan indonesia.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Artikel ini luar biasa… bagus sekali…

    salam sukses,
    Budy
    Denpasar – Bali

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *