Home Featured Negeri Besar Dari Kalimantan Timur
6

Negeri Besar Dari Kalimantan Timur

53
6
Menunggu matahari terbenam di Sungai Mahakam. Foto-foto: Lenteratimur.com/Novieta Tourisia.

Secara geografis, Kalimantan Timur merupakan propinsi terbesar kedua di Indonesia. Luas wilayahnya mencapai sebelas persen dari luas keseluruhan wilayah Indonesia. Di utara, ia berbatasan dengan Malaysia Timur, yaitu Sabah, dan di barat berbatasan dengan Serawak. Temperatur udaranya berkisar 21° C – 34° C, dengan rata-rata curah hujan 1500-4500 milimeter per tahun.

Kalimantan Timur dikenal sebagai daerah dengan kekayaan tambang luar biasa. Berbagai perusahaan tambang skala nasional, regional, maupun internasional memiliki basis di sini. Meski demikian, provinsi yang beribukota Samarinda ini tidak hanya memiliki pertambangan. Bekas pusat kerajaan tertua di Indonesia ini memiliki identitas sejarah yang kuat, dan seturutnya adalah kesenian dan kebudayaan yang begitu kental.

Saya hanya mempunyai waktu tiga hari di Kalimantan Timur. Dan karenanya saya cukup kecewa karena tak sempat menelusuri Sungai Mahakam berikut desa atau kampung pinggirannya yang termasyhur itu. Sebab memang dibutuhkan waktu sedikitnya dua hari untuk sampai ke desa terujung. Untuk mengobati kekecewaan tersebut, saya menyinggahi beberapa kota yang juga kuat dari segi alam, sejarah, seni, serta budaya.

Balai pertunjukan di Desa Pampang.

Samarinda
Saat memasuki kota Samarinda, ada sebuah gapura besar bertuliskan “Samarinda Kota Tepian”. Tepian adalah akronim dari Teduh, Rapi, Aman, dan Nyaman. Samarinda merupakan salah satu kota yang sibuk dalam bidang perdagangan dan perairan. Di sini, saya merasa, sisi tradisionalnya masih jauh lebih terasa dibandingkan Balikpapan.

Sungai Mahakam yang terkenal itu mengalir di tengah kota dengan jembatannya yang kokoh. Anda dapat menikmati pagi atau sore yang teduh di atas jalan setapak pada pinggiran sungai. Dua masjid nan megah mendominasi panorama sungai; satu diantaranya merupakan salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara.

Saya mencoba berjalan kaki menyeberang Jembatan Sungai Mahakam. Jembatan ini membawa saya menuju bagian lain dari kota, yaitu Samarinda Seberang. Atraksi utama yang dapat dilihat di sini, misalnya, adalah pusat industri tenun sarong. Industri tenun ini tak hanya memberikan pengetahuan tentang pakaian yang ditenun menggunakan bahan daun doyo, tetapi juga memberikan pengalaman wisata budaya yang tidak umum melalui interaksi dengan para perajin di sana. Selain itu, saya mampir juga ke rumah-rumah penduduk. Mereka sangat ramah dengan pendatang serta tak jarang memberi informasi seputar Samarinda Seberang dan kehidupan pinggir Sungai Mahakam.

Jembatan Mahakam dari sudut Samarinda Seberang.

Kembali ke tengah kota, saya mencari tempat belanja karena hendak membawa cinderamata bagi orang-orang terdekat. Melipirlah saya ke Pasar Citra Niaga yang berada diantara jalan Niaga Selatan dan jalan Panglima Batur. Jika Anda tertarik ke tempat ini, usahakan datang pada pagi hari untuk menghindari kepadatan pengunjung yang turut berbelanja. Pasar ini mempunyai koleksi beragam cinderamata khas Kalimantan Timur, mulai dari tas berbahan mote, pakaian dari dedaunan kering, hingga patung dan ukiran Dayak. Harga yang disodorkan memang terkadang cukup tinggi, maka selayaknya Anda dapat menawar selama masih dengan harga yang wajar.

Seusai berkeliling di tengah kota, saya membutuhkan sesuatu yang “lain”. Saya ingin menikmati suguhan budaya yang masih memiliki jati diri meski sudah mengalami modernisasi.

Bermodalkan informasi dari beberapa penduduk setempat, saya menuju Pampang, sebuah Desa Kenyah Dayak yang terletak 26 kilometer arah barat kota Samarinda. Desa yang dijadikan salah satu cagar budaya ini memiliki satu tempat berbentuk Rumah Banjar yang menggelar pertunjukan berupa tarian tradisional setiap hari Minggu siang. Walau pertunjukan ini lebih diperuntukkan bagi warga di sekitar, wisatawan boleh saja masuk untuk melihat dengan memberikan donasi secukupnya.

Para pemudi yang giat berlatih tari.

Kebetulan, karena saya datang sehari sebelum pertunjukan, Sabtu, maka saya justru disuguhkan pemandangan menarik. Para pemudi sedang berlatih tari diiringi alunan musik tradisional Dayak. Mereka berlatih dengan suka cita. Dari wajah mereka tampak aura ketulusan; aktivitas yang dilakukan dengan hati karena kecintaan pada budaya yang masih mendalam. Saya cukup terharu dibuatnya, mengingat kini tak banyak pemuda-pemudi yang masih menerapkan kesenian dan kebudayaan daerah.

Kutai
Usai perjalanan di Samarinda, saya mengayuh badan ke utara: Kutai! Ya, pasti nama ini sudah tak asing lagi, apalagi bagi Anda yang menggemari sejarah. Di tempat inilah dahulu ditemukan prasasti peninggalan kerajaan bercorak Hindu tertua di Nusantara, tepatnya pada abad keempat. Tetapi kunjungan saya kemari terfokus kepada wisata alam, dengan Taman Nasional Kutai sebagai destinasinya.

Taman nasional yang merupakan salah satu pesona hutan hujan tropis dataran rendah di Kalimantan Timur ini ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai cagar alam dan suaka margasatwa pada 1934 dan terus dikembangkan fungsinya. Namun, selama dua puluh tahun terakhir Taman Nasional Kutai mengalami tekanan luar biasa baik, dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Penyebabnya adalah perambahan liar, penebangan pohon secara ilegal, hingga perburuan liar terhadap margasatwa di dalamnya.

Ulin raksasa berdiameter 247 meter dan berusia 1000 tahun.

Saat saya berkunjung ke Taman Nasional Kutai, saya ditemani oleh staf ahli. Pak Budi namanya, yang berbasis di Bontang. Kami melihat ada orangutan yang tergeletak mati karena sengatan listrik. Hal ini sungguh mengenaskan. Taman Nasional Kutai pun menghadapi konflik, bahkan di areanya sendiri. Taman nasional yang awalnya memiliki luas dua juta hektar ini lama kelamaan hanya tinggal 198.629 hektar saja.

Penyempitan ini terjadi disebabkan oleh perluasan eksplorasi minyak bumi, pembalakan kayu, penanaman perkebunan kelapa sawit, hingga yang cukup sulit untuk diatasi, yaitu banyaknya penduduk pendatang yang membangun rumah permanen berdinding tembok dan menetap di sana. Reaksi saya pada saat itu sungguh heran bukan kepalang, terlebih karena jalan raya di Taman Nasional Kutai ini justru merupakan akses penghubung antara kota-kota di bagian utara dan selatan.

Meskipun begitu, hasrat saya untuk berwisata tidaklah pupus. Dari empat kawasan wisata yang dimiliki Taman Nasional Kutai, (Sangkima, Prevab, Teluk Kaba, dan Selimpus), hanya dua yang masih bisa dikunjungi oleh wisatawan, yaitu Sangkima dan Prevab – dua kawasan yang biasa dijadikan tempat penelitian. Lagi-lagi hal ini disebabkan oleh adanya tekanan terhadap kawasan.

Saya berkesempatan mengunjungi Sangkima. Di sini terdapat pohon Ulin (ironwood) raksasa berdiameter 2,47 meter dan berusia tak kurang dari seribu tahun. Untuk mencapai titik lokasi pohon raksasa ini, saya mengikuti jalan setapak serta melewati jembatan kayu. Kupu-kupu beraneka warna banyak beterbangan di sini.

Kapal-kapal yang merapat di pinggir Sungai Mahakam.

Di bawah jembatan kayu tersebut mengalir sungai yang pada saat musim hujan airnya sanggup mencapai tinggi jembatan. Di kanan-kiri tampak beragam jenis flora, antara lain pasakbumi, anggrek hutan, tumbuhan paku, hingga berbagai jenis jamur. Sementara itu, fauna yang dahulu masih dapat ditemukan dengan mudah di seluruh kawasan Taman Nasional Kutai, saat ini cukup sulit dicari. Sebut saja bekantan, rusa sambar, kancil, kura-kura kaki gajah, hingga orangutan yang kini populasinya terancam punah.

Sebelum meninggalkan Taman Nasional Kutai, saya beristirahat di dekat wisma yang disediakan oleh pengurusnya sebagai tempat tinggal bagi tamu yang hendak menginap. Di sana saya sibuk berpetualang dengan pikiran dan perasaan sendiri, membayangkan bagaimana kondisi alam di negara ini dalam tiga puluh tahun ke depan. Apa jadinya jika semakin banyak umat manusia yang tak peka dan tak peduli terhadap lingkungan beserta esensinya.

Tenggarong
Di hari terakhir sebelum kepulangan, masih ada satu tempat lagi yang ingin saya singgahi. Tak jauh dari Samarinda, di sanalah Tenggarong, kota kecil yang ternyata mempunyai tata kota begitu apik dan turut dialiri Sungai Mahakam. Ini memang kota kecil. Dan saya selalu percaya ada estetika di setiap tubuh sebuah destinasi, ada keunikan tersendiri, di manapun itu, termasuk Tenggarong.

Ruang perjamuan.

Jauh sebelum berkeinginan datang ke Tenggarong, saya kerap mendengar nama Festival Erau disebut-sebut sebagai acara spesial yang diselenggarakan di kota ini pada bulan September – Oktober. Pada acara ini, suku Dayak dari segala penjuru di Kalimantan berbondong-bondong kemari demi menggelar upacara sakral berikut tari-tarian tradisional. Saya pun harus mengurut dada karena saya tidak berkunjung pada waktu yang tepat di saat festival tersebut diadakan.

Maka, pemberhentian pertama saya adalah Museum Mulawarman. Museum ini awalnya merupakan bangunan kerajaan, namun karena dilahap api selanjutnya bangunan ini direnovasi oleh pemerintahan Belanda pada 1936 untuk kemudian diresmikan sebagai museum. Koleksi yang terdapat di lantai dasar didominasi dengan artefak dan segala bentuk peninggalan dari 19 sultan yang pernah memerintah di Kutai. Sedangkan di sayap ruang lainnya terdapat pula koleksi kain, pakaian dan alat gendongan adat suku Dayak, serta berbagai peninggalan dari kerajaan luar pulau, bahkan luar negeri, yang didedikasikan sebagai hadiah bagi Kerajaan Kutai.

Di belakang museum, kokoh berdiri kerajaan sultan yang memiliki arsitektur bernilai tinggi: Kedaton Kertanegara. Di sisi depan kedaton terdapat pintu-pintu yang berjajar sebagai gerbang masuk bagi tamu yang menghadiri perjamuan. Mulanya saya tak yakin bahwa tempat ini bisa dikunjungi oleh masyarakat umum. Namun ketika penjaga menyapa dan mempersilakan apabila hendak melihat ke dalam, tentu saja saya mengiyakan.

Singgasana Sultan.

Saya mengagumi bangunan yang interior dan eksteriornya yang saling bersinergi ini. Di balik kemegahannya saya merasakan ketenangan yang mendamaikan. Penjaga mendampingi saya berkeliling seluruh lantai dan ruangan, termasuk kamar-kamar pribadi yang berada di lantai teratas. Kamar-kamar tersebut didesain dengan nuansa yang berbeda, mulai dari desain ala China hingga Eropa.

Sebuah lemari panjang terbuat dari kaca bersandar di salah satu sisi ruangan lantai dasar. Di dalamnya terpajang rapi potret-potret sultan yang pernah berkuasa di kedaton bersama sultan dari kerajaan di seluruh penjuru nusantara. Masih di lantai yang sama, terdapat beberapa ruang antara lain sebagai tempat perjamuan, pertemuan resmi, serta ruangan yang khusus diisi dengan alat musik tradisional.

Melangkah ke luar kedaton, saya kembali berjalan melewati Museum Mulawarman dan menyeberang untuk berhenti di satu sudut pelabuhan kecil demi menikmati atmosfir pinggiran Sungai Mahakam. Puluhan orang meramaikan pelabuhan. Masing-masing punya tujuan berbeda. Pemandangan ini mengingatkan saya akan diri sendiri yang gemar bepergian di tanah air tercinta; bukan untuk tujuan tertentu, tapi hanya demi kecintaan dan penghargaan terhadap sumber daya alamnya yang sungguh mengagumkan dan tak jarang mengejutkan. Sama halnya dengan hidup, setiap individu memiliki arah tujuan dengan hasil yang tak kalah mengejutkan. Itulah “harta” yang saya temukan sepanjang perjalanan di Kalimantan Timur ini.

(53)

Novieta Tourisia Penulis lepas, berdomisili di Jakarta.

Comments with Facebook

Comment(6)

  1. Saya lahir dan tinggal di Kalimantan Timur selama 18 tahun, tepatnya di Bontang. Membaca tulisan ini, saya jadi rindu rumah. Karena saya melanjutkan kuliah di Jakarta, jadi jarang sekali saya pulang.

    Saya rindu langit Kaltim yang selalu biru. Udara yang segar, lalu lintas yang lengang, pepohonan di kanan kiri jalan, masyarakatnya yang hangat dan ramah… Semua itu jelas jarang sekali saya rasakan di Jakarta.

    Ayo ayo ke kalimantan timuuur!!! ^^

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. Waaahh… Indahnya ya yang namanya Sei. Mahakam. Aku pengin banget ke sana!!!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Kalau diingat- ingat, saya terakhir ke Pulau Kalimantan itu tahun 1997. Dan untuk pertamakalinya juga saya menginjakkan kaki di Pulau tersebut. Tapi memang benar loh kata Mas Rommi Irawan, banyak tempat-tempat bersejarah dan tempat- tempat menarik lainnya di provinsi kita yang satu ini. Kalau melihat foto Jembatan Mahakam, untuk pertama kalinya juga saya pernah berdiri di sana. Pemandangannya indah sekali dari atas jembatan tersebut, rugi kalau tidak berhenti sejenak di atas jembatan itu :D. Angin dari arah sungai sangat terasa kencang, tapi sejuk loh. Dan seingat saya, jembatan itu juga baru berdiri sebagai salah satu infrastruktur penghubung dua daerah.

    Oya, nuansa sakralnya memang masih kental sekali di daerah Kalimantan Timur.

    Semoga tulisan Mbak Novieta bisa mengajak pembaca mengunjungi Provinsi Kalimantan Timur dan “kekayaan” yang ada di daerah tersebut. Terimakasih Mbak Novieta.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Ada track sepeda gunungnya gak yah…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Ari-ariku ditanam di samarinda… Dan sampai sekarang aku masih mencari dimana lokasinya?… hehehe….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Tulisan yang menarik semoga makin banyak orang yang tertarik berkunjung ke Kalimantan Timur, sekedar menambahkan masih banyak lagi yang bisa dikunjungi di provinsi Kaltim, seperti wisata bahari pulau derawan & maratua di kabupaten Berau juga wisata pantai Kersik di Marangkayu. Terima kasih.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *